Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Putus


__ADS_3

Reisya berusaha membersihkan sisa – sisa jejak air mata di kedua pipiya dan segera membukakan pintu untuk Aaric.


Ckleeeekk!


Reisya berusaha mengulas senyum manis menyambut kedatangan Aaric dan mempersilahkannya masuk.


“Mas! Kenapa nggak kasih kabar kalau hari ini Kamu sampai, bukannya Mas bilang besok yah baru berangkat?” tanya Reisya sambil mengajak Aaric masuk.


Namu pandangan Aaric masih lekat ke Reisya, dia masih diam memperhatikan Reisya dalam dan membuat Reisya salah tingkah berusaha menyembunyikan wajahnya dari sorot mata Aaric yang membidik penuh tanda tanya.


“Um.. Mas duduk dulu ya, akan Aku ambilkan minum untuk Mas,” elak Reisya sembari bergerak melangkah ke dapur, namun langkahnya tercekat saat tangan Aaric menarik tangan Reisya.


“Are you oke?” tanya Aaric lirih sembari memandangi wajah Reisya. Reisya pun menganggukkan kepalanya pelan.


Lalu Aaric kembali menarik pelan tangan Reisya dan menggiring tubuhnya untuk duduk di sebelahnya. Reisya tak mampu membalas tatapan mata Aaric kembali. Reisya masih berusaha mengalihkan pikiran Aaric dan menutupi apa sebenarnya yang sedang ia rasakan saat ini.


“Hmm, Mas.. gimana perjalanan Kamu tadi, menyenangkan?”


“Tidak! Selama Aku tidak mendapatkan jawaban yang sesungguhnya dari kamu sampai detik ini,” sahut Aaric masih dengan tatapan penuh tanya.


Reisya langsung menundukkan kepalanya.


“Seandainya kamu tahu, Mas. Betapa sakitnya Aku.. tapi Aku juga tidak ingin membuatmu kecewa padaku, akan lebih baik hanya Aku yang menanggungnya sendiri,” batin Reisya.


“Rei! Once more, ARE YOU OKAY?, Jawab Rei,” Sentak Aaric karena masih diam seribu bahasa.


Akhirnya Reisya mendongakkan kepalanya, menatap sorot mata Aaric yang terus membidik kemanapun Reisya bergerak.


Dengan suara bergetar dan air mata yang ikut mengiringi ucapan Reisya, “Mas, lebih baik kita akhiri hubungan kita sampai di sini. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi.”


Aaric tersentak kaget mendengar ucapan Reisya, ia langsung melebarkan pupil matanya yang tajam.


“Berakhir?? Kenapa? Apa Aku buat kesalahan sehingga Kamu membuat keputusan sepihak seperti ini?” tanya Aaric.

__ADS_1


“Tidak, Mas. Kamu nggak salah sama sekali. Mungkin Aku yang salah telah menerima Kamu tanpa Aku pikirkan sebelumnya,” sahut Reisya menyalahkan dirinya sendiri.


“Rei, ini bukan hati Kamu yang berbicarakan? Jawab Aku Rei!” seru Aaric yang sudah mulai terbawa emosi.


“OH! Apa Kamu sudah punya penggantiku? Atau Melinda selalu mengganggumu? Katakan yang sejujurnya padaku Reisya Adelia!” desak Aaric dengan nada suara yang mulai meninggi karena Reisya hanya diam dengan linangan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


“Rei! Aku tidak akan pernah melepaskan Kamu sampai kapanpun. Kecuali Aku mendapatkan alasan yang memang bisa aku terima dengan akal dan pikiranku,” imbuh Aaric sambil mengerutkan dahinya.


“Aku minta maaf, Mas! Tapi Aku memang tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi sama kamu. Demi kebahagiaan Kamu.”


“Kebahagiaan Aku?! Kamu tahu dimana kebahagiaan Aku?.. itu ada di Kamu Rei. Aku sungguh mencintaimu dengan setulus jiwa dan ragaku. Kamu masa depanku Reisya,” akunya Aaric.


“Tapi Mas.., Aku nggak bisa,” tolak Reisya sambil menyeka air matanya. Hatinya terasa sangat perih saat hati dan mulut tidak dapat mengucapkan kata yang sama.


“Beri Aku alasan yang kuat kenapa Kamu nggak bisa?” desak Aaric kembali.


“Aku sudah punya yang lain,” Jawab Reisya asal dan langsung berlari ke kamarnya.


Aaric mengikuti Reisya dari belakang, namun Reisya mengunci rapat pintu kamarnya.


“Lebih baik Kamu pulang Mas dan jangan pernah hubungi Aku lagi, Aku nggak pantas untu Kamu, Kamu bisa dapatkan yang jauh lebih baik dari Aku,” ucap Reisya dari dalam kamarnya.


“Rei, tolong buka pintunya. Aku masih ingin melihat Kamu,” ujar Aaric lagi.


“Sudah lah Mas, mendingan Kamu pergi dan tinggalkan Aku. Aku mohon Mas,” sahut Reisya sambil terisak.


“Baiklah jika itu keputusan Kamu, Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan memperjuangkan cinta ini sampai Aku mendapatkan Kamu Rei. Aku akan cari tahu dengan caraku sendiri,” pungkas Aaric lalu pergi meninggalkan rumah Reisya.


Kini keduanya merasa saling tersakiti, pikirannya juga kacau. Aaric tak habis pikir kenapa tiba – tiba Reisya mengatakan hal seperti itu, bukankah kemarin masih baik – baik saja.


Pikirannya terus bermain di kepala Aaric, ia tak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Ia juga tidak segera kembali kerumah kedua orang tuanya dengan pikiran yang amburadul. Akhirnya Aaric membawa dirinya ke sebuah hotel yang tidak jauh dari rumah kos Reisya.


Setelah melakukan booking dan check in, Aaric menuju kamarnya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang super empuk. Hatinya terus bertanya – tanya.

__ADS_1


Kemudian ia mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Max. Beruntung kali ini panggilannya dapat terhubung.


“Max, coming here, please. I’ll share the location,” titah Aaric datar.


Max hanya menganggukkan kepala sembari berpikir kapan tuannya sampai tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


Lalu Max mengecek panggilan masuk tak terjawab. Hatinya mulai ketar – ketir melihat bayaknya panggilan tak terjawab dari Aaric.


“What should I say, Oh Max you are so stupid!” makinya pada dirinya sendiri.


Ia segera bergerak menuju alamat yang sudah di bagikan Aaric kepadanya. Meskipun ada rasa khawatir , Max tetap menjalankan tugasnya dengan profesional. Dia akan menerima apapun konsekuensi atas pekerjaan yang ia tekuni saat ini.


Akhirnya Max sampai di lobi hotel tempat Aaric tinggal sementara waktu. Kini keduanya sudah saling berhadapan. Max menundukkan kepalanya saat Aaric datang menemuinya.


“Please tell me, what did happen?” tanya Aaric datar tanpa senyum sedikitpun.


“I really sorry for this, sir. I really don’t know, what happened with Reisya. She didn’t told me any more,” jawab Max.


Aaric melototkan manik matanya mendengar jawaban Max, “WHATT!! Could you say it once?”


Max kembali tertunduk diam. Dia sudah siap jika Aaric akan memakinya sekalipun.


“MAX.. I asked you!!” – sambil menggebrak meja, “SAY IT!!!”


Max tersentak lalu menceritakan kejadian kemarin dari awal hingga dia tidak dapat menghubungi Reisya dan akhirnya setelah bertemu di usir oleh Reisya.


“You left her? Alone??” berang Aaric. Max masih menunduk.


“I paid you to keep my girl, but...,” sesal Aaric menatap Max jengah.


“I’m so sorry, sir. This is my fault. I’ll make it sure. I promise,” janji Max untuk mengembalikannya seperti semula.


“Okay, I’ll wait till tonight,” tandas Aaric lalu meninggalkan Max yang masih duduk di lobi hotel.

__ADS_1


Aaric kembali ke kamarnya, membaringkan tubuh lelahnya kembali. Sejenak ia memejamkan matanya sambil berpikir siapa pria yang berani mendekati Reisya.


__ADS_2