
Dona masih menatap nanar pria bule yang menjadi kekasihnya saat ini. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa cemburunya pada Steve, setelah beberapa adegan shoot tadi. Sementara Melinda tersenyum sangat bahagia, karena dialah yang mendapatkan keuntungan lebih besar dalam hal ini.
“Akhirnya.. gue nggak perlu capek – capek mikir untuk membalas perempuan kampung itu. Dan sebentar lagi loe bakalan liat betapa jijiknya seorang Aaric melihat loe, Rei!” decit Melinda dalam hatinya.
Steve yang duduk di balkon masih menikmati rokok di tangan kanannya dengan tenang. Setelah itu bangkit dari tempat duduknya. Melihat Dona masih memasang wajah masam, Steve lalu mendekatinya mencoba untuk membujuk meski sebenarnya hal itu tidak pernah ia lakukan pada siapapun.
Namun Steve masih mengharapkan sesuatu yang lebih besar lagi dari Dona. Dia berpikir ada baiknya mundur satu langkah untuk bisa maju beberapa langkah ke depan.
“Ayolah, Sayang. Itu tadi hanya sebagian dari tugas yang harus Aku lakukan agar keinginan Kamu tercapai,” bujuk Steve sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Dona.
“Steve benar, Don! Loe jealous, sama perempuan kampung ini?” timpal Melinda sambil tertawa renyah yang menggelegar memenuhi isi ruangan.
“That’s right, Mel,” ucap Steve menimpali.
“Ya – ya gue cemburu lah, cowok gue, kan?” keluh Dona sembari menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Steve.
Lalu Steve menyadari jika obat yang di berikan ke Reisya tidak dapat bertahan terlalu lama. Steve segera menyuruh Dona dan Melinda untuk segera pergi dari istananya agar tidak menimbulkan curiga jika tiba – tiba Reisya sadar.
“Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini, agar perempuan ini tidak mengetahui jika sebenarnya ini adalah rencana kalian. Jadi sebisa mungkin kalian menyembunyikan keikutsertaan kalian,” ujar Steve.
Sambil melipat kedua tangannya ke depan Melinda menjawab, “Ya, Kamu benar Steve, Aku juga tidak mau perempuan kampung ini sampai melihatku di sini saat dia sadar nanti.”
“Baguslah kalau Kamu mengerti,” cetus Steve.
“Aku tidak mau!!” sangkal Dona yang tetap ingin berada di rumah mewah itu.
“Loe gila ya! Kalau perempuan kampung ini nanti melihat kita ada di sini, rencana kita akan berantakan semuanya. Dan apa yang sudah di lakukan Steve akan sia – sia. Bahkan mungkin kita semua akan masuk ke sel. Dan gue nggak mau itu Don!. Ngerti?!” ketus Melinda sembari melemper tatapan jengah.
Dona tampak berpikir sejenak, walau dengan berat hati dia mengikuti apa yang di katakan oleh Steve dan Melinda.
__ADS_1
“Lalu bagaimana kita kembali ke rumah?” tanya Dona datar.
“Jangan khawatir, ada sopir yang akan mengantarkan kalian sampai tujuan,” sahut Steve.
“Lalu bagaimana dengan perempuan kampung ini?” tanya Dona sekali lagi. Dona tidak ingin kekasihnya melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan bersama Reisya.
“Aku yang akan mengantarkannya pulang ke rumahnya,” tukas Steve.
“Apa kau mengetahuinya?” selidik Dona.
“Itu mudah! Aku tinggal menanyakan padanya saat dia sadar nanti,” terang Steve.
Akhirnya Dona dan Melinda segera bergegas beranjak dari rumah Steve. Saat mereka melangkahkan kakinya, tepat di depan pintu terdengar suara menggeliat merintih kesakitan pada bagian kepalanya karena pengaruh alkohol yang di hirupnya.
Melinda dan Dona segera ngacir, lari mencari tempat untuk bersembunyi. Sementara Steve mendekat pada Reisya.
Reisya berusaha membuka kedua kelopak matanya secara perlahan namun terasa berat. Kamudian Reisya bangun , dan duduk sambil menyandarkan kepalanya yang masih terasa pusing.
Setelah beberapa saat, sekuat tenaga Reisya melebarkan pupil matanya. Lalu mengedarkan pandangannya, meneliti ke seluruh ruangan yang begitu luas. Reisya hanya mendapati sosok tubuh yang tegap dengan rambut blondenya. Menyambut Reisya dengan seulas senyum.
“Where am I?” tanya Reisya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Kamu berada di tempat yang aman. Tadi kamu pingsan sebelum sempat mengatakan alamat rumah kamu. Jadi saya memutuskan untuk membawa kamu ke sini,” ucap Steve berbohong.
Reisya mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Steve yang kurang begitu keterima akal pikirannya. Reisya mencoba mengingat kembali awal mula pertemuannya dengan Steve. Kemudian dia juga teringat dengan tas dan juga ponselnya.
“Ponselku, ponselku kemana?!” tanya Reisya sambil merogo saku kantong jaketnya kemudian pindah mengacak – acak isi tasnya.
Kemudian Steve menunjukkan benda kecil pipih itu kepada Reisya.
__ADS_1
“Ini yang kamu cari?” tukas Steve sambil menyodorkan ponselnya. Reisya menerimanya masih dengan sorot mata yang tajam.
“Tadi ponsel Kamu mati, makanya Aku charge. Kamu tidak perlu takut. Kamu berada di tempat yang aman dan Aku juga tidak m..,” omongannya tercekat saat Reisya panik setelah melihat jam di ponselnya.
“APAA!!! Oh tidak, Aku harus segera pulang,” pekik Reisya lalu melompat dari tempat tidur yang super empuk, super nyaman dan sangat memanjakan tubuh bagi siapapun yang tidur di atasnya.
“Oke, I’ll drive for you,” tawar Steve seolah – olah dia adalah malaikat penolong Reisya saat ini.
Sementara Dona dan Melinda masih di tempat persembunyiannya sambil mengintip, memperhatikan pergerakan Reisya dan Steve.
Steve segera mengeluarkan salah satu mobil mewah miliknya, dan memerintahkan anggotanya untuk mengantarkan Dona dan Melinda kembali ke rumah mereka.
Mau tidak mau Reisya patuh dengan apa yang di ucapkan Steve agar ia bisa pulang sampai ke rumah. Meskipun merasa jengkel namun ada terselip rasa takjub melihat bangunan yang sangat luar biasa mewahnya.
Akhirnya setelah hampir satu jam lamanya mereka sampai di depan rumah Reisya. Kamudian ia turun dari dalam mobil. Lalu Steve segera memutar mobilnya dan kembali ke rumah mewahnya.
Reisya berjalan perlahan melangkahkan kakinya memasuki kediamannya. Sementara dari seberang ada seorang perempuan yang sedang memperhatikan rumah Reisya.
Begitu Reisya masuk ke dalam rumah ia langsung menuju kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kaki menggantung ke bawah. Pikirannya kembali pada rumah mewah, tempat ia pingsan tadi.
“Siapa sebenarnya dia? Dan rumah mewah itu..?” monolognya dalam hati.
Lalu Reisya duduk, perlahan tangannya meraba - raba, meneliti setiap inci bagian tubuhnya. Kemudian sekilas manik netranya melihat tanda merah di atas dadanya. Reisya segera berlari mencari cermin, kemudian memandangi tubuhnya di dalam cermin sambil berpikir tanda apa yang ada di tubuhnya.
“Tanda apa ini? Kenapa tubuhku memerah seperti ini, dan tidak hanya satu.. tapi beberapa. Oh tidak! Apa sebenarnya yang telah terjadi padaku,” rintih Reisya sambil meneteskan air bening dari kedua pelupuk matanya.
Kini Reisya duduk meringkuk di atas tempat tidur menyesali kebodohannya, menyalahkan dirinya yang sudah percaya dengan orang asing yang baru di kenalnya.
“Ya Allah, apa yang telah terjadi padaku? Apakah aku masih suci? Bagaimana Aku menjelaskan semua ini pada Mama, Papa, Mas Aaric juga orang tuanya. Kanapa Kau sebodoh ini Rei!!” makinya pada dirinya sendiri.
__ADS_1