
Begitu sampai di rumah, Latif langsung meminta Naqi menjelaskan apa yang terjadi.
"Duduk kamu, dan jelaskan apa yang terjadi pada kami, jangan ada kebohongan lagi." Latif menujuk sofa, dan keluarga besar itu pun kembali dibuat tegang. Tidak kalah Cyra yang baru turun karena mendengar suara mobil suaminya pun kaaget ketika suaminya di sidang oleh kakek Ltaif.
Cyra yang penasaran pun tidak mau ikut campur dengan urusan itu dan memilih duduk dengan tenang mendengarkan ada apa gerangan yang membuat keluarga suaminya kembali tegang.
"Katakan anak itu anak siapa?" ulang Latif dengan nada bicara yang tegang dan pandangan mata yang tajam.
"Anak itu anak salah satu pasien dari klinik bersalin, tetapi ibunya meninggal sesaat setelah bayi itu di lahirkan, dan...."
"Bohong!!!" Latif langsung memotong ucapan Naqi. Namun Naqi yang sebelumnya sempat menceritakan pada dokter Herman pun beliau langsung membuat sekenario atas asal usul bayi itu, dengan memberikan bukti yang menguatkan. Ini bukan dokter Herman mendukung kebohongan Naqi, tetapi dokter Herman melindungi sang ibu bayi yang tidak mau diketahui identitasnya. Serta perjanjian mereka yang sah secara hukum. Apabila di langgar bisa tersangkut masalah hukum dan jadi kasus.
Naqi menyodorkan ponselnya dengan yakin. "Dia adalah salah satu pasien dokter Herman, dokter yang saat itu menangani Qari. Dari pesan yang dikirimkan dokter Hrman tentu Latif bisa tahu bagaimana nasib ibu sang jabang bayi.
"Jadi ibu dari bayi itu sudah meninggal?" tanya Latif memastikan kembali apa yang dia tahu dari membaca.
Naqi mengangguk dengan kuat. "Dan ibunya adalah korban pemer-kosaan yang ayah jabang bayi sendiri tidak menginginkan bayi itu," imbuh Naqi.
Qari pun dari tadi menyimak dan dia dengan sepenuh hati berjanji akan merawat bayi mungil itu dengan baik, Qari akan memperlakukanya sama seperti anaknya sendiri Qari akan menganggap bahwa Nara adalah darah dagingnya. Pengganti untuk Qinar yang sudah bahagia bersama Tuhan.
Memang seperti itu rencana Naqi, hanya saja Naqi meski berbohong agar semuanya aman, tetapi namanya kebohongan pasti tidak akan pernah mulus.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti tercium juga.
__ADS_1
Bohong kalau Qari langsung bisa menerima takdir ini, bohong kalau Qari tidak marah pada Naqi, bohong kalau Qari tidak dendam pada Deon, dan marah pada semesta yang mempermainkan takdirnya.
Namun, Qari juga patut bersyukur karena Alzam semenjak dia sadar sudah selalu membisikan agar Qaru ikhlas jangan menyalahkan siapa pun dalam musibah ini. Alzam juga tidak bisa langsung menerima kesalahan Deon, tetapi Alzam hanya ingin kalau Qari dan Deon sudah mengakhiri keteganganya. Sudah jangan ada lagi dendam dan kemarahan karena baik Deon maupun Qari sudah sama-sama merasakan kehilangan.
Deon juga sudah dihukum dengan penyesalan yang tidak mudah untuk di lupakan.
"Apa kamu yakin akan merawat Nara, Qari?" Kali ini Latif bertanya pada Qari.
Qari pun menatap pada Alzam, dan Alzam yang duduk di samping Naqi pun mengangguk dengan kuat. "Kami yakin akan merawat anak itu Kek."
"Kalau memang kamu yakin akan merawat bayi itu, kamu harus buat surat adopsi yang legal, dan pastikan bayi itu sah secara hukum untuk menjadi anak kalian, jangan sampai suatu saat nanti akan ada yang mengganggu hak asuh anak itu terutama dari pihak laki-laki yang memper-kosa ibunya itu. Kalau kalian punya surat-surat yang sah mereka tidak akan semena-mena mengakui anak mereka meskipun mereka adalah ayah biologis anak itu." Latif menatap Qari dan Alzam bergantian.
"Kami, secepatnya akan urus Kek." Alzam pun yang mengambil alih jawaban dari kesepakatan dengan istrinya.
Latif tahu umurnya semakin menua sehingga ia butuh janji Qari dan Alzam agar tetap tanggung jawab atas anak asuhnya.
"Baik Kek, masukan dari Kakek akan kami ingat dengan baik, dan kami tidak akan membedakan mereka." Alzam lagi-lagi menjawab dengan yakin dan dibalas anggukan kuat oleh Qari.
"Kalau gitu kalian istirahatlah, pasti kalian juga cape." Latif pun membubarkan diri lebih awal, berjalan dengan pikiran yang sedikit tenang ke kamarnya. Disusul Qanita, pasangan Alzam dan Qari. Sementara Cyra dan Naqi tetap duduk di sofa.
"Ke rumah kamu yuk, aku cape di rumah ini pengin cari hiburan," ucap Naqi menatap Cyra yang masih mematung, setidaknya kalau di rumah keluarga Cyra akan terhibur oleh Meta, ia butuh hiburan setelah kekacauan yang ia buat. Untung saja tidak terjadi pingsan dan kembali ke rumaah sakit. Naqi sudah membayangkan akan ke kacauan yang sangat fatal apabila keluarganya tahu akan kenyataan Qinar, tetapi setidaknya ketakutanya tidak terjadi.
"Mas ganti baju dulu lah, bersih-bersih habis dari makam juga nanti Mesy sawan lagi, belum anak kak Fifah yang masih dalam kandungan sebentar lagi lahir nanti ikut kesambet." Naqi dan Cyra pun menyusul ke kamar mereka untuk berganti pakaian dan membersihkan diri setelah itu mereka akan berkunjung ke rumah keluarga Cyra.
__ADS_1
*********
Di tempat lain.
[Rania jemput papah di alamat ini Jln. Sampah Masyarakat, nomer 01. Luson] Rania yang baru membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya pun terkejut.
"Papah, ada apa dengan Papah, kenapa minta di jemput?" gumam Rania, dia yang mana di rumah sedang sendirian pun bingung, mau minta bantuan siapa. Sedangkan Adam sedang bekerja. Minta bantuan Naqi ataupun Qari tidak mungkin mereka sangat benci dengan papahnya. Eh, bukan Naqi dan Qari saja tetapi Qanita dengan Latif pun sama bencinya dengan laki-laki Casanova, yang mana tidak akan pernah sadar atas salah-salahnya.
"Apa aku jemput saja yah, takutnya Papah kenapa-kenapa. Mana nama jalanya seram banget 'Sampah Masyarakat' kayak kelakuanya yang jadi sampah masyarakat." Rania setelah meminta izin pada Adam, dan laki-laki yang menyandang sebagai suaminya pun mengizinkan. Wanita itu pun langsung menjemput sang papah dengan menggunakan taxi online.
Setelah bertanya-tanya pada warga dan juga bermodal aplikasi online kini Rania sudah sampai di alamat yang Luson kirimkan. Sebelum memastikan mengetuk pintu kontrakaan yang jauh dari kehidupan mereka (Kumuh) Rania lebih dulu bertanya kebenaranya, dan setelah bertanya pada warga beberapa kali benar laki-laki yang ada di dalam kontrakan kumuh itu adalah Luson, alias papahnya.
Tubuh Rania mematung, setengah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Laki-laki kurus dan rambunya gondrong, serta kantung mata yang mengendur dan juga tidur di alas seadanya.
"Papah, apa yang terjadi dengan Papah?" tanya Rania dengan terbata dan berjalan menekat pada Luson, rungan yang berantakan menggambarkan bahwa laki-laki itu tidak ada yang mengurusnya.
"Rania, papah sakit tidak ada yang mengurus. Bawa papah berobat, papah ingin sembuh," ucap Luson dengan tatapan yang memelas.
Rania hanya mengangguk pasrah, sedih dan tidak tega membiarkan orang tua satu satunya terkulai tak berdaya. Meskipun Luson prilakunya buruk untuk keluarganya terutama pada Naqi dan Qari yang membuat dua sodaranya itu membenci Luson, tetapi bagi Rania tentu berbeda Luson adalah papah yang baik.
Bahkan beberapa kali Luson terlibat pertengkaran hebat dengan dua putra dan putrinya ketika laki-laki itu selalu membela Rania dan mengunggulkanya dari anak yang lain.
"Mungkin ini saatnya aku berbakti pad papah." Rania pun membatu papahnya bangun dan berjalan kenuju taxi yang tidak jauh parkir dari kontrakan kumuh itu.
__ADS_1