Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 75


__ADS_3

Jec keluar dari ruangan dokter dengan perasaan yang bimbang. Tidak bisa di pungkiri pikiran Jec sudah jelas menebak bahwa Qari saat ini sedang hamil, dan jelas kemungkinan hamil anak dari Deon. Oleh sebab itu bosnya mengalami gejala kehamilan simpatik seperti yang dokter katakan. Jec tidak langsung kembali ke ruangan Deon, tetapi lebih dulu duduk di kursi tunggu yang ada di lorong rumah sakit tangannya mengambil benda pintar yang akan ia gunakan untuk menghubungi orang yang bisa di percaya dalam hal ini.


Jec harus benar-benar mempertimbangkan dengan apa yang terjadi pada Deon, apabila laki-laki itu memang tau kalau Qari hamil, dan bosnya tentu akan menebak hal yang sama dengan Deon.


[Hallo, kalian cari tahu, alasan Qari menikah dengan Alzam, dan coba kalian buktikan apakah anak yang Qari kandung adalah anak Alzam atau anak dari laki-laki lain,] ucap Jec begitu orang yang ada di sebrang telepon mengangkat hubungan teleponnya.


Kini Jec tinggal menunggu hasil laporan dari orang suruhannya, untuk menguatkan dugaannya yang Jec sudah yakin benar.


Meskipun Jec belum terlalu tahu dengan bukti yang menguatkan kalau Qari hamil, tetapi hati kecil Jec sudah sangat yakin seratus persen bahwa saat ini Qari sedang hamil, dan anak itu adalah anak dari Deon. Jec sudah bisa menebak kalau memang Deon itu pasti akan semakin sulit terbebas dari Qari, apalagi kalau Qari benar-benar hamil anak Deon, dan Deon mengetahuinya.


"Oh, ya Tuhan tolong jangan sampai kecemasan aku berubah jadi kenyataan," batin Jec dengan sangat bingung, kedua tangan Jec menjambak rambutnya yang mana kepalanya sudah mulai berdenyut, memang tidak sepantasnya Jec menutup fakta ini, tetapi Jec tahu betul Deon itu seperti apa, kadang cara berpikirnya tidak di lakukan dengan berkali-kali Deon selalu berpikir kalau apa yang dilakukanya pasti betul tanpa berpikir efeknya.


Seperti saat ini timbul masalah baru dengan perbuatanya yang dia bilang akan membalaskan dendamnya, dan kali ini tanpa Deon sadari hatinya sudah terjebak sebagian di dalam perasaan cinta milik Qari, sehingga sekeras apapun Qari menentangnya Deon akan terus menerus mencari akal untuk mendekati Qari, dan selalu terikat dengan wanita itu.


Setelah cukup lama Jec berpikir layaknya orang-orang normal kini Jec kembali mengayunkan kaki ke kamar Deon dan sudah yakin Jec putuskan kalau dia tidak akan memberitahukan kalau Qari hamil dan kemungkinan besar yang menghamilinya adalah Deon. Semua akibatnya sudah Jec perhitungkan dengan sangat matang. Dan sekalipun mungkin Deon akan mengetahuinya di lain waktu, dan akan marah pada Jec, maka Jec sudah memikirkannya dengan sangat matang. Bahkan laki-laki itu sedah menyiapkan jawabannya.

__ADS_1


Krekeeettt... Jek mulai masuk ke dalam ruangan Deon dengan wajah yang lebih segar, karena sebelumnya Jec sudah sempat mampir ke kamar mandi dan mencuci wajahnya lebih dulu.


Deon mengangkat wajahnya yang sejak tadi duduk bersandar mengerjakan laporan dari laptopnya.


"Gimana kata Dokter, kapan aku boleh pulang Jec?" tanya Deon, laki-laki itu benar-benar tidak betah di rumah sakit yang menurutnya aroma rumah sakit itu sangat-sangat tidak enak. Bahkan ia selalu tidak bisa lepas dari masker, dan itu sangat menyiksanya. Baru seumur hidup ia merasakan seperti ini.


Jec membalas dengan senyum yang teduh, laki-laki itu berusaha bersikap senormal mungkin agar tidak mengakibatkan kecurigaan pada Deon.


"Dokter menyarankan dua hari lagi Tuan...."


"Tunggu Tuan, Saya belum sempat bicara yang lainya, meskipun dokter mengatakan dua hari lagi untuk mengizinkan Anda pulang, tetapi saya tadi sempat bernegosiasi dan membuat surat perjanjian untuk meminta Anda besok boleh pulang," ujar Jec, memang laki-laki berparas asia itu sangat tahu sekali kalau bosnya itu tidak akan mau menunggu sampai dua hari lagi. Yang ada nanti Jec juga yang akan di cecar terus menerus oleh Deon, dan mungkin kupingnya akan panas karena ucapan Deon yang menyebalkan itu, atau malah Jec harus memeriksakan telinganya ke dokter THT karena panasnya ucapan Deon.


Deon langsung menyunggingkan senyumnya, dibalik maskernya. "Tidak apalah tidak pulang hari ini juga yang penting besok pulang, awas aja kalau sampai dua hari lagi aku baru diizinkan pulang, siap-siap rumah sakit ini aku tuntut," ancam Deon tidak main-main. Dia adalah laki-laki yang sangat menjaga kesehatannya dan hampir dia tidak pernah sakit, dan baru kali ini ia tinggal dan menghabiskan waktu berharganya dengan terbaring tidak berdaya di rumah sakit dan sangat menyiksanya lagi bau-bau aneh rumah sakit yang membuat Deon semakin hampir gila.


"Setelah memberikan laporan Jec akan kembali duduk, dalam hati Jec sudah sangat berjingkrak senang karena itu tandanya bahwa Deon tidaklah menanyakan sakitnya, dan dia tidak harus bercape-cape untuk memikir alasan apa yang harus ia jawab dengan perubahan hormonal yang sangat sensitif dengan bau-bauan dan juga makanan itu.

__ADS_1


Dalam pikir Jec hanya mencari ide makanan untuk bosnya selanjutnya, kira-kira makanan apa yang ingin di makan.


"Tunggu Jec!! Kayaknya kamu melupakan sesuatu, apa kamu sudah tahu sakit apa aku kenapa aku akhir-akhir ini merasakan sangat berbeda yah?" tanya Deon meminta Jec kembali lagi duduk di sampingnya.


"Oh ya Tuhan, aku pikir sudah bebas dari pertanyaan itu, dan sekarang tinggal memikirkan makan apa buat nanti malam, tapi malah Tuan Deon mengingat kalau aku belum melaporkan hasil pemeriksaanya. Aku harus cari ide apa ini," batin Jec dengan kedua mata terpejam, dan otaknya di putar untuk mencari sakit yang kira-kira masuk akal dengan yang dialami oleh bosnya itu.


"Jec, kenapa kamu mematung saja, kamu tidak sedangĀ  mencari ide untuk membohongi aku kan?" Deon yang sudah sejak lama sekali mengenal Jec pun bisa membaca kalau memang ada yang sedang di sembunyikan oleh asistennya itu.


Jec langsung membalik tubuhnya, dan mengembangkan senyum pada Deon. "Saya bukan memikirkan rencana untuk berbohong Tuan, hanya saya sedikit aneh dengan yang Dokter katakan dengan sakit Anda yang tiba-tiba ini." Jec berjalan kembali kearah tempat duduk yang ada di samping Deon.


Deon menyipitkan kedua matanya. Seolah laki-laki itu sedang mencari kejujuran dari sorot mata Deon yang di tunjukan nya. "Aneh? Maksud kamu apa. Sakit yang di sebabkan oleh orang-orang yang tidak menyukai kita gitu? Seperti yang banyak orang Indonesia yakini, seperti santet gitu?" tanya Deon dengan mata yang penasaran.


Jec justru kaget dengan pemikiran bosnya itu, kenapa bisa sangat lancar memikirkan kearah sana, bahkan Jec saja tidak sedikit pun memikirkan hal itu.


"Bukan itu Tuan, keyakinan seperti itu hanya dianut oleh orang-orang tertentu, Anda orang yang bergelimangan harta sangat tidak disarankan mengenali budaya seperti itu," kekeh Jec, tawanya yang renyah justru memancing Deon untuk marah, karena ia malah melihat kalau Jec seperti merendahkan.

__ADS_1


"Kamu berani Jec menertawakan aku? Aku adalah bosmu, yang kapan saja bisa memecat kamu," bentak Deon dengan mata yang hampir loncat, bahkan ia kembali ke mode singa kelaparan.


__ADS_2