Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 164


__ADS_3

Tantri mencoba menarik bibir membentuk senyum terbaiknya. "Lalu bagaimana kondisi kakak Qari? Dan Nara? Kenapa kalian membohongi atas meninggalnya Qinar yang sesungguhnya. Aku merasa kalau aku adalah orang yang sangat lancang lagi-lagi membuat ulah sedangkan apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran. Bukankan Abang sendiri yang selalu mengatakan pada Tantri bahwa harga paling mahal adalah kejujuran." Tantri diam sejenak rasanya ia benar-benar bisa dengan mudah berkata apa yang ada dalam hatinya dan itu hanya pada Alzam, dan juga saat ini hatinya sudah jauh lebih baik lagi.


Alzma menghela nafas dalam, ia harus menjelaskan yang terjadi pada hidupnya dan jangan sampai terjadi sesuatu dengan apa yang terjadi dengan dirinya selama ini merubah sikap Tantri menjadi gadis yang misterius dan sulit untuk diarahkan.


"Ketika Tantri pulang, tidak lama Kakak keluar dari ruang operasi, tetapi kondisinta cukup kritis, Qinar juga tidak jauh berbeda kondisinya, dan Mamih Qanita pun datang dan tidak lama melihat kondisi putrinya yang saat itu kritis dengan banyaknya alat medis menempel di tubuh kakak ipar kamu, seorang ibu pun syok dan jatuh pingsan, tidak jauh berbeda kondisi yang sama juga terjadi pada Kakek Latif beliau terkena serangan jantung ringan dan harus mendapatkan penanganan yang cukup serius.


Mamih juga saat itu langsung drop kondisinya. Semua panik dan semua bingung, abang jaga kakak Qari, dan juga abang Naqi jaga mamih Qanita, Kak Cyra jaga Kakek, di saat itu juga tiba-tiba Qinar drop dan di kabarkan meninggal dunia, bahkan untuk memakamkanya abang minta Deon yang melakukanya, karena kami tidak bisa meninggalkan orang-orang yang sedang butuh dukungan kami. Maaf kalau abang baru cerita sekarang, abang hanya takut kamu semakin merasa bersalah. Ini musibah, tidak ada yang menyalahkan kamu. Memang harus seperti ini jalannya, semua tidak akan terjadi andai Tuhan tidak meridhoi apa yang terjadi. Kamu semua salah bukan hanya kamu saja yang merasa bersalah."


Alzam menarik tubuh Tantri yang semakin terisak. Laki-laki itu melakukan hal yang sama seperti dulu saat dia masih kecil, menjadi teman curhat dan juga penasihat yang bisa menenangkan hatinya.


"Apa Abang dan kakak Qari tidak marah pada laki-laki jahat itu, Deon?" tanya Tantri dengan suara yang sangat lemah, dan juga sisa isakan samar terdengar dari bibirnya.


Hembusan nafas berat terdengar dari bibir Alzam. "Kita manusia bohong apabila tidak marah, kakak Qari juga bohong kalau tidak marah, tapi apa kita bisa menghakimi Deon? Apa kita bia tahu apa yang ada dalam hatinya? Abang lihat laki-laki itu juga menyesali perbuatanya. Abang marah, kecewa dan ingin memberikan hukuman pada laki-laki jahat itu, tetapi abang yakin dan percaya bahwa hukuman dari Tuhan jauh lebih sakit dia rasakan. Bahkan yang abang tahu saat ini dia juga harus di rawat di rumah sakit karena kondisinya yang menurun. Rasa bersalahnya membuat dia tidak istirahat dengan tenang. Abang juga apabila kondisi dia sudah pulih ingin berbicara dengan dia."


Tantri sendiri langsung menatap Alzam dengan tatapan yang penuh tanya. "Untuk apa? Untuk apa Abang menemui dia, dia itu jahat, Tantri takut kalau laki-laki yang bernama Deon hanya akan menyakiti Abang," ucap Tantri dengan nada yang cemas.


"Kita harus bicara untuk mengambil keputusan, dan kesepakatan agar tidak ada lagi yang membuat dia marah pada kami, terutama kamu, kalau bisa kita berdamai saja, bukanya damai itu indah?"


Tantri hanya diam saja tidak lagi menjawab apa yang ada dalam pikiran abangnya. pemikiran orang dewasa memang sangat membingungkan. Itu yang Tantri lihat, dan apabila yang di posisi Alzam adalah dirinya tentu Tantri tidak akan memaafkan orang seperti Deon.


"Abang hanya tidak ingin ada dendam, baik dari kakak Qari, abang, keluarga besar Tuan Latif serta kamu, karena Dendam itu hanya membuat kita semakin di butakan dengan keegoisan, dan akibatnya susah untuk semuanya. Contohnya Deon, karena dendam dan ambisinya memiliki Qari sampai mengorbankan anak sendiri. Jadikan pelajaran dari Deon untuk intropeksi diri kita, termasuk kamu yah Sayang, kamu jangan jadi gadis pendendam. Belajar memaafkan lebih baik dari pada memupuk dendam." Alzam mengusap punggung Tantri yang saat ini masih dalam pelukanya


Gadis kecil itu hanya bisa diam. Meskipun tentu apa yang ada dalam pemikiran abangnya tidak seperti pemikiran dirinya tetapi  gadis itu akan belajar untuk berdamai dengan apa yang terjadi dengan kehidupanya.


"Lalu bayi yang kalian asuh itu bayi siapa Bang? Bukanya abang dan kakak Qari punya bayi, kalau tidak salah namanya Nara?"


Alzam pun kembali menceritakan asal usul dia bisa adopsi Nara, sesuai dengan yang di ceritakan Naqi, kalau ibu dari Nara sudah meninggal. Alzam yang juga tidak begitu tahu tentang asal usul Nara tentu percaya saja ketika Naqi mengatakan bahwa Nara adalah bayi yang malang yang sejak lahir sudah di tinggal meninggal oleh ibu kandungnya.


Tantri pun kembali menitikan air matanya ketika Alzam menceritakan nasib Nara. "Kasihan sekali adik bayi Nara. Tantri berpikir kalau Tantri adalah anak paling malang yang sudah di tinggal meninggal oleh ayah dan ibu kita, tetapi bayi Nara lebih menyedihkan lagi."


"Itu sebabnya abang dan Kakak Qari sudah sepakat untuk adopsi bayi Nara. Dia akan jadi anak abang dan kakak Qari, kamu tidak marah kan? Kamu setuju kalau abang adopsi bayi Nara?" tanya Alzam dengan hati-hati.


Tantri pun menggelengkan kepalanya. "Tantri senang punya ponakan lain meskipun itu hanya anak adopsi Abang dan kakak ipar." Tantri pun terus kini sudah bisa mengembangkan senyumnya dengan tulus, bukan senyum terpaksa lagi, bongkahan besar yang menghimpit dadanya sudah hilang. Kini dia akan mencoba mengerti apa yang ada dalam pemikiran abangnya yang tidak mengizinkan dirinya dendam pada Deon dan juga siapa pun yang bersalah pada dirinya.

__ADS_1


"Abang, kapan kita ke makam ayah dan ibu, serta kakak. Tantri pengin datang ke makam mereka. Tantri ingin ziarah," ucap Tantri, dalam hatinya gadis kecil itu ingin meminta maaf karena ia merasa bahwa sifatnya kadang tidak bagus dan mungkin mereka kecewa pada dirinya.


Alzam melihat jam di pergelangan tanganya. masih pukul tiga, dan itu tandanya masih ada kesempatan untuk berkunjung ke rumah ibu dan ayahnya serta kakak perempuan mereka.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Alzam dengan menjawil pipi Tantri, dan gadis kecil itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu makan dulu yang banyak, setelah itu buru-buru kita ke rumah kakak, ibu dan ayah. Abang mau mandi dulu, tidur sama kamu bau." Alzam pun mencium badanya, dan berlaga ingin muntah.


"Abang, sejak kapan Tantri bau," protes Tantri dengan memekik sempurna, dan memberikan wajah yang galak.


"Sejak kamu jadi anak cengeng dan menyebalkan." Alzam membalikan badan sebelum dia benar-benar keluar dari kamar adiknya.


"Hist... sejak kapan cengeng bisa bikin bau badan. Abang itu yang menyebalkan." Kini Tantri sudah bisa bercanda lagi dengan abangnya.


"Oh iya, apa kamu mau menginap di rumah Kakek, mungkin ingin bobo bareng sama Nara?" tanya Alzam, sebelum benar-benar ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Tantri tanpak berpikir sejenak. Lalu tidak lama pun menggelengkan kepalanya dengan wajah yang terlihat kurang bersemangat.


"Bukan itu alasanya Bang, Tantri hanya kasihan dengan bi Sarni nanti dia akan kesepian di rumah ini. Bibi sudah sangat baik dengan Tantri, sering nasihati Tantri, sampe Tantri merasa sekarang bi Sarni itu ibu Tantri, galak dan sangat penyayang juga," Tantri mengecilkan suaranya ketika mengucapkan kata galak.


"Aastaga kenapa aku jadi merasa kalau aku akan tergeser oleh bi Sarni," geritu Alzam, sembari menunjukan wajah masamnya.


Hahaha... Tantri pun tertawa dengan renyah. Senyum manis pun di tunjukan oleh Alzam, ia pun merasakan hal yang sangat bahagia.


"Kalau gitu abang mandi dulu, nanti kalu sudah selesai makan panggil abang yah. Abang tidak makan karena sudah makan siang kamu makan sendiri tidak apa-apa kan?"


Tantri kembali menggelengkan kepalanya dengan yakin.


"Abang..." Alzam menghentikan langkahnya, padahal saat ini pintu sudah terbuka dengan lebar. Dan hanya tinggal selangkah  lagi ia keluar.


"Ada apa?" tanya Alzam dengan nada bicara yang lembut.


"Terima kasih sudah jadi abang yang baik, dan panutan selama ini, selalu bisa jadi abang, orang tua, teman dan juga pendengar sekaligus penasihat yang baik," ucap Tantri dengan mata yang sudah berkaca-kaca kembali.

__ADS_1


Alzam pun melebarkan senyumnya. "Terima kasih juga, karena sudah jadi adik yang selalu mengerti perasaan abang, meskipun abang masih banyak sekali kekuranganya dalam mendidik kamu. Abang takut kamu akan kehilangan kasih sayang dari abang karena abang sibuk dengan keluarga dan pekerjaan abang. Kalau hal itu terjadi kamu tegur abang, dan nasihati Abang karena abang sendiri adalah orang yang jauh dari baik. Abang masih berusaha terus menjadi abang yang baik untuk kamu."


Tantri yang sudah tidak kuat lagi membalas ucapan abangnya karena pasti akan menagis pun hanya bisa mengajungkan dua jempol tanganya. Menandakan ok.


"Kita intropeksi bersama. kadang Tantri juga egois karena hanya ingin abang perhatian pada Tantri saja, padahan abang juga sekarang milik kakak ipar dan bayi Nara juga."


Alzam menganggukan kepalanya kuat. "Jadi mohon maklum kalau abang banyak kurangnya yah."


Kini Tantri yang gantian mengagguk. "Kalau begitu kalau Tantri cari pacar biar ada yang sayang Tantri juga boleh?" tanya Tantri dengan tubuh siap-siap untuk kabur.


Benar saja Alzam bukanya keluar malah balik lagi ke dalam kamar, dengan langkah seribu. Tantri juga lari masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dengan tertawa renyah.


"Hai adik nakal, buka pintunya. Abang akan hajar kamu sampai tidak boleh genit lagi." Alzam menggedor pintu kamar mandi, tentu itu semua ekting agar adiknya bahagia.


"Ampun Abang, percayalah itu semua hanya bohong. Mana mungkin Tantri pacaran dengan laki-laki sedangkan usia Tantri saja baru dua belas tahun. Meskipun sudah ada beberapa yang menembak Tantri," adu gadis kecil itu, tentu itu juga hanya karanganya dia terlalu suka mengerjai abangnya.


"Apa kamu bilang, siapa saja cowok genit itu, katakan pada abang biar abang kirim mereka ke Mars," ancam Alzam dengan tangan masih menggedor.


"Banyak Abang semuanya totalnya ada dua belas orang yang sudah menembak Tantri bahkan ada yang memohon-mohon agar Tantri jadi kekasihnya."


Laknat kamu Tantri bikin jantungan abangmu saja.


"Astaga Tantri, kenapa kamu seperti ini?"


"Itu karena Tantri gadis paling cantik dan paling pandai," Narsis boleh lah yah.


"Kalau begitu besok kamu abang kirim ke pesantren!"


"Hah!!! Jangan dong Bang, itu semua hanya hoak kok." Kini balik mengiba lagi.


"Tidak keputusan sudah bulat, kecuali kamu bisa bawa cowok dua belas itu menghadap abang baru kamu tidak jadi di masukan ke pondok."


"Hah... yang bener saja! Mati aku!!"

__ADS_1


__ADS_2