
Alzam langsung melanjutkan langkahnya untuk menyelesaikan tugas dari Naqi, setelah ia membasuh wajahnya yang sedikit memar karena ulah Deon yang sedang uring-uringan dia yang mancing, tetapi giliran dipancing ia tidak terima.
Sebenarnya Alzam masih kepikiran apakah nanti Qari akan curiga atau tidak, terlebih apabila dilihat dari kasat mata bekas pukulan Deon terlihat jelas.
"Apa yang akan aku katakan pada Qari nanti? Apa aku harus terus terang atau aku mencari alasan lain?" Alzam meletakan kepalanya di sandaran kursi penumpang. Padahal dalam hatinya ia masih cemas apakah Deon akan berhenti mengganggu Qari atau malah makin menjadi.
Langkah kaki Alzam diayunkan dengan perasaan yang berat, segala jawaban untuk pertanyaan apabila Qari bertanya nanti sudah Alzam siapkan meskipun laki-laki itu yakin kalau Qari pasti tidak akan percaya begitu saja. Dengan perlahan Alzam membuka ruanganya. Hatinya boleh sedikit merasakan lega karena ternyata tidak ada Qari di dalam ruanganya. Mungkin Qari sedang di ruanganya atau justru sedang jalan-jalan mencari makan atau justru sedang ngisengi para pekerja lainya.
Karyawan disini sudah tahu betul gimana kelakuan Qari, tetapi mereka senang karena itu tandanya wanita hamil itu ramah dan suka berbaur pada kalangan bawah sekali pun.
Entah berapa kali Alzam melihat pipinya dan ujung bibirnya yang semakin bengkak, akan sangat sulit untuk menyebunyikan luka itu dari Qari, bahkan karena memikirkan luka tojokan dari Deon. Alzam sampai tidak bisa berkonsentrasi bekerja.
"Sayang kamu sudah datang," lirih Qari yang baru masuk dan benar dugaan Alzam, kalau Qari habis dari kantin, dan ditanganya membawa makanan yang ia beli untuk mengganjal perutnya.
Alzam mengangkat wajahnya dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Kedua mata Qari langsung melebar sempurna ketika melihat wajah Alzam. Matanya langsung mengintrogasi Alzam, dan laki-laki itu masih bersikap biasa saja.
"Apa kamu sengaja membodohi aku dan kamu menemui laki-laki itu?" tanya Qari, wanita itu sebenarnya sudah curiga dengan Alzam bahwa suaminya itu bukan mengerjakan pekerjaan yang Qari yakin seratus persen bahwa pekerjaan itu bisa di kerjakan oleh orang lain.
"Aku hanya tidak sengaja bertemu dengan laki-laki itu," balas Alzam, dengan pandangan mata kembali ke tumpukan map-map yang ada di hadapanya.
"Bohong!! Kamu yang datang menemui Deon kan, tidak mungkin Deon melakukan ini kalau bukan kamu yang memancingnya. Al... apa kamu tidak tahu kalau Deon itu laki-laki paling menyebalkan, dan dia bisa berbuat nekat." Qari nampak emosi sekali, bahkan makanan yang ia bawa dari kantin diletakan begitu saja di atas meja, tanpa ingin menyentuhnya. Selera makanya menguai begitu saja, itu semua karena kecewa kenapa Alzam berpikir pendek sekali.
Padahal kalau Alzam tidak melakukan itu semua Qari yakin kalau Deon tidak akan mengganggunya, tapi karena kejadian ini Qari malah takut kalau Deon semakin nekad.
__ADS_1
"Aku hanya meminta dia tidak menggangu kamu, karena kamu butuh konsentrasi untuk melahirkan anak kalian, dan aku tidak mau kamu memikirkan ancaman-ancaman Deon," jawab Alzam dengan suara pasrah.
"Tapi karena perbuatan kamu, aku malah jadi semakin kefikiran, aku takut kalau Deon malah nekad akan semakin jadi," dengus Qari ingin marah, tetapi Alzam melakukan ini juga demi kebaikan Qari.
"Iya aku minta maaf, karena aku yang salah," lirih Alzam, sembari menatap Qari dengan penuh penyesalan.
Wanita hamil itu menghirup nafasnya dengan dalam. "Lupakanlah, semoga saja laki-laki itu bisa mendengar apa yang kamu maksud. Aku akan mengambil batu es dan obat untuk mengompres luka kamu." Qari langsung meninggalkan Alzam kembal untuk mengobati luka yang di sebabkan oleh Deon.
********
Di lain tempat, Cucu kembali masuk ke dalam ruangan Deon. Wanita itu masuk setelah mendengar kata 'Masuk' dari dalam sana.
"Anda tadi meminta saya ke sini, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Cucu pada Jec. Wanita itu sebelum menghadap Jec sudah melirik ke arah calon bosnya yang nampak serius dengan laporanya.
"Ah, saya hanya ingin mengenalkan kamu pada calon bos kamu, dan soal kerjaan nanti aku akan jelaskan pada kamu pekerjaanya apa saja." Jec bangkit dari duduknya dan menghampiri Deon yang masih sibuk dengan laporan-laporanya. Jec tahu sebenarnya Deon tahu kalau Jec ingin mengenalkan pada Cucu, tetapi Deon yang sebenarnya tidak begitu suka dengan asisten barunya pun hanya diam saja.
"Tuan.... Kenalkan ini Cucu calon asisten Anda nantinya," lirih Jec yang berdiri di hadapan Deon dengan Cucu di sampingnya.
Tangan Deon langsung merogoh ponsel yang tiba-tiba berbunyi. [Ok, aku akan datang sekarang.]
"Kamu urus saja urusan itu! Aku ada urusan, penting." Laki-laki itu langsung bangkit dan pergi meninggalkan Jec dan Cucu yang sedang berbicara denganya. Tanpa menunggu jawaban dari Jec dan Cucu, Deon langsung meninggalkan ruangan itu.
"Untung saja orang-orang itu telpon tepat waktu, kalau tidak malas banget ngobrol dengan dua cunguk itu." gerudel Deon. Sementara di dalam sana Jec kembali curiga dengan Deon. Apakah ini adalah cara Deon menghindar untuk berkenalan dengan Cucu atau memang Deon ada rencana di luar lagi.
"Tuan, apa yang harus aku lakukan setelah ini?" tanya Cucu dengan wajah yang nampak sedih. Jec sendiri langsung tersandar dari lamunanya dan menatap pada Cucu.
__ADS_1
"Sebelumnya aku minta maaf kalau perlakuan Tuan Deon sedikit kurang mengenakan, tapi kamu harus sabar-sabar karena dia memang sangat luar biasa aneh. Kamu harus kuat jantung, kuat hati dan jangan baperan," lirih Jec, ia takut kalau nanti malah Cucu kabur, apalagi Deon kadang kala marah nada bicaranya dan kata-katanya tidak bisa disaring.
"Tidak apa-apa Tuan, saya akan usahakan kuat menghadapi Tuan Deon," jawab Cucu, kembali menguatkan dalam hatinya bahwa ia pasti kuat untuk menghadapi calon bosnya itu.
"Aku yakin sejahat-jahatnya seseorang pasti memiliki hati yang baik," lirih Cucu, dan dia juga yakin kalau Deon pasti ada sisi baiknya. Jec pun bisa bernafas dengan lega karena setidaknya Cucu adalah wanita yang tidak mudah menyerah. Bisa dia andalkan untuk mengurus Deon. Kalau wanita lain sudah jelas pasti akan menyerah begitu saja.
Sementara Deon langsung menginjak pedal gasnya begiru orang-oraang suruhanya memberikan info yang sangat penting. Ia yakin setelah ini Alzam tidak akan lagi bisa berkutik.
Tidak menunggu waktu lama Deon sudah berada di tempat lokasi di mana orang-orang suruhanya memberikan info bahwa ia harus datang kesebuah restoran di mana ternyata di sana ada seorang anak usia sebelas tahunan sedang menikmati makan siang.
"Selamat siang, apa kamu yang bernama Tantri," ucap Deon sembari mengambil duduk di depan gadis yang masih mengenakan seragam Sekolah Dasar.
Tantri sendiri yang masih mengingat apa ucapan Qari dan Alzam pun hanya diam saja, tetap menikmati makanan siangnya. Ia memang sesekali makan di luar selain bosan dengan menu di rumah Qari juga ingin mencoba makanan ala restoran yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, tentunya sudah mendapatkan izin dari kedua kakaknya.
'Gila nih anak mirip banget judesnya kayak Qari dan Alzam,' bati Deon, tetapi laki-laki itu tidak menyerah dia terus berbicara, meskipun anak yang ada di hadapanya tidak merespon.
"Adik kecil apa kamu tahu kalau Kakak kamu Alzam menikah dengan wanita yang bernama Qari itu bukan karena cinta seperti yang kamu tahu, tetapi karena Alzam yang di minta keluarga Qari untuk menutupi aib kakak ipar kamu." Deon yang sejak tadi tidak mendapatkan respon dari bocah kecil itu pun mulai memancing dengan ucapan yang sudah pasti membuat bocah kecil itu penasaran.
Tantri memang masih diam saja, tetapi dari reaksi yang bocah itu tunjukan dia cukup terkejut, dia cukup kaget dengan apa yang di dengarnya.
"Jadi kamu belum tahu? Aduh jahat sekali yah mereka, terutama Qari, kenapa bisa dia tidak jujur dan memanfaatkan kelemahan Alzam untuk membuat dia wanita yang suci." Deon semakin membuat suasana panas, dan Tantri pun seketika menghentikan kunyahanya.
"Anda siapa? Kenapa berani sekali menjelekan kakak ipar saya," ucap Tantri dengan nada yang dingin.
"Menjelekan? Saya tidak menjelekan kakak ipar kamu yang di mata kamu paling baik. Saya hanya ingin membuka fakta, bahwa kakak ipar kamu yang selama ini kamu nilai baik dan mencintai kakak kamu, itu hanyalah seorang wanita yang sedang berlindung di balik setatus istri Alzam." Deon menghentikan ucapanya, ketika melihat wajah bocah kecil itu memerah.
__ADS_1
"Anak yang dikandung kakak ipar kamu bukan anak Alzam!"