Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimu Dendam #Episode 218


__ADS_3

"Ayok turun, atau mau di gendong?" tanya Deon yang melihat Cucu seolah bermalas-malasan untuk turun sedangkan dia tidak tidur. Wanita itu pun membuka sebelah matanya dengan malas.


Sebeneranya males jalan pengin digendong, tapi mau bagaimana lagi, masa minta gendong sama Pak supir atau malah sama security, maklum suamiku masih lemas, baru pulang dari rumah sakit," balas Cucu dengan mata yang masih mencoba dipejamkan, karena setengah mengantuk.


Namun, bukan Deon namanya kalau laki-laki itu hanya pasrah dibilang lemas laki-laki itu justru langsung mengangkat tubuh Cucu yang kurus itu.


Happp... Cucu yang sedang santai dengan mata terpejam karena malas pun terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba melayang. Dengan gerakan cepat Cucu membuka matanya. Benar saja tubuhnya sudah Deon angkat dengan sangat santai.


"Tuan apa yang Anda lakukan?" pekik Cucu dengan setengah berontak.


"Diam kalau tidak bisa diam, kita jatuh bareng, kamu tahukan suami kamu baru pulang dari rumah sakit, dan satu lagi jangan panggil Tuan-tuan lagi panggil Sayang, Honey, Cinta atau apalah itu yang bikin hati ini enak dengarnya. Aku sudah bosan dipanggil Tuan," balas Deon dengan santai. Seolah laki-laki itu tidak merasa berat mengangkat tubuh Cucu.


"Tapi aku berat loh, baru kemarin aku timbang berat badan aku lima puluh kilo itu setara dengan satu karung beras. Dan soal panggilan aku nggak suka panggil Sayang, atau Cinta dan lain sebagainya aku lebih suka panggil kamu nama saja biar terlihat akrab," balas Cucu dengan santai tentu itu hanya keisengan dia karena Cucu ingin lihat reaksi Deon kalau Cucu panggil nama saja.


"Lakukanlah kalau kamu berani, tetapi hukuman satu kali panggilan nama saja sama dengan satu kali kamu membayar hutang. Jadi kalau kamu panggil nama maka hutang-hutang kamu akan semakin bertambah," balas Deon dengan santai.


"Oh ya Tuhan, Deon apakah dalam otak kamu tidak bisa sedikit saja bebas dari hutang?" tanya Cucu yang benar-benar laki-laki yang sudah menikahinya sepertinya memang terbuat dari darah reternir.


"Bukanya kamu memang suka kalau hutang kamu semakin menggunung?" tanya Deon dengan meletakan tubuh Cucu dengan pelan-pelan di atas ranjang yang dulu untuk duduk di situ harus tidak ada sang pemiliknya. Dan laki-laki itu pun menggunakan ke-dua tanganya sebagai tumpuan agar tidak menin-dih tubuh Cucu.


"Ya, tapi bukan begitu caranya. Awas aku mau mandi. Apa ada pakaian yang bisa aku pakai? Tubuhku sangat gatal gara-gara kamu sentuh," ucap Cucu mengabaikan celoteh Deon, seolah Cucu dengan sengaja membangunkan macan yang sedang tidur. Eh maksudnya Bapaknya Can bukan Emanya Can...


Laki-laki itu hanya membalas Cucu dengan senyum mengejek. Yah, Deon bukanya minggir malah semakin mendekatkan jarak antara dia dan Cucu.


"Deon, apa kamu itu sekarang sudah budeg, sampai kamu tidak mendengar apa yang aku katakan lagi," pekik Cucu dengan kesal pada Deon.


"Yah, aku memang sudah budeg. Lagian untuk apa mandi bukanya nanti akan berkeringat lagi. Aku tahu kamu itu hanya sedang mencoba untuk lolos dari membayar cicilan kamu kan. Aku tahu kamu adalah orang  licik. Makanya aku nggak mau kamu lolos begitu saja tanpa membayar cicilan dulu. Atau setidaknya DP," racau Deon dengan suara yang semakin mende-sah dan tubuh semakin berjarak hanya hitungan jengkal dari tubuh Cucu yang sudah siap menerima serangan.


"Ta... tapi tubuh aku gatal, aku ingin mandi," balas Cucu dengan setengah terbata.


"Ok, anggap saja seperti itu. Kamu memang gatal dan butuh air untuk mandi, tapi sebelum mandi bagaimana kalau satu kali permainan, aku juga ingin mandi bareng sama kamu," balas Deon semakin menjadi-jadi. Cucu tahu kalau Deon tidak akan bisa membebaskan dia. Semakin Cucu berontak semakin menjadi juga Deon bertingak.


"Ok baiklah satu kali permainan, tapi izinkan aku untuk buang air kencing dulu. Aku sangat ingin kencing bahkan rasanya kandung kemih aku sudah penuh," balas Cucu sembari memegang perut bagian bawahnya.


Laki-laki itu yang seolah masih belum begitu percaya dengan ucapan Cucu masih menatap Cucu dengan dalam seolah tengah mencari keseriusan.

__ADS_1


"Deon, ayolah aku sangat ingin pipis. Kamu kalau tiak percaya ikut aku, apa kamu mau aku ngompol. Iya kalau aku ngompol kalau aku terkena sakit, karena menahan buang air kecil bagaimana? Apa kamu mau semua ini terjadi?" tanya Cucu dengan menatap dalam pada Deon.


"Baiklah aku akan memberikan kamu waktu untuk  ke kamar mandi tapi kamu jangan sengaja dilama-lamakan, karen kalau kamu melakukan itu maka malam kelam itu akan terjadi lagi," ucap Deon dengan penuh ancaman.


"Hist, apa kamu tidak percaya sama aku?" balas Cucu tidak kalah galak dari Deon yah, wanita itu memang sangat pemberani.


"Bukan soal percaya atau tidak, aku hanya mengingatkan," balas Deon dengan santai. "Udah sana kamu pergi aku tahu kalau kamu itu memang sedang mencoba memperlama saja." Deon pun bergeser dari atas tubuh Cucu.


Wanita itu pun tidak membuang-buang kesempatan itu. Dia langsung lari ke kamar mandi dengan mencuri waktu Cucu pun justru mandi. Yah, wanita itu seolah mencontoh sang suami yang apabila di katakan A, maka dia akan berkata B, begitupun sekarang Cucu mengikuti cara Deon.


Sementara itu Deon di kamarnya hanya tertawa dengan nakal ketika mengetahui kalau Cucu justru mandi. Dia mengambil surat kamar dan duduk dengan santai menunggu Cucu siap untuk melayaninya, sembari membaca kabar yang sedang trending minggu ini terutama mengenai saham.



Kedua mata Deon semakin tidak berkedip ketika melihat Cucu dengan hanya menggunakan bath robe berwarna putih dengan santai mengosok-gosok rambutnya yang basah. Laki-laki itu pun membuka kancing-kancingnya dengan senyum menyeringai. Tangan Cucu pun langsung terhenti ketika pakaian Deon kancingnya sudah terbuka sampai bawah dan senyum nakal tersungging dari bibir seksinya.



"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" tanya Cucu dengan santai, dan juga dengan tatapan yang seolah mengibarkan peperangan, padahal dia tahu apa tugas-tugasnya.


"Terserah, pinjamkan aku pakaian, aku tidak ada pakaian di sini," ucap Cucu dengan ketus.


"Duduklah sini, aku sudah menunggu kamu dari empat puluh menit yang lalu. Setidaknya sebelum aku pergi ke luar negri aku sudah cukup bekal sehingga aku tidak akan mencari wanita lain," ucap Deon dengan senyum menyeringai.


Wajah Cucu kembali berubah apabila mengingat kalau dia dan suaminya akan berpisah. "Apa yang kamu katakan itu benar dan bukan kebohongan semata. Apa kamu itu akan benar-benar meninggalkan negara ini sampai lima bulan ke depan?" tanya Cucu tanpa sadar wanita itu berjalan dan duduk di samping Deon.


"Yah, kalau kamu tetap ingin bersama dengan aku makan kamu tinggal ikut aku untuk pergi ke negara itu maka kamu akan tetap bisa mencicil hutang kamu," tawar Deon dengan senyum yang menggoda.


"Aku akan tetap di sini. Kamu pergilah bekerja yang benar dan cepat kembali. Karena kalau kamu tidak cepat kembali aku akan berselingkuh dengan Jec," ucap Cucu dengan tangan nakalnya langsung membuka pakaian Deon yang bahkan kancingnya sudah terbuka semua.


"Jec? Kenapa bisa Jec yang jadi target kamu?" tanya Deon dengan heran.


"Karena Jec baik, aku sudah jatuh cinta dengan kebaikannya," balas Cucu dengan sengaja agar Deon marah. Benar saja laki-laki itu langsung mendorong tubuh Cucu hingga terlentang di atas kasur dan Batherobe yang sudah terlepas.


"Berani kamu selingkuh dengan Jec, maka dia akan aku kirim ke Mars," balas Deon sembari melepaskan sisa pakaian yang melekat ke tubuhnya.

__ADS_1


Laki-laki itu akan menggunakan sisa waktu di negara ini untuk membuat Cucu merasakan indahnya surga dunia.


"Deon... kenapa kamu nakal sekali," ucap Cucu dengan suara yang tersengal.


"Tapi bukanya kamu suka?" tanya Deon sebari di bawah sana terus bekerja mengadon boneka yang bisa berkedip-kedip.


"Aku tidak menyukainya, aku hanya terpaksa. Itu semua karena aku punya hutang banyak sama kamu," balas Cucu semakin membuat Deon mengggila di bawah sana, bahkan tidak membiarkan Cucu berbicara lagi selain mengucapkan namanya.


"Deon..."


"Aku benci ini... kamu selalu bikin aku tidak bisa menolak..." racau Cucu, bahkan wanita itu entah berapa kali meminta terus, dan terus.


"Deon... Terus." Entah sadar atau tidak wanita itu mengatakaan ucapan yang membangkitkan sisi lain Deon.


"Apa kamu suka?"  bisik Deon di tengah-tengah kerja kerasnya. Dengan senyuman kepuasan karena Cucu nyatanya jauh lebih nakal dari Qari, dia jinak-jinak merpati dan tentunya galak.


Cucu hanya membalas dengan anggukan kepala yang kaut dan bibir bawah di gigit dengan kuat seolah dia sangat sayang kalau sampai suaranya lolos.


"Jangan digigit, tidak akan enak. Lepaskan saja, dan biarkan ke luar. Jangan di tahan tidak akan enak," ucap Deon dengan mengusap bibir Cucu dengan gerakan yang melemahkan imah.


Akkkhhhh... Deon. Suara rintihan surga pun mulai lolos dari bibir merah Cucu.


"Aku tidak akan membiarkan kamu berpaling pada siapa pun, kamu sudah menjadi milikku, tidak akan ada yang bisa menggantikan aku dari sisi kamu," ucap Deon sebelum tubuhnya benar-benar ambruk, karena sudah mencapai puncak surgawi bersama-sama.


"Istrirahatlah, nanti kita akan mulai lagi," balas Deon, dia pun menarik Cucu ke dalam pelukanya. Dan mulai memejamkan kedua bola matanya yang memberat.


"Cu... Cucu... apa yang kamu lakukan di dalam." Suara yang nyaring terdengar dari luar.


Mata Deon pun yang tadinya sudah sayup-sayup menutup ingin segera istirahat, justru langsung terbuka sempurna.


"Sial, pengacau datang," umpat Deon, di mana Cucu hanya terkekeh jahat ketika mendengar sang suami marah ketika asisten terbaiknya datang.


"Bangunlah, kasihan dia itu orang paling berjasa pada kamu, kalau tidak ada Jec, mungkin aku akan bebas dari hutang-hutang kamu, dan aku akan benar-benar jatuh ke tangan Jec," goda Cucu sembari terkekeh dengan renyah.


"Awas saja kalau dia lama-lama di sini, ganggu orang lagi usaha aja." Dengan bibir yang masih mengumpat Deon pun kembali beranjak dari tempat tidur dan membersihkan badan dan mengganti pakaianya dengan pakian santai. Sedangkan Cucu pun memilih tidur dengan nyenyak mepersiapkan persiapan untuk nanti malam mencicil hutang lagi. Mengingat dalam satu minggu Deon akan mulai pergi ke luar negri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2