Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #episode 78


__ADS_3

"Jec apa saat ini kamu sudah menjadi orang bisu?" tanya Deon dengan kedua mata makin melebar. Apa susahnya  Jec menjelaskan apa sakit yang dia derita. Kenapa Deon melihat kalau Jec itu sangat ketakutan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya itu.


"E... itu Tuan, sebenarnya dokter juga tidak menemukan adanya sakit di tubuh Anda, tapi dokter hanya melihat kalau Anda hanya mengindap alergi," jawab Jec, laki-laki itu sudah mempertimbangkan semuanya bahwa ia tidak akan mengatakan bahwa Qari itu hamil.


Deon melotot tidak mengerti akan penjelasan dokter yang menanganinya. "Apa dokter itu ketika kuliah hanya tertidur?" tanya Deon dengan kesal gimana bisa dia tidak ada sakit dan hanya alergi, sudah jelas-jelas Deon merasakan tubuhnya tidak enak, tulang-tulangnya terasa linu, lemas dan muntah tiada henti, serta bau yang membuat kepalanya pusing, dan dokter bilang tidak ada indikasi sakit apapun, sontak Deon semakin kesal ingin marah dan mengumpat sang dokter saat ini juga.


"Tapi, itu yang mereka laporkan Tuan?" jawab Jec semakin bingung takut kalau Deon juga akan marah padanya lagi.


"Siapkan penerbangan kita lakukan lakukan check up ke luar negri, biar ketahuan apa yang membuatku tidak berselera makan dan rasa lain sebagainya," titah Deon, dan Jec tidak bisa mengelaknya.


"Aku harus gimana, bagaimana kalau nanti di luar negri dokter mengatakan ciri-ciri yang dialami Tuan Deon adalah kehamilan simpatik seperti yang dikatakan oleh dokter di negara ini. Aku harus cari alasan apa untuk menahan agar Tuan Deon tidak melakukan perjalanan luar negri," lirih Jec.


"Jec, apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Deon, laki-laki itu bisa menebak bahwa Jec sedang ada yang di sembunyikan.


"Tidak Tuan, saya hanya sedang berpikir, bagaimana kalau kenyataanya Anda sudah berobat hingga keluar negri dan hasilnya sama, Anda hanya alergi atau tidak ada sakit apapun. Anda sudah banyak mengeluarkan uang untuk memeriksakan diri Anda tapi justru tidak ada hasil apa-apa," lirih Jec tengah mencari alasan yang masuk akal, tapi justru alasannya yang ini berhasil membuat Deon makin curiga.


"Jec, apa kamu lupa kekayaan almarhum papahku yang ditinggalkannya tidak akan miskin meskipun keluargaku bermalas-malasan selama tujuh turunan untuk menghabiskan kekayaan beliau. Biaya berobat ke luar negri hanya seujung kuku dari banyaknya harta yang tertumpuk atas nama ku, lalu alasan ini apa masuk diakal?" tanya Deon dengan mata yang semakin menelisik ke arah Jec.


Namun Jec yang tahu kalau Deon sedang mengamatinya berpura-pura tenang agar tidak ketahuan kalau dia juga sebenarnya sedang  bingung mencari alasan apa lagi agar Deon tidak melakukan pemeriksaan keluar negri.

__ADS_1


"Baiklah Tuan, saya akan siapkan semuanya," lirih Jec dan pada akhirnya pasrah juga, tetapi bukan berati ia akan diam tidak mencari akal untuk mencari cara untuk menggagalkan. Jec akan terus berusaha untuk menggagalkan apa yang seharusnya di gagalkan oleh Jec, yaitu mencoba kontrol ke luar negri.


"Bagus, memang sudah seharusnya kamu mengikuti apa yang aku inginkan," bentak Deon, kembali ke mode monsternya. Mode  teman sudah hilang. Jec hanya merasakan Deon baik hanya beberapa menit saja selebihnya kembali ke mode menyebalkan.


Jec mengambil duduk di sofa untuk mencari tahu tentang semuanya. Mungkin saja orang kepercayaannya sudah tahu tentang kehamilan Qari.


"Kira-kira Tuan kalau tahu Qari hamil anaknya bakal apa yah?" batin Jec, laki-laki itu lupa dengan pekerjaannya yang diharuskan mencari informasi mengenai dirinya yang memilih makan untu Deon. Saking bingungnya cara untuk menutupi gimana cara agar Deon tidak tahu dengan kehamilan Qari.


"Jec..."


"Iya Tuan," jawab Jec dengan hangat.


Apa kamu tahu biasa Alzam berobat di rumah sakit mana?" tanya Deon kali ini laki-laki itu sudah rebahan setelah perutnya terasa nyeri kalau kelamaan bersandar dan duduk.


"Kalau gitu kamu coba cari tahu tentang itu Jec," lirih Deon. dengan mata yang masih terpejam dan tangan berada di atas wajahnya menutup mata yang terpejam itu.


"Tapi, ngomong-ngomong untuk apa Tuan?" tanya Jec semakin bingung dengan Deon kenapa mencari rumah sakit tempat Al berobat beserta dokter pribadinya. "Apa Anda  sudah memaafkan mereka Tuan? Atau sebaliknya?" cecar Jec secara terus menerus.


"Sebaliknya, kamu pernah bilang ke aku, kelemahan Qari adalah laki-laki cacat itu, aku berpikir Qari akan sedih berkali-kali lipat kalau tahu kondisi laki-laki cacat itu kembali drop bukan?" Senyum menyeringai menghiasi wajah Deon yang pucat, tetapi masih terlihat tampan. Ingat Deon adalah monster menjelma menjadi laki-laki tampan dan rupawan.

__ADS_1


Jec terkejut sangat terkejut. "Jadi maksud Anda..."


"Iya aku ingin membuat dia kembali sakit. Itu balas dendam paling halus yang akan aku lakukan Jec," lirih Deon dengan tersenyum penuh kemenangan tatapan yang tajam menatap Jec.


"Apa tidak ada cara lain Tuan, bukanya Anda sudah dengar kalau Qari itu bukan anak Luson. Anda akan sangat menyesal kalau memang wanita itu bukan anak Luson dan  itu jatuhnya dendam anda salah sasaran," lirih Jec, mencoba memikirkan ulang pemikirannya.


"Justru itu Jec, aku tidak akan dendam lagi pada wanita itu. Bukankan dia bilang kalau aku jatuh cinta. Gimana kalau sekarang aku jatuh cinta dan ingin hidup bersama wanita itu. Tidak mungkin aku bisa hidup dengan wanita itu kalau dia saja ada laki-laki yang menjadi suaminya. Bukanya kalau harus hidup dengan wanita itu aku harus menyingkirkan laki-laki itu?" bisik Deon, mungkin ia mengira kalau adakan  ada yang mendengarnya.


"Tapi Qari tidak akan dengan mudah mau menerima Anda sebagai pasangannya Tuan," balas Jec. ia tidak setuju dengan usulan Deon, yang semakin tidak-tidak.


"Lakukanlah Jec, dan jangan biarkan siapa pun tahu akan rencana kita ini selain kita dan dokter itu," titah Deon dengan sangat lirih berbicaranya. "Dan readers juga jangan sampai tahu Jec, nanti aku dihujat."


"Baik Tuan." Ini adalah kelemahan Jec dikala dia harus mengikuti kemauan Deon tapi tidak sejalan dengan apa yang dia  perkirakan. Gimana pun Jec masih memiliki hati, rasanya sangat kejam kalau membuat orang lain sakit dengan menyuntikan hormon perangsang sel kangker.


"Ingat Jec, aku tahu kalau kamu kerjakan atau tidaknya perintah dariku," ucap Deon dengan mata kembali terpejam.


"Baik Tuan, saya tidak bisa menolak apa kemauan Anda Tuan," balas Jec pasrah.


"Ingat Jec, kamu hati-hati dalam bergerak rencana kita harus mulus dan, tidak terdektesi dengan orang-orang lain."

__ADS_1


"Baik Tuan, Anda tenang saja semuanya akan beres." balas Jec. Meskipun dalam hati Jec tidak akan dengan mudah mengikuti rencana Deon.


...****************...


__ADS_2