Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 239


__ADS_3

Hari terus berganti dan tanpa terasa sudah hampir satu minggu Jec pergi meninggalkan kantor, yang artinya besok seharusnya Jec sudah kembali bekerja. Bukan hanya Doni yang bahagia dengan akan datangnya Jec, tetapi Cucu juga senang. Yah, meskipun Doni akan tetap menjadi bagian dari tim mereka, tetapi dengan adanya Jec, Cucu yakin hari-harinya setidaknya jauh lebih baik.


Bukan berarti bekerja sama dengan Doni itu lebih buruk yah, hanya saja sifat Doni yang hampir sama dengan Deon cukup membuat Cucu stres. Bahkan selama satu minggu ini selera makan Cucu cukup hancur dan juga selain selera makan yang hancur, tidur Cucu jadi terganggu. Bahkan rasanya Cucu dan Deon kini sama jam tidurnya sangat-sangat kurang. Hal itu karena Cucu yang terlalu takut kalau ia akan kesiangan sehingga di bawah alam bawah sadarnya cukup membuat Cucu tidak bisa tidur dengan tenang.  Sebentar-bentar Cucu akan terbangun untuk melihat  jam yang mana padahal wanita itu sendiri juga sudah menyetel alarm agar tidak kesiangan, tetapi tetap saja ia akan merasa kesiangan sehingga sebentar-bentar bangun.


Namun, karena ada rasa trauma karena diomelin oleh Doni sehingga rasanya ia akan tetap merasakan takut untuk telat. Padahal selama satu minggu ini Doni sudah bersikap kembali baik dengan Cucu. Bahkan laki-laki itu sering membawakan makanan untuk Cucu kalau dirinya pergi ke kantin. Tetapi sepertinya Cucu masih menyimpan dendam sehingga hingga detik ini Cucu masih membatasi dengan Doni.


"Cu, besok kalau tidak salah Jec sudah mulai kembali kerja ke kantor. Aku paling bisa bantu mengerjakan kerjaan kantor selesai praktek. Yang artinya besok aku akan kembali menjadi dokter, dan setelah pulang dari praktek aku akan menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan kalian itu pun semampu ku," ucap Doni dengan nada bicara yang hangat. Yah, laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu memang sudah bersikap biasa lagi dengan Cucu. Bahkan seolah dia tidak pernah memarahi Cucu, sementara Cucu sendiri masih memendam rasa kesalnya karena bentakkan Doni gara-gara dirinya yang telat. Bahkan wanita itu kalau mengingat momen ia dimarahi oleh Doni tanpa terasa air matanya jatuh.


"Iya tidak apa-apa Don, kamu sudah mau membantu pekerjaan aku juga aku sudah sangat bersyukur," balas Cucu dengan menarik bibirnya. Mencoba melupakan apa yang terjadi diantara dirinya. Yah, Cucu memang atas permintaan Doni, ia kini memanggil Doni dengan nama saja.


Meskipun umur Cucu jauh di bawah Doni, tetapi berhubung status dia adalah adik dari sang suami sehingga Cucu pun mau memanggil Doni dengan nama saja. Tanpa embel-embel Tuan, adik, kaka atau apalah itu sebutan sebagai saudara. Doni mengatakan lebih nayaman dengan panggilan nama saja.


"Atau kamu mungkin punya kenalan Cu, teman atau tetangga yang mau kerja, tolong rekomendasikan untuk aku asisten pribadi Cu, jujur aku sangat butuh asisten. Kalau pekerjaanku banyak seperti sekarang yang ada aku bisa-bisa sakit karena manajemen waktu kurang. Aku butuh asisten yang bisa ngatur jadwal dan membantu pekerjaan aku," ucap Doni, di mana biasanya kalau cewek banyak punya teman yang cewek dan mungkin sedang cari kerjaan juga.


Cucu pun mencoba berpikir kira-kira ada tidak temanya yang sedang menunggu lowongan pekerjaan yang seperti Doni katakan. Namun, untuk beberapa saat Cucu hanya diam berpikir. Namun setelahnya wanita itu menggeleng dengan lembut.


"Coba kamu telpon Jec, Don. Mungkin saja di kampung Qila ada tetangga atau saudaranya yang sedang membutuhkan pekerjaan," balas Cucu mengingat dia tidak punya teman yang sesuai dengan yang Doni inginkan.

__ADS_1


"Ah ide kamu bagus juga Cu. Kalau gitu aku buru-buru akan menghubungi Jec," balas Doni yang berkat ucapan Cucu dia jadi ada ide mencari asisten pribadi untuk membantu pekerjaan dirinya.


Tidak menunggu lama Doni pun langsung meraih ponselnya dan akan mengubungi Jec untuk meminta mencarikan asisten pribadi untuk dirinya.


Jec yang sedang berkemas untuk siap-siap pulang ke Jakarta pun kembali dikagetkan dengan telpon dari Doni. "Aduh Tuan Doni telpon ada apa yah?" gumam Doni, pasalnya sudah pasti kalau Doni telpon biasanya ada suatu kesalahan.


"Kenapa Mas?" tanya Qila, yang sejak mereka mudik bersama kini panggilan pun sudah memakai mas seperti orang-orang lain.


"Tuan Doni telpon, jadi deg-degan," balas Jec, sembari menunjukan foto Doni yang yang sedang bertugas di jadikan foto profil dari sang dokter. Yah, laki-laki itu saking bangganya bisa menjadi dokter semua sosial medianya menggunakan foto dirinya yang tengah bertugas.


Ada yang mau diperiksa sama dokter Doni Mahendra Bellamy?



[Hallo, ada masalah apa Tuan?] tanya Jec langsung. Yah, Jec sudah tahu kalau Doni sedang ada masalah itu sebabnya menghubungi Jec.


[Ck... kenapa kamu langsung bertanya ada masalah apa? Kalau aku telpon karena kangen kamu gimana?] tanya balik Doni yang mana suasana hatinya sedang bahagia, karena mulai besok dia sudah bisa praktek lagi. Sehingga tumben-tumbenan ngajak Jec bercanda. Biasanya saja ngajak gelut terus sama Jec.

__ADS_1


[Itu tidak mungkin Tuan, karena saya sudah hapal betul kebiasaan Anda, jadi ayo katakan Anda sedang dalam masalah apa?] cecar Jec dengan keras.


[Jec, apa kamu ada teman, tetangga atau siapa lah yang sedang cari kerja? Kalau ada kamu bawa ke sini Jec, aku butuh seorang asisten pribadi. Terserah yang seperti apa yang penting orangnya jujur, baik, tidak bawel kaya kamu, dan pekerja keras. Tolong carikan yah Jec, dan besok kamu masuk orang itu harus sudah ada,] ucap Doni, di mana Jec mendengarnya langsung terkekeh.


[Kalau ini namanya bukan bertanya Tuan, tetapi memang saya harus mencarikan untuk Anda,] balas Kec dengan membuang nafas kasar.


[Yah, anggap saja seperti itu. Aku butuh asisten dan juga sekalian kalau ada lagi, carikan untuk Cucu juga, aku kasihan lihat dia sepertinya dia juga butuh asisten pribadi jangan semua dikerjakan sendiri, nanti kecapean dan sakit Deon ngamuk-ngamuk lagi,] imbuh Doni yang mana Cucu sebenarnya tidak membutuhkannya, tetapi Cucu juga tidak bisa menolaknya karena takut kalau Doni akan marah sehingga ia pun hanya pasrah.


[Tuan, untuk cari orang yang Anda maksud satu orang pun sepertinya sangat sulit. Kenapa ini malah dua Tuan. Apa Anda sedang mengerjai saya?" tanya Jec dengan pasrah. Rencananya siang ini dia akan langsung melakukan perjalanan kembali ke Jakarta agar bisa istirahat di malam harinya dan besok paginya akan bisa kembali bekerja dengan tubuh yang segar.


"Aku nggak mau tahu Jec, yang penting kamu cari orang yang aku mau!] Nut... Nut... Nah kan sambungan teleponnya langsung di matikan oleh Tuan Dokter.


Namun, sepertinya Jec harus mencari pesanan Doni yang mana itu pasti tidak mudah satu orang saja sulit apalagi dua orang. Kan  benar-benar sang dokter emang ngadi-ngadi.


Sabar yah Jec, Doni memang seperti itu...


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2