Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 170


__ADS_3

Alzam mengusap air matanya begitu kendaraan roda empat yang ia tumpangi sudah sampai di halaman rumah kakek Latif. Cukup lama Alzam menenangkan perasaanya di dalaam mobilnya. Hatinya sakit ketika adiknya menginginkan pergi dari dirinya. Padahal laki-laki itu sangat berharap sampai Tantri menikah dia tetap bisa menjaganya. Dia tidak rela sama sekali kalau Tantri pergi dari Alzam, Tantri adalah segalanya, keluarga satu-satunya yang tersisa.


Meskipun mungkin dia masih memiliki keluarga di tempat yang berbeda, tetapi sesak orang tuanya meninggal Alzam tidak tahu seperti apa kampung halaman mereka, dan keluarga mereka, di mana Alzam dan Tantri juga tidak tahu cerita orang tua mereka. Sejak mereka tidak ada Alzam tidak tahu cerita mereka bisa merantau dan dari kota mana mereka pun tidak tahu. Yang Alzam tahu mereka hanya dari Jawa, tepat kota apa Alzam tidak tahu betul.


Setelah cukup tenang laki-laki itu turun dan masuk ke dalam rumahnya di mana, adzam magrib pun sudah hampir berkumandang.


Begitu masuk sampai kamar, Qari sedang bermain dengan Nara. "Sayang kamu sudah pulang?" Qari nampak bahagia ketika Alzam sudah sampai.


"Aku langsung mandi yah, habis dari luar tubuhnya kotor." Tanpa menunggu jawaban dari Qari, Alzam langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari makam dan juga menyembunyikan wajahnya yang pasti sangat merah matanya sisa tangisnya. Alzam takut kalau Qari akan ikut sedih.


Qari pun mengangguk dengan sedikit heran. "Kenapa seperti ada yang di tutupi," ucap Qari dengan lirih.


"Nara, apa kamu melihat kalau papah kamu itu seperti berbeda?" tanya Qari pada bayi yang belum genap satu minggu itu. Meskipun Qari sangat sedih dengan kepergian Qinar, tetapi rasa sedihnya sedikit terobati dengan keberadaan bayi cantik itu.  Qari yakin pasti orang tua bayi itu sangat cantik buktinya bayi yang diasuh oleh Qari sangat cantik dengan mata yang biru pudar dan kulit putih mulus.


Eaaa.... Suara Nara seolah memberikan jawaban atas pertanyaan Qari.


"Kamu jawab apa Sayang. Iya? Kamu juga merasakan kalau Papah itu beda? Baiklah nanti Bunda akan tanyakan pada Papah kenapa dia berbeda, mungkin Papah mau cerita sama kamu dan Bunda." Qari senang setidaknya disaat dirinya sedih karena kehilangan buah hatinya setidaknya dia di pertemukan Nara dengan nasib yang kurang baik juga, ibu yang meninggal dunia dan papah yang tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


Qari yakin suatu saat sang papah bayi yang dia asuh pasti akan sangat menyesal telah menelantarkan benihnya. Untung Nara bertemu dengan keluarga Qari dan diasuhnya coba kalu bertemu dengan keluarga orang lain mungkin saja nasibnya akan buruk.


"Nara, kamu diam yah, Bunda akan siapkan baju untuk papah kamu." Qari pun mengambilkan pakaian untuk suaminya yang ia yakini sebentar lagi pasti akan ke luar dari kamar mandi. Benar saja Alzam ke luar dari kamar mandi dengan mata yang masih sedikit memerah dan kelopak mata bagian bawah yang besar menandakan kalau Alzam memang telah menangis, tetapi Qari tidak ingin terburu-buru bertanya sehingga dia lebih memilih melayani suaminya dulu dan akan bertanya pelan-pelan.


Qari berjalan ke arah Alzam, dan mengambil handuk kecil yang ada di tangan suaminya itu. "Aku bantu mengeringkan rambut kamu," ucap Qari dan Alzam pun menurut saja. Membiarkan Qari yang membantu mengeringkan rambutnya. Meskipun Alzam sedikit tahu kalau ini adalah upaya Qari untuk mengorek apa yang terjadi di antara dirinya dan Tantri. Namun Alzam berusaha mengikuti cara Qari untuk memberikan pelayanan padanya lebih dulu meskipun tidak berakhir ke adegan nunu nana.


#Iyalah Qari baru lahiran kalau minta nunu nana tak gantung kamu Alzam.


Alzam duduk di samping ranjang sementara Qari berdiri di hadapanya dengan tangan terus meggosok rambut yang masih basah. Sementara Nara seolah tahu kalau bunda dan papahnya tegah membutuhkan waktu bersama sehingga bocah bayi itu hanya diam bermain tangan.


"Apa Tantri marah dengan semua yang dilakukan keluargaku?" tanya Qari setelah rambut Alzam sudah mengering. Tangan Alzam kini sudah melingkar di pinggang sang istri dengan  wajah di benamkan di perut ramping Qari.


Alzam meraih ponselnya yang diletakan di atas meja dan memberikan rekaman yang sempat ia buat saat Tanti bercerita dengan ke dua orang tuanya.


"Kami sempat mengunjungi makan kedua orang tua kami, dan Tantri bercerita ini dengan mereka, aku butuh masukan kamu." Qari pun mengambil ponsel Alzam dan memutar apa yang ada dalam rekaman itu. Sama halnya dengan Alzam, Qari pun tanpa sadar meneteskan air matanya ketika ia mendengarkan curhatan dari adik iparnya. Qari bisa merasakan berapa sakitnya hati Tantri.


Alzam mebiarkan Qari berpikir dan setelah itu saling berkomunikasi dan memberikan pendapat yang terbaik untuk Tantri.

__ADS_1


"Biarkan aku berbicara dulu dengan Tantri, baru aku bisa memberikan solusi untuk adik iparku. Aku juga ikut adil dalam kesedihanya, terutama keluargaku, terlebih saat ini aku memilih tinggal di rumah orang tuaku, pasti Tantri tambah merasa bersalah, karena masih mengira kalau aku marah dengan dirinya. Biarkan aku berbicara dulu dengan dia dan mungkin aku bisa tahu bagaimana sesungguhnya keinginan dia," ucap Qari dengan mengusap air matanya.


"Aku sudah meminta agar dia menginap di rumah ini dengan alasan Nara dan kamu kangen, tetapi dia masih belum mau mungkin kalau kamu yang memintanya dia akan mengikuti apa kata kamu," balas Alzam dengan suara yang pasrah.


"Aku akan telpon Tantri, tetapi bukan saat ini, biarkan dia untuk saat ini tenang dulu pikiranya, nanti aku akan telpon dia dan mungkin kita berbicara seperti dulu dari hati ke hati dan mungkin Tantri akan bercerita apa yang dia inginkan," ucap Qari sembari memberikan ketenangan pada Alzam, yang Qari  tahu Alzam juga sedang dalam pikiran yang kalut karena adiknya.


Alzam sedikit memberikan senyum pada Qari yang sudah  berusaha mengeri Tantri. Meskipun Alzam sediri mengakui dia masih benar-benar kesulitan mengatur kasih sayang untuk keduanya dulu ia sepat berpikir kalau hal itu sangat gampang untuk memberikan kasih sayang, tetapi pada kenyataanya Alzam seperti merasa  laki-laki yang jahat karena menyakiti dua orang wanita yang paling dia sayangi.


"Aku percaya pada kamu dan aku berharap kalau kamu bisa membantu aku untuk mendapatkan jawaban atas masalah ini." Alzam mengeratkan pelukanya pada Qari yang membuat pikiran dia sedikit lebih tenang.


"Tapi kalau ternyata Tantri memang tetap ingin pergi dan itu adalah yang dia sangat inginkan dan membuat dia bahagia, bagaimana dengan kamu?" tanya Qari hanya ingin melihat keseriusanya.


"Kalau itu yang bisa membuat Tantri bahagia aku tidak bisa melarang, takutnya aku nanti terlalu memanjakan dia dan jatuhnya dia jadi salah pengertian dan membuat dia tidak bisa mengatur emosinya."


Qari mengangguk sebagai tanda kalau dia tahu apa yang harus ia lakukan.


...****************...

__ADS_1


Sembari nunggu kisah Qari yuk mampir ke bambang Felix dan neng Jojo semoga terhibur dengan pasangan yang beda usia 15tahun itu



__ADS_2