
"Hari ini aku bersihin badan kamu yah, nanti jam sepuluh kamu harus mulai menjalani pemeriksaan seluruh badan apakah ada indikasi sakit yang lain dan hasil untuk sakit yang kamu derita akan ke luar di hari ini juga kalau semua hasilnya bagus kamu boleh pulang dan juga boleh makan mie ayam," celoteh Cucu dengan girang padahal pagi ini saja masih pukul lima biasanya jam segini Deon masih terbuai dengan alam mimpi.
Yah, sejak semalam hubungan Cucu dan Deon sudah makin membaik. Tepatnya Cucu yang berbaik hati memperbaiki hubungan Deon dan dirinya. Sedangkan Deon sendiri sebenarnya masih ada rasa kurang enak karena merasa bersalah dengan Cucu tapi untuk meminta maaf atau bahkan untuk memperbaiki diri Deon masih terlalu gengsi.
Laki-laki itu pun membuka sebelah matanya untuk melihat seisi ruangan. Namun keningnya langsung mengkerut sempurna ketika melihat kalau pagi saja masih buta.
"Ini jam berapa Cu?" tanya Deon dengan heran. Bahkan dari jendela kamar saja masih gelap.
"Jam lima, aku akan siapkan air untuk kamu membersihkan diri setidaknya cuci rambut kamu biar nanti dokter yang periksa tidak pingsan karena mencium rambut kamu, dan kamu harus sikat gigi agar tidak bau jigong, masa nanti dokter yang periksa kamu pingsan karena cium jigong kamu," balas Cucu dengan bersiap untuk kembali ke dalam kamar mandi. Namun, buru-buru Deon menahan Cucu agar tidak melakukan itu.
"Cu tunggu, duduk dulu!" ucap Deon, menahan Cucu yang mau pergi ke kamar mandi.
Cucu pun yang sudah menjadi istri patuh, mengikuti apa kata Deon.
"Ada apa lagi sih, aku kan mau siapin air untuk membersihkan badan kamu," balas Cucu dengan malas, tapi mau bagaimana lagi dia harus patuh dan nurut dengan Deon yang sudah menjadi suaminya, apalagi Cucu sudah yakin kalau Deon bisa merubah tabiat buruknya.
"Pemeriksaan jam berapa emang. Jam sepuluh kan? Tapi kenapa kamu sudah harus cape-cape di jam sepagi ini? Apa kamu tidak cape? Udah duduk dulu nanti jam delapan baru kamu boleh melakukanya, dan juga aku masih dingin. Malas nyentuh air," balas Deon sembari meminta Cucu untuk duduk di sampingnya.
"Yah, padahal aku sudah bangun lebih pagi biar kamu sudah siap nanti kalau dokter datang, jadi sia-sia dong aku bangun pagi," ucap Cucu dengan mencebikan bibirnya hingga membuat Deon menegang, tetapi laki-laki itu sebisa mungkin menahanya.
"Tidak sia-sia kan bisa rebahan lagi untuk menunggu sampai jam delapan pagi, dan itu bisa kamu tiduran di sini atau bahkan nonton TV atau malah main HP lalu mana yang sia-sia. Lagian aku dingin banget tidur semalaman sendiri. Tidurlah sini aku masih ngantuk," ucap Deon dengan menepuk sisi ranjangnya yang masih luas dan bahkan mau dua orang lagi yang tidur dengan dirinya ranjangnya masih muat. Namun, Cucu malah malam tadi memilih untuk tidur di sofa. Sangat kesepian kan.
__ADS_1
Cucu menatap Deon dengan tajam. Seolah dia sedang memberikan Sinyal ancaman untuk Deon.
"Tenang saja, aku nggak mungkin menagih hutang-hutang kamu saat ini, tangan aku saja masih terikat seperti ini bagaimana aku bisa main, main sama kamu, tapi kalau kamu mau minta aku bisa melepasnya," goda Deon, sembari mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Cucu yang wajahnya memerah. Sedangkan Cucu langsung melebarkan matanya kembali.
"Hehe... tidak Cu, aku sekarang baik ko. Jadi awas saja kalau kamu nanti jatuh cinta sama aku." Kembali Deon pun menggoda Cucu yang sangat menggemaskan itu.
"Nah, aku sebenarnya ada rasa takut sama orang baik. Aku mudah baper aku takut nanti aku baper karena kamu baik," balas Cucu justru meninggalkan Deon dan rebahan di Sofa.
"Cu, kamu nggak mau nemanin aku. Sendirian dingin," goda Deon rasanya tidak asik kalau terus menggoda Cucu.
"Tidak, maaf kamu bau," balas Cucu yang langsung kena mental untuk Deon. Laki-laki itu pun mengangkat tanganya dan mencium ketiaknya. "Perasaan nggak bau," guamam Deon tapi tentu masih bisa di dengar oleh Cucu. "Tapi kalau bau wajar sih aku nggak mandi empat hari," imbuh Deon lagi, yang membuat Cucu jadi tertawa sendiri dengan kelakukan laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Tentu saja tertawanya ditahan. Agar Deon tidak malu.
Ada yang membuat Deon beda. "Kamu sudah membersihkan tubuh kamu?" tanya Cucu ketika melihat Deon selain ganti baju juga sudah wangi.
"Sudah lah, kamu tidur kaya kebo, dibangunun nggak bangun-bangun," ejek Deon dengan berjalan ke ranjangnya.
"Terus siapa yang memandikan kamu?" tanya Cucu kepo pake banget. sedangkan perasaan Cucu dia tidak ada yang membangunkanya. Rasanya tidak mungkin dia tidur kaya kebo, sedangkan nyamuk terbang di sekitar telinga saja dia bisa mendengarkanya.
"Sendiri dong, emang harus di bantu oleh siapa?" tanya Deon balik. Dan sontak saja membuat Cucu langsung tersentak kaget.
"Kamu serius mandi sendiri?" tanya Cucu lagi, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang Deon katakan. Namun, anggukan yang kuat mengatakan kalau Deon memang melakukanya sendiri.
__ADS_1
"Selang infusnya?" tanya Cucu lagi, pokoknya wanita itu tidak percaya kalau Deon melakukan semunya seorang diri.
"Iya-iya tadi ada perawat laki-laki yang bantu aku membersihkan badan aku. Pokoknya mana mungkin aku bisa bohong kalau punya istri banyak makan ikan kembung. Pinternya kebablasan," ucap Deon dengan pasrah. Niatnya mau bohong tapi mana mungkin bisa sedangkan Cucu adalah orang yang kritis jawaban.
"Dasar tukang bohong, dosa loh. Udah mau puasa juga," dengus Cucu malah kembali lagi merebahkan tubuhnya. Dan menutup rapat dengan selimutnya.
"Heh kamu kenapa malah tidur lagi? Kenapa kamu nggak mandi? Mandi sana sebentar lagi dokter datang dan kamu temanin aku menjalani pemeriksaan," ucap Deon dengan setengah memekik. Karena Cucu malah rebahan kembali.
"Mohon maaf, aku masih ngantuk. Dan aku juga malas untuk mandi," balas Cucu dengan suara tidak begitu jelas. Justru Deon malah terkekeh dengan kelakuan sang istri yang lucu.
"Ya udah kalau gitu kamu tidur lagi saja, tapi nanti kalau kamu bangun aku tidak ada kamu jangan cari karena itu tandanya aku sudah pulang," balas Deon dengan santai.
"Eh... Enak aja, mau lah aku mandi. Baper banget," gerundel Cucu hingga Deon heran siapa yang baper sebenarnya. Selama Deon menunggu Cucu dia pun mengecek pekerjaan yang sudah lama dia tinggalkan hingga Deon pun mau membereskanya sudah cape duluan.
Namun, betapa kagetnya ketika pekerjaanya sebagian sudah beres. Yah lagi-lagi Jec yang membereskanya. Tetapi rupanya keterkejutan Deon tidak sampai di situ saja. Jabatanya diganti dengan Jec, sedangkan dirinya kembali ditugaskan untuk kerja ke Jerman mengurus pekerjaan di mana papahnya berasal yang sudah banyak kekacauan. Tanpa terasa Deon hatinya sakit.
Padahal dia baru saja merasakan nyaman dengan Cucu berada di sampingnya. Namun, itu tandanya dia akan kembali berpisah dengan sang istri. Laki-laki itu pun kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya yang terasa berat. Dan juga rasanya kelopak matanya beras seolah ada butiran air mata yang kembali akan tumpah.
Namun, Deon juga tahu ia terlalu fokus dengan urusan pribadinya sampai soal pekerjaan dirinya sudah sangat banyak meninggalkanya. Sedangkan Deon yang dulu adalah laki-laki yang selalu menomor satukan pekerjaan bukan hanya soal cinta dan cinta.
Sepanjang Cucu mandi Deon pun hanya bisa merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Untung saja laki-laki itu tidak harus lama menunggu dokter yang memeriksanya sudah datang. Dan bertepatan dengan itu Cucu juga sudah selesai dari kamar mandi. Deon ditemani oleh Cucu pun menjalani berbagai pemeriksaan. Apakah boleh pulang atau harus menunggu lagi di rumah sakit?
__ADS_1