
Inda sangat terkejut saat mendapati Dona yang tiba – tiba muncul dari balik punggungnya. Dengan mata melotot, Melinda menatap tajam pada Dona saat membuka kunci pintu apartemennya.
Setelah pintu terbuka, mereka masuk saling bergantian. Dona hanya melenggang santai tanpa merasa ada yang salah. Melinda masih bertanya – tanya dalam hatinya, dan menunggu Dona memberinya sedikit penjelasan.
Tapi ternyata Dona berpikir bahwa tidak ada sesuatu yang penting yang harus ia jelaskan kepada Melinda. Karena sangat penasaran, akhirnya Melinda menanyakannya pada Dona.
“Lo nggak pulang semalaman, Don?!” selidik Melinda.
“Hmm, gue nginep di apartemen temen gue. Nggak masalah buat lo, kan?” Dona balik bertanya.
“Temen lo yang mana? Apa gue juga mengenalnya?” selidik Melinda kembali. Dona menggeleng.
“Cewek apa cowok?!” tanya Melinda lebih jauh.
“Udah deh itu urusan gue! Kayak emak gue aja lo. Bawel amat!” sungut Dona sambil meneguk segelas air putih.
“Ya.. ya bukannya begitu, setidaknya gue juga kenal siapa temen lo. Jadi jika terjadi sesuatu sama lo, gue bisa bantuin loe, Don,” ujar Melinda.
“Terima kasih lo udah peduli sama hidup gue, tapi inget! Gue juga punya privasi,” ketus Dona merasa tidak senang sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa di depan TV.
“Oke, gue ngerti. Gue minta maaf,” sahut Melinda datar.
“Baguslah kalau lo ngerti,” ucap Dona sambil memencet remot memilih siaran televisi.
Suasana hening sejenak, tatapan Dona fokus lurus ke depan menonton acara televisi. Melinda pun hanya terdiam.
Sampai beberapa menit kemudian, Melinda mencoba mencairkan kebisuan yang menyergah diantara mereka.
“Umm, Don! Gimana rencana lo untuk perempuan kampung itu, jadi?” tanya Melinda.
“Jadi,” jawab Dona singkat.
Drrrrrrtttt... Drrrrrrrrttttt...
Suara dering di ponsel Dona terdengar begitu nyaring.
“Hei Beb, ada apa?” tanya Dona.
“Aku tunggu sekarang, nanti alamatnya akan aku share,” jawab Steve singkat lalu mematikan ponselnya.
Dona segera beranjak dari tempat duduknya, segera bersiap untuk pergi menemui kekasihnya.
“Mel, lo ikut gue sekarang. Kita akan jalankan rencana gue,” ungkap Dona sembari mengayunkan langkah kakinya ke arah luar.
__ADS_1
“Memangnya apa rencana, lo?” telisik Melinda penasaran.
“Udah, jangan banyak tanya. Lo ikut aja. Nanti Lo juga bakalan tahu, kok,” sahut Dona.
Melinda hanya bisa berjalan mengekor di belakang Dona. Kini keduanya tampak terburu – buru. Mobil yang mereka kendarai pun melaju dengan cepat.
“Dona! Memangnya apa sih rencana loe?” tanya Melinda lagi yang masih penasaran tingkat dewa.
“Udah, loe ngikut aja nggak usah banyak tanya,” tukas Dona kesal.
Akhirnya sampai juga Dona di tempat tujuan untuk bertemu dengan Steve.
“Hai Beb,” sapa Dona sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Steve dan berakhir pada bibir seksi miliknya.
Melinda yang melihatnya langsung melengos mengalihkan pandangannya, Dia merasa sial telah melihat adegan sepupunya barusan.
“Sayang, siapa dia?” tanya Steve pada Dona saat melihat Melinda yang masih memalingkan wajahnya dari mereka.
“Oh! Kenalin..ini Melinda sepupu Aku,” terang Dona sembari menarik lengan Melinda.
Melinda berbalik dan menyambut uluran tangan Steve dan berkata, “Melinda.”
“Nama yang indah sama seperti orangnya,” Steve mengerlingkan sebelah manik matanya sambil menyungginggkan salah satu sudut bibirnya, “Steve.”
Melinda merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Steve. Dia menangkap sinyal bahwa Steve bukanlah pria baik – baik. Namun ia tidak mengungkapkan apapun karena masih menghargai Dona.
“Hehe, cukup ya kenalannya. Bagaimana jika kita langsung membicarakan rencana apa yang akan kita lakukan sekarang, bukan begitu, Beb?” celetuk Dona sembari manaikkan kedua alisnya bersamaan.
“Oh, i-iya,” sahut Steve gugup. Membat Melinda tersenyum dalam batinnya.
Sambil menikmati minuman mereka masing – masing, Steve pun menyampaikan rencana jahatnya untuk menjebak Reisya. Melinda dan Dona juga menyetujui rencana tersebut.
Steve langsung membagi tugas pada Dona dan Melinda. Mereka pun langsung bergerak cepat.
Mereka segera menuju ke kampus Reisya. Melinda turun dari mobil dan langsung berjalan menuju ke kelas Reisya. Dia hanya ingin memastikan bahwa Reisya masih berada di dalam kelas.
Sementara Dona dan Steve memantau situasi dari dalam mobil. Sambil menunggu kabar dari Melinda keduanya menyempatkan diri untuk mengulangi kembali aksi ranjang mereka yang belum tuntas malam tadi.
“Oh! Sayang, kau selalu membuatku ingin lagi dan lagi,” ucap Steve sambil mengaktifkan tangannya kemana – mana membuat Dona menyerah pasrah begitu saja.
“Tapi Beb, ini di tempat umum. Bagaimana mungkin kau melakukan semua ini di dalam mobil?” sanggah Dona sambil menikmati setiap sentuhan.
“Kau tenang saja, kaca mobilku tidak akan tembus pandang. Jadi kau tidak perlu khawatir akan terlihat oleh orang lain. Apa kau tidak ingin merasakan sensasinya?” rayu Steve sambil terus menjelajahi tubuh Dona.
__ADS_1
Dona hanya mengangguk karena sudah mulai tergoda. Namun saat Steve akan melakukan serangannya, ponsel Dona berdering.
“Mungkin saja itu Melinda,” ucap Dona meranggai ponselnya di atas dashboard. Namun Steve tak memperdulikannya lagi, dia tak sanggup menahan sosis berurat miliknya yang semakin menegang.
Dona menahan desahannya sambil menjawab telepon Melinda, “Ouhh! Iya Mel.. terus, Ehmm...”
“Don! Lo lagi ngapain, sih? Lalu apanya yang terus?” tanya Melinda lugu.
“Aahh! Oke.. iyaa..,” ucap Dona asal. Dia sudah tidak fokus dengan pertanyaan Melinda.
“DONA!!!” pekik Melinda yang langsung mematikan ponselnya karena merasa kesal mendengar ******* – ******* yang keluar dari mulut Dona.
Dona dan Steve langsung menghentikan aksinya setelah mencapai puncaknya. Lalu Dona segera menelepon Melinda kembali.
“Halo Mel, ma- maaf. Tadi..gue..,” ucapannya langsung di potong oleh Melinda.
“Gila lo ya, sempat - sempatnya lo ngelakuin itu, di tempat umum Don! Eh! Denger ya, ini bukan cuma rencana gue sendiri, tapi lo. Sekarang gue udah ngelakuin tugas gue. Target masih ada di dalam kelas! Tugas gue DONE!!” ketus Melinda.
“Oke, dan yang perlu lo inget. Urusan pribadi gue jangan pernah lo campurin, gue nggak suka!” seru Dona sambil mengerutkan bibirnya.
Sementara Steve yang hanya ingin mendapatkan keuntungan cuma tersenyum jahat penuh kemenangan.
“Oke, sekarang lo lihat ke luar. Ada nggak bodyguard perempuan kampung itu?” titah Melinda kesal.
“Iya ada, gue lihat dia di sini,” terang Dona.
Kini giliran Steve menjalankan tugasnya. Dia menyamar sebagai mahasiswa di kampusnya Reisya dan berpura – pura menjadi teman baik Reisya. Steve berjalan mendekati Max setelah mendapat aba – aba dari Melinda.
“Excuse me, Are you Reisya’s friend?” tanya Steve.
Dengan tatapan penuh hati – hati Max menjawab, “ who are you?”
“Oh, I’m Martin. I just to give it for you,” sahut Steve sambil menyodorkan selembar kertas kepada Max.
Max membaca isi pesan di kertas itu lalu mencoba mengklarifikasi dengan menelepon Reisya, namun telepon Reisya tidak aktif. Dengan ragu Max pun mengikuti isi pesan tersebut.
“Okey, thank you Martin,” pamit Max langsung bergerak ke alamat yang tertulis di kertas.
Dengan senyum bahagia Steve membiarkan Max pergi, dan selang beberapa menit kemudian Reisya muncul dari dalam kampus. Ia berjalan sambil sesekali memutarkan kepalanya mencari keberadaan Max.
Bukan Max yang ia jumpai justru Steve yang datang mendekati Reisya.
“Hai! I’m Martin. And this is for you,” ucap Steve menyodorkan kertas yang sama seperti yang ia berikan kepada Max.
__ADS_1
Lalu Reisya memperhatikan Steve dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sorot matanya tajam, sementara Steve membalasnya dengan senyuman genitnya.
Reisya mencoba menelepon Max, berulang kali. Namun suara Max terputus – putus karena sinyal yang kurang baik. Akhirnya Reisya memutuskan untuk ikut bersama Steve, karena dia mengaku sebagai teman Max yang menggantikan tugasnya untuk sementara waktu. Reisya pun percaya.