Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 186


__ADS_3

Deon yang melihat Cucu terus membela Jec tentunya marah dan sangat kesal. Entah apa yang Deon rasakan, tetapi yang jelas ia marah ketika di hadapanya secara langsung Cucu membantu asistenya.


"Terus aja kamu bela Jec, Cu. Aku tidak mengira kalau ternyata kamu serendah ini, berlaga tidak mau melayani aku, tapi apa kenyataanya, kamu malah melayani, laki-laki b*rengsek ini." Deon dengan suara meninggi menuduh Cucu yang tidak-tidak dan menunjuk Jec dengan sangat hina.


Cucu yang kesal pun tidak lantas membantu Jec, melainkan berpindah haluan  langsung berjalan ke depan Deon dan ... Plakkk... Plakkkk... Cucu menampar Deon dengan sangat keras, bahkan pipinya sangat merah. Apakah Deon membalas? Tidak laki-laki yang baru saja menghajar Jec tidak membalas perbuatan Cucu, melainkan ia mematung dan menatap Cucu penuh tanya, seolah dia baru sadar dengan apa yang terjadi. Pipinya panas dan tanganya yang bekas ninju Jec juga panas.


"Jaga mulut kamu Deon, kalau tidak kamu akan menyesal seumur hidup," ucap Cucu dengan tatapan yang membunuh. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kamu tidak tahu tentang aku, jangan bangunkan macan yang sedang tidur, karena sekalinya mengusik bukan hanya kamu yang celaka tetapi semuanya," imbuh Cucu, dengan tatapan yang membunuh. Apalagi hinaan ini bukan sekali Cucu dengar. Sangat sakit ketika wanita baik-baik dituduh dengan tuduhan yang sangat hina.


Deon terus mematung, membiakan Cucu kembali membantu Jec. "Jec, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Cucu dengan nada bicara yang terdengar sangat cemas.


Laki-laki yang tengah dibantu oleh Cucu pun hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kamu urus Bos saja sepertinya di cemburu sama aku. Aku akan baik-baik saja, ini masih jauh dari jantung," kelakar Jec, sembari punggung tanganya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sedangkan Cucu justru langsung melayangkan tinjuan pada pundak Jec karena perbuatanya yang sangat menyebalkan itu.


"Udah sana, kasian calon pengantin malah bonyok," kelakar Cucu untuk mengusir Jec agar kembali saja ke rumah sakit, dan di balas senyum masam oleh Jec. Laki-laki itu baru ingat bahwa besok dirinya akan menikah tetapi malah wajahnya yang bonyok.


"Ya udah aku balik yah. Urusin tuh bos, kamu kan pawangnya," bisik Jec, sembari menujuk pada Deon yang masih mematung dengan dagunya.


"Idih, najis banget," dengus Cucu, dengan mendorong Jec agar cepat pergi. Kini Jec pun langsung pergi, tanpa berpamitan dengan Deon yang masih mematung dengan tatapan kebencian.


Cucu pun begitu mobil Jec sudah pergi dia langsung bergegas hendak masuk ke dalam rumahnya, membiarkan Deon mematung di depan rumahnya mau sampai kapan dia mematung itu urusan Deon.


"Cu, tunggu!!" Deon menahan Cucu. Bahkan pergelangan tangan Cucu sudah dia cengkram dengan kuat. Sehingga Cucu tidak bisa buru-buru pergi. Wanita itu tertahan oleh Deon.


"Apa lagi? Apa yang ingin kamu tuduhkan dengan aku hah? Apa? Pela-cur, wanita murahan, Ja-lang atau kupu-kupu malam? Yang mana yang ingin kamu katakan pada aku? Silahkan katakan dengan sepuas hati kamu. Karena aku tidak perduli. Yang tahu hidup aku, hanya aku bukan kamu maupun Jec," cerocos Cucu dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.

__ADS_1


"Cu, aku datang ke sini ingin menagih tawaran kamu," balas Deon dengan suara yang terdengar sangat lembut dan juga tidak terpancing dengan kemarahan Cucu. Berbeda dengan biasanya Deon berbicara sangat arogan.


Cucu malah bingung dengan ucapan Deon. "Tawaran? Tawaran apa? Aku tidak pernah menawarkan sesuatu pada kamu Tuan Deon yang terhormat," balas Cucu masih dengan nada yang jutek tentu wanita itu ingin kalau dengan kejutekanya Deon segera enyah dari depan rumahnya.


Cucu tidak enak dengan tetangganya kalau ada yang tahu di depan rumah neneknya ada keributan dan yang di sebabkan oleh dirinya.


"Menikah, aku ingin menikah dengan kamu," jawab Deon dengan yakin.


Sontak saja Cucu biji matanya akan loncat karena ucapan Deon itu. "Tuan Deon, Anda boleh gila atau tidak waras, terserah, tetapi tolong jangan bawa-bawa saya apalagi ini soal pernikahan, tanggung jawabnya besar dan dosanya juga besar kalau tidak amanah," ucap Cucu dengan geram, bahkan Cucu mau, menasihati Deon kesal sendiri, dadanya sesak membayangkan Deon yang seolah tidak tahu arti pernikahan.


"Aku serius Cu, aku ingin menikah dengan kamu. Besok aku akan menikahi kamu," ucap Deon dengan tatapan yang serius sekali.


"Jangan gila deh kamu Deon, besok nikahin aku, kamu pikir nikah itu gampang?" Cucu kembali ngegas, ketika berurusan dengan Deon benar-benar dia darah tinggi.


"Kalau aku tidak mau," tantang Cucu dengan meletakan kedua tanganya di pinggang dan juga wajah yang sudah menengadah ke atas seolah wanita itu benar-benar akan melawan Deon.


"Pilihan hanya ada di kamu, nikah  dengan aku, dan kamu bisa bertemu dengan nenek certa kakek kamu, atau kamu tetap menolak, dan kamu untuk selamanya tidak akan pernah bisa bertemu dengan kakek dan nenek kamu lagi." Deon pun membisikan ucapanya di balik telinga Cucu dengan mendesis hingga terasa hembusan nafas yang hangat dan aroma minuman keras yang menyengat.


Cucu langsung menatap Deon dengan tatapan yang jijik. Tanpa menjawab Cucu langsung berlari menuju rumah sang nenek yang udah reot itu. Semua ruangan Cucu cari dan memanggil nenek dan kakeknya. Terlihat berantakan dalam rumah itu seolah telah terjadi keributan, dan juga ada tetes darah yang Cucu yakini itu darah kakak atau neneknya yang saat ini sudah tidak ada di dalam rumahnya. Darah Cucu langsung mendidih, mengetahui kalau Deon sangat licik.


Wanita itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangan memutih saking kuatnya Cucu mengepalkan tanganya itu. "Kurang ajar kamu Deon."


Bruggg.... Cucu membalik hendak menghajar Deon, tetapi justru ia mengmbetur tubuh Deon yang kekar, dan Deon dengan sigap memeluknya. dengan kuat.

__ADS_1


"Menikahlah dengan aku, maka orang yang kamu sayangi akan tetap selamat dan bahkan akan hidup dengan enak, tetapi kalau kamu menolakku aku pastikan, entah kamu bisa melihat mereka lagi atau tidak," ucap Deon dengan tersenyum sinis.


"Enyah kau Deon, aku nggak sudi menikah dengan laki-laki br*ngsek, b*jingan, dan jahat." Entah Cucu memaki apa saja berontak, tetapi dia tidak bisa karena Deon mencengkram tangan Cucu dan mengunci dengan tubuh kekarnya. Sehingga sekuat Cucu berontak dia tidak bisa lepas dari Deon yang tenaganya jauh lebih besar dari Cucu.


"Berontaklah, susuka kamu hingga kamu cape untuk teriak, karena sekuat apapun kamu berontak aku tidak akan bisa kamu kalahkan," ucap Deon dengan suara yang mendesis sengaja di buat sensansional agar terlihat menggoda, tetapi bukanya menggoda Cucu malah merasakan JIjik untuk mendengarnya.


"Tujuan kamu menikahi aku apa?" tanya Cucu dengan tatapan yang tajam, setelah dia lelah untuk berontak, yang justru menyakiti dirinya sendiri.


"Ber-cin-ta-" ucap Deon dengan nada yang sangaat menjijihkan.


Cucu memejamkan matanya dengan kuat dan menghirup nafasnya dengan dalam.


"Apa yang aku dapatkan kalau aku mau menikah dengan kamu? Aku nggak mau sia-sia hanya di nikahi tanpa memiliki imbalan harta yang sepadan dengan tenaga yang aku keluarkan setiap melayani kamu, aku adalah wanita matre yang butuh banyak duit," ucap Cucu dengan tatapan yang sengit.


Deon pun tertawa dengan renyah. "setiap kamu melayani aku aku beri tarif lima juta," ucap Deon dengan santai.


"Cuih, lima juta. Jec saja barusan memberikan aku dua ratus juta, masa Anda bos hanya lima juta," ucap Cucu berusaha bernegosiasi dengan Deon. meskipun Cucu sudah merasa cukup dengan sekali berhubungan kena tarif lima juta, dalam satu hari apabila mereka dua kali berhubungan sudah sepuluh juta dalam satu bulan sudah tiga ratus juta. Otak Cucu sudah menghitung dengan nominal uang yang banyak. Bisa dia gunakan untuk membeli rumah baru untuk kakek dan neneknya.


"Ok, Deal satu kali berhubungan sepuluh juta," balas Deon dengn tersenyum puas.


"Ok besok kita nikah, dan aku akan melayani kamu satu hari dua kali sehingga dalam satu bulan aku akan dapat bayaran enam ratus juta. Dan aku tidak akan melepaskan kamu sebelum harta-harta kamu aku ambil alih," balas Cucu dengan santai dan tersenyum penuh kemenangan.


Uhuuukkk Uhuuukkk... Deon tersedak salivanya sendiri.

__ADS_1


"Mampus kau, akan aku buat kamu bertekuk lutut kepadaku, Deon."


__ADS_2