
Cucu menghirup nafas beratnya, Qila yang terlihat dari luar adalah wanita yang nurut dan kalem, nyatanya ternyata wanita itu cukup keras kepala sehingga membuat Cucu lelah dan juga kesal. Cucu yang kesabaranya setipis tisu harus benar-benar di uji oleh Qila yangkeras kepala itu.
"Jec lupakan uang dua ratu juta yang gue ingin pinjam. Gue nyerah nyadarin wanita otak batu ini." Cucu beranjak dari tempat duduknya. Bersiap menghadapi Jec, dan akan pulang kembali ke rumah neneknya.
Jec pun tidak aneh kalau Cucu juga menyerah karena memang Qila yang sulit untuk di nasihati. Cucu pun duduk kembali di samping Jec.
"Jec, kenapa loe mau menikah dengan wanita bodoh ini sih? Kenapa loe tidak menikah dengan gue saja, tidak apa-apa gue ikhlas loe kasih lima juta untuk gue," ucap Cucu sudah malas berbicara dengan Qila. Tentu Cucu berbicaranya dengan keras agar Qila makin dengar dan telinganya nggak bolot.
"Sepertinya ide kamu bagus Cu," .balas Jec dengan suara yang terdengar santai.
"Ok Jec, kalau loe nanti butuh bini ke dua loe hubungi gue ajah. Gue siap jadi pelakor untuk loe." Entah dari mana datanya ide itu, tapi Cucu salut dengan Jec yang sangat baik. Tidak ingin merusak wanita demi nafsu surgawi, melainkan menghalalkan demi pahala.
Jec pun langsung tertawa dengan renyah mendengar ucapan Cucu yang secara terang-terangan ingin berperang dengan readers. Cucu nggak tau kalau Readers paling anti pelakor, tapi kalau pelakornya kayak Cucu sih Readers kayaknya lebih berpihak sama Cucu deh.
Cucu pun beranjak akan pulang. Dari pada kelamaan di kamar Qila dia darah tinggi lihat dan dengar Qila bernafas juga.
"Mana nomor rekening kamu?" tanya Jec pada Cucu yang mampir saja meninggalkan ruangan Qila.
"Untuk apa?" tanya Cucu polos, sedangkan Cucu dalam hatinya sebenarnya sedang bingung bagaimana lagi dia mendapatkan uang banyak itu sedangkan kesempatan satu-satunya adalah Jec, tapi Cucu yang memiliki kesabaran setipis tisu dan iman yang setipis kulit bawang tidak sabar kalau harus menyadarkan Qila yang keras kepala.
"Kamu butuh uang dua ratus juta untuk Bos Deon kan?" tanya Jec memastikan.
__ADS_1
"Iya, tapi bukanya aku gagal membuat wanita yang akan menikah dengan kamu mau kamu nikahi?" tanya Cucu dengan terkejut sekaligus kecewa.
"Tidak masalah, aku hanya ngetes kamu aja kok, sebenarnya aku tahu kalau dia juga tidak akan mudah kamu nasehati, aku tahu isi otaknya aku hanya ingin tahu kemampuan kamu aja, dan juga usaha kamu aja," balas Jec dengan santai.
Sontak saja Cucu langsung melebarkan matanya. "Ka... kamu serius Jec?" tanya Cucu dengan suara yang terbata menandakan dia sangat bahagia.
"Aku tidak pernah bohong Cucu, lagi pula aku juga tidak mau ada Qari ke dua, aku tidak setuju dengan cara Deon yang merendahkan wanita, terutama kamu." Jec langsung merain ponselnya, dan menyodorkan sama Cucu. "Tulis nomor rekening kamu di sini!"
Cucu bukanya patuh dengan ucapan Jec menulis nomor rekeningnya justru terisak dengan kecang karena Jec terlalu baik dengn dia.
"Terima kasih Jec, aku sangat beruntung dipertemukan dengan kamu laki-laki paling baik, tapi sayang kamu tidak memilih aku sebagai istri kamu, kamu malah memilih wanita yang salah. Kenapa bukan aku saja yang kamu pilih di jadikan istri," ucap Cucu di sela-sela tangisnya, dan hal itu langsung mengundang Jec untuk tertawa dengan renyah.
"Kamu jangan mancing Jec, karena aku takut khilaf, apalagi kamu baik, aku akan mudah jatuh cinta dengan orang baik," cicit Cucu dengan mengambil kasar tisu yang Jec berikan.
Sontak Jec pun tertawa kembali dengan kelakuan Cucu yang sangat mirip dengan Qari. "Pantas saja Bos langsung bangun sotongnya itu semua karena Cucu pasti yang punya sifat seperti Qari."
Pada akhirnya Cucu pun mendapatkan uang dua ratus juta meskipun dia tidak berhasil membujuk Qila. Itu semua karena kebaikan othor.
#Tuh Cu, othor baik kan?
Sedangkan Qila sendiri sebenarnya ada rasa sedih dan iri dengan kedekatan Cucu yang diam-diam Qila yakin kalau Jec itu memang orang baik.
__ADS_1
Mereka pun terus bercerita satu sama lain, hingga malam semakin larut dan Cucu pun memutuskan untuk pulang.
"Aku akan mengantar Cucu, kamu masih ada kesempatan untuk membatalkan pernikahan kita. Aku tidak akan menikahi kamu, kalau kamu terpaksa dan tidak bisa menghargai niat baik aku. Silahkan kamu hubungi Meta agar dia membatalkan semuanya, kasihan kalau sampai Meta sudah kerja semalaman tapi berujung sia-sia. Kamu masih bisa membatalkanya dengan mudah saat ini juga," ucap Jec sebelum dia meninggalkan Qila seorang diri di dalam kamar.
Tentu sebelumnya Jec sudah menitipkan Qila pada perawat. Dia tidak mau terlihat jahat hanya karena Qila tidak mau menikah dengan dia. Niat baik dia tidak mau ternodai karena sebuah penolakan.
Jec sebelum pergi lebih dulu meletakan ponsel Qila di samping Qila agar menelepon Meta dan membatalka pernikahannya.
"Aku malam ini tidak bisa tidur di sini, dan untuk beberapa hari ke depan mungkin Meta yang akan menjaga kamu, dan soal biaya rumah sakit sudah aku lunasi, dan akan jadi tanggung jawabku karena keputusan operasi aku yang menyanggupinya, kamu saat ini hanya butuh semangat untuk sembuh karena orang tua dan adik kamu membutuhkan kamu untuk tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan mereka.
Tanpa menunggu jawaban dari Qila, Jec pun pergi meninggalkan Qila seorang diri dan juga ia akan membantu Cucu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Deon.
"Jec..." Qila memanggil Jec yang sudah hampir membuka pintu ruanganya.
Jec pun menahan langkahnya tapi dia tidak menatap Qila. "Aku tidak akan memaksa kamu mau menikah dengan aku, aku sadar diri, jodoh tidak bisa di paksakan, dan aku juga sebenarnya tidak yakin mau menikah dengan kamu, karena aku belum tentu bisa membahagiakan kamu. Menikah itu berat ada janji pada Tuhan yang artinya aku tidak boleh sebarangan," balas Jec tanpa melihat Qila.
"Jec, aku mau menikah dengan kamu. Tetap tinggal di sini karena aku takut sendiri," ucap Qila akhirnya berani mengatakan kejujuran.
"Kamu jangan gegabah Qila, menikah itu tidak setahun dua tahun, tapi semur hidup aku takut nanti malah kamu tidak bahagia menikah dengan aku. Lebih baik kamu batalkan pernikahan ini," imbuh Jec kali ini justru laki-laki itu yang seolah ragu.
"Tidak Jec aku sudah yakin, aku yakin kamu orang baik yang bisa melindungi aku. Tetap di sini aku butuh kamu."
__ADS_1