
Jec yang tertidur dengan pulas pagi hari mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia seperti orang yang hilang ingatan, bangun dengan dada yang bergemuruh seolah ia telah melakukan kesalahan, kedua matanya menatap ruangan yang sangat dikenalnya, ia merasa lega karena ternyata dirinya tidur di dalam kamar pribadinya. Lalu Jec menatap jam masih pukul lima pagi.
Laki-laki itu menggeliatkan tubuhnya yang sudah berasa puas tidurnya, bahkan saking puasnya dia sampai tidak terjaga sepanjang malam, begitu terjaga ia sudah pagi saja.
Kruyuk... Kruyukkk... cacing di dalam perutnya mulai berdemo dengan riang. "Ya Tuhan aku semalam tidak makan, saking capenya langsung tertidur," gumam Jec, dengan mengusap perutnya yang makin datar, kebalikan dari Deon, ketika laki-laki itu perutnya makin buncit, Jec justru perutnya makin rata, itu karena dia terlalu cape, selalu dikerjain oleh calon anak dari bosnya itu.
Tubuh Jec yang sudah lumayan segar bangun untuk membersihkan diri dan akan bersiap untuk sarapan, lalu ia di jam setengah tujuh harus datang keyrumah bosnya untuk membangunkan bos dan mempersiapkan semua kebutuhanya, termasuk segala jenis pakaian dari yang luar hingga pakaian dalam-nya, Jec lah yang mempersiapkan semuanya.
Berhubung terlalu lapar, Jec lagi-lagi tidak mengingat ponselnya, setelah mandi dan berpakaian dengan rapi, Jec pergi ke dapaur untuk memasak ala kadarnya, untuk mengganjal perutnya, toh nanti makan besar ia bisa makan di rumah bosnya itu. Setelah ia makan bubur oat meal dengan pisang, dan telur rebus, serta jus pisang dan susu protein tinggi, sudah berhasil membuat Jec kenyang.
Setelah perutnya yang cukup kenyang kini Jec masuk kamarnya lagi guna mengambil ponselnya.
"Ya Tuhan. Kenapa panggilan dari Tuan Deon begitu banyak. Ada sepuluh panggilan, di jam dua pagi, kira-kira ada apa yah?" gumam Jec dengan panik, bahkan Jec tidak berani membuka pesan dari bosnya ia terlalu takut kalau nanti Deon akan marah dan hal itu pasti urusanya akan panjang. Laki-laki itu akan ingat selalu kesalahan Jec yang mungkin dilakukan tetapi ia sendiri tidak sadari.
Dengan tangan yang bergetar, Jec akhirnya memberanikan diri membuka pesan yang Deon kirimkan.
[Jec, aku lapar, apa kamu bisa membawakan aku makanan?]
[Jek apa kamu sudah tidak bernafas lagi? Kenapa aku telpon kamu tidak juga diangkat?]
[Jec, apa kamu sudah ditelan bumi?]
[Jec, mulai besok kamu jangan pernah datang lagi untuk bekerja padaku!!]
__ADS_1
Itu adalah serentetan pesan yang Deon kirimkan, dan Jec pun langsung bergegas untuk kerumah bosnya. Dia sudah mempersiapkan diri apabila bosnya akan marah.
"Malang sekali nasib ini, baru juga bisa tidur pulas, begitu bangun hukuman sudah menanti. Ya Tuhan mudah-mudahan Bos Deon dalam kondisi sadar sehingga pagi ini tidak marah marah. Wahai calon ponakaku yang masih ada di dalam perut ibumu, tolong jangan bikin papah kamu memarahiku," gumam Jec dengan terus fokus pada jalanan ibu kota yang dia lewati, dan masih terlihat lenggang.
Tidak sampai tiga puluh menit, Jec sudah sampai di rumah bosnya itu, tetapi lagi-lagi laki-laki itu begitu sampai di dalam rumah bosnya ia di kagetkan dengan asisten rumah tangga yang pagi-pagi heboh.
"Ini ada apa Bi?" tanya Jec yang baru datang, dan asisten rumah tangga, security hingga tukang kebun sedang berkumpul di dapur, seolah mereka telah melakukan kesalahan dan sedang menunggu untuk menerima hukuman.
"Ini Tuan, tadi pagi makanan yang ada di kulkas pada berantakan, bahkan kulkas tidak tertutup dan ini cake milik Tuan Deon, yang Tuan bilang tinggal setengah, tetapi dari kami tidak ada yang merasa memakan ini semua, apa mungkin ada rampok Tuan?" tanya asisten rumah tangga yang bertugas di dapur, dan Jec pun melihat kekacauan itu, dan memang sangat keterlaluan rampok itu.
Jec pun langsung tahu siapa gerangan yang dikatakan rampok oleh sang asisten rumah tangga itu.
"Udah Bi, Bibi rapihkan saja itu. Saya tahu siapa pelakunya," ucap Jec dengan senyum samar seolah ia tengah mengejek sesuatu pada pelaku kekacauan.
"Hah..." Seluruh orang yang ada di ruangan itu terkejut ketika Jec mengatakan tahu siapa gerangan pelakunya..
"Pelakunya Tuan Deon."
"Hahhhhh...." Lagi, mereka terkejud dan kali ini lebih kaget lagi.
"Tuan Deon? Kok bisa melakukan itu, bukanya Tuan itu sangat anti makan di jam malam?" tanya sang asisten rumah tangga yang bertugas untuk mengatur menu makanan untuk bosnya itu, dan hampir semua orang yang bekerja di rumah ini tahu hal itu, Deon tidak mungkin mau makan di jam malam, apalagi dengan makanan berat seperti cake yang banyak menyumbang kalori.
"Ceritanya panjang, udah sekarang kalian rapihkan saja dan segera siapkan makanan untuk Tuan Deon yang bergizi," ucap Jec, kakinya kembali diayunkan untuk menemui Deon. Segala doa sejak tadi ia rapalkan agar Deon tidak memarahinya dengan panggilan yang tidak ia angkat. Itu semua karena tubuhnya yang terlalu cape.
__ADS_1
Seperti biasa Jec akan masuk ke kamar pribadi Deon, dan dengan sabar Jec pun mulai membangunkan Deon. "Tuan... bangun Tuan..." Jec menepuk-nepuk pelan pundak Deon. Entah berapa kali Jec mencoba kegiatan itu, agar Deon bangun, tetapi sepertinya laki-laki itu juga sangat cape sehingga sudah puluhan kali Jec membangunkanya, tetapi laki-laki itu masih nyaman dengan tidur paginya.
"Apa sebegitu beratnya mata ini, hingga sudah puluhan kali saya bangunkan tetapi tidak bangun-bangun juga.
"Tuan bangun, bukanya Anda berkata pada saya kalau di jam sepuluh pengaca Dika akan datang menemui Anda, sekarang sudah jam tujuh Tuan, Anda harus menyiapkan semuanya dari pagi Tuan."
Deon yang memang sebenarnya sudah bangun dari beberapa menit yang lalu, dan karena malas akhirnya Deon memilih tetap tidur dengan gangguan dari Jec.
Deon seketika membuka matanya yang sangat terasa berat itu.
"Apa kamu masih hidup? Aku pikir kamu sudah pindah alam?" dengus Deon, tetapi sudah menjadi kebiasaanya saja, kalau Deon hanya akan menggertak dan mengancam. Pada kenyataanya Deon sendiri akan sangat kewalahan kalau Jec sampai benar-benar berhenti kerja.
"Pakaian Anda ada di sini Tuan, dan saya minta maaf soal semalam, saya terlalu cape sehingga saya tidak mendengar panggilan telepon dari Anda," lirih Jec dengan perasaan yang sangat menyesal itu.
"Lupakanlah, yang penting aku sudah bisa makan, dan tidak mati karena kelaparan." Deon langsung meninggalkan Jec, untuk membersihkan dirinya. Bahkan dia sangat tidak tenang untuk menunggu hingga jam sepuluh. Ucapan Doni selalu ia ingat, dan laki-laki itu sebenarnya yakin kalau Doni itu tidak mungkin akan datang ke kantornya dengan pengacara papahnya, tetapi lagi-lagi semakin Deon mengatakan TIDAK maka dia juga yang percaya bahwa yang dikatakan Doni itu adalah kebenaran.
Setelah semuanya beres dan lagi-lagi pagi hari Deon tidak ingin makan apa-apa, bahkan untuk mencium makanan Deon tidak kuat, tetapi ketika malam tiba perutnya memberontak ingin memakan sesuatu.
"Untung aku udah sarapan alakadarnya di rumah, kalau belum benar-bener lama kelamaan aku bisa pindah alasan," gumam Jec di dalam hatinya.
Pagi ini, Deon mengerjakan pekerjaanya pun tidak tenang, matanya masih terus menatap pada jam di dindingnya yang mana di jam sepuluh akan ada pengacara papahnya yang datang.
"Ini sudah jam sepuluh apa itu tandanya Om Dika akan segera datang?" batin Deon, kedua matanya entah sudah berapa kali ia menatap jam di pergelangan tanganya.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok... Pintu di ketuk dari luar dan tanpa Deon jawab, seorang laki-laki paruh baya yang sudah sangat dia kenal masuk ke dalam ruanganya. Yah, laki-laki itu adalah Om Dika, pengacara keluarganya yang sejak tadi ditunggunya. Otak Deon langsung menangkap siapa gerangan laki-laki yang bernama Doni ini. Kenapa lagi-lagi ucapanya benar.
Deh!!! "Siapa Doni itu sebenarnya?"