Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 104


__ADS_3

"Kita pindah malam ini Bang, Kak?" tanya Tantri dengan tatapan yang heran kenapa kakak ipar dan abangnya pulang kerja langsung memintanya membereskan pakaian dan juga peralatan yang  dibutuhkan untuk satu atau dua hari saja, dan semua keperluan, akan menyusul. Tantri yang bukan anak terlalu kecil pun tahu arti dari ini semua, kalau ada yang tidak beres.


"Iya Sayang, rumah ini sudah tidak aman," lirih Alzam dengan suara pelan dan juga jari telunjuk di letakan di depan bibirnya.


"Kenapa Bang?" Tantri justru semakin penasaran, bahkan bulu kuduknya berdiri ketika abangnya mengatkan sudah tidak aman.


"Nanti Abang akan ceritakan kalau sudah selesai dan kita sudah pindah di rumah yang baru." Alzam semakin memancing agar Qari mempercepat semua kerjaanya tidak hanya asik bertanya terus menerus.


Benar rencana Alzam, kalau Tantri semakin cepat mengerjakan tugasnya, sementara Qari yang memperhatikanya semakin dibuat terkekeh ide Alzam memang tidak perlu diragukan lagi, semuanya beres.


Tidak perlu membutuhkan waktu lama Alzam, istri dan adiknya bergegas  membawa perlengkapanya untuk pindah, tentu Qari menunggu situasi aman, karena dia yakin sekali kalau pasti ada mata-mata Deon yang bisa saja mengatakan kepindahanya, dan pada akhirnya laki-laki itu tahu kepindahan Qari dan bahkan rumah baru untuk Qari dan Alzam.


Tantri mengawasi abang dan kakak iparnya yang terlihat sangat panik, seolah tengah bermain kucing-kucingan.


"Kakak, Abang, kalian kenapa sih kok kayak lagi ngawasin sesuatu?" tanya Tantri, padahal mereka sudah siap dari tadi, tapi kenapa mereka tidak juga kunjung berangkat. Malah pasangan suami istri itu sedang sibuk dengan mengintip dari balik jendela.


Seolah di depan rumah mereka ada mata-mata.


Hust... Alzam dan Qari dengan bersama meletakkan jari telunjuk di depan bibir mereka . Memberikan kode agar Tantri diam. Benar saja Tantri langsung diam tidak banyak bertanya lagi, tetapi tidak dipungkiri dirinya masih sangat penasaran dengan abang dan kakak iparnya yang sedang memata-matai seseorang.

__ADS_1


"Hahhhh Lega..." ucap Qari dan Alzam secara bersamaan setelah dua orang yang sepertinya tengah mengawasi sudah pergi jauh. Itu karena lampu rumah Qari sudah di padamkan dari beberapa waktu yang lalu, sehingga mereka dengan yakin kalau Qari dan keluarganya sudah tidur.


"Ayuk kita langsung keluar, bawa barang seperlunya saja," ucap Alzam dengan suara berbisik dan mengendap-endap menuju kendaraan roda empat yang sudah terparkir di samping rumahnya. Tantri yang sebenarnya masih bingung pun mengikuti saja, meskipun dalam pikiranya, otaknya mengatakan ada yang tidak beres dengan kedua kakaknya.


"Abang, Kakak, kalian hutang penjelasan pada aku," lirih Tantri dengan tatapan mata yang semakin menunjukan kalau dia benar-benar penasaran. Meskipun dia masih umur sebelas tahun tetapi dia sudah bisa menangkap ini semua dengan jeli, ada yang tidak beres dengan kakak dan abangnya.


"Rumah kita sudah tidak aman sayang," bisik Qari, lagi-lagi ucapan itu, sementara Tantri bukan ingin mendengar jawaban itu.


"Iya, Tantri tahu rumah kita tidak aman, tapi tidak amannya karena apa, banyak sebab yang mengatakan kalau rumah itu tidak aman lagi, apakan tidak aman dari ganguan makhluk halus ataupun ada alasan apa yang masuk akal dong," protes Tantri dengan sangat serius.


Qari menyikut pundak Alzam agar Alzam menjelaskan pada Tantri, dirinya takut kalau menjelaskan pada adik iparnya justru ada yang salah dalam penyampaianya.


Tantri nampak diam berpikir, "Tapi kalau kita pindah, apa sudah pasti aman?" tanya gadis kecil itu yang nampak sudah paham dengan alasan abangnya mengajaaknya berpindah rumah dengan  mengendap- endap itu.


"Setidaknya kalau di rumah kita yang sekarang, ada security yang berjaga sehingga semunya tidak terlalu mencemaskan, takutnya kalau di rumah kita tidak ada yang menjaga ada yang masuk ke rumah kita malam-malam kan  menyeramkan," imbuh Qari dan hal itu berhasil membuat Tantri begidig dengan ngeri


"Kalau gitu Tantri tidak akan bertanya-tanya lagi, Abang dan Kakak pasti sudah mepertimbangkan semuanya dengan matang," balas Tantri pasrah, daripada apa yang kakaknya katakan terjadi.


"Iya, dan nanti apabila Tantri ketemu dengan seseorang yang mencurigakan jangan ditanggapi dan buru-buru pergi saja yah, pokoknya siapaun yang tanya tentang Abang dan Kakak. Tantri jangan jawab apapun," jelas Qari, dia merasa penting  memberikan pengertian itu agar Tantri tidak mudah percaya dengan orang lain yang mungkin saja dia adalah suruhan Deon.

__ADS_1


"Siap Kak," balas Tantri dengan memberikan hormat pada kakak iparnya.


Tidak lama mereka pun sampai di rumah mewah yang akan menjadi rumah masa depan mereka, rumah dengan dua lantai dan kolam ikan di depan serta kolam renang di taman belakang, sangat cocok dengan hobby Tantri yang senang bermain air.


"Tantri, selamat malam yah," lirih Qari dengan melambaikan tanganya. Tantri pun tidak menanggapi keisengan kakak iparnyaa gadis kecil itu tahu kalau kakanya memang menyebalkan. Gadis kecil itu langsung masuk ke dalam kamar yang menjadi pilihanya itu.


Sementara itu kamar Qari dan Alzam berada di sebrang kamar Tantri, dan tentunya lebih luas dari kamar adiknya. Qari langsung merebahkan tubuhnya padahal waktu sudah menujukan pukul sepuluh malam, tetapi Qari belum juga mengantuk. Pandangan Qari menatap Alzam yang baru masuk ke dalam kamarnya. Ide briliant pun langsung memenuhi otaknya.


"Sayang kenapa kamu lama sekali," lirih Qari dengan suara yang menggoda. Alzam yang baru masuk ke dalam pun langsung menatap Qari yang sudah siap untuk mengarungi lautan mimpi yang luas. Alis Alzam terangkat sebelah.


"Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah malam loh, ibu hamil dilarang bergadang tidak baik untuk kesehatan dedek dan ibunya," desis Alzam sembari melirik ke jam yang ada di dinding.


"Kamar baru, kasur baru apa tidak ingin mencobanya," imbuh Qari dengan senyum yang manis.


Alzam hanya mengerakan keapalanya naik turun dengan gerakan yang seirama. Tanganya membuka kancing kemejanya satu persatu. Lalu beranjak naik ke atas kasur yang empuk di mana istrinya sudah siap untuk mencoba kasur baru.


"Apa dedek bayi tidak cape?" tanya Alzam dengan tangan yang mengusap perut Qari yang semakin menonjol.


"Belum bisa bobo," balas Qari, matanya berkedip dengan genit. Laki-laki mana yang bisa menolak kalau di tawarkan dengan mainan yang menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2