
'Oh Tuhan, Bos kenapa Anda terus saja membuat saya pusing," gerutu Jec, ketika dia sadar bahwa Deon tidak ada di dalam kamarnya, dan parahnya lagi Deon di temukan warga pingsan di makan Qinara. Jec pun langsung bersiap dan dengan langkah kaki panjang hendak meninggalkan rumah mewah dengan tiga lantai itu.
"Cucu, dia harus ikut, pasti saya butuh peran Cucu." Jec pun kembali berbalik dan menuju kamar Dena, untuk membangunkan cucu. "Tanpa Cucu aku akan kerepotan untuk menasehati Bos Deon."
Cukup lama Jec mengetuk kamar Cucu, dan juga Jec belum sempat meminta nomor telepon Cucu. Sehingga untuk menghubungi lewat telepon tidak bisa.
"Astaga Cucu, kamu tidur apa pingsan," rutuk Jec ingin ia masuk ke dalam kamar sana, tetapi itu tidak mungkin selain tidak sopan juga, Jec takut kalau Cucu tidur dalam keadaan yang tidak pantas untuk dilihat oleh orang lain, terutama Jec laki-laki, sehingga ia memilih tetap mengetuk pintu di depan kamarnya.
Sementara itu di dalam kamar Cucu yang sedang pulas tertidur pun mulai terusik dengan suara bising dari pintu yang terus di gedor, sedangkan wanita itu masih sangat lelah dan juga masih sangat berat matanya. Tubuh juga serasa sakit semua, karena baru kali ini Cucu kerja dengan gila-gilaan, dan itu semua karena Deon yang sangat menyebalkan itu.
"Gila yah, orang-orang di rumah ini. Baru juga merem udah berisik saja, apa mereka pikir tubuh ini adalah robot," umpat Cucu dengan tangan menyibakan selimut, mau tidak mau dan senang tidak senang dia harus bangun, karena dia yang terlalu jatuh cinta dengan uang, apalagi Jec sudah menjanjikan uang bonus, sehingga Cucu harus berpikir dua kali kalau mau berontak yang ada nanti bisa-bisa bonus gagal cair.
Dengan berjalan setengah menghentakan kaki Cucu pun membuka pintu kamar Dena. "Apa kamu tidak bisa sedikit saja memberi aku waktu untuk tidur, Jec." Cucu langsung memaki Jec begitu pintunya ia buka.
Meskipun Cucu belum melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya, tetapi wanita paruh baya itu sudah yakin kalau yang melakukanya adalah Jec. Benar saja insting-nya tidak pernah meleset.
Jec sedang berdiri mematung di depan pintu kamar yang ia tiduri, Bahkan tangan Jec hampir mengetuk mukanya karena pintu yang tiba-tiba di buka oleh Cucu. Tangan Jec langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, ketika melihat Cucu yang sedang marah. Benar-benar Cucu ketika marah memang sangat menyeramkan, pantas saja Deon sampai ketakutan.
"E... anu Cu, Bos pingsan di atas makam Qinar," jelas Jec dengan terbata.
"Aduh... gila bener-bener aku kalau ngurusin orang kayak Deon. Kekanakan banget sih, mau sampai kapan dia kayak gini terus." Cucu mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Aku juga kaget barusan banget aku dapat kabar dari seseorang yang nemuin Bos di atas makam Qinar." Jec menunjukan ponselnya dengan setengah terbata.
"Di mana dia sekarang?" Cucu nggak mau berlama-lama membuang waktu, ingin rasanya Cucu memaki saat itu juga pada Deon yang benar-benar kekanakan.
"Di rumah sakit Cu, kamu ganti baju kih, kita ke sana sekarang. Kalau aku yang ke sana sendirian Bos Deon pasti akan tetap keras kepala. Aku lihat dia itu takut sama kamu, jadi kamu bisa nasihatin dia." Jec dengan berhati-hati mengatakan apa yang jadi masalah untuk dirinya.
"Itu semua karena kamu kurang tegas Jec, jadi orang itu ngelunjak sama kamu. Coba kamu sesekali tega pada Deon, pasti dia tidak semena-mena sama bawahan. Dia memang bos buat kamu, tetapi kalau salah ya tetap salah. Jangan kalau salah mentang-mentang bos akan tetap benar, sampai kapanpun kerja kamu tidak akan dihargai sama dia, belajarlah tegas. Deon itu butuh asisten yang bisa tegas, mengarahkan dia. Menegur setiap kesalahan dia. Coba kalau kamu tegas dan lebih berani, semua ini tidak akan terjadi." Cucu justru memaki Deon dengan wajahnya yang garang.
Jec pun mau melakukan pembelaan, enak saja Cucu dengan santainya memaki dia sedangkan dia saja tidak measakan bahwa diri lemah, Jec sudah melakukan kewajibanya, tetapi memang Deon saja yang sulit untuk diarahkan.
"Stop" Cucu memajukan tangan kanan untuk menandakan bahwa dia tidak terima apabila Jec akan mengajak berdebat lagi.
"Tunggu di depan, aku akan ganti pakaian."
__ADS_1
Brukkk... tanpa menunggu jawaban dari Jec, wanita yang masih muka bantal itu pun langsung menutup pintu dengan cukup kencang hingga Jec tersentak kaget. "Astaga Tuhan kenapa Cucu sangat seram sekali," gumam Jec dengan mengelus dadanya dengan pelan.
"Kenapa jadi galakan Cucu dari Bos. Bahkan baru kali ini aku dimarahin sampai tidak bisa melakukan pembelaan." Jec menggeleng-gelengkan kepalanya ia bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dengan dada yang masih kaget Jec pun lebih baik mengikuti kata Cucu, menunggu di depan, sekalian manasin mobil juga.
Sementara Cucu pun di dalam kamarnya tidak henti-hentinya ngedumel baik Deon maupun Jec. Kena semprot semua. "Sumpah demi Cep-mek kalau bukan karena utang pinjol temen laknat itu (Pinjaman Online) lebih baik ngundurin diri, setres banget ngadapin bos sama asisten yang sulit diatur." Tangan Cucu pun kembali mengambil pakaian Dena, dia belum sempat mencucu pakaianya sehingga pinjam pakaian Dena adalah jalan terbaik.
"Kak Dena, Cucu pinjam pakaianya lagi yah," ucap Cucu dengan nada yang halus, berbeda dengan tadi dia mengumpat Deon dan Jec dengan nada yang galak dan bar-bar.
Setelah berganti pakaian Cucu pun langsung meraih ponselnya dan juga turun ke bawah. Rasanya bibirnya sudah sangat gatal ingin mengumpat Deon yang kekanakan itu.
Brukkk... lagi, Cucu menutup pintu mobil dengan cukup kencang, hingga jantung Deon hampir bergeser ke samping kanan. Seolah gadis itu belum puas untuk mengerjai Jec. Atau bahkan ia penasaran dengan kekuatan jantung Jec itu.
"Astaga Cu, apa kamu itu tidak bisa pelan nutup pintunya," sungut Jec, dengan nada yang cukup dingin.
"Apa kamu tidak tahu, aku masih ngantuk, badan masih lemas dan pegal-pegal, tetapi kamu malah mengganggu tidur aku. Aku tadi pagi sempat berpikir kalau bakal bangun di atas jam sepuluh, tetapi baru jam tujuh kamu sudah bangunkan aku, sumpah Jec aku bisa gila kalau kayak gini." Cucu kembali meluapkan kekesalanya karena Deon dan Jec yang terus mengganggunya.
"Sorry Cu, aku juga sama kaget, dan masih ngantuk, tapi mau gimana lagi Bos lagi butuhkan kita, kalau aku saja mana mungkin dia mau denger apa yang dinasihatkan oleh aku. Aku butuh kamu untuk menasihati Bos." Suara yang memelas dari Jec, membuat Cucu tidak tega untuk terus-terusan memarahi laki-laki itu. Bagaimana pun Cucu tahu kalau Jec memang sedang cape juga.
"Ya udah ayok buruan jalan, aku mau tidur lagi di rumah sakit," ucap Cucu tanpa melihat pada Jec.
"Aku tidak punya uang buang pegangan, kalau kamu berikan sebagian pebayaran gajihku di awal aku akan tulis nomor aku dengan senang hati, tetapi apabila tidak mau, maka aku juga tidakmau memberikan nomor ponselkuu," ucap Cucu dengan pandangan matanya di buang ke lain arah.
"Oh astaga, aku menemukan wanita yang sifatnya sama persis dengan bos Deon," batin Jec. Namun, ia pun merogoh saku celananya dan mengambil dompetnya. Lima lembar uang berwarna merah dia berikan pada Cucu.
"Aku tidak ada uang cash banyak, hanya segitu. Pakai dan lupakan gajih, itu aku berikan sebagai bonus agar kamu jangan ngedumel terus."
Seperti wanita pada umumnya, Cucu begitu melihat uang berwarna merah apalagi itu adalah bonus tidak mau menyia-nyiakannya. Dia pun langsung menyambar lembaran rupiah itu, dengan senyum yang terkembang sempurna.
"Nah, gitu dong, kalau ada uangnya ngantuk aku jadi ilang." Cucu mengibas ngibaskan lembaran rupiah itu di depan wajahnya dengan wajah yang sangat berbeda jauh dari sebelumnya, saat ini dia tidak lagi marah-marah lagi pada Jec.
"Tapi ingat, kamu nanti harus menasihati Bos Deon agar tidak mengulang lagi kesalahan ini, jangan sampai aku beri uang buat bonus kamu lupa kerjaan kamu." Jec mulai melajukan kedaraanya menuju rumah sakit di mana bosnya di rawat.
Tentunya setelah Cucu menuliskan nomor ponselnya.
"Kamu tenang saja Jec, kalau perlu aku kan buat telinga dia panas. Asal kamu tahu saja aku adalah orang paling galak, hobby aku adalah ngomel, sangat cocok kerjaan ini untuk aku." Cucu mengembangkan senyumnya. Bagi wanita itu,.uang lima ratus rupiah tentu adalah uang yang sangat berharga sehingga dia sangat berterima kasih pada Jec karena memberikan bonus yang besar.
__ADS_1
Tidak kalah dengan Cucu, Jec juga merasa senang sejak ada Cucu kerjaan dia berkurang dan tentunya lebih ringan dari sebelumnya. Dia tidak usah cape-cape cari bahan untuk memarahi Deon, sudah ada Cucu yang mewakilkanya, dan lebih enaknya lagi Deon lebih menurut dengan Cucu, dari pada dengan dirinya. Sehingga Jec rasa tidak ada salahnya meng-apresiasi kerja keras cucu, dengan bonus.
Sementara itu di rumah sakit bi Sarni yang sejak tadi menunggu kedatangan laki-laki yang bernama Jec pun mulai gelisah, terlebih bi Sarni sudah bolak-balik menemui Tantri dan gadis itu memang masih duduk di dalam mobil Deon, tetapi wajahnya terlihat sekali marah.
"Neng, maaf yah, bibi harus tunggu Tuan Jec lebih lama lagi, bibi kira Tuan Jec tidak lama datang ke sini ternyata sudah hampir satu jam belum datang juga," ucap bi Sarni yang melihat Tantri terus menunggu dengan wajah yang terlihat marah.
Seperti sebelum-sebelumnya Tantri hanya bisa diam, tetapi tidak dalam hatinya yang terus mengumpat bi Sarni yang kelewatan baik.
"Baik itu lihat-lihat orangnya, orang jahat dibaikin yang ada nanti di balas dengan kejahatan." batin Tantri. Sementara bi Sarni kembali ke dalam rumah sakit takut kalau ada apa-apa yang di butuhkan untuk kesaksian Deon, atau justru kerabatnya sudah datang.
Jec dan Cucu yang baru sampai rumah sakit langsung bertanya pada resepsionis, pasien atas nama Deon. Jec langsung menghampiri bi Sarni yang sedang duduk dengan lelah di depan IGD diikuti oleh Cucu di belakanya.
"Maaf Bi, apa Bibi yang menemukan Tuan Deon?" tanya Jec dengan nada bicara seramah mungkin.
Bi Sarni langsung mengangkat wajahnya, dengan seulas senyum yang tipis wanita paruh baya itu menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga. Betul Tuan, saya yang menemukan Tuan Deon, dan maaf saya tidak bisa berlama-lama karena saya sudah harus pulang sekarang juga. Ini barang-barang Tuan Deon, dan kunci mobil ada di dalam mobilnya ayo saya tunjukan." Bi Sarni memberikan barang-barang Deon.
"Maaf Tuan, Nona, saya tadi sempat mengambil uang dua ratus ribu dari dompet Tuan Deon, karena untuk membayar para warga yang membantu mengevakuasi Tuan Deon sampai ke rumah sakit," imbuh bi Sarni.
"Tidak apa-apa Bi, saya justru berterima kasih karena Bibi sudah membantu bos kami sampai ke rumah sakit, apa Bibi mau saya antar pulangnya?" tanya Jec dengan ramah.
"Tidak usah Tuan, Bibi bisa naik taxi, Anda bukanya harus menjaga bos Anda." Kembali bi Sarni berpamitan pada Jec dan Cucu. Jec pun mengambil sisa uang di dompet Deon, sama halnya Jec, bosnya itu pun tidak banyak menyimpan uang cash, justru nasib Jec lebih beruntung di dompetnya ada lima ratus ribu, sedangkan Deon hanya sisa tiga puluh rebu.
"Cu, aku pinjam uang yang tadi aku kasih ke kamu tiga ratus saja, nanti aku ganti, untuk ongkos Bibi itu," bisik Deon dengan suara yang dipastikan hanya Cucu yang mendengarnya.
"Hist... kenapa kalian kere semua sih, apa tidak ada tabungan sama sekali," balas Cucu, bahkan baru saja dia bahagia dengan uang lima ratus ribu, tetapi mau diminta lagi tiga ratu ribu. Alhasil sisa dua ratus rebut. Baru saja dia puji Jec karena kebaikannya.
"Bukan soal kere, tapi kami tidak banyak menyimpan uang cash. Nanti aku ganti dua kali lipat deh." Jec terus melakukan bujuk rayunya. Mata Cucu pun kembali berbinar, dan dengan gerakan yang secepat kilat dia merogoh saku celananya dan kembali memberikan tiga lembar berwarna merah.
"Ingat kembalikanya dua kali lipat jadi enam ratus ribu, dan usahakan bayar cepat kalau lama nanti akan berbunga lagi," goda Cucu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Hist... Kenapa kamu mata duitan sekali," dengus Jec, tetapi ia langsung menyambar uang itu juga.
Hati Cucu pun kembali bahagia ketika Jec akan menggantikan uangnya dua kali lipat.
__ADS_1
"Ah, kamu memang pintar Cari. peluang Cu."