Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 219


__ADS_3

Deon yang setengah dongkol bin kesal pun terpaksa pake banget ke luar kamar untuk menemui asisten laknatnya. Yang dengan tampang tampa dosa terkekeh sedang makan malam. Bahkan Deon dan Cucu sampai lupa tidak menikmati makan malam pikiran mereka sudah langsung ingin mencicil hutang.


"Apa kamu tidak ada kerjaan sampai harus datang ke sini?" tanya Deon dengan suara yang sangat Jijik karena Jec makin hari bagi laki-laki itu sangat menyebalkan.


"Apa Anda tidak ingin mengatakan terima kasih pada saya yang sudah menyelamatkan Anda dari kematian?" tanya balik Jec dengan santai. Nah kan laki-laki itu sudah sangat tidak tahu diri mentang-mentang jabatanya sudah menggantikan Deon.


"Apa ini ada hubunganya dengan jabatan kamu yang naik. Lagian kamu bukanya jabatan sudah naik, tapi untuk makan malam saja harus datang ke sini," umpat Deon, tetapi ia sendiri juga mengambil nasi dan menemani Jec untuk makan.


"Jujur kalau bukan karena saya kasihan dengan Anda dan juga Tuan Doni, saya dari kemarin sudah kabur dariĀ  perusahaan itu. Selain beban, bukanya Anda tahu kalau saya juga punya bisnis. Saya sudah mulai cape untuk bekerja kantoran. Ingin hanya duduk di rumah tapi tetap menikmati gajihan," ujar Jec dengan mengambil nasi lagi. Benar-benar sepertinya laki-laki itu tidak makan selama dua hari.


"Jangan kebanyak bermimpi kamu. Udah paling bener kamu tetap kerja biar cepat beli pulau pribadi. Ngomong-ngomong bukanya kamu sudah menikah terus ngapain kamu ke sini. Apa kamu tidak ingin cepat melesatarikan keturunan. Buruan habiskan makanan-makanan kamu dan setelah itu pulang. Kasihan istri kamu nanti ada yang mengambil," ejel Deon, yang langsung membuat wajah Jec mendung.


"Apa Cucu tidak ke luar, itu tandanya Anda sudah buat dia tidak berdaya?" tanya Jec, miris banget memang seharusnya pengantin baru itu sibuk dengan kegiatan bercocok tanam, tetapi beda dengan dirinya yang mempunyai pasangan tetapi masih terbelenggu dengan kisah masa lalunya.


"Oh, sudah jelas iya. Dia yang memintany mana mungkin aku bisa menolak. Apa kamu tidak bisa menikmati istri kamu? Kenapa dia sedang ada tamu atau justru kamu sebenarnya menikahi dia karena alasan lain?" tanya Deon dengan kepo. Jec pun mendorong piring yang sudah kosong.


Laki-laki itu menyenderkan tubuhnya dengan lesu setelah menghabiskan air mineral satu gelas. "Mungkin pernikahan ini juga tidak akan bertahan dengan lama, mengingat aku dan dia menikah juga bukan karena adanya cinta. Dan wanita itu masih mencintai mantan kekasihnya. Bahkan masih berkomunikasi dengan baik, dan mereka juga sering bertemu di belakangku dan bahkan sang laki-laki sering menghampiri rumah kami untuk bertemu dengan Qila. Apa pernikahan ini masih bisa dipertahankan?" tanya Jec dengan tersenyum getir.

__ADS_1


Deon yang biasanya benar-benar tidak mau perduli dengan urusan Jec, tetapi untuk yang masalah ini laki-laki itu langsung menghentikan kunyahan makananya, dan langsung menatap Jec dengan tajam.


"Kamu memergokinya secara langsung?" tanya Deon dengan penasaran. "Kenapa bisa ada wanita yang bodoh sekali mengabaikan kamu yang baik dan juga bertanggung jawab. Apa dia tidak tahu kalau kamu adalah laki-laki terbaik yang sudah aku kebal," umpat Deon kesal juga pada wanita yang bernama Qila itu.


Tangan Jec pun merogoh ponselnya dan juga dia membuka pesan-pesan dari nomor yang selalu mengabarkan kalau Qila selama ini masih berhubungan dengan Sam. Deon sendiri yang keponya tingkat dewa pun langsung menyambar ponsel Sam, dan membaca satu per satu pesan yang dikirimkan dari nomor-nomor itu.


Cukup lama Deon membaca dan mencoba megamati masalah yang Jec alami. "Kamu sudah selidiki kalau wanita ini memang masih mengharapkan laki-laki tengil ini?" tanya Deon dengan meletkan kembali ponsel Jec. Dan Jec pun yang memang selama ini masih belum siap untuk menemui Qila hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan bosnya yang saat ini berperan sebagai teman baiknya.


"Saya masih belum siap untuk mengobrol dengan Qila. Takut nanti emosi saya tidak bisa terkontrol," jawab jec, mencoba untuk jujur dengan perasaanya. Memang dia takut kalau diaterpancing dengan suasana sehingga menyakili Qila.


"Kamu pulang, jangan kelamaan di sini. Temui wanita itu ajak bicara dengan kepala dingin. Tanyakan saat ini juga bagaimana kemauan dia. Kalau dia memang ingin berpisah dengan kamu, saat ini juga kamu ceraikan dan kamu boleh datang lagi ke sini untuk membagi ke galauan kamu. Aku akan temanin kamu galau." Deon mengusir Jec bukan karena dia ingin nunu nana lagi, tetapi Deon terlalu takut dengan Sam yang bisa saja berbuat negat, apalagi tahu kalau Jec tidak ada di rumanya. Bisa saja laki-laki itu nekad membuat Qila terjebak ke dalam perangkatnya, sedangkan dari gerak gerik Qila yang Deon bisa tangkap wanita itu cukup risih dengan Sam yang selalu menemuinya.


Jec pun untuk beberapa saat terdiam, mencerna ucapaan Deon.


"Jec kamu jangan terlalu lama berpikir sebelum kamu menyesaalinya. Kalau memang kamu tidak ada jodoh dengan wanita itu segera akhiri dan biarkan wanita itu mencari yang terbaik ituk dirinya versi wanita itu. Yang penting untuk saat ini kamu jangan terlalu lama berpikir hanya buang-buang waktu. Apa kamu tidak ingin bersaing dengan aku. Jangan sampai aku sudah punya anak kamu masih saja bujang," goda Deon lagi.


"Jadi saya harus pulang malam ini? Padahal saya sudah berniat dari kantor akan menginap di rumah ini," jawab Jec dengan tidak tahu diuntung sontak saja Deon langsung melebarkan kedua bola matanya.

__ADS_1


"Enak saja kamu mau menginap di rumah ini. Emang ini panti sosial. Pulang! Gangu saja. Cucu malam ini akan bayar hutang banyak jadi kamu cari kegiatan lain, san urus saja rumah tangga kamu yang aneh itu," ucap Deon setengah mengusir.


Jec pun masih menggunakan alasanya untuk tetap berada di rumah sang bos, tetapi Deon juga tidak kehilangan akal sehingga dia juga menggunakan beberapa cara untuk mengusir sang asisten.


Setelah cukup lama bersitegang dengan Deon, kini Jec pun sudah berada di laur rumah mewah dengan dua laintai itu.



"Gila memang, mentang-mentang ada istri meni nggak mau diganggu banget," umpat Jec, dengan kembali naik ke dalam mobilnya dan laki-laki itu pun dengan segala pertimbangan tearutama nasihat-nasihat Deon, Jec akhirnya pulang juga ke rumahnya. Dan laki-laki itu sudah bertekad dengan baik akan mulai berbicara dengan kepala dingin.


Jec juga membenarkan ucapan Deon yang mana cepat atau lambai dia akan tetap berbicara untuk mencari keputusan terbaik.


Sepanjang perjalanan Jec pun sudah memikirkan ucapan apa yang akan dia katakan pada Qila. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, itu karena Jec membawa mobil cukup pelan. Laki-laki itu seolah tengah mengulur waktu. Agar tidak buru-buru sampai di rumah.


Bibir Jec melengkung sempurna ketika laki-laki itu memergoki langsung Qila bersama dengan laki-laki yang bernama Sam. Kata-kata yang sejak tadi dia susun pun hilang sudah berganti dengan emosi yang sudah di atas kepala. Namun Jec tidak ingin melampiaskanya saat ini juga. Yang bisa saja justru membuat laki-laki itu merasakan ke menanganya.


Qila pun yang melihat mobil Jec langsung ketakutan. Benar saja ketakutanya itu terjadi yaitu Jec pulang.

__ADS_1


Padhal dia ke luar bukan karena dia ingin bertemu dengan Sam, tetapi hanya ingin mengatakan pada Sam kalau dia tidak akan memilih dirinya. Wanita itu semakin yakin kalau Jec adalah laki-laki yang baik sehingga di tidak pantas kalau Sam masih datang ke rumah suaminya.


Jec bisa melihat wajah Qila sangat merah, dan Jec juga yakin kalau wanita itu sedang menahan malu karena ketahuan selingkuh. Kecewa, bahkan sangat kecewa yang Jec rasakan pada sang istri. Sampai rasanya dia ingin mengakhiri rumah tangganya saat ini juga.


__ADS_2