
Dua hari sudah berlalu, tetapi perasaan Cucu tidak juga bisa tenang dia masih terus memikirkan bagaimana keadaan Deon, apalagi Jec juga tidak memberikan kabar apapun hingga Cucu pun semakin memikirkan bagaimana keadaan sang suami. Entah ini hanya ketakutanya saja, kalau sampai Deon kenapa-napa dan dia akan menjadi penyebab utamanya, makan dia merasa seperti pembunuh, atau justru memang ini adalah pertanda bahwa sang suami sedang tidak baik-baik saja di tempat lain.
Sementara Qila pun sudah pulang dari dua hari yang lalu bahkan saat ini kondisinya sudah juah membaik.
"Aku mulai hari ini akan mulai kembali kerja," ucap Qila ketika ia dan Jec sedang sarapan bersama. Mereka memang tinggal dalam satu rumah, tetapi untuk tidur mereka menempati kamar masing-masing, semua atas permintaan Qila. Jec pun tidak menolaknya dia terus mengikuti apa kemauan sang istri. Karena memang dia menikmati Qila hanya agar Qila mau menjalani pengobatan dan soal cinta dan lain-lain Jec lebih santai.
"Tidak ada alasan aku untuk melarang kamu bekerja," balas Jec, tanpa menatap Qila, laki-laki yang menyandang setatus suami dari Qila pun nampaknya lebih tertarik pada menu makananya dari pada sang istri.
"Aku akan berangkat kerja naik motor saja, kamu nggak usah mengantarkanku," ucap Qila lagi, dan lagi-lagi Jec membiarkanya. Jec hanya menjawabnya dengan anggukan sama tanpa memberikan sepatah kata pun.
Mereka pun berangkat kerja masing-masing. Sesuai keinginan Qila.
Di lain tempat Cucu makin kepikiran dengan Deon, lagi-lagi Jec adalah tujuanya untuk meminta bantuan karena hanya Jec yang bisa membantu mencari tahu tentang keadaan sang suami, jelas kalau dia bercerita pada Doni, laki-laki itu akan melarang keras Cucu untuk menemui Deon, tetapi Cucu juga tidak bisa lepas tanggung jawab takut kalau Deon terjadi apa-apa. Entah perasaan apa tetapi Cucu juga sesungguhnya kasihan dengan kondisi Deon yang hanya sebatang kara pasti sedih dan juga kesepian. Mungkin sikap arogan-nya adalah cara laki-laki itu menarik perhatian.
[Ada apa lagi Cu?" tanya Jec, selalu seperti biasa akan sangat ramah dan hangat.
[Jec, aku kembali terpikirkan bagaimana ke adaan Deon, apa kamu sudah tahu kondisinya baik-baik saja atau tidak. Aku makin kepikiran Jec,] balas Cucu dari tempat yang berbeda.
[Baiklah aku akan kembali menghubungi kamu kalau aku sudah dapat informasi mengenai suami kamu.] Jec pun tanpa menunggu jawaban dari Cucu langsung mematikan ponselnya dan seperti kemarin selalu menghubungi asisten rumah tangga di mana laki-laki juga tidak melihat selama dua hari ini Deon di kantornya bahkan nomer HaPe-nya pun tidak aktif.
__ADS_1
[Bi, apa Tuan Deon kondisinya baik-baik saja?] tanya Jec begitu panggilan suara di angkat oleh asisten ruamh tangga di rumah bosnya.
[Itu dia Jec, dari kemarin Tuan Deon tidak keluar dan juga tidak mau makan, bahkan sekarang dari tadi pagi Bibi panggil-panggil tidak ada sahutan entah Tuan belum tidur atau malah terjadi sesuatu pada Tuan. Kemarin kalau di panggil untuk makan Tuan Deon selalu bilang tidak lapar, tetapi sekarang tidak ada sahutan apa-apa,] jawab asisten rumah tangga dengan suara bergetar, bisa Jec simpulkan kalau memang wanita itu sedang ketakutan.
[Aduh Bibi, kenapa tidak bilang dari kemarin kalau Tuan Deon tidak mau ke luar kamar,] bentak Jec, dia terlalu panik sampai tidak sadar berbicara cukup kencang pada asisten rumah tangga di rumah bosnya.
[Maaf Jec, Bibi tidak berpikir akan seperti ini,] ucap asisten rumah tangga Deon dari tempat yang berbeda. Jec pun tanpa pikir panjang langsung membelokan mobilnya menuju rumah Deon. Pikiran Jec jadi tidak tenang.
"Apa yang di pikirkan Cucu itu adalah pertanda buruk," batin Jec. Dengan pikiran yang semakin berpikir buruk laki-laki dengan setelah rapi pun langsung menghubungi rumah sakit untuk mengirikan ambulance dan juga tenaga medis ke rumah bosnya. Meskipun Jec belum yakin betul kalau Deon dalam keadaan tidak baik-baik saja, tetapi Jec sudah mempersiapkan semuanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
"Cucu, apa aku harus langsung mengabarkan Cucu juga?" batin Jec di tengah-tengah perjalanan ke rumah Deon, tetapi dengan yakin Jec tidak dulu memberitahu Cucu sebelum tahu kondisi Deon yang sesungguhnya. Dengan kecepatan yang cukup tinggi Jec pun tidak harus membuang waktu lama sudah ada di rumah Deon, di mana di depan kamar sang Tuan, sudah ada security yang bersiap mendobrak kamar Deon.
"Kita dobrak pintunya!" ucap Jec dengan bersiap mendobrak pintu yang sudah pasti akan sangat sulit untuk membukanya, tetapi bak seorang petarung Jec pun mulai menggulung kemeja panjangnya dan ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar bosnya.
Brakkk....
Brakkk...
Usaha yang cukup sia-sia karena nyatanya pintu tidak juga terbuka.
__ADS_1
"Coba pakai ini Jec." Bibi memberikan linggis, itu karena kunci cadangan tidak ada di kamar itu, dengan cekatan Jec mengambilnya. Peluh sudah membanjiri tubuh Jec dan satpam yang mendobrak pintu kamar Deon. Dengan tangan bergetar Jec pun terus mendobrak kamar sang bos. Kali ini berkat kerja keras Jec dan security dan dibantu oleh tim medis yang baru datang setelah hampir tiga puluh menit pintu pun terbuka.
Benar saja dugaan Jec dan yang lainya Deon sudah pingsan dengan tubuh membiru dan juga wajah pucat pasi dan tubuh dingin seolah seperti orang yang terkena hiportemia. Untung Jec memanggil tim medis sehingga dengan cekatang para tenaga menis melakukan kewajibanya. Sedangak Jec mengecek kamar Deon takut kalau laki-laki itu meminum ra-cun.
Jec juga berpikir sama dengan Cucu takut kalau Deon akan nekad. Namun, rupanya Jec bisa bernafas lega karena tidak ditemukan alat atau obat-obatan berbahaya di dalam kamar Tuanya.
"Tuan kita akan segeara bawa pasien ke rumah sakit karena suhu tubuhnya turun dratis dan pasokan oksigen ke otak sudah mulai menipis harus dilakukan tindakan yang memadai," ucap dokter, Jec pun langsung menganggukan kepala.
"Lakukan yang terbaik pada bos saya," ucap Jec, dalam kepanikanya.
Dengan cekatan mereka kembali melakukan tugasnya dengan sangat baik. Jec pun mengikuti mobil ambulan dari belakang. Dia masih terlalu cemas dan menyesal kenapa tidak kepikiran untuk mengecek Deon, mungkin kalau Jec lebih bisa menekan egonya tidak akan terjadi seperti ini.
Sepanjang perjalanan Jec pun dilanda dengan penyesalan hingga dia lupa belum mengabari Cucu. Yang sudah pasti Cucu di tempat lain sangat cemas dengan keadaan sang suami.
#Maafkan Jec yah Cucu dia memang benar-benar panik sampai lupa mengabarkan kondisi Deon sama kamu...
...****************...
__ADS_1