Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 114


__ADS_3

Deon dan Doni yang terlibat perdebatan sengit, karena ucapan Deon yang mengatakan Lysa hanyalah seorang budak nafsu.


"Doni, ingat kedatangan kita ke sini bukan untuk berdebat masalah ini. Om sangat berharap kalau kalian bersikaplah dewasa. Kalian sudah dewasa, dan kalian sudah bisa membedakan mana yang perlu dikatakan dan tidak. Apalagi kalian itu adalah satu darah dan satu ayah, tidak sepatutnya bertengkar." Dika berusaha menengahi Deon dan Doni.


Mereka pun hanya diam mungkin menyesal, atau justru mereka terlibat umpatan dalam masing-masing batinya.


"Deon, maaf Om harus katakan kalau harta yang selama ini kamu gunakan sebenarnya kalau dari segi hukum jatunya ke Doni. Mungkin kamu akan bertanya kenapa Om baru berkata sekarang? Itu semua karena Doni dan Iriana  selama ini diam dan tidak ingin mempeributkan harta-harta ini, tapi setelah Om lihat dan Iriana pun semakin sadar, bahwa makin banyak yang ingin menguasai harta suaminya, yaitu Irwan, sehingga mau tidak mau harus ada satu pemimpin yang kuat dimata hukum. Kalau tidak seperti ini pasti akan kalah dengan mereka yang curang dengan menghalalkan segara cara agar pundi-pundi harta mereka menumpuk." Dika menatap Deon yang semakin gelisah.


Deon tahu arti dari ini semua, apa yang dikatakan oleh Doni akan terwujud alias dia akan kehilangan semuanya, dan bukan tidak mungkin ia juga akan meninggalkan rumah mewah yang selama ini ia tempati.


"Kamu tidak usah takut, aku tidak rakus dan aku tidak mungkin tega kalau Abangku tercinta tinggal di kolong jembatan. Aku masih berbaik hati memberikan penawaran pada kamu Deon. Kalau kamu mau bekerja sama denganku makan kamu tidak akan kekurangan uang sepeser pun, aku tidak akan mengambil harta-harta itu. Silakan kamu nikmati harta itu dengan catatan kamu jangan usik Alzam dan Qari." Doni membenarkan posisi duduknya, pandangan matanya menatap Deon tanpa kedip.


Wajah Deon terlalu manis untuk Doni lewatkan di saat situasi seperti ini.


"Emang apa yang gue lakukan sama laki-laki itu, bahkan gue melihatnya saja jijik," dengus Deon. Laki-laki itu kembali bersikap santai, setelah ia berpikir kaalau Doni tidak mungkin membuatnya miskin. Silahkan saja Doni kalau mau melakukanya karena Deon juga sangat yakin Doni yang lebih suka menggeluti profesinya sebagai dokter akan membutuhkan tenanganya untuk mengolah perusahaan yang tidak mungkin sembarangan orang lain yang mengolahnya. Bukanya itu hal yang saling menguntungkan, simbiosis mutualisme.


"Kamu selalu mengganggu Alzam dan Qari,  kamu juga sudah berusaha menyuap aku untuk melakukan pembunuhan berencana, untuk menyuntikan hormon, yang membuat sel kanker tumbuh, dan membuat Alzam kehilangan daya tahan tubuh yang dratis. Itu namanya pembunuhan berencana." Doni semakin naik pitam, ketika Deon tidak mengakui apa yang telah ia lakukan.

__ADS_1


"Tapi bukanya semua itu kamu tolak, dan aku tidak berusaha melakukan apapun lagi untuk menyingkirkan laki-laki itu, karena tanpa aku bikin dia sakit, umur dia juga tidak akan lama. Manusia pernyakitan kaya dia juga lama-lama akan sakit kembali," jawab Deon dengan santai. Sontak saja Doni semakin naik darahnya menghadapi abangnya yang sangat lancang mulutnya.


"Jaga mulut kamu Deon, kamu tidak pernah tahu gimana aku sebagai Dokter bekerja dengan sangat keras agar pasien-pasienku sembuh, tapi mulut kamu sangat lancang, secara tidak langsung kamu mendokan orang yang sakit agar tidak sembuh. Jahat kamu Deon!! Aku tidak menyangka ada orang yang seperti itu." Bahkan Suara Doni terdengar bergetar, sangat sakit ketika ia mendengar ucapan Deon yang sangat menyakitkan bagi dia.


Padahal bukan Doni yang secara langsung yang didoakanya, tetapi ia sebagai dokter sangat menyayangka ada orang berpikir seperti Doni. Dia bahkan rela tengah malah datang ke rumah sakit di saat pulas tertidur hanya karena ada pasien yang membutuhkanya. Ia yang selalu berdoa akan semua pasienya sembuh tanpa terkecuali, tetapi Deon justru mengharapkan agar pasienya sakit terus dan menyerah. Tanpa terasa air matanya jatuh.


"Kalau gitu jangan tuduh aku yang tidak-tidak, apa ada bukti aku membuat laki-laki itu menjadi laki-laki yang pernyakitan, tanpa aku buat seperti itu dia sudah pernyakitan," balas Deon.


"Yah, mungkin memang kamu tidak jadi menyuntikkan hormon itu, tetapi kamu menggangu kehidupan rumah tangganya secara terus menerus membuat konsentrasinya terganggu dan dia terfikirkan dan ujungnya dia kehilangan daya tahan tubuhnya. Jadi kamu sama saja melakukan pembunuhan berencana," tuding Doni, ia mengatakan seperti itu bukan tanpa bukti, tetapi karena Doni tahu apa yg dilakukan Deon.


"Gue datang kerumahnya untuk melihat Qari, wanita yang gue sukai. Masalah dia terganggu itu salah dia, dan gue akan terus datang untuk melihat Qari," tandas Deon dengan yakin.


"Sudah... Sudah... Setop!!!" pekik Dika. Mendorong tubuh Doni menjauh dari Deon yang hampir saja membalas tinjuanya.


"Dasar laki-laki keras kepala." Doni melempar map-map yang ada di meja Deon, hingga berserakan tidak karuan, padahl itu adalah laporan keuangan, yang sangat penting yang belum sempat Deon cek satu persatu.


Deon mengusap sudut bibirnya yang pecah.

__ADS_1


"Doni kita pulang," ucap Dika, tetapi buru-buru Doni menolaknya.


"Aku tidak akan pulang sebelum memberi pelajaran pada laki-laki pembunuh ini," tunjuk Doni pada Deon.


"Pergilah bukanya apa yang loe inginkan sudah dapat. Harta-harta ini sudah jadi milik loe semua, apalah yang membuat loe ada di sini dasar dokter gila,"  sungut Deon baru kali ini dia ditinju hingga bibirnya pecah dan terasa rahangnya akan geser.


"Gue bukan cari harta, gue hanya ingin loe jauhi Alzam," ucap Doni sekali lagi.


"Gue tidak pernah ada urusan dengan laki-laki itu, tetapi kalau dengan Qari, gue udah jatuh cinta, dan gue akan kejar cinta itu sampai kapan pun," tantang Deon tidak pernah takut di buat miskin oleh Doni. Lagi pula selain harta-hara milik papahnya dia sendiri juga memiliki harta yang bisa ia gunakan untuk menghidupi dirinya sehingga tidak mungkin dia jatuh miskin.


"Susah ngomong dengan laki-laki otak batu." Doni pun langsung  pergi meninggalkan Deon.


"Om Dika, urus semuanya seperti yang Momy inginkan aku tidak ingin egois," ucap Doni sekali lagi pada pengacara yang mengurus harta-hartanya, sedangkan dia lebih baik pergi dari Deon, jantungnya tidak aman berdekatan terus menerus dengan laki-laki otak batu itu.


Braaakkk (Suara pintu di tutup kencang)


Bruuukkkk...

__ADS_1


"Loe jalan gak pakai mata yah!!!"


__ADS_2