
Alzam tersenyum puas ketika ia membaca pesan dari dokter Doni yang memberitahukan alamat kantor Deon.
[Ini alamat kantor Deon, tetapi kamu harus hati-hati dia itu sulit dimengerti maunya apa, dan kalau dia mengancam kamu, kamu juga jangan diam saja. Kamu ceritakan padaku,] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Doni.
[Baik Dok, Anda jangan khawatir aku akan baik-baik saja,] Alzam pun kini hanya tinggal mencari tahu gimana caranya agar dia bisa keluar kantor tanpa Qari curiga. Mau alasan menemui dokter Doni semalam sudah menggunakan alasan dokter Doni, masa ia sekarang pakai alasan itu lagi.
"Ah, mungkin saja kakak Ipar ada kerjaan di luar biar aku yang gantikan agar aku bisa ke luar," gumam Alzam. Bisa saja sebenarnya dia menggunakan alasan meeting apalagi sekarang perusahaan akan mengeluarkan produk baru sehingga sangat wajar kalau banyak kegiatan di luar.
Namun, kalau Qari sampai tahu dia berbohong bisa-bisa pergi ke kamar mandi saja akan diikuti terus. Alzam masuk ke ruangan Naqi setelah mengetuk pintu.
"Ada masalah apa Al?" tanya Naqi tanpa mengalihkan pandanganya dari map yang ada di hadapanya.
"Apa hari ini tidak ada jadwal meeting di luar Bang?" balas Alzam dengan kembali melemparkan pertanyaan lain.
Naqi langsung mengangkat wajahnya, menatap pada Alzam dengan tatapan yang tajam, serta alis mengernyit sempurna. "Tumben kamu pengin keluar," tanya Naqi, yah tanpa Alzam jelaskan dia tahu apa yang jadi masalah Alzam.
"Ada urusan Bang, tapi kan Abang tahu kalau alasanya kurang tepat Qari suka bertanya yang aneh-aneh, dan akan sangat sulit untuk dapat izinnya," balas Alzam. Memang sejauh ini Naqi bisa diajak kerja sama.
"Baiklah, kamu antar ini pada rumah produksi yang mengurus untuk iklan kita nanti, dan kalau Qari protes, biar dia yang menghadap saya," lirih Naqi sembari menyerahkan map, di mana di dalam sana ada perjanjian kerja sama, dan hanya membutuhkan tanda tangan. Sebenarnya bisa dikerjakan oleh orang lain, tetapi demi membantu Alzam, Naqi pun menyerahkan pekerjaan gampang itu pada adik iparnya.
"Kalau gitu saya ucapkan terima kasih Bang," lirih Alzam dengan menunduk hormat, serta senyum bahagianya.
"Hemz...." Naqi hanya membalas dengan deheman. Bantuan itu tentu tidak seberapa dibandingkan dengan bantuan Alzam pada keluarganya, terutama membantu menjaga Qari. Tidak perlu diragukan lagi apa yang sudah Alzam lakukan pada Qari di mana Naqi bisa melihat kalau Qari saat ini sangat bahagia. Jauh lebih bahagia dari Qari yang dulu, dan juga Alzam juga bisa menjadikan ratu untuk adik kandungnya.
Sesuai dugaan Alzam, kalau Qari tidak akan mudah memberikan izin pada Alzam. Terutama dia tahu kalau kerjaan Alzam bisa dikerjakan dengan yang lain.
"Abang itu kadang kasih pekerjaanya tidak masuk akal, pekerjaan seperti ini bisa dikerjakan sama orang lain tidak harus kamu yang mengerjakanya," tunjuk Qari dengan dahi mengernyit, bukan tidak memperbolehkan Alzam pergi, tetapi Qari mengira Naqi ingin memberikan pekerjaan yang membuat Alzam capek.
__ADS_1
"Abang bukan mengerjai aku Sayang, Abang sekalian mengutus aku untuk menjabarkan kemauan konsep untuk iklan nanti yang sesuai dengan kemauan kita, agar mereka bener-bener paham. Itu alasan Abang meminta tolong aku, bukan karena Abang ingin mengerjai aku," lirih Alzam, lagian yang mau sebenarnya kan Alzam, seharusnya Alzam berterima kasih dengan Naqi, apalagi bisa-bisa Qari langsung protes dan marah sama abangnya.
"Apa tidak bisa dengan telpon kan bisa zoom." Qari tetap merasa kalau Naqi memang rese banget, bekerja pengin yang sulit sedangkan yang gampang saja ada.
"Sayang, menjelaskan ini tidak seperti semalam dokter Doni menjelaskan hasil pemeriksaan, tetapi ada yang harus kita jelaskan dengan detail, itu sebabnya aku harus datang ke sana langsung," jelas Alzam dengan sabar.
Qari pun untuk beberapa saat diam. mencerna apa yang Alzam katakan. "Tapi kamu tidak apa-apa melakukan kerja itu," lirih Qari yang takut kalau Alzam akan kecapean. Alzam hanya membalas dengan terkekeh renyah.
"Ya ampun Sayang ini pekerjaan santai, lagian Mas itu juga diantar dengan sopir. Kamu jangan terlalu cemas yah semuanya baik-baik saja," balas Alzam dengan yakin. Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang dan pastinya harus memutar ide agar Qari tidak curiga dengan apa yang dia bicarakan.
"Ya udah kalau gitu kamu hati-hati yah, dan jangan bikin aku cemas memikirkan kamu," lirih Qari dengan wajah yang menunjukan kalau dia sangat cemas dengan kondisi Alzam, takut terjadi sesuatu.
"Kamu tenang saja Sayang, aku udah besar, dan bisa jaga diri."
Setelah pamit pada Qari kini Alzam tujuan utamanya pasti ke tempat Deon langsung baru setelah itu ia akan mengerjakan apa pekerjaan sesungguhnya yaitu mengantarkan surat perjanjian untuk rumah produksi pembuatan iklan produk baru mereka nantinya.
"Baik Tuan."
Alzam pun di dalam mobil mulai menyusun kata-kata yang nanti akan dibicarakan dengan Deon, laki-laki yang tidak ada capenya membut rumah tangga mereka ketakutan, terutama Qari. Alzam ingin agar Deon tidak membuat Qari itu kefikiran sehingga mengganggu kelahiran anaknya nantinya.
Tidak menunggu lama kini Alzam sudah ada diperusahaan di mana Deon bekerja.
"Anda ingin bertemu siapa Tuan?" tanya resepsionis dengan sopan, ketika Alzam datang menghampirinya.
"Tuan Deon, apa beliau ada di ruanganya?" balas Alzam tidak kalah sopan.
"Apa sebelumnya sudah ada janji?" tanya balik resepsionis itu.
__ADS_1
"Saya sudah berjanji dengan dokter Doni, dan saya juga mengetahui alamat ini dari beliau." Alzam menujukan chat pribadinya dengan dokter Doni.
"Kalau gitu, silahkan Anda duduk dulu biarkan saya hubungi Tuan Deon. kalau boleh tau namanya siapa? Dari perusahaan mana?"
Alzam menjawab dengan sopan, setelah itu menunggu di ruang tunggu. Alzam akui perusahaan Deon memang besar, dan mungkin ini alasan Deon berbuat sesuka hatinya, karena merasa apa yang dia butuhkan tercukupi.
Sementara itu, Deon di dalam ruanganya mengernyitkan dahinya kala mendengar ucapan dari resepsionisnya. "Apah? Alzam datang ke sini? Ada perlu apa dia? Nyali dia besar juga," ucap Deon dengan nada bicara yang kencang dan tentu Jec pun lagi-lagi bisa dengar dengan apa yang Deon ucapkan. Namun tidak tahu kalau Alzam akan menghampiri mereka.
Setelah berpikir cukup matang, dan tentunya Deon sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Kalau begitu ajah Alzam masuk ke dalam ruanganku," balas Deon, laki-laki itu sudah tidak sabar juga kira-kira apa yang akan Alzam bicarakan denganya. Yang bisa Alzam tebak adalah niatan Alzam datang ke kantornya pasti ada hubungannya dengan Qari.
"Pasti Qari cerita kalau kemarin aku mengganggu dia lagi, dan laki-laki itu datang untuk menjadi pahlawan. Mau jadi super hero untuk melindungi istri tercintanya. Menarik," kekeh Deon, ia jadi tidak sabar dengan apa yang akan mereka bahas.
"Tuan, mari saya antar untuk ke ruangan Tuan Deon. Beliau sudah menunggu Anda di ruanganya," ucap resepsionis itu dan Alzam pun hanya mengikuti resepsionis. Ia berusaha bersikap santai. Tidak hanya Deon yang kaget ketika tahu kalau Alzam menemui Deon. Jec pun tercengang kala melihat kalau Alzam akan masuk ke dalam ruangan bosnya.
"Jadi laki-laki yang dimaksud tadi Alzam? Ada urusan apa Alzam dengan Bos?" guman Alzam dalam batinya, Sama dengan Deon, kalau Jec juga menduga kalau niat Alzam datang menemui Deon pasti membahas Qari, tapi membahas soal apa? Jec pun jadi tidak fokus bekerja.
"Silahkan Tuan, Tuan Deon sudah menunggu Anda di dalam," lirih resepsionis, dengan membukakan pintu untuk Alzam. Tidak lupa Alzam pasti mengucapkan terima kasih.
Pandangan mata Deon langsung mengawasi Alzam dengan tatapan yang seolah tengah menguliti mangsanya.
"Apa Anda tidak ingin mempersilahkan saya untuk duduk, Tuan Deon," lirih Alzam dengan nada sopan, tetapi niatanya ingin membangunkan lamunan Deon.
"Loe sudah tahu harus duduk di mana," jawab Deon denga ketus dan Alzam hanya membalas dengan senyuman terbaiknya, tetapi ia sebisa mungkin tetap santai.
"Jadi ada urusan apa loe datang ke sini. Sedangkan gue dan loe tidak ada urusanya," cecar Deon dengan nada yang semakin sinis, sudah bisa menggambarkan sekali gimana menyebalkanya laki-laki itu.
__ADS_1
Alzam menghirup nafas dalam, baru pembukaan saja Alzam sudah bisa menyimpulkan kalau Deon itu memang laki-laki yang sangat menyebalkan. Pantas saja Qari setiap sehabis bertemu dengan Deon seperti kena sawan gara-gara lihat makhluk goib.