Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam bab 197


__ADS_3

"Perut sudah aman kan Cu?" tanya Deon, ah ingat itu hanya pertanyaan jebakan. Karena aman atau tidak Cucu malam ini tidak bisa lolos.


"Kalau aku bilang tidak apa, kamu akan membebaskan aku?" tanya Cucu dengan nada bicara yang sengit.


Deon tertawa dengan renyah. "Tentu tidak, aku hanya basa basi saja," ucap Deon dengan senyum misteriusnya.


"Sudah aku duga sih. Mana mau kamu membebaskan aku sedangkan uang yang kamu keluarkan tidaklah sedikit, tapi sayang aku tidak tertarik uang-uang itu." Cucu terus meracau, mengungkapkan unek-unek di hatinya.


"Tertarik atau tidak kamu sekarang sudah jadi istri aku, jadi tidak ada alasan untuk bebas dari aku." Kini tanpa terasa Cucu sudah sampai di hotel bintang lima. Lagi, Deon menggandeng Cucu dengan posesif. Seolah laki-laki itu ingin memamerkan kalau dia punya mainan baru.


"Selamat datang Cucu, aku sangat menantikan waktu ini." Deon langsung memeluk Cucu dari belakang. Tubuh Cucu langsung memberikan respon yang sangat aneh. Apalagi ketika di bagian belang benda yang keras tadi dia pegang sudah berdenyut-denyut seolah tengah berdisko.


"Maaf Deon aku akan membersihkan tubuh dulu, gerah." Cucu mencoba membuka pelukan Deon di mana tangannya ada di pinggangnya yang ramping dan dagunya di letakan di atas pundaknya. Namun, bukan Deon kalau dia dibilang langsung nurut, Deon adalah manusia paling keras kepala. Cucu yang mencoba membukanya justru Deon memeluk semakin kencang.


"Kamu tidak usah mengulur waktu tubuh kamu sudah bersih, bukanya kamu baru keluar dari salaon." Deon seolah kembali menggoda Cucu dengan berbicara di balik daun telinga area yang sangat sensitif. Membuat tubuh Cucu langsung menegang.


"Terus mau kamu apa?" tanya Cucu, masih belum siap untuk melakukan semuanya. Dia takut kalau dengan menyerahkan semuanya pada Deon hidupnya justru jadi jungkir balik tidak menentu.


"Aku mau makan kamu." Deon melepaskan pelukanya pada Cucu. Lalu laki-laki itu duduk dengan posisi sangat menjijihkan. Kakinya direntangkan dan tanganya di jadikan tumpuan ke belakang menopang tubuhnya yang setengah menatap atas.


"Kamu bisa mulai dari bawah, buka pakaian bagian bawahku." Deon memberikan kode dengan ekor matanya.


Cucu yang awalnya lega karena Deon melepaskan pelukanya, nyatanya kembali tercengang dengan permintaan Deon itu.


"Ka... kamu jangan bercanda Deon, karena aku bukan wanita murahan seperti bayangan kamu," protes Cucu degan air mata sudah turun membasahi pipinya. Matanya merah menyala seolah mengajak Deon untuk berperang.


"Kalau gitu duduklah! Aku yang akan bekerja. Untuk malam ini aku bebaskan kamu dari tugas ini. Tapi sebagai gantinya kamu cukup diam dan menikmati lalu men-de-sah-sesuai dengan irama yang nanti akan aku buat." Deon menarik tangan Cucu. Tapi wanita itu kembali menariknya. Sehingga Cucu tetap berdiri di posisinya.

__ADS_1


"Aku akan kembalikan uang itu, tapi kamu batalkan permainan ini," ucap Cucu dengan suara yang berat dan bergetar. Untuk pertama kalinya wanita itu menangis. Bahkan ketika dia difitnah hutang dan dikucilkan dan gunjingan yang hebat dari tetangga, rekan kerja, Cucu masih bisa berkata baik-baik saja, tetapi untuk malam ini, dia tidak bisa berpasrah ini sudah sangat di luar batas kesabarannya.


"Tidak perlu, aku bukan manusia yang gila uang, tetapi yang aku ingin kamu, melayani aku. Bahkan aku bisa beri dua atau tiga kali lipat dari uang yang pernah aku berikan." Deon menatap tajam pada Cucu yang justru menangis.


"Tapi aku bukan wanita murahan," balas Cucu dengan suara yang meninggi dan seolah wanita itu tengah mengeluarkan bongkahan sesak di dadanya.


"Tidak perduli, murahan atau tidak yang jelas kamu sudah membuat dia bangun, makanya tidurkan dia sekarang juga!"Suara Deon tidak kalah meninggi dari Cucu. Hingga Cucu tersentak kaget karena mengetahui bahwa Deon sudah marah dan kesal.


"Mana Cucu yang keras? Mana Cucu yang sombong, keras kepala dan Cucu yang membangkang? Layani aku saat ini juga! Kalau tidak, maka aku yang akan membuat kamu semakin menangis, menjerit hingga mungkin pingsan." Deon semakin membuat Cucu kesal, marah dan juga sedih, sangat sedih. Ketika dia laki-laki yang menikahinya justru dia yang merendahkannya.


Cucu hanya diam dan menunduk, menyesal, marah dan juga benci yang sudah sampai batasnya.


Brugggg... Deon menarik tubuh Cucu yang tengah menyiapkan dirinya.


Brakkk... Brak... pakaian mahal yang Cucu kenakan ditarik paksa oleh Deon. Hingga rusak dan juga hanya tersiksa kaca mata dan penutup lembah yang berwarna senada dengan pakaian yang cucu kenakan, yaitu merah.


Namun Deon yang sudah dikuasai emosi dan juga nafsu mana mau bernegosiasi dengan istri barunya  itu.


"Kamu tahu agama, apa hukumnya kalau kamu nolak suami untuk melakukan penyatuan?" tanya Deon dengan mencengkram dagu Cucu dengan kuat bahkan jarak wajah mereka sangat dekat. Sakit? Tentu, Cucu merasakan sakit di dagunya yang dicengkeram kuat oleh suaminya.


"Aku tahu, dan paham Deon apa hukumnya, tetapi bukan dengan cara kekerasan seperti ini. Kalau kamu memaksa aku sama saja kamu melakukan kekerasan padaku dan itu sangat berdosa," balas Cucu mungkin Deon akan sadar, tapi nyatanya tidak.


Deon semakin menggila, selimut yang Cucu pakai dia tarik dengan kuat dan sampai Cucu hampir terbawa.


"Buka bajuku!" Deon kembali meminta Cucu melakukan hal yang menjijikan.


"Buka!!!" Bentaknya sekali lagi. Kini Cucu pun dengan tangan bergetar membuka kancing baju Deon yang jaraknya sangat dekat dengan Cucu.

__ADS_1


Cuppp... Justru Deon menempelkan bibirnya ke bibir Cucu yang sedang Cucu gigit bawahnya. Kini posisi Deon sudah berada di atas Cucu. Namun, wanita itu hanya diam saja bahkan bibinya semakin kuat dia gigit. Tidak dia biarkan Deon menguasai bibirnya.


Deon pun yang mendapatkan perlawanan dari Cucu kembali tertantang. Ia lepaskan ciuman itu. Dan membiarkan Cucu membuka bajunya dan terakhir pakaian bagian bawahnya. Namun, gerakan tangan Cucu yang  gemetar lagi-lagi terhenti.


"Kamu bisa lakukan itu semua sendiri," ucap Cucu dengan membuang pandangan matanya menatap bagian lain di dalam kamar itu yang menurutnya lebih menarik.


"Aku ingin kamu yang melakukanya. Aku akan naikan bayaran kamu malam ini jadi dua kali lipat, jadi kamu akan langsung memotong hutang-hutang kamu tiga puluh juta." Deon kembali menarik tangan Cucu, tetapi Cucu juga kembali menarik tangannya dengan kuat.


Plakkk... kali ini Deon yang kehilangan kendalinya menampar pipi Cucu dengan kesal.


"Aku akan berbuat lebih dari ini, kalau kamu pura-pura sok suci. Aku sangat benci sama wanita murahan, tetapi sok jual mahal." Deon meluapkan kemarahannya.


Cucu bergeming dengan tangan memegang pipinya yang panas. "Silahkan lakukan yang lebih. Apa yang akan kamu lakukan? Membunuhku? Silahkan," balas Cucu dengan menantang Deon, wajahnya yang memerah menatap suami barunya itu.


Tangan Deon bergerak perlahan untuk membuka pengait kaca mata yang Cucu kenakan, meskipun Cucu menahannya, nyatanya sekali tarikan benda keramat itu sudah terbang. Dengan gerakan cekatan Cucu mengambil bantal untuk menutupi asetnya yang menantang keangkuhan Deon. Namun, lagi-lagi ditarik Deon hingga terbang ke sudut ruangan. Kini tangan Deon membuka pakaian bagian bawahnya hingga ia sudah polos dengan santainya berjalan mendekat ke arah Cucu yang sudah memejamkan ke dua bola matanya.


"Akhhh... Deon kamu menyakiti aku." Wanita itu berusaha untuk berontak ketika tangan dia di tahan ke atas dan dua menikmati setiap inci tubuhnya hingga hap....


Bibirnya memainkan bukit tak berbunga hanya berbuah kacang. Dengan gerakan yang membuat Cucu hilang kendali, hingga tanpa sadar tubuhnya mengikuti irama permainan laki-laki laknat itu. Bahkan suara-suara menjijikan lolos dari bibir mungil Cucu.


"Deon kamu memang be-rengsek..." umpat Cucu di tengah-tengah kesadarannya yang mulai terkikis.


Namun, bukan Deon namanya kalau dia tetap santai. Laki-laki itu terus membuat tanda-tanda cinta di setiap inci tubuh Cucu.


"Ingat setiap kamu menyebut namaku akan aku buat hutang-hutang kamu berkurang," ucap Deon dengan melepaskan kain terakhir yang menempel di tubuh Cucu


Kini sekuat apa Cucu melawan dia tidak akan bisa, sekuat apa dia memohon juga akan terasa sia-sia karena Deon tidak akan mengizinkannya untuk lolos malam ini.

__ADS_1


"Sebut namaku dengan penuh cinta!"


__ADS_2