Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 118


__ADS_3

Deon membuang pandanganya, ketika Doni dengan angkuhnya kembali meninggalkan ruangannya. Sedetik kemudian Deon pun mengamati laki-laki yang berprofesi menjadi pengacara keluarganya.


"Saran Om apa? Apakah Deon juga harus pergi dari kantor ini, dan meninggalkan ini semua?" tanya Deon kembali ke topik utamanya yaitu membalas masalah harta peninggalan papahnya.


Diki pun memalingkan pandanganya pada Deon, dan memberikan senyum sebelum menjawab pertanyaan Abas itu. "Kamu tetap saja sebagai CEO di perusahaan Papah kamu, tetapi untuk pemilik yang sah untuk sementara dipegang oleh Doni," balas Dika dengan senyum yang masih mengembang dengan sempurna.


"Itu tandanya Deon di sini hanya bekerja keuntungan semuanya akan jadi miliki bocah tengil itu?" tanya Deon dengan sengit. Ya kali dia yang kerja banting tulang dari pagi sampai pagi lagi hanya jadi CEO. Sementara Doni dapat keuntungan penuh.


"Om sudah membahas  dengan Doni dan juga Iriana, semuanya akan berjalan seperti biasa, jadi Doni itu hanya dijadikan nama atas kepemilikan yang salah, dalam kata lain kita meminjam nama Doni untuk menyelamatkan perusahaan Bellamy, karena tanpa pemilik sah makan akan terjadi pertumpahan darah. Om rasa tahu kemana arah kita berbicara," ucap Dika dengan serius.


"Yah, Deon tahu arah pembicaraan kalian, tapi kenapa Doni mau melakukan ini semua bukanya sejak lama dia tidak mau melakukan ini semua?" tanya Deon semakin penasaran.


"Doni lakukan ini semua satu untuk Alzam dan Qari, dua agar tidak ada yang menjadikan perusahaan ini sebagai rebutan yang menjadikan adanya pertumpahan darah, dan juga permusuhan, saling menggulingkan satu sama lain," jelas Dika.


Sementara lagi-lagi Deon dibikin dengan rasa penasaran siapa sebenarnya Alzam ini.


"Apa Alzam ada hubunganya dengan Doni?" tanya Deon, hatinya semakin tidak tenang.


"Kalau soal itu Om tidak tahu bahkan Om belum bercerita banyak tentang Alzam dan Qari," jawab Diki dengan serius tetapi tidak dengan Deon yang menganggap kalau Dika memang bersekongkol untuk menyembunyikan kebenaranya.


"Apa tandanya kalau aku tetap memilih Qari, Doni akan mendepak saya?' tanya Deon untuk memastikan lagi.


"Yah, sangat memungkinkan mengingat watak Doni sebenarnya sama dengan kamu, Deon," jawab Dika dengan yakin.


'Baiklah kalau gitu, aku untuk sementara waktu akan berdamai dengan bocah tengil itu, sampai hartaku tidak bisa dia ambil sesuka hati, dan setelah itu Qari akan jadi milik aku selamanya,' batin Deon, sembari tersenyum dalam diam.


"Baiklah kalau gitu terserah kalian saja, aku ikut cara kalian," balas Deon dengan berpura-pura akan menjadi anak yang penurut sesuai rencananya. Yah terpenting harta bukan? Dia memiliki harta banyak maka dia akan bisa melakukan segalanya. Per-setan dengan urusan yang dosa atau tidak yang penting dia masih tetap mencari info-info tentang Qari dengan bersembunyi-sembunyi.

__ADS_1


"Ok karena kamu yang setuju dengan ini semua jadi soal surat-surat ini tidak ada masalah kan?" tanya Dika untuk memastikan kembali, dan di balas gelengan kepala oleh Deon.


"Besok kita adakan pengumuman, agar semuanya semakin jelas dan mereka tidak bertanya-tanya lagi tetang siapa pemilik perusahaan Bellamy yang sah," jelas Dika.


"Terserah Om saja, aku tidak jadi masalah yang terpenting aku tidak berurusan lagi dengan bocah tengil itu," dengus Deon.


"Kalau gitu Om pamit dan kamu siapkan hari untuk besok!!" Dika pun beranjak untuk bangun.


"Apa artinya besok bocah tengil itu akan datang lagi?" tanya Deon dengan rauit wajah yang semakin tegang.


"Doni pemilik sah, jadi rasanya akan semakin tidak masuk akal kalau tidak datang, setidaknya berkenalan dengan jajaran tinggi perusahaan ini," jealas Dika, dan Deon pun jadi malas untu melewati hari besok.


"Kalau gitu aku tidak akan datang," lirih Deon.


"Kalau Anda tidak datang itu tandanya Anda akan dinilai tidak profesional," jelas Dika.


"Ok baiklah aku datang besok." Deon pun akhirnya kalah juga, dan baru kali ini ia kalah dengan semua ucapanya. Penyebabnya adalah Doni.


"Tuan tunggu!!" pekik Gatot dengan suara yang cukup kencang. Doni yang sudah tahu betul kalau Gatoto akan mengejarnya pun tersenyum dengan sempurnya.


"Apa aku kata, kamu pasti akan datang kepadaku untuk menarik semua kata-katamu," gumam Doni, tetapi ia bukanya berhenti malah kakinya semakin cepat gerakanya.


"Gila yah tuh laki-laki ngeselin banget. Amit-amit gue sampe berjodoh dengan dia, dunia runtuh," umpat Gatot, tetapi gadis itu langsung mengayunkan langkahnya lebih cepat lagi hingga setengah belari mengikuti apa yang Doni lakukan.


"Tuan, apa tidak ada keringanan untuk saya, agar saya tidak di pecat?" lirih Gatot ketika jarak mereka sudah dekat. Doni pun cukup terkejut dengan keberadaan Gatot yang sudah ada di belakanya, bukanya dia tadi jalannya sudah lebih cepat lagi, tetapi kenapa Gatot sudah ada di belakangnya?


"Ngapain kamu ngikutin aku?" tanya Doni dengan ketus.

__ADS_1


"Saya mau minta maaf pada Anda karena kelancangan mulut saya, Anda jadi marah dengan saya, dan saya dipecat padahal saya tidak salah apa-apa," ucap Gatot, dengan membela diri.


"Kamu mau minta maaf apa mau protes? Minta maaf itu yang tulus dan yang benar. Jangan ada pembelaan seolah saya yang salah," dengus Doni, semakin senang menatap wajah Gatot yang memelas dan sangat menggemaskan meskipun Doni sudah tahu paling wanita itu sedang mengumpat dirinya di dalam hatinya, tetapi tidak masalah dia senang.


"Iya maaf Tuan saya salah, dan saya minta maaf, dan saya juga sangat menyesal," ucap Gatot mengulang perminta maafnya.


"Nah gitu kan enak," balas Doni, tatapan matanya tidak lepas dari gadis berotot itu.


"Jadi Anda sudah maafin saya Tuan? Dan saya tidak jadi dipecat kan?" tanya Gatot, dengan wajah gembiranya, rasanya ia tidak sabar untuk kembali ke ruanganya, bekerja bersama teman-temanya dan bercanda bersama.


"Kata siapa ada saya bilang begitu. Kamu tetap saya pecat!" Wajah tengil Doni seketika semakin membuat Gatot murka.


Brukkk... Gatot memukul lengan Doni. "Kenapa sih Anda sangat mengesalkan sekali, kenapa Anda memecat saya padahal saya tidak melakukan kesalah apaun. Apa yang Anda inginkan?" tanya Gatot dengan wajah yang memerah menahan kemarahanya. Andai laki-laki yang dihadapanya itu bukan bos besarnya saat itu juga dia ajak duel.


Doni cukup terkejut, dia kira Gatot tidak akan protes, ia mengusap bekas pukulan Gatot yang panas. Ini adalah kali kedua laki-laki itu mendapatkan pukulan dari gadis berotot itu.


"Aku kemarin sudah bilang kalau kamu kalah taruhan maka kamu jadi istriku. Jadi kalau jadi istriku kamu tidak usah bekerja lagi. Cukup di rumah sambut suaminya pulang kerja, dan pasang wajah yang terbaik dengan senyum yang mengembang sempurna, dan juga kamu tidak membutuhkan baju untuk menyambut suami kamu." Doni berbicara dengan nada sangat menjijihkan di dengar oleh Gatot.


"Heh Tuan mesum, aku nggak sudi jadi budak loe, lebih baik gue jadi gelandangan dari pada gue jadi budak nafsu loe, melayani loe, maaf mimpi Anda ketinggian lebih baik pulang, cuci kaki dan bobo," pekik Gatot dengan kedua mata mau loncat.


"Jadi loe sudah ikhlas gue pecat?" tanya Doni dengan suara yang masih menyebalkan.


"Lebih baik gue di pecat, meskipun gue adalah karyawan terbaik di kantor ini, paling yang rugi Anda juga kehilangan karyawan terbaik. Dari pada gue jadi budak nafsu loe," ucap Gatot dengan ketus, dan seketika itu tubuhnya balik ke belakang untuk kembali ke ruanganya dan merapihkan barang-barangnya.


Sementara itu Doni mematung, kaget!!


"Kenapa malam jadi begini, padahal pikiran aku bukan begini. Ini pasti gara-gara other idenya salah Gatot malah jadi marah benaran. Thor gimana ini?"

__ADS_1


"Au...othor ngikutin kemauan readers." Othor ketawa geli.


Mohon maaf kalau Qari dan Alzam beberapa episode di skip dulu yah. Mau nyelesaikan harta peninggalan papahnya Doni dan Deon dulu biar biar nggak meleber ke mana-mana.


__ADS_2