
"Tantri Tunggu!!" Qari berusaha mengejar adik iparnya. Wanita itu takut terjadi apa-apa dengan adik iparnya. Apalagi Tantri tidak ada siapa-siapa lagi hanya ada Alzam kalau dia pergi Alzam juga akan marah padanya.
Namun bocah itu justru berjalan semakin cepat. Dengan sengaja tidak mau mendengarkan apa yang kakak iparnya ingin katakan. Yah, itu dilakukan dengan sengaja pasalnya Tantri sebenarnya mendengar apa yang Qari katakan.
"Tantri Kakak bisa jelaskan..."
Bruukkk...
"Auwww.... sakit!!" Tantri yang awalnya cuek dan mengira kalau Qari itu sedang ekting pun tetap mengayunkan langkah kakinya. Hingga hatinya mengatakan kalau Qari sedang tidak baik-baik saja. Dengan hati yang masih kesal Tantri membalikan badanya, ketika sudah tidak mendengar langkah kaki Qari yang berganti menjadi raingisan kesakitan. Bagaimanapun Tantri takut terjadi sesuatu pada kakak iparnya.
"Kakak...." Tantri meninggalkan koper yang tadi dibawanya, dan langsung mengayunkan kakinya dengan cepat ke arah tangga.
"Kakak... Tolong... Bi tolong..." Tantri berteriak, supaya ada yang menolong. Tubuh Tantri semakin lemas ketika melihat darah keluar semakin banyak dari area sensitif kakak iparnya.
Bibi Sarni, yang sedang masak pun berlari ke arah tangga ketika mendengar ada pekikan dari Tantri. "Ya Tuhan, Neng apa yang terjadi?" tanya Bi Sarni.
"Bibi, panggil security, dan telpon ambulance serta dokter untuk bantu Kakak!!" Tantri terus menggosok tangan Qari.
"Kak, maafkan Tantri. Bukan ini yang Tantri inginkan..." isak bocah kecil itu.
"Ma... Maaf..." lirih Qari sedangkan kedua matanya terpejam, tetapi bibirnya dengan terbata terus menyebutkan kata MAAF.
"Tidak, Tantri yang minta maaf."
Perasaan Tantri semakin tidak karuan ketika Qari benar-benar tidak sadar. Tangisan Tantri pun kembali pecah. Rasa takut kalau Qari akan meninggalkanya pun semakin menghantui gadis kecil itu.
*********
Di tempat lain.
__ADS_1
Alzam yang sedang meeting, tiba-tiba saja merasakan tidak tenang. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang, bahkan biasanya dia adalah orang yang paling aktif memberikan masukan demi masuk, dan solusi, meeting kali ini hanya menjadi pendengar. Itupun tidak semua yang disampaikan oleh rekan kerjanya diterima dengan baik oleh kuping Alzam.
Tanganya merabah dadanya, di mana jantungnya berdetak semakin kencang. "Ya Tuhan, kenapa perasaanku sangat tidak enak yah. Apakah ini pertanda terjadi sesuatu pada orang terdekatku? Atau ini hanya perasaan bisa saja," guman Alzam dalam batinya.
"Ya Tuhan lindungi orang-orang yang hamba sayang." Doanya agar ia bisa kembali fokus pada meeting sore hari ini. Padahal jadwal meeting hanya dua jam, tetapi rasanya sangat lama.
"Al kenapa, aku perhatikan dari tadi nggak fokus banget?" tanya Naqi, ketika meeting baru saja berakhir.
Bahkan Alzam sampai terkejut dengan pertanyaan abang iparnya. "Entahlah Bang, dari tadi perasaan tidak enak banget," balas Alzam dengan wajah yang sudah pucat. Sejak tadi ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali, dengan meeting yang ia hadiri.
"Kalau gitu kamu buruan pulang, takut terjadi sesuatu dengan Qari. Bukanya dia sudah detik-detik melahirkan," usir Naqi. Alzam pun mengangguk dengan kuat. Dan tanpa menunggu lama laki-laki itu langsung mengayunkan kakinya, menuju tempat parkir.
"Pak, tadi Qari sudah sampai rumah kan? Tidak ada tanda-tanda yang aneh kan?" tanya Alzam begitu ia masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah Tuan, tadi saya sudah antar Non Qari dan sudah di pastikan aman sampai masuk rumah."
Alzam pun bisa bernfas dengan lega, " Alhamdulillah." Tanganya merogoh ponsel yang sejak tadi di senyapkan. Niat hati ingin menelepon Qari untuk memastikan bahwa perasaanya hanya ketakutan yang berlebih. Bukan pertanda buru.
[Tuan... Tuan... Nona Qari...] Suara dari Bi Sarni dari balik sambungan telepon, membuat tubuh Alzam benar-benar lemas.
[Qari? Qari kenapa Bi? Sekarang Qari di mana?] tanya Alzam dengan suara bergetar, dan serak, tenggorokanya sudah sakit, seolah ada yang sedang mencekiknya.
[Tuan, Non Qari sekarang ada di rumah bersalin Kasih Bunda,] balas Bi Sarni.
[Rumah sakit Kasih Bunda. Apa yang terjadi dengan Qari, Bi?] tanya Alzam, mencoba menenangkan diri, laki-laki itu yakin kalau Qari adalah wanita yang kaut, jadi Alzam yakin dalam batinya kalau istri dan anaknya akan baik-baik saja.
[Bibi tidak bisa bercerita di telpon, Tuan langsung datang ke sini saja. Kasihan Neng Tantri ketakutan.] Tanpa menunggu jawaban dari Alzam, Bi Sarni langsung memutuskan sambungan teleponya.Wanita setengah baya itu sangat tahu, kalau Alzam pasti akan datang dengan cepat.
"Pak jangan pulang ke rumah, kita putar arah ke rumah sakit bersalin Kasih Bunda!" Benar saja apa yang Bi Sarni duga, kalau Alzam langsung menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Qari bertahanlah, apapun yang terjadi sama kamu, aku yakin kamu kuat, kamu pasti bisa bertahan. Kamu adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui. Jadi apapun yang sedang kamu alami, buktikan padaku kalau kamu kuat, kamu akan melewatinya," lirih Alzam, segala doa sudah Alzam rapalkan.
Di saat situasi seperti ini perjalanan pun terasa lama. Padahal rumah bersalin yang Bi Sarni katakan tidak terlalu jauh dari kediamaan mereka, tetapi karena kecemasan, sehingga rasanya perjalnan mereka terasa sangat jauh.
*******
Di rumah bersalin Kasih Bunda.
"Apa yang barusan telpon adalah Abang Al?" tanya Tantri yang saat ini sedang duduk lemas di depan ruangan operasi. Yang gadis kecil itu rasakan adalah seolah ia sedang de javu dengan kejadian hampir tiga tahun silam. Namun justru saat ini ketakutanya berkali-kali lipat. Itu karena yang terjadi pada Qari adalah atas kesalahanya.
"Iya, Tuan sedang dalam perjalanan ke sini," balas Bi Sarni yang saat ini sedang membersihkan tubuh Tantri yang banyak darah, hal itu karena dirinya yang membantu Qari.
"Abang pasti sangat marah sama Tantri. Semua gra-gara Tantri. Bibi bagaimana kalau ternyata terjadi apa-apa dengan kakak ipar apa itu tandanya Tantri akan di penjara?" cecar Tantri dengan tubuh yang lemas, dan air matanya tidak henti-hentinya berlinang.
"Neng, jangan berpikiran yang tidak-tidak, Neng yakin kalau apapun yang terjadi pada Non Qari dan buah hatinya adalah kehendak Tuhan. Semua yang terjadi sudah digarisakan, memang harus seperti ini." Bi Sarni sebenarnya ingin sekali bertanya pada Tantri apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya dan Qari, tetapi wanita paruh baya itu tahu kalau Tantri sendiri masih ketakutan, dan Tantri sendiri masih di hantui dengan perasaan bersalah.
"Tapi tidak bisa dipungkiri Bi, apa yang terjadi pada kaka ipar karena Tantri. Tantri memang anak yang jahat," lirih Tantri terus menyalahkan dirinya.
Ingatanya kembali terlintas pada laki-laki yang siang tadi menemuinya di restoran. "Sumpah demi apapun kalau terjadi apa-apa pada kakak ipar dan bayinya laki-laki itu aku akan pastikan sengsara hidupnya," gumam Tantri bahkan gadis kecil itu masih sangat hafal bagaimana laki-laki yang menemuinya di restoran siang tadi.
"Kak, bertahanlah, dan setelah bangun terserah kakak mau hukum Tantri seperti apa, Tantri tidak akan marah dan Tantri juga takan terima apapun yang Kakak katakan pada Tantri, tetapi dengan syarat kakak harus bangun. Marahin Tantri sesuka kakak," lirih Tantri sejak tadi bergumam di depan ruangan operasi.
Penyesalan tinggalah penyesalan, kini apapun yang terjadi pada kakak iparnya tidak bisa di putar kembari. Kemarahan memang sangat menakutkan, dan inilah akibatnya dia yang marah-marah sehingga orang lain jadi korbanya.
Bukan hanya Tantri yang cemas dengan kondisi Qari, tetapi Bi Sarni pun sama cemas dengan kondisi majikanya. Bi Sarni yang sudah berpengalam melahirkan tentu tahu betul apa yang mungkin saja terjadi pada Qari, terlebih kehamilan Qari yang masih muda. Belum memasuki usia sembilan bulan, bayi masih dalam kondisin cukup lemah.
Alzam yang baru sampai di parkiran rumah sakit langsung turun dan berlari ke dalam, setelah bertanya pada resepsionis, langkah kaki laki-laki itu terutuju pada ruangan operasi. Perasaanya tentu semakin tidak karuan. Dari kejauhan Alzam bisa melihat adiknya dan asisten rumah tangganya yang terlihat sangat cemas.
Dengan langkah kaki yang berat, dan tertatih, Alzam terus mengayunkan kakinya. Ruangan operasi yang hanya beberapa meter lagi rasanya sangat jauh. Kakinya pun terasa semakin berat ketika melihat banyak darah dipakaian adiknya.
__ADS_1
"Tantri... apa yang terjadi dengan Qari?" kenapa pakaianmu banyak darah?" cecar Alzam.
Tantri pun langsung menghambur memeluk abangnya. "Abang, maafkan Tantri ini semua salah Tantri."