Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Kejutan


__ADS_3

Perlahan malam datang menggantikan siang yang beranjak pergi. Suasana rumah keluarga Widjaya masih seperti biasanya saat makan malam tiba. Nola juga tidak ada mengatakan apapun pada orang tua angkatnya.


Nola masih terdiam, melihat kedua orang tuanya yang sudah mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka masing – masing.


Namun Bu Widjaya menghentikan makannya saat melihat Nola masih belum mengambil apapun ke dalam piringnya.


“Kak! Ayo makan kok malah diam saja,” ajak Bu Widjaya.


“Bukannya peraturan Papa jika ada yang belum duduk bersama kita di meja makan belum boleh di mulai makannya?” tukas Nola mengingatka kedua orang tuanya.


Keduanya menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


“Lalu kenapa Mama sama Papa makan? Apa tidak bisa menunggu sebentar?” lanjut Nola datar.


“Memangnya mau nunggu siapa lagi sih, Kak? Mbok Ana?! Tuh sudah makan di dapur di tempat kesayangannya. Pak Man? Sudah pulang ke rumahnya. Kan tinggal Kakak sendiri yang tidak mau segera menaruh apapun ke piring Kakak,” papar Bu Widjaya.


“Mestinya Mama sama Papa bisa bersabar menunggu anak Mama yang satunya lagi,” tukas Nola ingin mengerjai orang tuanya.


“Surprise!!!!”


Reisya pun langsung menghambur jadi satu bersama keluarganya tercinta. Sementara Bapak dan Ibu Widjaya masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Keduanya masih bengong. Keduanya tersadar saat Reisya mencium pipi keduanya.


“Reisya!! Anak Mama!” pekik sang Mama. Reisya pun mengangguk.


“Ya Allah, kenapa nggak kasih kabar ke Mama sama Papa kalau Kamu akan pulang hari ini, Sayang.” Bu Widjaya kembali memeluk erat sang buah hati tercinta.


“Kenapa nggak telepon Papa?” timpal Pak Widjaya.


“Iya maafin Rei. Rei cuma ingin buat kejutan aja sama Mama, juga sama Papa. Sama semua – semuanya lah di rumah ini. Dan ternyata.. BERHASIL!” terang Reisya dengan puas karena keinginannya terwujud dengan baik.


Mbok Ana pun muncul dari balik dapur karena mendengar suara yang agak berisik dari hari – hari biasanya. Setelah siapa yang di lihatnya, Mbok Ana langsung histeris dan langsung memeluk Reisya sekuatnya.


“Non Reisya!!!” pekik Mbok Ana sambil memeluk Reisya erat.

__ADS_1


“Iya Mbok,” sahut Reisya membalas pelukan Mbok Ana, Si Mbok yang merawat Reisya sejak kecil.


“Duuhh, neng geulis makin ayu saja,” puji Mbok Ana pada Reisya dengan manik mata berbinar.


Nola ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang tersaji dihadapannya namun tidak dengan hatinya. Dia justru membatin memaki dalam hatinya.


“Dasar munafik!! Sekarang tertawalah, karena aku akan merubah tawa ini menjadi tangisan yang sangat memilukan!” batin Nola dengan menyunggingkan salah satu bibirnya ke atas.


Mereka menikmati makan malamnya dengan perasaan bahagia.


````


“Pa, Mama bahagia sekali. Anak – anak kita akhirnya kembali seperti semula. Merekalah harta kita yang paling berharga,” ucap Bu Widjaya dengan mata berbinar.


“Semoga ya Ma, mereka akan seperti itu selamanya,” timpal Pak Widjaya.


Malam beranjak semakin larut, semua penghuni rumah telah terlelap dalam mimpi indah mereka tapi tidak dengan Nola. Dia masih berbicara dengan Steve melalui teleponnya.


“Steve, apakah kamu masih selalu mengawasi Reisya?” selidik Nola.


“Apakah Kamu tahu dimana posisi Reisya sekarang?” selidik Nola lebih jauh.


“A – ada, saat ini dia sedang menikmati liburannya bersama kekasihnya,” sahut Steve sekenanya karena Dia sudah tidak memperdulikan Reisya lagi, dia sibuk dengan kegiatan hura - huranya.


“Oh begitu, memangnya mereka liburan kemana?” lanjut Nola.


“Sepertinya mereka mengambil paket liburan keliling ke beberapa negara,” terang Steve memberikan jawaban asal.


“Apakah termasuk Indonesia?!” timpal Nola.


“Mm, sepertinya tidak. Hanya negara – negara sekitar sini saja. Karena beberapa waktu lalu kekasihnya datang dari Indonesia. Lalu mereka merencanakan untuk liburan bersama. Pasangan yang sangat romantis, bukan?” tandas Steve diiringi tawa kecil.


“Ya benar, pasangan yang sangat romantis. Karena saat ini Reisya sedang satu atap denganku, dia ada di depan mataku siang tadi, dan kamu bilang dia sedang menikmati liburan bersama kekasihnya?! Bukankah rencana waktu itu kamu bilang berhasil? Tapi kenapa sekarang malah kamu bilang mereka pasangan yang romantis?!” keluh Nola sambil merapatkan giginya menahan geram yang mendalam.

__ADS_1


“O..eh, mm.. benarkah begitu??” tanya Steve gugup.


“Oke kali ini Aku maafkan. Tapi untuk selanjutnya aku tidak mau kamu gagal. Imbalan kamu tidak sedikit Steve! So, bekerjalah dengan profesional!” ketus Nola lalu mematikan ponselnya.


Reisya yang saat itu terbangun karena rasa dahaga yang tak terhankan, ia keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas air putih. Namun tanpa sengaja ia mendengar suara berisik dari kamar Nola. Rasa penasaran yang menyergah, membimbing dirinya untuk sedikit menajamkan pendengarannya dari percakapan Nola.


‘Siapa Steve yang dimaksud Kak Nola? Lalu.. hubungannya..,” gumam Reisya dalam hatinya. Lalu Reisya melangkahkan kakinya ke dapur, tapi ia masih terpikirkan oleh kata – kata Nola yang tidak seutuhnya ia dengar dengan sempurna.


Sembari menuangkan air ke dalam gelasnya, Reisya masih kepikiran nama Steve. Karena ini bukan Nola yang dikenalnya. Apakah selama berteman dengan dr.Fakhri, Kakaknya jadi seperti ini. Sungguh di luar dugaan, karena Nola tidak pernah bercerita tentang Steve.


Reisya menarik kursinya keluar lalu menjatuhkan bokongnya sambil menghela napas pelan. Tangannya memainkan gelas yang ada di tangannya. Pandangannya kosong.


“Non, kok melamun?” sapa Mbok Ana yang kebetulan juga saat itu ingin mengambil segelas air putih.


“Eh, Mbok.. ngejutin Reisya saja,” sahut Reisya dengan senyum tipis.


“Habisnya, tengah malam begini melamun seorang diri, pamali Non,” terang Mbok Ana sembari meneguk segelas air.


“Dalam sejarahnya, melamun itu nggak pernah rame – rame Mbok, pasti selalu sendiri. Karena kalau rame – rame tidak akan konsentrasi melamunnya,” canda Reisya pada perempuan paruh baya yang sangat menyayanginya.


“Mm.. Mbok! Reisya boleh tanya sesuatu?”


“Ya boleh dong, memangnya neng gelis mau tanya apa? Monggo.. kalau Si Mbok bisa jawab akan Si Mbok jawab,” ucap Mbok Ana ramah yang saat ini sudah duduk di sebelah Reisya.


“Pacar Kak Nola sering datang nggak?” tanya Reisya.


“Pacar! Maksud Non Naya dr.Fakhri?” jawab Mbok Ana yang kembali melemparkan pertanyaan diiringi dengan anggukan kecil dari Reisya.


“Kalau itu Si Mbok kurang ngerti, Non. Tapi sepertinya akhir – akhir ini sudah jarang kelihatan. Si Mbok juga tidak tahu kenapa,” jelas Mbok Ana.


“Lalu, Kak Nola bagaimana?” lanjut Reisya yang ingin tahu perkembangan Kakaknya.


“Banyak perubahan yang terjadi pada Non Nola sejak Non Reisya nggak di rumah apalagi beberapa waktu belakangan ini..,” suara Mbok Ana tercekat tak dapat melanjutkan kata – katanya saat melihat Nola turun dan langsung ke dapur.

__ADS_1


“Kalau tidak tahu urusan orang jangan pernah untuk mencampurinya, karena akan jadi fitnah,” ketus Nola dengan mata melirik sambil berlalu.


__ADS_2