Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 120


__ADS_3

"Jec kamu merasa ada yang aneh nggak sih dari aku," lirih Deon menatap  Jec dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jec sendiri yang sedang, merapihkan keperluan Deon pun bingung dengan pertanyaan bosnya itu. "Maksud Anda apa Tuan?" tanya Jec, dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh bosnya itu.


"Aku merasa kalau aku ini seperti orang ngidam... apa jangan-jangan Qari hamil anak aku yah."


Jec pun langsung menatap Deon, dengan wajah yang kaget.


'Aduh, gimana kalau sampai Bos tahu kalau apa yang dia pikirkan memang benar adanya. Terus aku harus ngomong apa kalau Bos meminta kejelasanya,' batin Jec sudah mulai gusar.


"Menurut kamu dugaan aku masuk akal tidak Jec?" tanya Deon dengan pandangan yang seolah memohon jawaban yang memuaskan dari asistenya itu. Jec sendiri juga semakin sulit untuk mengelak, dia tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya.


"Baiklah aku tahu. Sekalipun kamu tahu dengan kebenaranya, tetapi kamu pasti tidak akan pernah mau memberikan jawabanya," jawab Deon dengan ketus.


"Bukan seperti itu Tuan, saya hanya tidak berani menduga-duga, karena kalau salah jatuhnya akan jadi fitnah dan itu pasti akan melukai Qari dan juga Alzam," balas Jec berharap kalau Deon tidak bertanya lagi.


"Kenapa aku sekarang curiga kamu menyembunyikan sesuatu, sejak kapan kamu peduli dengan Alzam dan Qari?" tanya Deon lagi.


Jec memejamkan matanya dengan sempurna. Kepalanya tiba-tiba saja pusing seolah akan pecah, ini masih pagi, tetapi ia sudah dicecar dengan pertanyaan yang tidak mengenakan hati.


"Baiklah anggap saja aku tidak bertanya itu, dan aku bisa mencari tahu sendiri kebenaranya." Deon pun langsung beranjak bangun dari duduknya, dan menyusuri anak tangga.


"Baperan banget ya Tuhan," umpat Jec, tapi tak ayal sedetik kemudian Jec pun mengekor di belakang Deon.


"Tuan, apa Anda tidak ingin sarapan dulu, beberapa hari ini Anda makan sangat tidak teratur," lirih Jec, meskipun laki-laki itu akan tahu bahwa Deon tidak akan mendengarkan apa ucapanya itu.


Benar saja jangankan membelokan kakinya ke meja makan. Bosnya itu justru tetap menuju kendaraanya dan tidak membalas apapun yang Jec katakan, sangat menyebalkan memang, tetapi mau gimana lagi Jec tidak tega meninggalkan Deon sendirian, sehingga segimana marahnya Deon dia tetap datang untuk melayaninya dan membantu masalah pekerjaanya hingga tidak ada masalah apapun.


"Tuan apa Anda tidak ingin memakan sesuatu perut Anda belum terisi barang satu teguk air putih pun," ucap Jec lagi, dengan mata yang memperhatikan Deon dari sepion tengah.


"Tetap fokus dengan jalanan Jec, jangan sampai loe gue pecat hanya gara-gara mobil mahal ini lecet," ancam Deon, tanpa menatap Jec.

__ADS_1


"Bukan Tuan saya hanya khawatir kalau Anda akan sakit karena jadwal makan Anda tidak teratur." Jec melakukan pembelaan agar Deon tidak urung-uringan terus.


Deon meletakan gawainya di korsi sampingnya. Pandanganya lurus ke depan tanpa objek yang pasti. "Gue dari dulu sudah beberapa kali bilang pada loe. Kalau loe sudah tidak mau berada di pihak gue, gue tidak akan memaksanya. Bebas untuk loe mengundurkan diri secara hormat atau justru secara sembunyi-sembunyi. Tapi jangan loe jadi penyusup dalan keluarga gue."


"Maksud Anda apa Tuan, sejak kapan saya berhianat pada Anda?" tanya Jec, bahkan siapa pun yang sudah kenal mereka selalu mengatakn kalau jec adalah bawahan paling setia. Namun, kenapa Deon bisa berkata seperti itu.


"Mungkin bukan sekarang, atau malah kamu tidak menyadarinya, tetapi aku tahu kalau kamu itu sedang menyembunyikan sesuatu. Teruslah sembunyikan, sampai aku mengetahui fakta-faktanya," ucap Deon, dan ia yakin kalau Jec pati tahu apa maksud dari ucapanya itu.


"Anda bebas Tuan, kalau sudah mendapatkan pengganti saya yang bisa melindungi Anda dengan baik dan jujur. Anda bisa memecat saya, tetapi kalau Anda belum menemukan pengganti saya, saya akan tetap di samping Anda, meskipun Anda sudah tidak menyukai saya dan juga tidak mempercayai pekerjaan saya. Itu semua karena saya sudah berjanji pada Tuan Bellamy bahwa saya akan terus menjaga Anda."


Andai Deon bisa mengancam Jec terus menerus, Jec pun bisa. Bukan dia takut kalau akan depecat dengan Deon, bukan. Namun ia hanya takut kalau Deon hanya akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang bersikap baik, tetapi pada kenyataanya mereka hanya memanfaatkan Deon saja untuk kepentingan materi.


Deon cukup terkejut dengan jawaban Jec. "Loh, kenapa kamu jadi berani mengancam aku Jec, apa karena aku sekarang hanya CEO? Bukan pemilik sah perusahaan Bellamy, dan kamu akan berhianat dariku dan berpindah haluan pada bocah tengil itu?" cecar Deon.


Padahal Jec tidak pernah mengancamnya tetapi entah mengapa Deon bisa menangkapnya seperti itu. Andai ia anak cewek mungkin benar-benar nangis menghadapi Deon itu baperan, tapi kalau di jawab dia akan langsung sensitif bicara apa yang dia tangkap apa.


"Tuan, Anda jangan salah paham, saya tidak pernah mengancam Anda, dan lagi mana berani saya mengancam Anda, tetapi apa yang saya bicarakan barusan memang benar adanya. Saya sudah berjanji pada Tuan Bellamy bahwa saya akan menjaga Anda, tapi kalau Anda sudah ada yang bisa menggantikan saya. Maka saya kan mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut campuri urusan Anda lagi," jelas Jec panjang kali lebar agar Deon tidak salah paham lagi.


"Sudah lah lupakan, aku tidak akan merepotkan kamu lagi," balas Deon dengan acuh, dan kembali pandangan matanya menatap layar pintarnya, ia barusan sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang selama ini mengawasi kediaman Qari.


Mata Deon melebar sempurna ketika membaca laporan dari orang-orang itu.


[Tuan, sepertinya target sudah pindah. Sudah tiga hari rumah selalu menyala lampu depanya, dan juga selalu sepi tidak ada aktifitas di dalamnya.] Itu adalah pesan yang membuat mata Deon hampir loncat.


Tangan Deon langsung menekan nomor yang memberikan pesan itu.


[Apa yang kalian katakan bisa di pastikan kebenarannya?] tanya Deon pada seseorang yang berada di tempat yang berbeda.


[Tempat ini kosong, Tuan. Kami saat ini ada di depan rumah ini, dan kondisinya tidak ada aktifitas apapun, bahkan depan rumah yang biasanya selalu rapi ini terlihat tidak terurus,] adu orang tersebut.


[Bodoh kalian, kenapa bisa  mereka pergi kalian tidak tahu?] tanya Deon dengan suara yang makin tinggi.

__ADS_1


[Maafkan kami Tuan kami benar-benar tidak tahu kalau penunggu rumah ini sudah pergi, bahkan kami tidak melihat hal yang mencurigakan selama ini,] imbuh mereka untuk meyakinakan Deon, bahwa bukan mereka yang bodoh, hanya saja Qari dan penunggu rumah itu yang terlalu pintar.


[Iya itu karena kalian bodoh, bekerja hanya makan gajih buta. Mulai besok uang sisa pembayaran tidak akan aku transfer itu semua karena kalian yang bodoh bekerja tidak pakai otak!!]


Deon pun langsung mematikan sambungan teleponya. Pagi ini ia sudah dibuat marah sepanjang dari rumah. Andai hari ini tidak ada  acara penting Deon pasti akan meninggalkan kantor, dan melihat rumah itu secara langsung.


Jec sendiri sebenarnya pengin bertanya apa yang terjadi dengan bosnya itu, hanya ia tidak berani dan tidak ingin memancing kesalah pahaman lagi.


"Tuan, kita sudah sampai, dan mungkin saja di dalam sana Tuan Doni dan Nyonya Iriana sudah menunggu," lirih Jec. Lagi,  niat baik Jec hanya dibalas denga tatapan mata yang ketus.


"Aku tahu," balas Deon dengan singkat dan kakinya langsung mengayun dengan  lebar menuju ruangan pribadinya, dan Jec sendiri di belakangnya hanya mengelus dadanya dengan pelan.


"Sumpah, demi apapun, anak Anda itu sangat menyebalkan Tuan," umpat Jec dalam batinya. Yah, calon ponakanya itu apabila tidak merepotkanya dengan makanan yang aneh selalu mencari gara-gara dengan Jec. Deon pun berubah jadi baper banget, tidak bisa kena senggol barang sedikit pun, sangat menyebalkan bukan?


 Benar saja dengan apa yang Jec katakan, kalau Doni dan Iriana sudah menuggu di dalam ruanganya, dan tentunya di sana juga ada pengacara Dika.


"Hampir saja aku memecat kamu, tapi karena kamu baru telat setengah jam maka aku kasih kesempatan lagi, tapi ini adalah telat terakhir kalinya untuk kamu, kalau pertama pasti tidak yah? Aku yakin selama ini kamu masuk kantor sesuka hati kamu, dan aku berharap setelah ini kamu lebih tanggung jawab," berondong Doni begitu Deon masuk ke dalam ruanganya.


Sementara Jec di belakang Deon hanya menunduk tidak berani berkata apa-apa bukan karena takut hanya saja malas nanti pastinya dituduh oleh Deon bahwa dirinya membela Doni, padahal ia dan Doni terlibat obrolan pun tidak pernah.


Iriana dan Dika pun tidak bisa berucap, karena mereka pun sedikit jenuh menunggu hampir satu jam sementara Deon masih santai.


"Dan, Anda Bung, bukanya Anda adalah asisten Abang saya, lain kali bekerjalah profesional, beri jadwal yang benar pada Bos Anda agar tidak telat, lagi dan membiarkan kami menunggu kalian." Kali ini  Doni pun menasihati Jec.


"Baik Tuan, saya akan perbaiki kesalahan ini," jawab Jec, pasrah. Entah mimpi apa dirinya semalam. Hari ini pagi-pagi sudah ada masalah tiada henti dan sekarang dia ditegur karena kurang profesional.


"Kalau gitu ayo kita ke ruang meeting, pasti yang lain sudah menunggu, jangan sampai membuat orang lain menunggu lagi, satu jam kalau untuk bekerja sudah menguntungkan puluhan juta, bahkan ratusan juta, tetapi malah ini hanya untuk menunggu  pemimpin saja. Padahal yang namanya pemimpin itu seharusnya memberikan contoh yang baik bukan malah seenak sendiri datangnya." Doni yang sudah terbiasa selalu tepat waktu dan tidak suka telat pun sangat geram dan sangat tidak setuju dengan cara kerja Deon, yang malas-malasan


"Sumpah kalau harta-hartaku bukan atas namaa Bellamy, sudah pergi dari kemarin gue, NAJIS banget harus berurusan dengan manusia sombong ini," umpat Deon dalam hatinya. Baru kali ini dia menemukan orang paling menyebalkan selama hidupnya.


## Iya lah, kamu baru menemukan, karena selama ini yang paling menyebalkan itu kamu Deon. Sadar nggak??

__ADS_1


__ADS_2