
"Neng, gimana perasaanya?" tanya bi Sarni ketika Tantri baru masuk ke dalam rumahnya dengan tubuh yang terlihat seperti murung. "Kok, Bibi lihat Eneng seperti masih ada masalah?" imbuh bi Sarni dengan tubuh yang terlihat sekali cape.
"Bi, apa Tantri boleh bicar dengan Bibi sebentar," tanya Tantri dengan wajah yang seolah takut, dan raju menjadi satu.
Bi Sarni, menatap majikan kecilnya dengan bingung. "Bisa dong Neng, mau ngobrol di mana?" tanya Bi Sarni dengan mengebangkan senyum terbaiknya, agar Tantri merasa tidak sendiri serta Tantri yang lebih terbuka dengan dirinya.
"Di kamar yah Bi, Tantri mau bersih-bersih dulu," balas Tantri dengan wajah yang terlihat ada raut bahagianya.
Seperti biasa bi Sarni hanya membalas dengan anggukan dan senyum yang tidak kalah bahagia. Meskipun dalam pikiranya berusaha menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh majikan kecilnya. Bi Sarni tahu kalau Tantri adalah anak yang baik dan manis hanya karena tidak ada orang tua yang mengarahkan sehingga dia terlihat seperti orang yang keras kepala.
Tantri setelah mandi dan bersih-bersih pun langsung menunggu bi Sarni yang tidak lama datang.
"Kenapa bibi jadi deg-degan yah Neng," ucap bi Sarni dengan memegang dadanya.
Tantri terkekeh dengan renyah. Santai aja Bi, lagian ini bukan pertanyaan untuk ujian kok, jadi lebih santai saja. Tantri cuma mau tanya tawaran Bi Sarni yang beberapa hari kemarin mengajak Tantri untuk leburan di kampung halaman Bibi. Gimana kalau ternyata Tantri pengin tinggal di kampung halaman bi Sarni?" tanya Tantri dengan raut wajah yang serius.
Bi Sarni tampak terkejut dengan pertanyaan Tantri. "Neng Tantri serius ingin tinggal di kampung bibi. Kalau bibi tidak pernah masalah, tetapi bagaimana dengan Den Alzam, dan Non Qari? Pasti mereka tidak akan pernah setuju dengan ide Neng Tantri," balas Bi Sarni. Sam seperti yang Alzam tadi katakan kalau dia tidak akan setuju dengan ide Tantri.
__ADS_1
Namun, entah mengapa gadis usia remaja itu seolah justru sedang mendambakan sebuah petualangan yang akan dia lakukan. Mungkin karena usia dia yang berada di perbatasan antara usia anak-anak dan usia dewasa. Sehingga jiwa ingin tahu dan jiwa ingin di bebaskan untuk menentukan sebuah pilihan sehingga Tantri sangat m=ingin merasakan hidup keluar dari zona nyamanya.
"Itu dia Bi, sebenarnya tujuan Tantri itu ada niatan agar Bibi mau bantu Tantri bilang dengan Abang sama Kakak Qari. Ayolah Bi, bantu Tantri. Tantri ingin bisa belajar hidup tanpa Abang. Bukan karena Tantri marah atau apa hanya saja Tantri juga ingin merasakan di berikan pilihan untuk menjalani hidup yang sesuai dengan Tantri inginkan. Tantri janji akan nurut sama Bi Sarni kok. Jujur Tantri kenal Bibi itu sudah kayak sama ibu sendiri. Tantri senang yang akhirnya bisa merasakan kalau Tantri bisa hidup dengan merasakan kasih sayang dari seorang ibu seperti Bi Sarni." Pandangan Tantri yang dalam membuat Bi Sarni semakin terharu dengan ucapan majikan kecilnya.
"Aduh Neng, bibi padahal galak loh sama Neng Tantri, tapi Neng bisa tahu arti dari bibi yang kadang membentak Neng Tantri." Bi Sarni justru tidak fokus dengan permohonan Tantri yang ingin dirinya membujuk Qari dan Alzam.
"Jujur Tantri seneng ketika ada yang seperti Bibi Sarni, mau marah ketika Tantri sendiri salah. Bukan seperti mereka yang dia saja meskipun Tantri salah hanya karena Tantri itu adalah adik dari majikan mereka. Bibi beda dan itu yang membuat Tntri senang," ucap Tantri dengan jujur. "Jadi Bibi mau kan kalau bantu Tantri untuk bujuk Abang dan Kakak Qari?" tanya Tantri untuk memastikan.
Uhuk... Uhukk... bi Sarni pun tersedak salivanya sendiri. "Emang tadi Eneng ada ngomong gitu?" tanya bi Sari dengan tangan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Baiklah-baiklah, bibi akan bantu tetapi tidak bisa jamin kalau Den Alzam, dan Non Qari akan mau mengizinkan Neng ikut Bibi," balas Bi Sarni, dan hal itu yang membuat Tantri kembali memanyunkan bibirnya.
"Ih, Bibi pokoknya harus bujuk Abang dan Kakak juga biar bea=nar-benar mengizinkan," ujar Tantri meminta tolong dan lebih banyak memaksanya.
"Tidak bisa gitu Neng, Bibi harus tahu mana pertimbangan yang terbaik untuk Neng, versi orang tua pengganti Neng Tantri sesungguhnya. Karena mereka yang lebih berhak atas hidup Neng mau seperti apa," jelas bi Sarni, agar Tantri tidak lagi memaksanya.
"Baiklah Bi, Tantri akan belajar untuk menerima apapun itu keputusan Abang,' balas Tantri kali ini dengan terpaksa.
__ADS_1
"Nah, kalau Neng kayak gitu bibi akan lebih enak untuk berbicara dengan Abang dan kakak ipar Neng."
Malam ini pun seperti biasa bi Sarni akan bercerita banyak tentang kampungnya, dan itulah yang membuat Tantri dalam sanubarinya yang terdalam mendambakan sebuah kehidupan di kampung, yang bermain dengan anak-anak sebayanya dengan bermain layangan dan juga bermain kelereng atau lompat tali. Bukan seperti di kota yang seolah Tari kehilangan masa anak-anaknya. Dia masih usia memasuki usia remaja yang di usia anak-anaknya gadis kecil itu sudah di tuntut untuk dewasa belum pada waktunya. Lalu sekarang ingin menikmati masa kanak-kanak rasanya masih pantas. Apalagi Alzam sudah ada yang menjaga juga.
Setelah puas bercerita mereka berdua pun tidur bersama, hal yang benar-benar Tantri dambakan selama tiga belas tahu terjawab sudah dengan hadirnya bi Sarni yang bisa memerankan sosok seorang ibu. Biasanya Tantri akan tidur dengan Alzam, tapi itu dulu, dulu banget sebelum dia tahu batasan diri, hubungan laki-laki dan perempuaan tidak seharusnya terlalu dekat. Dan baru tadi siang Tantri tidur bersama abangnya lagi itu pun tidak sedekat bi sarni memeluknya yang benar-benar bisa sangat erat.
Sedangkan di rumah mewah. Seperti bayi pada umumnya setiap malam pasti Nara akan bangun dan mengjak bunda dan ayahnya bermain. Contohnya malam ini sudah lebih dari tiga jam Nara bangun dan belum juga tidur kembali padahal jam sudah menujukan pukul tiga dini hari bahkan hampir pagi, tetapi Nara belum menunjukan kalau dia akan segera tertidur.
"Udah Sayang kamu istirahat saja duluan, besok kamu harus kerja, biar Nara sama aku," ucap Qari yang kasihan Alzam sebagai laki-laki terlalu sempurna sehingga untuk membiarkan dirinya bergadang seorang diri Alzam tidak mau membiarkanya.
"Kamu yakin Sayang bisa jaga anak kita sendiri?" tanya Alzam dengan menujukan mata yang sudah setengah beler, karena mengantuk. Padahl Qari sudah meminta Alzam untuk tidur berapa kali tetapi dasar Alzam keras kepala dengan alasan kasihan, kasihan malah di yang ngantuk tidak kuat sendiri.
"Ya Tuhan Nara itu masih bayi dan dia juga paling hanya bermain tangan dan haus, masa aku tidak bisa menjaganya. Kamu jangan berlebihan deh, nanti aku jadi manja," balas Qari dengan nada bercanda, tetapi boro-boro di dengar Alzam sudah ke alam mimpi duluan.
"Terima kasih Sayang sudah selalu menjadi suami yang siaga," ucap Qari dengan mengecup kening Alzam, dan hebatnya ternyata Nara pun langsung menyusul sang papah yang sudah tertidur.
"Haha... kalian memang anak dan papah yang kompak."
__ADS_1