
Jec dengan sengaja hampir menampilkan bibirnya di daun telinga Qila. Agar wanita itu tahu bahwa dirinya tidak pernah main-main apabila berbicara.
"Ingat, katakan iya kalau nanti Meta bertanya sesuatu tentang hubungan kita. Karena kalau kamu berbuat macam-macam, maka aku tidak akan segan-segan melakukan apa yang barusan aku katakan." Niko mengancam Qila dengan ancaman yang Niko sangat yakini kalau Qila tidak akan berontak, karena taruhanya adalah keluarganya. Di mana yang bisa Jec lihat kalau Qila lebih peduli keluarganya dari pada dirinya sendiri.
"Ke... kenapa kamu tega melakukan itu semua pada aku, apa salah aku?" tanya Qila dengan suara terbata dan juga wajah yang ketakutan.
"Itu semua karena kamu tidak mau menurut dengan ucapan aku," balas Jec.
"Ucapan? Ucapan yang mana? Aku tidak mengerti maksud kamu." Qila berusaha memastikan kembali, sedangkan sebenarnya dirinya yakin kalau apa yang Jec maksud adalah soal operasinya.
Jec membalikan pandanganya pada Qila dengan wajah yang terlihat sangat kesal. "Kamu bodoh atau pikun. Jelas soal operasi," jawab Jec dengan suara ketusnya.
Glek!! Qila menelan salivanya kasar, baru kali ini dia diperlakukan kasar, meskipun ini hanyalah ucapan, tetapi Qila merasakan sakit hati dan juga kurang suka dengan cara Jec berbicara. Ingin rasanya ia saat ini juga menangis mendengar ucapan Jec.
"Belum kenal saja cara berbicaranya seperti itu, bagaimana kalau aku jadi istrinya kira-kira apa yang akan laki-laki itu lakukan? Apa iya dia akan memberikan uang lima juta seperti janjinya, sedangkan cara berbicara dia saja tidak menceriminkan kalau dia adalah laki-laki yang baik. Apa jangan-jangan nanti aku justru akan semakin menderita," batin Qila berkecamuk.
Wanita itu pun hanya diam. Yah, dia marah dengan ucapan Jec yang seenaknya sendiri berbicara kurang enak. Sedangkan dirinya berhubungan dengan Sam, dulu meskipun dia diselingkuhin, tetapi Sam tidak pernah berkata kasar apalagi membentak seperti Jec lakukan tadi.
Sebenarnya Jec pun sedikit menyesal telah berbicara seperti itu, di mana Qila sifatnya sangat berbeda dengan Cucu. jec terbawa cara berbicaranya sama dengan Cucu, di mana kalau Cucu di ajak berkomunikasi dengan nada seperti itu, maka wanita itu akan biasa saja, malah tidak jarang Cucu justru membalasnya dengan perkataan yang tinggi lagi. Sementara Qila dari pembawaanya memang terlihat berbeda sekali sehingga baru di kata bodoh dan pikun, wajahnya langsung berubah, udah gitu dia langsung terlihat seperti ingin menangis.
Jec pun mulai bingung cara mengambil hati Qila setidaknya agar mau untuk berkomunikasi lagi, itu yang Jec sedang cari solusinya. Hingga tiba-tiba konsentrasinya buyar dengan orang yang tiba-tiba masuk membuat heboh.
"Cin... ya Allah Cin, kenapa you bisa seperti ini?" Suara Meta langsung membuyarkan pikiran Jec yang sedang berpikir keras bagaimana caranya untuk membuat Cucu tetap berkomunikasi dengan dirinya.
__ADS_1
Jec langsung memalingkan pandanganya pada suara yang sudah ia kenali. Yah, Jec sudah langsung tahu suara siapa itu. Meta, Itu adalah suara Meta yang sudah berhasil membuat rusuh.
"Met..." Terlihat wajah Qila yang seperti ketakutan. Sedangkan Jec tetap santai saja, dan di belakangnya ternyata ada bocah kecil sekitar usia dua tahun.
"Dady, Tante Qila kenapa?" tanya Mesy yang langsung terlihat kasihan pada Qila yang terlihat sedang sakit.
"Tante Qila sedang sakit Sayang," jawab Meta, dengan suara laki-laki sangat berbeda dengan barusan dia pertama kali masuk, menujukan suara ben-congnya.
Sedangkan Jec pun justru semakin terkejut, dengan pandangan di hadapanya. "Bocah kecil panggilnya Dedy, dan juga suara yang berubag-rubah. Siapa Meta ini sebenarnya?" batin Jec justru dia tidak terfokus lagi dengan masalah Qila. Dia justru penasaran dengan sosok Meta. Ben-cong yang punya anak perempuan cantik, dan juga suaranya bisa berganti-ganti.
Qila, Jec melihat Qila sepertinya benar-benar takut dengan laki-laki yang diberi nama kontak 'Mamih Meta', yang ternyata memiliki badan atletis, laki-laki dan di panggil Dady oleh bocah kecil yang usianya hampir dua tahun itu.
"Tante Qila sakit, Sayang," jawab Meta dengan suara cowok maco dan juga terlihat sangat sabar, berbeda dengan dirinya tadi cara berkomunikasinya, sekilas Jec menyimpulkan kalau Meta hanya memiliki kesabaran setipis kulit bawang.
"Iya Sayang seperti itu," balas Meta, lagi hingga laki-laki yang kadang berpenampilan gemulai dan kadang juga berpenampilan maco. Padahal Meta sudah awas mengawasi laki-laki yang berdiri di samping Qila, tetapi karena kesabaranya dia memilih menjawab pertanyaan putrinya dulu.
"Oh, belati di pelut Tante Qila ada dedenya dong." Mesy justru berjingkrak dengan bahagia, sedangkan Qila justru kembali ingin menangis. Mendengar ucapan Mesy itu, padahal ucapan anak kecil kan memang tidak tahu apa-apa, tetapi Qila yang memang cengeng kembali sensitif, takut kalau dia hamil atau harus operasi. Qila benar-benar saat ini berada di titik menyerah, karena rasa takutnya yang tidak berumur panjang lagi.
#Kenapa takut hamil Qila, kan kamu belum nunu nana, nanti kalau Jec udah ngacak bercocok tanam baru kamu boleh takut. Ih, gemes deh...
"Hust... tidak ada lah kan Tante Qila tidak ada suaminya, gimana mau hamil," balas Meta sudah menginginkan anaknya untuk diam sesaat. Yah bocah kecil itu sedang serba ingin tahunya tinggi sehingga dia akan tanya terus sampai Meta seolah tidak ada kesempatan untuk mewancarai Qila dan Jec yang masih memprihatikan perdebatan dirinya dengan Mesy.
"Kan Mamih suaminya Dady, kenapa Tante Qila suaminya juga bukan Dady?" tanya Mesy lagi. Bocah itu sedang senang bertanya dan bukan itu dia juga sedang senang berbicara sehingga dia yang dominan untuk berbicara. Apa ajah diajak bebicara.
__ADS_1
Jec justru mendengar ucapan bocah kecil itu tertawa dengan renyah. Cukup menghibur celoteh bocah kecil yang terlihat sangat menggemaskan itu. (Oh iya kabar Niko sama Zoya gimana yah? Othor sampe lupa ada Niko dan Zoya juga yang belum nongol di lapak Qari...)
"Hust..." Meta meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya memberitahukan agar Mesy tidak berisik lagi.
"Mesy diam dulu yah, biar Dady mau ngobrol dengan Tante Qila dulu, boleh?" tanya Meta dengan suara yang lembut sekali, dan meskipun Mesy terlihat cemberut, tetapi bocah kecil itu mencoba mengerti kalau Dady dan juga tantenya mau bicara. Mesy pun hanya bermain boneka dan juga mobil-mobilan. Yah bocah cantik itu memang lebih suka bermain mobil-mobilan yang berbentuk bus dengan beragam warna ada hijau, biru, kuning, dan juga merah. Sedangkan boneka hanya sebagai pelengkap saja.
"Ehemm... nama kamu siapa?" tanya Meta pada Jec, kali ini dengan suara maco-nya.
"Bukanya tadi sudah berkenalan. Aku Jec," ucap Jec dengan mengulurkan tanganya.
"Ah, aku lupa." Meta pun menerima uluran tangan dari Jec. Jec sih udah ingat kalau Meta ini adalah teman satu motor dengan Qila saat tragedi tabrakan beberapa bulan lalu. Namun, berbeda dengan Meta yang sepertinya laki-laki itu justru lupa kalau Jec adalah orang yang diminta untuk tanggung jawab.
"Sejak kapan you pacaran dengan adik I'm? Terus Qila you sakit apa?" tanya Meta secara serempak dengan pandangan dialihkan pada Jec dan Qila.
"Ternyata Qila teman sekolah aku dulu, yang sudah lama aku taksir, dan sekarang Qila sakit miom, sebentar lagi dioperasi, dan aku ingin dalam waktu dekat ini aku menikahi dia, agar bisa merawat dia yang sedang sakit." Jec dengan cekatan mewakilkan jawabanya, sedangkan Qila sebenarnya sudah siap untuk berprotes dengan jawab Jec yang ngaco banget, tetapi tidak diizinkan oleh Jec, sehingga dia tidak bisa protes hanya diam saja yang artinya diam adalah setuju.
Meta menganggukan kepalanya. "Berbeda dengan Qila yang tidak ingin kalau menikah dengan Jec. Meta justru sepertinya menyambut dengan baik keinginan Jec.
"Aku suka cara kamu mencintai adikku. Aku setuju dengan usulan kamu. Kapan kira-kira kamu akan menikahi Qila?" tanya Meta, sontak Qila langsung meriang mendengar pertanyaan Meta.
"Besok!!"
"Jeduerrr"
__ADS_1
...****************...