Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 125


__ADS_3

"Kamu tidak usah jawab apa-apa, karena dari perbuatan kamu sudah sangat meyakinkan bahwa memang anak itu, adalah darah dagingku. Anakku." Deon yang memang benar-benar gila tentu akan semakin menjadi ketika ia ditantang seperti ini. Oleh siapa pun dia akan semakin menjadi untuk semakin berbuat gila.


"Anak ini adalah anak aku dan Alzam." Qari berucap dengan sangat lirih dan ia memastikan tidak ada yang mendengarnya, terlebih orang-orang tadi sudah menatap Qari dan Deon yang terlibat pertengkaran dengan menyiramkan air, kini sudah kembali pada aktifitas mereka lagi.


Deon mencoba menarik bibirnya, setelah orang-orang kembali tidak menatap kearahnya. "Lega... Qari memang menyebalkan, gara-gara dia aku jadi bahan tontonan orang-orang," umpat Deon, sementara Qari tetap cuek.


Sebenarnya ia bisa saja langsung  pergi, dan menghempaskan Deon, tetapi Qari juga  penasaran kira-kira Deon akan membicarakan apa.


Rasanya tidak mungkin Deon hanya menahan hanya soal anaknya. Andai Qari bisa mendengar apa yang Deon lakukan maka dia bisa selangkan lebih maju untuk mempersiapkan semuanya.


"Mau kamu apa datang menemuiku. Cepat katakan jangan bikin emosiku makin menjadi maka bukan orang-orang di sini saja yang melihat kamu. Tapi  bakal ada yang lebih rame lagi dari yang tadi aku lakukan," cecar Qari nadanya yang dingin tidak sama sekali mencerminkan bahwa dia adalah wanita yang lembut.


Namun itu semua hanya berlaku pada Deon. Berbeda apabila pada Alzam dan keluarganya, ia akan jadi wanita yang lembut dan penuh perhatian.


"Aku rasa, ucapanku tadi sudah sangat jelas Qari, aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku pada kamu, tepatnya delapan bulan lalu," balas Deon, laki-laki itu juga mulai serius dengan ucapanya.


"Anak ini anak Alzam, apa kamu sudah budeg," dengus Qari tatapnya yang tajam membuat Deon semakin tidak bisa melepaskanya. Yah, tatapan galak itu yang membuat Deon semakin cinta. Tanpa ia sadari apa gunanya mencintai sebelah tangan, hanya sakit yang ia rasakan.

__ADS_1


"Terserah kamu mau melakukan pengakuan seperti apapun, tetapi pada kenyatannya anak itu anakku. Kamu tahu mana kebenaranya, begitupun Alzam, tetapi kamu justru menutupinya, itu hak kamu, tetapi tetap pada kenyataanya anak itu darah dagingku." Deon pun semakin memojokan Qari, setidaknya satu pengakuan dari Qari sudah bisa membuat hatinya tenang.


"Dan, terserah kamu juga mau yakin seratus persen pun. Anak ini adalah anak aku dan Alzam." Qari tidak akan kehilangan Cara ia akan terus  berusaha menghempaskan Deon.


Laki-laki yang baju bagian atas basah sedikit pun langsung mengeluarkan  ponselnya, dan menyodorkan rekaman yang orang suruhanya berikan.


"Kamu pasti tahu itu ada di mana, dan membahas soal apa. Apa masih kurang bukti kalau anak yang kamu kandung adalah anak aku? Jec, yang setiap hari aku repotkan, karena anak kamu membuat aku ngidam, mabok dan lain sebagainya. Sampai aku harus merasakan kalau tubuhku bermasalah, dan belakangan aku tahu kalau itu adalah hamil simpatik, pasti kamu tahu apa itu hamil simpatik. Aku yang merasakanya bukan Alzam. Apa kita juga harus tes DnA agar semakin yakin bahwa anak itu adalah anak aku dan kamu."


Wajah Qari langsung berubah. "Ternyata kamu sampai sekarang masih mengawasiku?" desis Qari sangat menjijihkan banget ketika kegiatanya selalu diawasi oleh orang-orang yang tidak ia kenal.


Hahaha... Qari tertawa dengan renyah ketika ia mendengar apa maksud dari ucapan Deon itu.


"Sepertinya kamu mulai saat ini harus periksa ke rumah sakit jiwa deh, bukanya kamu yang mengatakan kalau kamu ingin menghancurkan aku dengan melakukan hubungan terlarang itu, dan kamu ingin membuat aku gila. Kamu bahkan dengan terang-terangan mengancam aku. Apa kamu sudah lupa?" cecar Qari, dia sudah tahu arah pembicaraan ini.


Namun, yang tidak Qari tahu kenapa tiba-tiba Deon ingin bertanggung jawab atas anaknya. Sangat tidak masuk akal seorang Deon yang keras akan bertanggung jawab dengan tulus.


"Bukankah, wajar setiap manusia melakukan hal yang khilaf, anggap saja aku saat itu memang Khilaf dan saat ini aku sudah sadar," jawab Deon, dan jawabnya seolah meyakinkan.

__ADS_1


"Apa kamu tahu kalau hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah mencintai seseorang dengan sebelah tangan. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa selain kesakitan yang tertoreh di batin kamu. Jangan ganggu aku dan Alzam karena aku sudah bahagia, kamu pasti tahu hal itu dari orang-orang suruhan kamu." Qari mencoba menasihati Deon dengan lembut, mungkin saja hatinya masih bisa diajak negosiasi.


"Aku sudah jatuh cinta dengan kamu dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu," balas Deon dengan menatap Qari dengan tajam. Qari pun melakukan hal yang sama seolah mereka sedang adu ketajaman mata.


"Caranya?" tanya Qari dengan santai.


"Banyak, mungkin aku akan mengatakan di sini, kalau anak yang kamu kandung adalah anakku. Bisa juga memutar vidio ini di sini, bukanya di sini banyak karyawan dari kantor kamu, sehingga orang-orang akan menganggap kalau Alzam hanya sebagai tameng untuk menutupi abi kamu," ucap Deon dengan suara yang dingin dan pelan. Ia sudah memaastikan bahwa hanya Qari yang mendengarnya.


"Lakukan!!! Lakukan apa yang membuat kamu senang, tetapi asal kamu tahu, sampai kapan pun aku dan Alzam akan tetap bersama, dan cara-cara kotor kamu hanya akan semakin membuat kita kuat," jawab Qari dengan tetap santai, bahkan tanganya di lipat  di depan dadanya.


"Aku tidak bisa menghalangi cara-cara kamu, tetapi asal kamu tahu, kalau cara kamu kotor seperti ini meskipun Alzam menceraikan aku dan meminta aku bersatu dengan kamu, DEMI TUHAN aku lebih baik mati. Jadi kamu tahukan seberapa aku membenci kamu." Qari bukan ingin menakuti Deon dengan ancamanya tetapi dia benar-benar sebenci itu pada laki-laki yang bersifat seperti Deon.


"Apa yang kamu dapatkan dari laki-laki itu?" tanya Deon, dengan senyum sinis seolah ia tengah meremehkan Alzam.


"Banyak!! Banyak banget sampai aku tidak bisa menghitung dengan jari tangaku, dan tidak akan bisa di tulis menjadikan sebuah novel. Karena Alzam selalu memberikan apa yang aku butuhkan tanpa merendahkan dirinya seperti kamu. Kamu sudah tahukan maksud aku yang murah itu pasti tidak ada harganya, dan itu terjadi di diri kamu. Jadilah laki-laki yang berkelas, bukan yang murahan." Qari langsung meninggalkan Deon tanpa ingin menoleh lagi ke belakang.


"Baiklah Qari, kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu, makan Alzam pun tidak bisa mendapatkan  kamu."

__ADS_1


__ADS_2