
Plakkk... kali ini Deon yang kehilangan kendalinya menampar pipi Cucu dengan kuat.
"Aku akan berbuat lebih dari ini, kalau kamu pura-pura sok suci. Aku sangat benci sama wanita murahan, tetapi sok jual mahal." Deon meluapkan kemarahannya.
Bergeming dengan tangan memegang pipinya yang panas. "Silahkan lakukan yang lebih. Apa yang akan kamu lakukan? Membunuhku? Silahkan," balas Cucu dengan menantang Deon, wajahnya yang memerah menatap suami barunya itu. Cucu pun sama ia akan kehilangan kesabarannya ketika menghadapi laki-laki seperti Deon.
Tangan Deon bergerak perlahan untuk membuka pengait kaca mata yang Cucu kenakan, mekipun Cucu menahannya, nyatanya sekali tarikan benda keramat itu sudah terbang. Dengan gerakan cekatan Cucu mengambil bantal untuk menutupi asetnya yang menantang keangkuhan Deon. Namun, lagi-lagi benda itu di tarik oleh Deon hingga terbang ke sudut ruangan. Kini tangan Deon membuka pakaian bagian bawahnya hingga ia sudah polos dengan santainya berjalan mendekat ke arah Cucu yang sudah memejamkan ke dua bola matanya.
"Akhhh... Deon kamu menyakiti aku." Wanita itu berusaha untuk berontak ketika tangan dia di tahan ke atas dan laki-laki itu menikmati setiap inci tubuhnya hingga hap...
Bibirnya memainkan bukit tak berbunga hanya berbuah kacang. Dengan gerakan yang membuat Cucu hilang kendali, hingga tanpa sadar tubuhnya mengikuti irama permainan laki-laki laknat itu. Bahkan suara-suara menjijihkan lolos dari bibir mungil Cucu.
"Deon kamu memang be-rengsek..." umpat Cucu di tengah-tengah kesadarannya yang mulai terkikis.
Namun, bukan Deon namanya kalau dia tetap santai. Laki-laki itu terus membuat tanda-tanda cinta di setiap inci tubuh Cucu.
"Ingat setiap kamu menyebut namaku akan aku buat hutang-hutang kamu berkurang," ucap Deon dengan melepaskan kain terakhir yang menempel di tubuh Cucu
Kini sekuat apa Cucu melawan dia tidak akan bisa, sekuat apa dia memohon juga akan terasa sia-sia karena Deon tidak akan mengizinkannya untuk lolos malam ini.
__ADS_1
Cucu memejamkan kedua matanya ketika benda yang keras, besar dan kuat berusaha membongkar pertahananya selama ini. Di usia yang sudah dua puluh empat tahun kini dia harus ikhlas melepaskan keperawanannya. Sebenarnya bukan soal usia dan juga bukan soal dia tidak ingin berbakti pada suami, tetapi dia ingin yang mengambil mahkota yang paling berharga adalah orang yang benar-benar tulus mencintainya, bukan laki-laki brengsek yang selalu menilai dari setiap kejadian dengan setumpuk materi.
Test... Test... air mata wanita itu tidak bisa dia bendung lagi ketika rasa sakit menjalar di tubuhnya. Kedua tangannya mencengkram seprai yang berwarna putih bersih. Ketika seprai yang putih bersih sudah ternodai dengan bercak merah, menandakan kalau yang memenangkan taruhan adalah wanita yang sedang terisak menangis.
Tapi ini semua bukan soal taruhan dan sejumlah uang. Ini tandanya Cucu tidak bisa lepas lagi dari Deon karena dialah yang akhirnya mendapatkan ke prawa-nan Cucu.
"Jadi kamu masih...." Deon menghentikan ucapannya ketika melihat Cucu terisak semakin kencang. Untuk beberapa saat Deon menghentikan kegiatan mengadon mochi-nya. Ketika dia tahu bahwa wanita yang selalu ia hina dan rendahkan nyatanya masih tersegel rapih.
Tidak ada jawaban dari Cucu selain isakan yang semakin kuat, menandakan bahwa ia sangat sakit untuk pertama kali melakukan penyatuan.
"Apa hal ini sangat menyakitkan?" tanya Deon dengan membelai wajah Cucu hendak menghapus air mata Cucu, tetapi Cucu dengan sengit menepis tangan Deon.
"Cepat lakukan apa yang ingin kamu lalukan, karena aku nggak sudi lama-lama harus melayani mu," balas Cucu dengan suara yang berat, tersengal dan sengit. Padangan matanya ia buang ke lain tempat, rasanya nggak sudi menatap Deon.
"Sakit atau tidak, sudah jadi resiko setiap wanita yang melakukan hubungan untuk pertama kalinya. Apa kalau aku menjerit kesakitan kamu akan melepaskan aku?" tanya Cucu dengan tatapan masih di buang ke lain tempat.
"Oh tentu saja tidak. Sia-sia aku mencoba menerobos masuk meski beberapa kali gagal, dan setelah berhasil masuk aku lepaskan begitu saja, tentu rugi," balas Deon dengan menunjukan senyum kemenangan.
"Yah, maka dari itu cepat lakukan karena ku sangat jijik melakukan hubungan ini," ucap Cucu dengan terus membuang pandangannya, bahkan untuk melihat Deon wanita itu sangat kesal dan sangat benci.
__ADS_1
Blusshhh... Akhhh...
"Deon kamu menyakiti aku," pekik Cucu ketika tubuhnya dihantam benda keras yang menguasai di bawah sana. Kembali Deon seolah tengah kesetanan. Tidak membiarkan Cucu berhenti untuk sekedar mencari posisi yang nyaman, hentakan demi hentakan terus Deon lakukan hingga tanpa sadar Cucu menjerit dan kuku-kuku tajamnya mencengkram kuat di punggung laki-laki yang masih terus membuat Cucu seperti tengah melayang.
"Akhhh... Deon, Setop!! Satu pelepasan, tubuh wanita itu menggelinjang dengan hebat ketika surga dunia telah ia gapai. Senyum tersungging di bibir Deon dengan sempurna.
"Bagaimana, apa kamu mau melawanku lagi?" bisik Deon di balik telinga Cucu yang masih mencoba mengatur nafasnya yang tersengal, seperti ia telah berlari ribuan mill.
Cukup lama Deon membiarkan Cucu kembali dalam tahap santai, hingga permainan terus dia mainkan, dan setelah bekerja cukup lelah kini sebuah cerita baru telah ia torehkan, dan Cucu adalah wanita ke dua yang dia ambil madunya selain Qari tentunya.
Arkkhhh... Deon menge-rang dengan kuat ketika dia telah sampai menggapai nikmat surga duniawi nya. Cucu pun bisa merasakan di bawah sana benda keras yang sejak tadi membuatnya tidak berdaya berdenyut-denyut seolah tengah membuang sesuatu. Yah, dia sedang membuat cerita baru dari setiap tetes cairan bercinta yang bercampur dengan tetesan keringat.
Nafas keduanya kini saling memburu. Cucu memiringkan tubuh polosnya, memunggungi tubuh Deon yang masih tersengal dengan hebat.
Air matanya kembali tumpah ketika bayangan buruk dia kembali terlintas dalam pikirannya.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku Deon," batin Cucu menjerit sempurna. di bawah sana dia mere-mas perutnya dengan kuat, dengan tujuan agar tetesan dari cairan bercinta jangan sampai membuahkan hasil, karen Cucu tidak siap terus terikat dengan laki-laki yang telah mengambil kesucianya.
Brukkkgghh... Kembali tubuh Cucu ditarik dengan paksa oleh Deon.
__ADS_1
"Terima kasih, maaf kalau aku telah merendahkan kamu, ternyata kamu pasih perawan. Aku kalah dan aku akan menepati janjiku mengenai uang taruha," ucap Deon dengan, mencium kening Cucu, dan memeluknya dengan kencang, sehingga tubuh yang masih sama-sama polos kembali menegang. Sedangkan Cucu tidak ingin membalas ucapan suaminya itu.
"Berikan obat penunda kehamilan yang kamu katakan karena ku nggak mau sampai aku hamil anak laki-laki brengsek seperti kamu."