
"Kira-kira Cucu masih marah nggak yah? Dia sekarang lagi ngapain?" batin Deon pekerjaannya sedikit melambat karena ia yang terus terpikirkan oleh Cucu.
"Apa aku coba telpon lagi yah? Tapi kalau tidak diangkat bagaimana?" Kembali Deon bermonolog dalam batinnya, pagi ini saja laki-laki itu entah menelepon Cucu berapa kali tetapi hasilnya semua sama. Cucu tidak juga mengangkat teleponnya.
Namun kini justru Deon dikejutkan dengan panggilan telpon dari orang yang sejak tadi membuat dia tidak fokus bekerja.
"Cucu... apa itu tandanya dia sudah tidak marah lagi," gumam Deon dengan wajah berbinar bahagia, karena itu tandanya Cucu ada tanda-tanda tidak marah lagi.
[Hallo Sayang, kamu sedang apa? Udah makan belum?] tanya Cucu dengan manis, sontak saja Deon langsung terharu dengan perubahan Cucu, padahal tadi pagi Cucu marah hebat bahkan sampai Deon menelepon Cucu berkali-kali, tetapi telpon dari dirinya tidak juga diangkat oleh sang istri. Namun sekarang justru Cucu yang datang pada dirinya dan juga berbicara dengan lembut.
[Sayang aku seneng banget akhirnya kamu sudah tidak marah lagi sama aku. Maafkan aku yah, karena aku tidak bisa menepati janji, ternyata pekerjaan di sini sangat banyak dan juga sangat menguras tenaga. Ini juga aku kerja sudah sangat rajin bahkan jam tidur selalu kurang, tetapi karena masalah dalam perusahaan cukup rumit sehingga sampai detik ini masih belum selesai juga,] balas Deon, dari suaranya terlihat sangat bahagia, karena mendapat telpon dari sang istri.
Cucu jadi terharu dengan perjuangan sang suami. Ia jadi teringat dengan apa ucapan Jec siang tadi di mana Deon juga di negara yang berbeda pekerjaannya tidak semudah yang dia bayangkan perjuangannya tidak bisa di sepelekan, karena memang masalah perusahaannya cukup pelik. Banyak kebocoran keuntungan sehingga Deon harus benar-benar hati-hati untuk menyelesaikannya.
[Kamu tidak salah Sayang, bukan kamu yang salah. Ini aku yang salah, mungkin aku mau datang bulan makanya bawaannya marah-marah terus. Barusan juga Jec, kena marah oleh aku,] ucap Cucu dengan mencoba menghibur Deon yang ia tahu kalau suaminya juga sedang cape dan tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh. Apalagi hubungan dirinya dan Deon sedang dalam tahap sayang-sayangnya sehingga untuk menjalani hubungan jarak jauh sangat berat.
[Loh, kenapa Jec kamu marahi, apa dia bikin kamu marah? Dia sudah kurang ajar?] tanya Deon dengan kepo.
[Yah, dia bikin aku kesal. Pasalnya dia memuji aku setinggi gunung, nyatanya di balik itu semua dia sedang mencoba meminta cuti satu minggu, minggu depan katanya mau ke kampung halaman istrinya untuk bersilahturahmi dengan mertuanya. Sontak aku marah dengan asisten kamu itu. Aku marah karena dia tidak bisa dipercaya ucapannya. Muji aku kalau ada maunya saja,] adu Cucu dengan bibir bersungut sempurna.
Sontak saja Deon langsung tertawa dengan renyah, laki-laki itu juga membayangkan Cucu yang saat ini sedang marah. Deon membayangkan betapa menggemaskannya Cucu saat bertengkar dengan Jec. Apalagi Cucu itu sangat imut kalau sedang marah.
__ADS_1
[Terus kamu beri izin tidak?] tanya Deon yang kini jauh lebih bersemangat dari pada tadi. Yah memang untuk membuat Deon bahagia sesungguhnya sangat mudah hanya saja kadang baik Deon maupun Cucu sama-sama besar gengsinya sehingga terjadi pertengkaran terus. Berbeda dengan Jec yang lebih lembut sehingga rumah tangga mereka masih adem ayem. Sangat beruntung bukan Qila mendapatkan suami seperti Jec.
[Sebagai bos yang baik, aku beri lah kasihan juga. Dia juga butuh berlibur. Kasihan jangan sampai karena keasikan kerja sampai stres,] balas Cucu dengan menyombongkan diri. Sontak saja lagi-lagi Deon tertawa dengan renyah.
Kelakuan Cucu bisa dibilang sangat mirip dengan dirinya. Di mana Deon sendiri juga seperti itu senang sekali marah, tetapi dalam hatinya dia juga tidak tega kalau harus membiarkan Jec gila karena bekerja sebagai asistennya.
Kini Deon dan Cucu pun saling bercanda dan ngobrol dengan manis. Hal itu membuat Deon semakin semangat lagi untuk lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya. Apalagi saat ini Cucu cukup jahil. Sang istri sekarang sering sekali mengirimkan foto dirinya dengan pakaian yang seksi-seksi.
Biasanya Cucu akan melakukanya kalau Deon yang memintanya, tetapi untuk sekarang Cucu melakukanya seolah sengaja agar Deon menginginkannya dan ia akan cepat untuk melakukan tugas-tugasnya dan Deon akan dengan cepat pulang.
Seperti sore hari ini dengan sengaja Cucu mengirimkan dirinya yang sedang mandi. Selain itu caption juga harus membuat Deon panas dingin.
[Coba ada kmu pasti lebih semangat mandinya.]
Di saat Deon semakin tegang karena keisengan Cucu dan sesuai yang Cucu mau, Deon semakin menginginkan pulang ke Indonesia untuk memeluk istri yang jahil itu.
[Ngopi dulu sayang]
__ADS_1
Di saat Deon kerja semakin keras, karena ingin segera pulang, dan menghukum sang istri. Cucu sendiri juga di negara berbeda masih setiap hari di sibukkan dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Kini penampilan Cucu berubah lebih berkarisma dan juga disegani oleh banyak karyawannya.
"Cu besok aku mulai izin yah. Hanya satu minggu aku mudik, setelah itu akan kembali lagi dan membantu pekerjaan kamu. Oh iya kalau kamu butuh bantuan bisa kirimkan kerjaan ke email aku. Aku akan selalu aktif kok," ucap Jec ada rasa tidak enak dengan Cucu.
"Pergilah, bukanya sudah aku katakan pada kamu. Kamu jangan terlalu pusing dengan pekerjaan. Aku bisa diandalkan untuk kerjaan ini," balas Cucu dengan santai.
"Sebenarnya aku tahu ini waktu yang tidak tepat, tetapi orang tua Qila ingin aku datang secepatnya sehingga aku tidak bisa menolaknya," imbuh Jec yang melihat kalau Cucu masih marah dengan dirinya.
Cucu langsung meninggalkan tumpukan pekerjaannya, dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jec, kalau aku sudah bilang pergi cepatlah pergi, dari pada aku marah pada kamu. Kamu tentu tahu kalau aku ini bukan orang yang sabar seperti wanita di luar sana. Aku cenderung cepat marah dan terpancing emosinya. Cepatlah pergi sebelum aku marah dan memecat kamu saat ini juga," balas Cucu dengan suara yang dingin.
Yah, Cucu memang memiliki sifat yang sangat sama dengan Deon, dia tidak memiliki sabar yang tebal seperti kamus bahasa Inggris. Sehingga kalau Jec banyak berbicara yang ada Cucu makin marah.
"Baiklah Cu, aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Cucu, Jec pun langsung meninggalkan ruangannya yang memang sama dengan ruangan Cucu.
"Gila Cucu sekarang makin mengerikan, berperan banget lagi," batin Jec ketika baru meninggalkan ruangannya. Sedangkan Cucu sendiri tidak merasa kalau dirinya mengerikan. Apa yang dia lakukan sama seperti biasanya tidak ada yang berbeda.
Ya memang seperti itu, yang merasakan perubahannya adalah orang lain. Cucu sih tidak merasa berbeda, tetapi Jec yang selalu serba salah dengan perlakuan Cucu.
Namun demi restu orang tua, Jec pun tetap meninggalkan Cucu. Jec yakin Cucu bisa diandalkan. Dia wanita cerdas sehingga Jec tidak perlu khawatir.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...