Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
pertengkaran


__ADS_3

“Kenapa tiba – tiba Mommy nyuruh Aku meninggalkan Reisya? Bukannya Mommy sudah merasa nyaman dengannya? Bahkan sempat berpesan jangan pernah menyakiti calon menantu Mommy, nah sekarang?! Pasti ada yang tidak beres,” duga Aaric dalam hati sambil membolakan matanya.


“Hei! Kenapa jadi melamun begitu, sih. Ayo bawa semua barang – barang Kamu ke atas, bersihkan tubuh Kamu dahulu. Setelah itu baru kita bicara nanti.”


Aaric hanya mengangguk, lalu membawa tas ranselnya ke kamar tidurnya. Sesampainya di dalam kamar, bukannya malah mandi justru ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk kesayangannya.


Tatapan mata yang seakan tanpa arah, liar, bermain, berlari kesana dan kemari. Pikiran yang tak berhenti dari bayang – bayang seorang Reisya. Aaric mulai menghubung – hubungkan antara sikap Reisya dengan sikap sang Mommy.


“Apa jangan – jangan, ini semua bukan salah Melinda. Tapi murni antara Mommy dan Reisya,“ pikir Aaric sembari memainkan kedua ibu jarinya berputar secara bergantian.


Jauh pikiran bermain kesana kemari namun masih belum menemukan kebenarannya. Pun perasaan ikut mempermainkannya, menduga - duga yang belum pasti kebenarannya. Hanya kesimpulan – kesimpulan semu yang tercipta.


Sambil mengacak rambutnya, Aaric mendengus pelan seraya memejamkan matanya yang tajam namun terlihat sendu. Hingga berlalu satu jam kemudian sang Mommy mengetuk pintu kamar Aaric yang tidak terkunci.


Tok.. tok.. tok..


“Aaric! Boleh Mommy masuk?” pamit Bu Kusuma dari balik pintu.


“Yes, come in, Mom,” sahut Aaric sambil memijit kening diantara kedua matanya dari dalam.


Bu Kusuma langsung melangkahkan kakinya masuk mendekati anaknya yang masih berbaring dengan kaki menggantung menyentuh lantai.


“Hei! Kok belum mandi? Kan Mommy sudah bilang, setelah mandi akan Mommy beritahu alasan Mommy menyuruh kamu meninggalkan Reisya. Jadi sekarang ayo wake up, buruan mandi,” ujar Bu Kusuma sambil menarik salah satu tangan Aaric.


Dengan rasa malas yang menyerbu, pria tampan dengan wajahnya yang di tumbuhi dengan rambut – rambut halus di sekitar jambang hingga ke dagu akhirnya bangun lalu pergi ke kamar mandi sambil menyambar handuk merah yang di sediakan sang Mommy.


Sambil menunggu putra satu – satu kesayangannya selesai mandi, Bu Kusuma kembali mengamati setiap foto – foto yang terpajang di kamar yang tidak terlalu luas namun sangat nyaman untuk berlama – lama berada di dalamnya.


Satu persatu foto di pandangi oleh Bu Kusuma, dia berhenti pada salah satu foto bayi laki – laki kecil tanpa menggunakan baju sedang telungkup, tampak seulas senyum menghiasi kedua sudut bibir indahnya.


“Sekarang kamu sudah dewasa, Nak. Tapi kamu tetaplah bayi laki – laki Mommy, sayang. Dan Mommy akan siap melakukan apapun demi kebahagiaan Kamu meski nyawa sekalipun taruhannya, Mommy akan tetap melindungi dan tetap mengutamkan kamu,” monolog Bu Kusuma sembari mengusap lembut foto di tangan kirinya.


Aaric yang mendapati Mommynya menikmati foto kecilnya, hanya tersenyum bahagia, dia ikut merasakan betapa luar biasa sayangnya sang Mommy pada dirinya sehingga dia tidak ingin mengecewakan Mommynya dan selalu ingin membahagiakannya.


“Aku akan buat Mommy selalu tersenyum bahagia, My,” janji Aaric dalam batinnya.

__ADS_1


Bayangan Aaric mengagetkan Bu Kusuma, membuatnya tersadar dari lamunannya.


“Eh Ric! Sudah selesai?”


“Sudah, Mom. Kenapa Mommy senyum begitu? Masih melihatku seperti yang ada di dalam foto itu?” canda Aaric.


“Hush! Kamu ini.”


Bu Kusuma menggiring tubuh Aaric duduk di sofa lembut berwarna abu – abu gelap. Tanpa berkata apa – apa Bu Kusuma langsung menyodorkan amplop kecil berwarna coklat.


Aaric menerima dan perlahan membuka dan menemukan isinya. Aaric langsung membeliakkan manik matanya, dengan perasaan yang berkecamuk menguras emosinya seakan tak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya.


“Nggak! Nggak! Ini nggak benar My! Ini salah. Ini bukan Reisya. Reisyaku bukan perempuan seperti ini!!” teriak Aaric sambil mencampakkan foto – foto itu di atas tempat tidurnya.


“But this is the fact! Open your eyes. She’s not good for you. So, please.. left her!” titah Bu Kusuma sambil mengelus punggung Aaric yang sedang kacau.


“Dari siapa Mommy dapat gambar – gambar itu?” desak Aaric.


“I don’t know. I got it from the mail box,” jawab Bu Kusuma.


“Ric! Aaric, mau kemana? Aaric...” panggil Bu Kusuma berusaha menghentikan Aaric yang sedang dipenuhi rasa kalut.


Tanpa berkata apapun Aaric terus melangkahkan kakiny secepat yang dia bisa dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dalam beberapa menit saja mobil Aaric sudah terparkir di depan rumah Reisya. Aaric berlari dan mengetuk kuat pintu rumah Reisya yang terkunci.


“Reisya! Rei! Buka pintunya!” panggil Aaric sambil terus mengetuk pintu dari luar.


Mendengar teriakan yang di sertai ketukan pintu membuat Reisya yang masih belajar langsung lompat dari tempat duduknya dan segera mencari tahu apa penyebabnya.


Reisya melihat sekilas dari balik jendela lalu membukakan pintunya setelah tahu siapa orang yang berada di luar pintu.


“Mas!”


Aaric langsung menerobos masuk dan mencampakkan amplop berisi foto – foto itu di atas meja.

__ADS_1


“Tolong Kamu jelaskan ke Aku, siapa laki – laki itu!” seru Aaric yang sedang tersulut emosi.


“M – maksud K – Kamu a – apa, Mas?” sahut Reisya dengan suara terbata – bata sambil duduk


“Kamu lihat ini!” pekik Aaric melemparkan isi amplop itu ke pangkuan Reisya.


Dengan linangan air mata, tangan yang sedikit gemetaran perlahan mencoba melihat satu persatu foto dirinya.


“Astagfirullahaladzim, Mas. Sumpah Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Sungguh Aku tidak tahu siapa laki – laki itu, Mas!” sanggah Reisya mengutarakan yang sebenarnya.


“Nggak usah smpah – sumpah segala, toh ternyata faktanya Kamu sudah mengkhianati Aku! Kamu selingkuh di belakangku! Kenapa Rei?! Kenapa Kamu tega!” hardik Aaric yang semakin tersulut emosi.


Reisya hanya bisa diam dan menangis. Sembari mengingat kejadian yang telah menimpanya. Lalu Reisya juga teringat dengan tanda merah di dadanya.


“Jawab!!” sentak Aaric membuat Reisya semakin berderai air mata.


“Oke kalau kamu nggak mau bicara, ternyata ini alasan Kamu minta putus dari Aku. Ternyata benar Kamu sudah punya penggantiku, karena sebenarnya Kamu memang perempuan murahan yang pura – pura baik di depanku, Hah!” hina Aaric semakin menjadi – jadi.


PLAKKKK!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Aaric.


“Silahkan apapun yang ingin Kamu katakan, Mas. Tapi Aku, Reisya Adelia BUKAN perempuan murahan seperti yang Kamu katakan. Aku selalu menjaga diriku dan kehormatanku dengan baik. Jadi jangan pernah hina Aku dengan mulut kotormu!!” tampik Reisya merasa terhina dengan kata – kata kekasihnya.


“OH, menjaga diri.. lalu yang di dalam foto itu, apa namanya? Hanya mainan, sekedar iseng? Atau lagi coba – coba?” decit Aaric kembali meluapkan kemarahannya.


“Kalau Kamu ke sini hanya untuk menyakiti hatiku, mencaci dan menghina Aku, lebih baik Kamu pergi, Mas! Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Silahkan.. pintu masih terbuka lebar untuk KELUAR!” usir Reisya dengan air mata yang terus mengalir tak terbendung.


“Karena pacar kamu yang bisa di bawa enak – enak akan datang? Dan itu sebabnya Kamu mengusir Aku semalam, iya Kan?!”


PLAAAKKKK!!!


Satu tamparan lagi mendarat di pipi kiri Aaric.


“Lebih baik Kamu pergi.. PERGI!!” teriak Reisya mengusir Aaric dengan paksa.

__ADS_1


__ADS_2