
Qari bangun lebih dulu, seperti kemarin-kemarin ia terus memperhatikan suaminya yang sangat ia cintainya. Wajah manis serta bulu manta lentik menjadi candu bagi Qari dari diri Alzam. Meskipun kulitnya coklat kopi susu, tetapi Qari sangat mencintai, dan semua menjadi daya tarik yang tidak bisa dilupakan.
Wanita itu memang sangat mencintai Alzam. Wajahnya yang manis tidak pernah membuat Qari bosan.
"Apa kamu sudah bangun Sayang?" tanya Qari mengingat pagi kemarin wanita itu berhasil dikerjai oleh Suaminya.
Cukup lama Qari diam, menunggu jawaban dari Alzam, tetapi Alzam masih tidak ada tanda-tanda kalau laki-laki itu sudah bagun. Bahkan Qari melihat kalau tidur Alzam masih sangat nyenyak.
"Ya Allah ini pasti karena aku sudah bikin dia memijit kaki aku hampir semalaman, sehingga Alzam pun kecapean dan sudah jatahnya bangun sholat subuh, tetapi masih kecapean," lirih Qari, dia sangat takut kalau nanti Alzam masalah jatuh sakit, gara-gara dirinya.
Pagi ini Qari pun bangun lebih awal dan membersihkan diri lalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yang sejak ia menjadi istri dari Alzam, Qari selalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, hal yang sebelumnya selalu ia abaikan.
Setelah itu Qari buru-buru keluar kamar untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami yang sepertinya sedang sangat kecapean. Sebagai ganti pijatan semalam maka Qari akan membuatkan masakan sepesial untuk suaminya.
Dengan ilmu yang sangat pas-pasan bahkan minim dan lebih terkesan memaksakan. Qari membuatkan masakan untuk Alzam, nasi goreng seafood menjadi pilihan Qari untuk sarapan ia dan suaminya.
Berkali-kali Qari mencicipi masakannya, tidak lupa juga Qari membaca doa sepanjang ia masak, Qari sadar betul kalau ilmu memasaknya sangat pas-pasan.
Namun, karena ingin memberikan sesuatu yang sepesial sehingga Qari pun sampai mau cape-cape membuat masakan untuk suaminya menu yang menurutnya sangat-sangat sepesial.
"Nona, apa tidak lebih baik Bibi ajah yang masak. Bibi takut kalau Tuan besar marah," ujar salah satu asisten rumah tangga yang bertugas untuk memasak-masakan untuk para tamu yang menginap di vila itu.
"Tidak apa-apa Bi. Saya memang belum jago masak, tapi demi suami saya, saya akan sangat keras untuk belajar," balas Qari tanpa menunggu lama dan bermalas-malasan. Satu piring nasi goreng sepesial seafood sudah jadi dan Qari akan membawanya makan ke dalam kamar.
"Tumben, orang-orang belum pada bangun?" batin Qari dengan pandangan mata diedarkan ke kamar yang masih rapih tertutup dan juga meja makan yang masih bersih bahkan menu untuk sarapan pun masih belum terhidang.
__ADS_1
Qari menatap jarum jam yang ada di dinding. "Sudah pukul tujuh pagi, tapi kenapa belum pada bangun?" batin Qari lagi. "Ah mungkin mereka kecapean dan saat ini sedang istirahat," imbuh Qari tidak mau ambil pusing dan saat ini ia akan ke kamarnya dan menunjukan pada Alzam kalau dirinya bisa memasak.
Qari masuk kamar bertepatan dengan Alzam yang baru selesai membersihkan tubuhnya. Tangannya dengan gerakan yang gesit terus menggosok-gosok rambutnya yang setengah masih basah. Senyum teduh terlihat dari wajah segarnya.
"Aku pikir kamu tadi ikut yang lain untuk jalan-jalan pagi di pinggir pantai. Ternyata kamu habis dari luar," ujar Alzam begitu melihat Qari masih ada di vila.
"Hah, mereka sedang jalan-jalan ke pantai?" tanya Qari dengan sedikit terkejut.
"Iyah, emang kamu tidak tahu?" tanya Alzam balik. Membuat Qari gatal, dan menggaruk tengkuk lehernya.
Qari menggeleng lemah, tetapi sesaat kemudian ia kembali tersenyum. Ia sadar bahwa lebih nyaman dan tenang di rumah bersama suaminya. Mengingat tubuh dia yang sedang hamil dan rawan kakinya sakit lagi.
Masih untung tadi malam ada Alzam yang dengan sigap memijitnya, sehingga pagi hari ia bangun sudah dalam keadaan segar kembali. Sehingga hari ini ia akan jadi istri yang nurut apa perkataan suaminya. Agar tidak menyusahkan Alzam lagi.
"Tidak, lagian aku juga tidak tertarik untuk jalan-jalan lagi. Dan karena kamu semalam sudah jadi suami yang baik, pagi ini aku buatkan kamu sarapan sepesial." Qari memberikan nasi goreng yang ia masak murni hasil dari olahan tangganya sendiri.
"Ini kamu yang masak, Sayang?" tanya Alzam dengan suara lirihnya dan juga raut wajah yang menggambarkan kalau ia seperti tidak terlalu percaya. Bahwa nasi goreng yang di bawa Qari adalah masakan istrinya.
"Iya ini aku yang masak Sayang. Khusus untuk kamu, tapi maaf yah kalau rasanya sedikit mengagetkan lidah," lirih Qari dengan menunjukkan wajah memelasnya. Ia sadar betul masakanya masih jauh dari kata enak.
"Hay Sayang, seorang chef aja dulunya orang yang tidak bisa masak. Namun karena ia mau belajar dan pantang menyerah sehingga masakannya sangat disukai oleh orang-orang dan dikatakan enak. Percayalah kamu juga nantinya akan sam seperti Chef masakannya enak dan banyak yang merindukan masakan itu," bela Alzam suara yang sangat lembut setiap menasihati membuat Qari tidak merasakan kecil hati. Qari jadi merasa tertantang.
"Terima kasih, aku merasa semakin semangat untuk belajar setiap mendengar motifasi dari kamu." Mata Qari sudah memerah. Namun Alzam segera mengalihkan rasa haru Qari.
"Apa aku sudah boleh memakan nasi goreng itu, rasanya cacing di perut suamimu sudah berdemo ingin segera mencicipi masakan sepesial dari sang istri," goda Alzam, dengan menjawil hidung bangir Qari.
__ADS_1
"Apa boleh aku yang suapi kamu?" tanya Qari dengan menunduk malu, takut kalau Alzam keberatan untuk mewujudkan keinginannya.
"Tentu Sayang, aku akan merasa senang dan sepesial kalau kamu mau menyuapiku." Alzam menuntun Qari ke balkon mereka akan makan di balkon kamar dengan pemandangan langsung ke bibir pantai. Pemandangan yang sangat indah dan sangat memanjakan mata apalagi disuapin oleh istri tercinta. Rasanya kebahagiaan itu hanya milik Alzam seorang.
"Sayang, apa kamu yakin kalau ini kamu yang masak?" tanya Alzam dengan mata masih melebar sempurna. Dan juga bibir mengunyah dengan pelan.
Qari mulai cemas wanita itu menunduk dengan mengangguk samar. Qari sudah menebak kalau Alzam akan memuji masakannya, padahal ia tahu kalau rasa masakannya sangat payah.
"Ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan," puji Alzam dengan mengacungkan dua jempolnya wajah yang tersenyum bangga.
Namun, Qari justru menunjukan sikap yang kurang suka ketika Alzam memujinya seperti itu. Qari lebih suka Alzam jujur dan ia akan berusaha memperbaiki masakannya itu.
"Sayang kenapa kamu malah kayak nggak suka, sudah bisa memasak dengan sangat lezat?" tanya Alzam. Laki-laki itu juga ada rasa takut kalau Qari justru sedih karena ada omongannya yang salah.
"Aku hanya sedih, kenapa kamu enggak jujur ajah kalau masakan aku kurang enak, atau bahkan tidak enak sama sekali. Aku bakal terima kok," lirih Qari, pandanganya menunduk dengan kelopak mata yang memanas.
Alzam tersenyum, dan tangannya mengambil satu sendok nasi goreng dengan warna yang memang sedikit lebih coklat dari yang Alzam atau Tantri masak. Namun memang rasanya enak.
"Kamu buka mulut kamu," titah Alzam, dan Qari pun dengan wajah sedih dan terpaksa menurut saja. Satu sendok nasi goreng berhasil masuk ke mulut Qari. Reaksi yang sama dengan dirinya, Alzam bisa lihat dari Qari.
"Sayang apa ini nasi goreng aku yang masak tadi?" tanya Qari dengan heran.
Alzam hanya terkekeh dan mengangguk. "Gimana rasanya?" tanya Alzam dan Qari langsung mengacungi jempol.
"Tapi kayaknya aku tadi sedang mimpi buatnya kenapa bisa enak masakan aku?" lirih Qari dan Alzam lagi-lagi tertawa renyah dengan kelakuan istrinya itu. Bahkan siapa pun yang melihat pasangan suami istri itu pasti akan iri.
__ADS_1
Hayo.... siapa yang iri...?