Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimuat Dendam #Episode 149


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah klinik bersalin yang tidak terlalu besar yang berada di pinggiran kota Jakarta.


(Bab ini mengisahkan wanita lain, tidak ada hubungannya dengan kisah Qari seblumnya.)


Oeee... Oeee... Suara tangisan bayi yang nyaring, bayi perempuan yang baru dilahirkan dengan panjang 5.10 cm dan berat 2.6kg. Memiliki mata biru pudar.


"Ibu selamat yah bayi Anda sudah lahir, jenis kelaminya perempuan, kondisinya normal berat 2.6kg dan panjang 5.10 CM." Seorang wanita yang berprofesi sebagai bidan menjelaskan dengan detail bagaimana kondisi bayi yang telah dilahirkan oleh seorang wanita yang datang seorang diri ke klinik bersalin milik nya.


"Bu, kalau saya tidak mau merawat anak ini apa ada yang mau merawatnya?" Suara bergetar dari seorang perempuan muda yang wajahnya masih pucat paska lahiran.


Wanita yang bernama Dira yang berprofesi sebagai bidan pun terkejut dengan ucapan wanita itu. "Kenapa Anda tidak mau merawat anak ini? Dia cantik dan sempurna, banyak di luar sana yang ingin memiliki anak, tapi kenapa Anda tidak mau merawatnya?" tanya Bidan Dira dengan suara yang lembut.


Tangisan wanita berhijab panjang itu pecah. "Saya tidak memiliki suami Bu, saya adalah asisten rumah tangga yang bekerja disalah satu rumah besar di dalam kompek mewah tidak jauh dari klinik Anda. Saya diper-kosa oleh anak majikan saya, dan saya hamil, tapi tidak ada yang mau bertanggung jawab, Mereka meminta saya membuang anak ini."


Dira pun memejamkan matanya, sudah ada tiga wanita yang bernasih sama datang ke rumah bersalin miliknya, dan rata-rata mereka adalah asisten rumah tangga yang di jadikan budak nafsu oleh majikanya hingga hamil, tetapi ketika hamil mereka melemparkan kesalahanya pada si wanita. Yang mengatakan bahwa mereka adalah yang menggoda para majikan. Padahal tidak jarang majikanlah yang mengiming-iming uang untuk dilayani. Atau ada juga yang benasib seperti wanita yang ada di hadapanya saat ini, diper-kosa secara paksa. Ketika hamil tidak mau mengakui anaknya.


"Nama Anda siapa Nona?"


"Sulis Bu."


"Usia kamu berapa tahun saat ini?" tanya Dira dengan mecatat data dirinya.


"Untuk apa Bu?" Wajah wanita yang bernama Sulis itu semakin pucat.


"Hanya sebagai data diri, tenang saja saya bisa merahasiakan jati diri kamu, saya tidak akan memanfaatkan kasus kamu. Kamu tetap aman." Dira berusaha menenangkan Sulis, agar mau bercerita dengan jujur.


"Usia saya dua puluh tahu." Sulis pun akhirnya pasrah mengatakan apa yang terjadi, karena bidan Dira yang berjanji akan membantu mencarikan orang tua asuh untuk bayinya. Mungkin ini adalah proses jual beli, tetapi Dira berpikir dari pada anak itu tidak terurus. Apalagi Sulis mengaku bahwa laki-laki yang memper-kosanya adalah anak majikannya, dan laki-laki itu memiliki kekasih tidak mau bertanggung jawab dengan perbutanya.


"Apa orang tua laki-laki itu tidak tahu kalau anaknya telah menghamili kamu?" tanya Dira semakin penasaraan dengan kisah wanita berparas cantik itu.


"Tahu, tetapi mereka juga tidak mau tahu dengan cucunya, mereka malah beberapa kali mencoba menggugurkan anak ini, tetapi sampai detik ini anak itu masih sehat dan tidak ada cacat sedikit pun." Bahkan Sulis sendiri tidak mau melihat anak itu, ia terlalu benci dengan bayi yang baru dilahirkanya.

__ADS_1


"Ya Allah..." Dira mengusap dadanya. "Kenapa ada orang yang seperti itu."


Dira dan Sulis saling diam untuk beberapa saat. Sulis hanya duduk bersandar menatap ke depan dengan kosong.


"Apa kamu akan kembali ke tempat itu?" tanya Dira, ada rasa iba dengan gadis malang itu.


"Kalau boleh memilih aku tidak mau tinggal lagi di rumah itu. Aku hanya di jadikan boneka S*k, bahkan saat aku sedang hamil pun tetap dipaksa untuk melayani laki-laki itu. Orang tua mereka tahu kelakuan putranya, tapi mereka tidak melarang malah mereka seperti membiarkanya." Tangisan Sulis pecah.


Hati Dira semakin hancur. Wanita itu pun mencoba memeluk wanita yang bertubuh kurus itu. Bahkan di beberapa tubuhnya ada luka yang sudah mengering. Menurut penuturan Sulis itu adalah luka ia dapat kalau ia melawan atau tidak mau melayani laki-laki itu.


"Apa kamu hanya kamu yang tinggal di sana sebagai asisten rumah tangga?" tanya Dira lagi, ketika Sulis sendiri sudah mulai tenang.


Wanita berhijab itu menggeleng dengan lemah. ada tiga asisten rumah tangga, tetapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka juga tidak bisa membantu saya. Karena mereka pasti diancam oleh majikan kami."


Dira pun tahu dalam posisi Sulis sehancur apa. Terlepas benar atau tidaknya ucapan wanita itu, tetapi Dira hanya ingin membantu wanita itu untuk keluar dari rumah itu.


Tidak aneh sebenarnya kalau ada yang suka dengan Sulis. Dia Cantik dan tubuhnya putih mulus.


"Saya mau Bu, mau banget. Asalkan saya dapat uang. Saya adalah anak yatim piatu yang dibesarkan oleh salah satu panti asuhan yang tidak besar, saya akan sangat berterima kasih apabila ada orang yang mau memberikan pekerjaan yang lebih layak. Karena saya membutuhkan uang. Bahkan uang yang selama ini saya dapatkan sebagian untuk adik-adik panti." Sulis terlihat sangat antusias ketika Dira menanyakan kesediaanya dibantu untuk keluar dari rumah itu.


"Kamu dibesarkan oleh salah satu panti asuhan, tapi kenapa kamu malah mau membuang anak kamu? Harusnya kamu tahu betapa susahnya hidup tanpa orang tua?" cecar Dira.


Sulis diam saja, "Saya hanya kasihan kalau bayi itu ikut saya akan semakin sulit hidupnya," balas Sulis dengan pasrah.


Dira teringat salah satu temanya menanyakan anak baru lahir, pasalnya ada yang mau mengadopsinya.


"Kalau anak kamu ada yang mau merawatnya apa kamu tidak akan keberatan, dan tidak akan mecarinya atau justru memintanya suatu saat nanti?" Dira kembali memastikan niat Sulis untuk menyerahkan bayinya.


"Tidak Bu, saya akan ikhlas dia dirawat orang lain asalkan dia terjamin kasih sayang dan kebutuhanya tercukupi. Andai bayi itu ikut saya malah terlalu kasihan. Masa depanya tidak jelas. Belum saya juga takut suatu saat laki-laki itu akan meminta anak itu." Sulis menjabarkan ketakutanya, dan Dira pun tahu ketakutan Sulis, benar lebih baik diasuh oleh orang lain dari pada dari keluarga itu.


"Tadi ada salah saatu dokter yang mencari bayi perempuan untuk salah satu pasien yang anaknya meninggal, mereka ingin mengadopsi anak kamu apa kamu tidak keberatan?"

__ADS_1


"Tidak Bu, saya sangat senang kalau ada yang mau merawat anak itu." Sulis pun langsung menunjukan wajah bahagianya.


"Baikalah akan aku hibungi salah satu dokter itu." Dira pun menghubungi temanya yang barusan menanyakan anak pada dirinya.


*****


Di tempat lain.


"Ini serius Dok? Apa saya bisa lihat anaknya saat ini juga?" tanya Naqi yang barusan di hubungi oleh Dokter bahwa ada salah satu bayi yang bernasib kurang beruntung, dan kondisinya baru lahir juga.


"Boleh, ayo saya antarkan ke ruamah bersalin milik teman saya."


"Saat  itu juga Naqi langsung menuju rumah bersalin tempat anak yang akan menjadi pengganti Qinar. Cukup jauh dari kota Jakarta tempat Naqi tinggal, tetapi demi adik dan kebaikan keluarganya Naqi tetap tempuh.


Setelah hampir dua jam Naqi dan dokter Herman menyusuri jalanan akhirnya sampai juga di sebuah klinik yang tidak terlalu besar.


"Apa ini tempatnya Dok?" tanya Naqi heran pasalnya kliniknya sepi.


"Betul, ayo masuk!"


Naqi mengekor di belakang dokter Herman dan setelah memencet bel tiga kali, seorang wanita paruh baya membuka pintu saat ini  masih menujukan puluk tiga pagi sehingga orang-orang masih terlelap dalam tidurnya.


"Masuk Dok."


Lagi, Naqi hanya diam dan mengekor dua orang di depanya.


"Ini anaknya, dan itu ibunya." Bidan Dira menujukan bayi mungil yang sangat menggemaskan.


Air mata Naqi pun menetes, ia terlalu bahagia karena dari bayi ini masalah dalam keluarganya bisa diatasi.


"Hai Kinara, semoga kamu adalah jawaban dari doa-doa kami yah."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2