
"Terus aku berangkat naik taxi gitu?" tanya Jec dengan tatapan tidak mengerti maksud Qari.
"Apa bicaraku kurang jelas? Habis itu pulangkan Qila pada kami, jangan sampai dia lecet (padahal sebelum dibawa udah bonyok), jangan sampe dia sedih apalagi sampai kenapa-kenapa. Akan aku buat kamu masuk liang lahat," ancam Qari sembari mengacungkan sapunya. Tanpa menunggu lama taxi yang sudah di pesan pun datang, dan Jec tanpa membuang waktu langsung masuk ke dalam taxi tentu setelah pamit dengan Deon, dan Deon pun tidak bisa berbuat apa-apa dari pada Qari ngamuk lagi.
Meta pun melanjutkan buruanya, yaitu bakmi sultan pesanan sang istri. Sementara Alzam dia sejak tadi diam saja, terlebih setelah tahu kalau laki-laki yang datang ke rumahnya adalah Deon, dan bahkan wajah Deon Alzam baru mengenalnya karena adanya tragedi di pagi ini.
"Apa dia setiap hari datang kesini untuk menemui Qari?" batin Alzam.
"Sayang ayok kita masuk lagi, pagi-pagi sudah bikin gaduh saja," dengus Qari sapu tidak lupa di bawa, bisa-bisa Tantri marah kalau mau pakai sapu tidak ada.
Alzam mengikuti Qari, tetapi dalam pikiranya ada hal yang mengganjal. Bibirnya kaku ingin bertanya tentang laki-laki yang bernama Deon itu.
"Tantri kita berangkat sekolah sekarang ajah yah," ucap Alzam menghindari Qari yang Alzam sangka masih sering bertemu dengan Deon. Padahal Alzam sendiri tahu Qari selalu bersamanya mana mungkin bertemu Deon.
"Aku jadi bingung ngapain laki-laki itu tetap menemui istri orang, bukanya dia yang sudah meninggalkan Qari, dan membiarkanya menanggung semua ini, tapi kenapa ketika Qari sudah menikah dengan aku. Laki-laki itu seperti menginginkan Qari?" tanya Alzam dalam batinya, terlebih ketika kedua matanya menangkap pandangan mata laki-laki yang dipanggil Deon sangat berbeda dengan pandangan laki-laki lain. Sorot mata Deon sangat berbeda dan dia terlalu menunjukan kalau laki-laki itu mengagumi Qari.
"Kita berangkat sekarang Bang?" tanya Tantri yang bahkan makanan di atas piringnya masih cukup banyak.
"Iya," lirih Alzam tanpa menatap Qari, bahkan ia menghindari kontak mata dengan istrinya itu.
Namun, meskipun Alzam bersikap biasa saja, dan seolah tidak terjadi apa-apa. Qari tahu kalau suaminya itu cemburu pada Deon. Bibir Qari melengkung ke atas dengan sempurna, itu tandanya suaminya memang benar-benar mencintainya bukan hanya sekedar tanggung jawab. Meskipun untuk sementara ini Qari tahu suaminya sangat cinta pada dirinya.
__ADS_1
Kedua mata Qari mengerjap dengan genit dan tanganya di silangkan di depan tubuhnya, rasanya dia senang sekali kalau lihat Alzam cemburu seperti itu.
"Tidak sia-sia Deon datang kesini, dan hal itu membuat Alzam cemburu, dan pasti dalam pikiran Alzam dia ingin memiliki aku seorang ajah," gumam Qari, bahkan perutnya langsung kenyang setelah memikirkan Alzam yang cemburu itu. Bagi Qari yang penting kasih sayang Alzam biarkan diluaran sana banyak laki-laki yang memujanya yang terpenting dalam hatinya hanya ada Alzam seorang.
Kakinya melangkah ke kamar mengambil tas miliknya dan juga milik Alzam tidak ada yang membuat Qari lebih bahagia selain pagi ini. Di mana tadi sempat terkejut, takut dan khawatir kalau Deon akan membuat keributan, tetapi setelah semuanya aman, dan di berikan bonus Alzam yang cemburu Qari pun langsung tersenyum penuh kebahagiaan.
Setelah semuanya siapa Qari duduk di depan rumahnya sembari menunggu sang suami yang pulang setelah mengantar adiknya sekolah. Bibir Qari langsung menyunggingkan senyum manisnya setelah tahu kalau motor suaminya sudah terlihat.
"Bener-bener deh, suaminya masih kesal gara-gara ada laki-laki lain yang mencintainya, dia malah malah memberikan senyum terbaiknya. Siapa yang bisa marah coba," batin Alzam, yang meskipun dalam hatinya masih ada rasa kesal, dan cemburu akhirnya bibirnya di paksa tertarik juga memberikan senyum terbaiknya.
"Kangen..." Tangan Qari direntangkan dengan manja ketika tubuh Alzam berjalan mendekat padanya.
"Kamu marah?" tanya Qari dengan tubuh yang sudah memeluk Alzam dengan posesif.
"Kita langsung berangkat kan? Tidak ada lagi yang ketinggalan," ucap Alzam tangannya merain tas kerjanya, laki-laki itu sengaja tidak menjawab pertanyaan Qari itu. Biarlah marah, dan kecewanya hanya menjadi urusan pribadinya, biar Qari tidak perlu tahu. Toh laki-laki tadi datang sendiri ke rumahnya dan membuat keributan. Bukan Qari yang menginginkan mereka ada di rumahnya. Justru Alzam melihat kalau Qari juga terganggu dengan kedatangan mereka.
Qari menahan tangan Alzam yang hendak melangkah kembali meninggalkan Qari. "Katakan kalau kamu marah dan cemburu. Aku tidak akan berangkat kerja kalau kamu tidak berkata jujur dengan perasaanmu itu," ucap Qari dengan suara dan tatapan yang serius itu.
Alzam pun melakukan hal yang sama yaitu menatap Qari dengan serius. "Aku cemburu, dan marah, juga kesal ketika ada laki-laki yang dengan sengaja datang ke rumahku untuk melihat istriku." Alzam terus menatap kedua mata Qari dengan tajam.
Namun, justru Qari langsung matanya berbinar, bibir melengkung ke atas dengan gigi yang putih bersih terlihat. "Aku suka kamu cemburu," jawab Qari dengan manja.
__ADS_1
Alzam pun hanya menggeleng-geleng kepalanya. Ingin heran tapi ini istrinya yang bernama Qari. Kelakuanya sangat berbeda dengan orang kebanyakan.
"Kalau gitu ayo berangkat kerja, aku tidak mau gajihku di potong sama kakak kamu." Alzam langsung membuang pandanganya dan berjalan lebih dulu di depan Qari.
"Al, kamu tidak usah takut aku akan berpaling dari kamu. Aku hanya cinta sama kamu. Deon datang ke sini pun aku tidak tahu dan aku sama dengan kamu risih ketika mereka datang ke sini," ucap Qari dengan mengekor di belakang Alzam dengan kaki tidak kalah cepat mengayunya.
"Aku tahu," balas Alzam dengan singkat.
"Kalau kamu tahu kenapa kamu cemburu, kan kamu tidak usah cemburu, karena aku tidak akan pernah menanggapi perasaan Deon sedikit pun," balas Qari lagi ketika Alzam memasangkan helm di kepalanya. Meskipun sedang marah dan kesal hal kecil itu tidak pernah lupa Alzam lakukan.
"Qari aku laki-laki normal, dimanapun aku rasa laki-laki itu akan melakukan hal yang sama sepertiku kalau pasanganya ada yang mencintai di luar sana, terlebih laki-laki itu nekad banget datang ke rumah wanita yang dicintainya, buat apa? Wajar aku marah, wajar aku cemburu karena aku sayang sama kamu, dan hanya ingin memiliki kamu seorang diri bukan di bagi-bagi," balas Alzam dengan menatap kedua mata Qari dengan serius.
"Al, aku berjanji meskipun laki-laki itu datang padaku setiap hari, aku tidak akan pernah memberikan hati ini untuknya. Luka di dalam tubuhku sudah teralu besar yang dia tinggalkan, dan luka itu mengering dan sembuh oleh kamu, aku tidak akan membiarkan tubuhku terluka lagi dengan berdekatan dengan laki-laki itu. Biarkan dia datang mengawasiku karena justru yang terluka itu dia. Dia yang melukai tubuhnya dengan terus dekat denganku, bukan aku ataupun kamu." Qari mengatupkan kedua tanganya di wajah Alzam yang sudah banyak di tumbuhi bulu-bulu tipis. Itu memang permintaan Qari agar Alzam tidak membersihkanya karena bagi wanita hamil itu suaminya semakin keren dan macho dengan bulu-bulu halus yang ada di wajahnya.
Kedua mata Alzam masih menatap tajam pada mata Qari. Seolah laki-laki itu belum mengerti betul dengan arti ucapan istrinya itu.
"Deon datang menemui aku setiap hari dia sedang membuat luka di tubuhnya, karena aku yakin dia setiap melihat kita bermesraan adalah luka baginya, dan aku suka membuat dia terluka," jelas Qari lebih ringkas lagi, dan tentu nada genitnya tidak tertinggal.
Alzam mengejapkan matanya dan memberikan seulas senyum yang samar. Namun dalam pikiranya justru teringat dengan ucapan Doni, yang tiba-tiba tahu dengan sosok Deon.
'Apa yang dokter Doni tahu dengan Deon, rasanya dia tidak mungkin tahu begitu saja tanpa ada rahasia yang penting. Aku harus tanyakan pada dokter Doni, apa yang sedang ia ketahui tentang Deon,' batin Alzam sembari tanganya menarik gas, dan kuda besinya dengan halus melaju di atas jalan ibu kota yang sudah terlihat ramai, hal itu karena Alzam dan Qari berangkat lebih siang dari biasanya.
__ADS_1