Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 220


__ADS_3

Begitu mobil Jec melintas di hadapan Qila, wanita itu langsung bergegas menghampiri  laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya, dan ia bersiap akan menjelaskan kenapa dia bisa berdiri di depan rumahnya dengan Sam.


"Qila tunggu, kamu bisa langsung meminta pisah dengan suamimu itu?" Sam dengan cekatan menahan tangan Qila agar tidak menyusul Jec yang mana Jec setelah memarkirkan mobilnya kembali menghampiri Sam dan Qila. Padahal laki-laki itu tadinya akan menunggu Qila di dalam rumahnya, tetapi setelah melihat Sam semakin nekad laki-laki itu pun ingin menyidang keduanya yang mana dia juga ingin tahu dengan langsung versi Qila dan juga versi laki-laki calon pembinor itu.


"Apa yang dikatakan laki-laki itu benar Qila? Kamu ingin meminta cerai dari aku? Apa kamu bisa sebutkan alasan apa, kenapa kamu bisa ingin cerai dari aku?" tanya Jec, dengan nada bicara yang tetap terlihat santai bahkan sangat santai kayak di pantai.


"Jelas dia tidak bahagia menikah dengan kamu." Justru yang menjawab Sam, di saat Qila sudah siap membuka mulutnya untuk menjawab apa yang Jec tanyakan.


Namun tangan Qila segera di gerak-gerakan sebagai simbol kalau yang Sam katakan itu salah. "Aku tidak pernah mengatakan seperti itu Sam? Kenapa kamu selalu membuat aku tersudut. Apa kamu senang kalau aku terlibat dalam masalah," balas Qila dengan menatap tajam pada laki-laki yang bernama lengkap  Samuel. Sam pun hanya diam ketika melihat kalau Qila membalas ucapanya dengan nada yang cukup tinggi.


"Jadi yang benar yang mana? Karena aku tidak mau membuat satu hubungan rusak. Aku sebelum menikah dengan Qila sudah memastikan kalau wanita yang aku nikahi tidak ada hubungan apa pun dan dengan siapa pun. Sehingga aku berani menikahinya, tetapi kalau pengamatan aku salah maka aku tidak akan mempertahankan hubungan yang hanya terpaksa," jawab Jec dengan yakin.


"Qila tidak bahagia menikah sama kamu, maka lepaskan dia!" Lagi, Sam yang menjawab ucapan yang seharusnya Qila yang membalasnya.


"Apa Qila akan bahagia kalau kamu yang menikahinya? Jangan sok hebat kalau kamu sendiri pernah memberikan sakit pada wanita ini," balas Jec tidak kalah tinggi dari suara Sam, bahkan jari-jari Jec sudah menujuk-nunjuk yang dalam kata lain itu dia sedang dalam tingkat kemarahan yang sangat tinggi.


"Sam, kamu bisa tidak diam. Ini masalah rumah tangga aku. Lagian aku tidak pernah bilang aku tidak bahagia dengan dinikahi oleh Jec. Kamu sendiri yang selalu berpikir seperti itu. Aku memang belum memiliki persaan lebih dengan Jec, tetapi aku bahagia menikah dengan dia karena dia laki-laki yang lembut, tidak kasar dan juga tanggung jawab. Bukan tidak mungkin cinta itu akan datang seiring berjalanya waktu. Lagi pula tidak ada alasan yang tepat aku untuk meminta cerai dari Jec. Toh selama ini dia adalah laki-laki yang baik. Kenapa aku harus meminta cerai dari laki-laki yang baik?" balas Qila dengan terus terang membela Jec.


Sehingga Jec pun sedikit besar kepala, meskipun tidak memungkiri dalam dirinya bongkahan kemarahan masih ada.


"Bisa Anda dengar sendiri Tuan Dokter yang terhormat. Cinta bisa datang seiring berjalanya waktu tinggal bagaimana kita mempelakukan wanitanya, dan juga cinta bisa pudar dengan berjalanya waktu apabila ada pengganti yang jauh lebih baik dari pasangan sebelumnya. Jadi lebih baik Anda fokus dengan pekerjaan Anda. Jangan urusi lagi yang bukan urusan Anda," balas Jec yang langsung meninggalkan Sam, dan dengan cekatan Qila juga bersiap menyusul Jec.


"Sam Mohon maaf kamu pulang saja, biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku. Mohon maaf kalau ada kata dari aku atau Jec yang menyakiti kamu. Itu semua karena kita sudah tidak mungkin bersama-sama lagi, aku sudah menikah dan kamu pasti akan dapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku," ucap Qila tanpa menunggu jawaban dari mantan kekasihnya. Wanita itu langsung meninggalkan Sam dan menghampiri Jec. Ada rasa syukur karena Jec tidak terlalu marah dengan dia, bahkan Jec membela di dalam kata lain Qila sudah merasa selamat.


"Duduk!!!" ucap Jec, begitu Qila masuk ke dalam rumah. Dan sontak saja Qila yang tidak menyangka kalau Jec akan melanjutkan sidangnya pun cukup terkejut.


"Tuan, saya bisa jelaskan, saya dan Sam tidak ada hubungan apa-apa dan semua yang terjadi antara saya dan Sam hanya sebatas teman, dan apa yang saya lakukan tadi bukan karena saya ingin bertemu dengan Sam, tapi saya hanya ingin mengatakan pada Sam kalau saya tidak akan pernah cerai dari Anda," cerocos Qila, padahal Jec sendiri tidak mengatakan apa-apa selain ini.

__ADS_1


"Duduk! Dan jelaskan apa ini?" tanya Jec sembari memberikan pesan yang calon pembinor itu kirimkan. Dengan tubuh bergetar hebat akhirnya Qila pun duduk dan juga meraih ponsel Sam, dan membaca satu persatu yang nomor ponsel dengan nama Tim pembinor.


Kepala Qila menggeleng dengan kuat karena yang ada dalam pesan itu semuanya hanya di potong-potong seolah Qila masih mengharapkan Sam.


"Tuan, demi Tuhan saya tidak pernah berniat untuk bercerai dari Anda dan kembali pada Sam. Saya memang belum mencintai Anda tapi bukan tidak mungkin kalau saya nanti justru jatuh cinta dengan Anda, saya ingin Anda tetap menikahi saya. Saya akan berikan untuk Anda semuanya," ucap Qila dengan yakin, serta mata yang terus berkaca-kaca.


Jec pun tidak membalas ucapan Qila karena laki-laki itu juga bingung mau memulai dari mana. "Apa yang bisa kamu lakukan kalau kamu memang tidak sedang berekting di depan saya agar saya tidak menceraikan kamu," ucap Jec dengan pandangan mata lurus kedepan.


Cukup lama Qila tidak menjawab atas apa yang Jec tanyakan.


"Sudahlah, kamu istirahat saja, aku sudah lelah bekerja, jangan sampai aku jatuh sakit gara-gara masalah ini," ucap Jec dengan tubuh yang segera dia angkat. Namun, buru-buru Qila menahanya.


"Tunggu Tuan Jec, saya akan memberikan semuanya untuk Anda. Maukan Anda malam ini tidur dengan saya? Jujur saya ingin kita tidur satu kamar, satu ranjang, dan juga kita menjalani rumah tangga sebagai mana mestinya. Saya ingin berbakti pada Anda," ucap Qila dengan menunduk malu. Bahkan wajahnya sudah sangat merah dan juga tidak berani menatap Jec. Itu semua karena Qila terlalu takut kalau Jec akan menolaknya.


Sedangkan Jec dalam hatinya sudah berjingkrak hore-hore. Itu tandanya ia dan Tuan Deonya akan bersaing untuk membuat generasi penerus bangsa.


"Apa yang kamu katakan itu serius? Kamu tidak terpaksa? Karena aku tidak mau kalau kamu sampai terpaksa? Aku tidak ingin merusak masa depan anak orang," jawab Jec, tentu itu hanya akal-akalan laki-laki itu saja agar Qila sendiri yang memintanya untuk melayaninya.


"Yakin, Tuan. Saya sudah memutuskan ini dari jauh-jauh hari," ucap Qila dengan raut wajah yang makin memerah.


"Baiklah kamu boleh tidur di kamar aku, tapi ingat kamu tidak boleh menyesal apabila aku sudah melakukanya, karena itu tandanya kamu sudah resmi jadi milik aku, tidak ada lagi laki-laki pembinor itu," ucap Jec yang sangat senang melihat wajah wanita itu dengan malu-malu tapi mau.


Qila nampak diam untuk sejenak dan menghirup nafas dalam. "InsyaAllah saya siap Tuan," balas Qila dengan wajah masih menunduk malu.


Jec pun berjalan menuju kamarnya dan juga di susul oleh Qila yang mengekor dengan tubuh panas dingin dan juga tangan-tangan saling bertaut.


"Untung aku udah makan cukup banyak sehingga tenagaku cukup untuk membuat cerita baru di malam ini," batin Jec, dalam pikiranya dia sudah terbang melayang membayangkan malam panas yang akan dia lewati dengan Qila.

__ADS_1


"Aku mau mandi, kamu jangan tidur dulu, karena aku ingin membuktikan ucapan kamu," ucap Jec begitu masuk ke dalam kamar pribadinya. Sedangkan Qila mengernyitkan dahinya, tubuh wanita itu mengawasi ruangan yang sedikit berantakan bahkan pakaian kotor berserakan di atas kasur dan juga ada di atas sofa.


"Apa laki-laki itu nggak pernah membereskan kamarnya," gerundel Qila, wanita itu yang memang dulunya asisten rumah tangga pun tidak betah dengan kamar yang berantakan. Sehingga dia merapihkan pakaian yang bertentangan di mana-mana. Udah gitu seprei yang berantakan dan barang banyak yang tidak tertata rapi pada tempatnya.


Jec memang seperti itu giliran kerjaan Deon dia bisa kerjakan dengan baik, tapi kerjaan sendirinya dia malah asal saja.


Sementara Qila di dalam kamar merapihkan kamar sang suami yang berantakan, Jec sendiri di dalam kamar mandi, sedang membersihkan tubuhnya mempersiapkan lembur untuk nanti malam.


Setelah hampir satu jam mandi dengan bersih laki-laki itu pun ke luar dengan tubuh yang jauh lebih segar.


"Qila kamu ngapain?" tanya Jec dengan heran ketika wanita yang dia kira sedang bersiap untuk lembur justru tengah memegang sapu dan juga ada alat pelan di sampingnya.


"Aku sedang membereskan kamar Anda berantakan sekali, bahkan pakaian kotor Anda tidak di tempatkan di tempat pakaian kotor di biarkan berantakan. Saya tidak betah melihatnya makanya saya rapihkan saja. Apa  Anda tidak suka?" tanya Qila dengan santai.


"Bukan, bukanya tidak suka. Lanjutkan setelah itu kamu cepat layani aku. Bukanya kamu yang mengatakan mau melakukan apa pun dengan aku," ucap Jec mengabaikan Qila dan memakai pakaian di hadapan wanita itu hingga Qila sendiri menutup matanya karena tidak biasa melihat laki-laki berganti pakaian di hadapanya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Jec ketika melihat Qila menutup wajahnya dengan telapak tanganya.


Qila dengan semangat langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan tidak suka, lebih kurang nyaman saja," balas Qila. Namun, dengan sekuat tenaga wanita itu bersikap biasa saja. Toh siap atau tidak sudah jadi hal yang lumrah seorang istri melayani suaminya.


"Ok, baiklah aku tunggu kamu." Jec duduk di atas kasur yang sudah rapih dengan meluruskan kakinya dan juga tatapan yang terus mengawasi Qila yang sedang membersihkan kamarnya.


Jec akui wanita yang sudah menyandang sebagai istrinya memang sangat rapih. Bahkan Jec akui kamarnya jadi lebih nyaman sejak dirapihkan oleh sang istri. Parfurm dan alat-alat lain yang berada di atas meja rias tersusun dengan rapih bahkan tidak ada lagi pakaian yang berserakan.


"Lumayan juga punya istri, kamar jadi nyaman," gumam Jec dalam batinya, dan sekarang dia tinggal membuktikan ucapan Qila apakah ucapan Qila itu benar adanya atau justru hanya isapan jempol semata.


#Cie yang mau belah kedondong...

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2