
Plaakkk... Qari memukul tangan Alzam yang sedang asik bermain di atas Bukittinggi yang menggoda, Qari juga mendorong tubuh Alzam hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.
"Jangan macam-macam kamu Deon!! Atau kamu pengin aku bu-nuh?" tanya Qari dengan suara gemetar dan wajah yang terlihat penuh emosi.
"Deon...!!!"
Qari langsung menajamkan pandanganya, ruangan ini remang-remang sehingga Qari tidak begitu melihat siapa gerangan yang tadi menggera-yangi tubuhnya, tetapi rasanya tidak mungkin apabila Alzam. Namun, suara yang ia dengan tadi adalah suara Alzam. Qari pun semakin bingung.
"Ka... kamu siapa?" lirih Qari sembari matanya terus di gosok-gosok ada rasa takut yang teramat kalau laki-laki yang ada di hadapannya adalah Deon yang bisa saja menculiknya dan kembali menjebak Qari. Otaknya di putar kejadian di mana dia sebelum tidur.
'Tidak-tidak mungkin dia adalah Deon, Deon itu belum sembuh, dia pasti masih terbaring di rumah sakit,' batin Qari.
"Sayang ini aku. Alzam, suami kamu." Alzam pun akhirnya buka suara meskipun dia ada rasa heran dan bingung kenapa bisa Qari menyebut Deon.
'Deon siapa? Apa Deon adalah laki-laki yang sudah membuat Qari kecewa dan bersedih,' batin Alzam bingung.
"Alzam..? Masa kamu melakukan itu, bukanya kita...." Qari tidak melanjutkan ucapannya karena Alzam lebih dulu membekap bibir Qari dengan bibirnya.
Qari masih mematung bingung. Tanpa membalasnya.
Tangan Qari reflek mendorong tubuh Alzam lagi yang terus menin-dih tubuhnya dan bibir mereka salin bersilahturahmi.
"Alzam apa yang kamu lakukan, bukankah kita tidak bisa melakukan ini? Nanti kalau Kakek tahu gimana, bukanya kamu takut dosa? Sadar Alzam apa yang kamu lakukan itu dosa besar," lirih Qari dengan perasaan yang semakin tidak karuan.
__ADS_1
Di Satu sisi Qari wanita dewasa juga mendambakan sentuhan dari laki-laki yang sangat dicintainya tetapi di sisi lain juga Qari takut kalau justru hubungan mereka mendatangkan musibah dari pernikahan mereka.
"Kakek? Justru Tuan Latif sudah memberikan lampu hijau," jawab Alzam dengan tersenyum bangga sontak Qari langsung tercengang dengan apa yang Alzam katakan.
"Kamu serius Sayang, kalau Kakek sudah mengizinkan dan itu tandanya ini adalah bulan madu kita," pekik Qari wanita itu justru kali ini terlihat sangat bahagia, dan Alzam yang bingung dengan reaksi Qari pun hanya mengangguk dengan bingung.
"Iya... aku tadi sudah bertanya pada Tuan Latif katanya kalau menurut pendapat Imam Syafi'i boleh melakukan akad nikah perempuan yang hamil dan boleh juga berjimak denganya setelah akad, tidak perduli laki-laki itu adalah laki-laki yang mengzinainya ataupun tidak." Alzam langsung menghentikan ucapannya, karena telunjuk tangan Qari yang sudah diletakan di depan bibirnya.
"Kita melakukan malam ini," ucap Qari. Kali ini wanita nackal itu yang menguasai permainan. Ia melakukan hal yang sama seperti tadi yaitu menyatukan bibir mereka dan mengulanginya hingga atmosfir udara ruangan yang awalnya sejuk kini menjadi panas.
Alzam yang baru pertama kali akan mencoba malam penuh keindahan pun sedikit harus menyesuaikan dengan Qari yang ternyata lebih lihai untuk urusan memu-askan lawan jenis. Tubuh mereka yang awalnya berbalut pakaian dengan rapih kini mereka sudah saling melepaskan pakaianya.
Hemzz.... suara-suara yang membangkitkan gairah mulai lolos dari bibir Qari, bukan hanya Qari yang menyumbang suara merdu tersebut tetapi Alzam pun seolah tidak ingin kalah laki-laki itu menjambak rambut Qari ketika sang istri mulai menunjukan kepiawaiannya.
"Kamu adalah milikku Qari, akan tetap menjadi milikku," ucap Alzam dengan suara tersenggal, setelah pencapaianya, tubuhnya ambruk di permainan pertama.
"Jangan lakukan ini lagi, karena aku bisa saja menghukum kamu lagi dasar istri nackal." Alzam menahan tangan Qari yang sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Menjelajah di atas dadanya hingga kembali menyusuri jejak setiap area sensitifnya.
"Aku menyukai hukuman seperti tadi," lirih Qari dengan mendesis tepat di balik telinga Alzam. Nafas hangatnya membuat bulu kuduknya kembali meremang sempurna.
"Kalau begitu jangan salahkan aku kalau malam ini kamu tidak bisa tertidur." Alzam kembali menyusuri tubuh mulut Qari, meskipun nafas mereka masih sama-sama tersengal menandakan rasa cape yang masih menguasainya, tetapi seolah mereka adalah anak muda yang sedang di guyur dengan rasa penasaran yang teramat kuat kini Qari dan Alzam mengarungi lautan malam yang indah dengan berbagi kenik-matan yang nyata.
Ahhhh... lingkungan panjang terdengar dari bibir Qari hal itu membuat Alzam semakin mempercepat gerakan di bawah sana, bahkan sang clon papah muda lupa pesan sang kakek. Untung anak Qari adalah titisan dirinya yang mungkin malah dia senang ketika di bawah sana ada yang mengajaknya bermain gerobak sodok.
__ADS_1
"Alzam..." suara yang membuat bahan bakal laki-laki yang tengah dipenuhi dengan gairah kembali meningkat....
Hmzzz.... Kini giliran Alzam yang mencapai pelampiasannya.
Cup... satu kecupan mendarat di atas perut Qari yaang semakin terlihat membuncit.
"Maafkan Papah yah, Papah khilaf, tetapi lebih Khilaf lagi Mommy kamu dia yang selalu mengganggu Papah untuk melakukanya terus menerus," bisik Alzam di atas perut Qari. Dan hal itu membuat Qari terkekeh.
"Tenang saja anak kamu pasti senang karena ada yang mengajaknya bermain terus. Malahan tadi bilang sama Momynya, besok Papahnya diminta bermain lagi, ketagihan dia," bisik Qari dengan terkekeh.
Alzam pun mencubit hidung Qari dengan gemas. "Lutut saja masih berasa ngilu sayang sudah ditagih lagi," lirih Alzam sembari membawa Qari ke dalam pelukannya.
"Ini anak aku yang mau Sayang, kalau Momynya justru malu buat melakukan ini semua. Kamu tahukan kalau aku itu sebenarnya pemalu," kekeh Qari kembali membenamkan wajahnya di dada Alzam, ia tahu kalau sebentar lagi pipi atau hidungnya akan tidak aman dari tangan jahil suaminya.
"Ya udah bilang sama Momy kamu Baby, kalau besok pengin Papah bermain sama kamu lagi, hari ini tidak ada panjat tebing. Pilihannya hanya satu. Malam kita bermain atau panjat tebing, dan tentu malam harinya bobo dengan damai," ucap Alzam sembari mengusap perut Qari, hal itu langsung membuat Qari kembali mengangkat wajahnya hendak melayangkan protes.
"Kenapa memberikan pilihan yang sangat sulit?" tanya Qari dengan wajah yang memelas.
Alzam terkekeh dan membiarkan Qari dengan kebingungannya menentukan pilihan yang Alzam berikan.
"Sayang, apa tidak ada penawaran yang lain. Sejenis keringanan gitu?" rengek Qari dengan menggoyang-goyang tubuh polos Alzam yang sudah terbungkus selimut tebal.
Alzam yang masih setengah sadar menggelengkan kepalanya dengan lemah.
__ADS_1
"Ya Tuhan kenapa pilihannya sulit sekali," gerutu Qari dan hal itu masih bisa di dengar oleh Alzam. Laki-laki itu pun terkekeh dibalik selimutnya.
...****************...