Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 63


__ADS_3

Dirumah sakit, seperti yang Qari duga, bahwa Deon mendapatkan laporan atas kegiatanya seperti pagi ini di mana pasangan suami istri itu nampak sangat bahagia, terutama Qari dari wajahnya yang berseri, dan santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Gigi-gigi Deon saling beradu, kesal, marah dan kecewa dengan wanita yang bernama Najma Qarina Orlin itu. "Apa dia tidak sedikit pun merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat padaku," desis Deon.


Jec yang sejak tadi ada di ruangan yang sama dengan Deon. Mengerjakan laporan yang sudah menggunung, Sebagai pembisnis yang sudah memiliki tempat yang tinggi Deon sebenarnya sangat gampang untuk menyingkirkan kutu seperti Qari dan Alzam, tetapi misinya Deon yang terlalu di buatnya bingung.


"Apa rencana mereka saat ini Jec?" tanya Deon.


Setelah menerima laporan dari mata-mata yang menjadi CCTV yang mengawasi Qari hampir dua puluh empat jam, Qari selalu dalam pantauan anak buat Deon. Dan Qari juga kalau mau bisa pindah ke rumah yang lebih aman, tetapi lagi-lagi wanita itu justru merasa tertantang dengan Deon, dia justru ingin menghukum  Deon dengan apa yang bisa membuat Deon sakit sendiri tanpa Qari menyentuhnya. Hati. Yah, Qari akan memanfaatkan hati Deon yang sudah mulai tercemar dengan virus cinta. Meskipun Qari tetap memiliki resiko atas apa yang ia lakukan, tetapi wanita itu lagi-lagi tertantang dengan semua yang dilakukanya akan menghukum Deon.


"Saya belum memiliki bocoran rencana Tuan. Qari itu sulit di tebak, bisa saja kita tebak langkah A dan ternyata yang sesungguhnya sedang dia lakukan adalah rencana C. mungkin saja dia saat ini sedang liburan tetapi yang sesungguhnya adalah dia sedang  memiliki rencana sesuatu," balas Jec.


Padahal Jec sudah mengawasi Qari dan dia tahu sifat Qari seperti apa tetapi Jec tidak ingin memberi tahu pada Deon. Alasanaya bukan ingin membela Qari dari Deon. Namun, Jec tidak mau kalau Deon itu terlalu terlibat dalam urusan Qari. Jec berpikir apabila Deon semakin berinteraksi terus dengan Qari maka laki-laki itu menjadi lemah dan bodoh. Maka itu Jec memilih tidak terlalu memata-matai Qari dengan tujuan Deon  agar tidak berinteraksi lebih dengan Qari. Otak Deon harus terus berpikir pinta, jangan bodoh hanya karena wanita.


Bagaimana tidak setiap berinteraksi dengan wanita itu pekerjaan Deon semakin bertambah dan itu sebabnya Jec menggunakan cara licik ini, agar Deon bisa fokus bekerja, dan tidak gila dan dibudakan oleh cinta yang bikin orang-orang lemah. Hanya cinta yang bisa menghancurkan cinta. Oleh sebab itu Jec lebih baik memutus akses untuk cinta itu, dari pada bosnya semakin membuat masalah.


Selama Deon tidak tahu bahwa Jec sudah membuat batasan dengan Qari, maka semuanya akan aman, tetapi taruhanya adalah apabila Deon tahu kalau semua ini adalah campur tangan Jec, maka taruhan kemarahan Deon pada Jec yang akan membuat Jec terancam.


******

__ADS_1


"Kakak, Mamih dan Kakak Cyra ikut liburan juga?" tanya Tantri dengan wajah bahagia.


Qari meskipun sedang kurang mood, tetap bersikap ramah dan baik di hadapan Tantri. "Iya Sayang, kamu suka?" tanya Qari, dengan senyum ramah tidak ada yang menyangka kalau calon mamah muda itu sedang kesal sama sang suami yang melarangnya panjat tebing, dengan alasan hamil. Padahal banyak juga ibu hamil yang melakukan kegiatan yang berbahaya. Asal hati-hati dan tidak terlalu over, Qari yakin tidak akan ada apa-apa dengan kesehatanya, dan calon bayinya. Alzam saja yang terlalu parno.


"Yeh, terima kasih Kakak, sudah buat Tantri hari ini senang banget, bisa piknik bareng keluarga. Tantri sudah memimpikan ini sejak lama loh," ucap Tantri dengan memeluk tubuh Qari wajah gadis kecil itu tidak bisa dipungkiri sangat bahagia, sehingga tidak ada alasan untuk Qari dia tidak merasakan bahagia juga.


Qari pun membalas pelukan adik iparnya, dan rasa kesal pada suaminya hilang seketika. Ketika melihat adiknya senang.


Qanita turun menghampiri Qari dan Tantri yang masih berpelukan. "Mamih iri dengan kalian, kenapa tidak ajak Mamih untuk ikut berpelukan," lirih Qanita mengagetkan dua adik kakak yang sedang akur-akurnya.


"Ah, Mamih ganggu ajah," dengus Qari, tetapi tanganya langsung di rentangkan memeluk wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya, sedangkan Cyra hanya mengabadikan dari dalam mobil menggunakan benda pintarnya.


"Kamu nggak ikut berpelukan, biar Mas yang foto," ujar Naqi sedikit banyak tahu kebiasaan wanita kalau kumpul selalu mengabadikan momen dengan benda pintarnya lalu di posting ke sosial medianya.


Setelah saling berpelukan dan saling berkangen-kangenan, kini rombongan mereka, pergi ke pesisir pantai untuk tujuan mereka berlibur, dan tentunya selama dua hari mereka akan gunakan untuk istirahat dari aktifitas kantor. Tantri setelah dirayu akhirnya ia naik mobil Naqi dan Cyra, untuk teman mamih Qanita, biar bisa saling mengobrol, dan ternyata mereka sangat akur dan terlihat kompak, baik Tantri maupun Qanita.


Yah, Qanita sangat senang karena wanita itu seperti memiliki anak kecil lagi, dan yang paling bikin senang adalah Tantri lebih manis perlakuanya, dari pada anak perempuan sesungguhanya, di mana tubuhnya perempuan, tetapi kelakuanya sebelas dua belas dengan Naqi, malah lebih bar-bar adik'nya dari pada Naqi sendiri.


Didalam mobil masih terjadi kebisuan, dan sang istri yang ceritanya sedang merajuk pun hanya pura-putra tidur, dan Alzam pun membiarkannya. Alzam hanya ingin melihat sejauh mana Qari bisa marah dengan dirinya, mungkin juga sekaligus akan memberikan kejutan, karena ternyata dalam liburan ini mereka akan banyak bermain alam. Hal yang sangat Qari senangi, memang wanita ini dari dulu lebih suka dengan kegiatan yang berbau tantangan. Sehingga Alzam setelah bernegosiasi dengan mamih mertua dan tentunya kakak ipar akan membawa ketempat yang pasti bakal bikin Qari baikan lagi dengan Alzam.

__ADS_1


"Kamu kok diam ajah sih." Suara emas Qari akhirnya keluar juga, memecah kebisuan di dalam mobil yang terlihat seperti orang yang tidak saling kenal.


Alzam menatap Qari yang sedang bersedekap, tetapi wajahnya masih di bikin seolah wanita itu ingin memberi tahu pada dunia bahwa ia sedang merajuk parah.


"Ya terus aku harus gimana, kan istri aku lagi marah dengan aku. Nanti kalau aku tambah berisik malah aku yang di turunin di tengah jalan," balas Alzam pandangan masih lurus ke depan, menatap jalanan yang mulai padat merayap karena menjelang akhir pekan untuk mencapai tempat wisata agak sedikit ada peningkatan volume kendaraan.


"Ih... kamu mah ngeselin. Dirayu gitu kalau istrinya marah atau merajuk," dengus Qari sembari memukul pundak Alzam gemas.


"Ah... enggak dirayu juga baik-baikin, ini buktinya," balas Alzam, telunjuknya memberi kode pada pipi, agar Qari menciumnya.


Namun, sang istri kayaknya kembali merajuk lagi, sehingga pura-pura tidak paham akan kode itu.


"Ih... calon Mamud, cium dong. Butuh vitamin nih, sopir juga butuh vitamin, biar nggak ngantuk. Perjalanan masih panjang kalau pasokan vitamin berkurang, takut ngantuk di tengah jalan," goda Alzam dengan tangan jahil, menoel-noel Qari yang berpura-pura ngambek.


"Baiklah kalau tidak mau nurutin nanti tidak boleh naik panjat tebing," lirih Alzam, dan Qari langsung menoleh pada Alzam dengan wajah berbinar bahagia.


"Mana lagi yang harus di cium?" tanya Qari dengan antusias, dan bahkan pipi Alzam sudah banyak cap bibir, terlebih sang mahmud sengaja menambah lipstik berwarna merah terang untuk memberi tanda bahwa laki-laki yang ada di sebelahnya sudah punya pawang.


*******

__ADS_1


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Alzam dapat vitamin, yuk mampir ke novel Bertie othor yah, jangan lupa ramaikan....



__ADS_2