
"Ngomong-ngomong Anda siapanya pasien?" tanya Doni (Dokter yang menangani Alzam) dengan serius, ketika ada seorang pria yang belum ia kenalnya, meminta berjanjian dengan dirinya, dan ternyata dia sedang mengorek informasi mengenai Alzam.
"Sepertinya tidak harus tahu dengan detail, yang jelas Alzam itu ada salah dengan bos kami," jawab Jec dengan ketus. Di mana saat ini Doni sedang berada di dalam satu ruangan khusus yang di pesan di sebuah restoran dengan aneka olahan dari negara matahari terbit yang terkenal dengan makanan dengan ciri khas yang masih mentah.
"Kalau begitu saya juga tidak perlu memberitahukan apa yang terjadi pada Alzam kan Tuan," ujar Doni lagi, laki-laki yang berprofesi sebagai dokter spesialis kangker pun mencoba tidak terpancing dengan Jec. Sang dokter seolah tahu betul kalau laki-laki yang mengajaknya bertemu itu ada niat yang kurang baik terhadap Alzam, dan hal ini dedikasinya sebagai seorang dokter tengah di perjuangkan.
Jec menyodorkan uang yang hampir berisi satu koper, dengan nominal satu milliar tepat di hadapan Doni. Sang laki-laki yang mengenakan kemeja pendek dengan penampilan yang santai tetapi rapih pun hanya bisa tersenyum dengan seulas senyum yang sulit diartikan.
"Katakan dengan jujur apa mau kalian, aku tidak banyak waktu," ucap Doni dengan tatapan yang meremehkan pada Jec dan dua orang yang ada di belakang Jec.
"Kita ingin menawarkan kerja sama," balas Jec, ia bingung mau berkata dari mana tetapi dia juga tidak bisa membuat penolakan.
"Bicara yang jelas kerja sama apa? Aku lihat dari nominalnya yang tidak sedikit ini, maka kerja samanya resikonya tinggi," balas Doni yang hanya ingin mengecek keseriusan laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Pasien tadi sakit kangker? Bos kami ingin pasien itu mengalami sakit yang sama."
__ADS_1
Meskipun sang dokter sudah berpikir bahwa kerja samanya adalah sebuah yang berisiko tinggi, tapi sang dokter tetap kaget dengan apa yang dikatakan oleh Jec.
"Anda tahu kerjaan ini bukan hanya dosa, melanggar kode etik kedokteran, sumpah dokter, dan beresiko besar dan ini adalah pembunuhan berencana Tuan. Saya MENOLAK!!!" ucap sang dokter dengan mata yang melebar sempurna. Seolah tengah menantang Jec.
Jec hanya diam mematung. Yah Jec sudah tahu resikonya. dan juga sudah tahu apa jawabannya, tetapi tanpa adanya bukti yang kuat Deon akan terus menekan Jec untuk terus melakukan apa yang dia minta termasuk rencana gila yang ini. Jec sengaja merekam pembicaraan itu untuk bukti pada Deon.
"Ngomong-ngongong siapa nama Anda?" tanya Doni.
"Anda tidak perlu tahu Dokter," jawab Jec yang mana ia tahu sang dokter bertanya seperti itu hanya ingin tahu siapa orang yang ada di belakang Jec yang ingin mengajak kerja sama, yang sudah ditolak oleh Doni.
"Alzam, aku mengenalnya sudah dua tahun silam, dia adalah laki-laki yang hebat, abang yang hebat untuk adiknya. Semangatnya luar biasa kuat untuk sebuah kesembuhannya. Lalu saya patahkan semangat dengan kerja sama kalian. Mungkin andai saya mau menerimanya saya adalah orang terjahat di dunia ini. Tanpa saya suntikan sel kanker, beliau juga tetap akan beresiko terkena kangker, dan hari ini beliau datang menemui saya, dengan semangat yang besar ingin sehat." Doni tidak melanjutkan kata-katanya, hatinya sakit ketika menceritakan perjuangan Alzam yang sangat luar biasa ingin kesembuhannya. Tidak perduli dia dicibir dengan kaki yang cacat, dia tetap berdiri tegap dan menunjukkan pada dunia, bahwa bahagia tidak pernah memandang fisik.
Dengan fisiknya yang seadanya laki-laki itu tetap bisa merengkuh bahagianya. Andai hal itu terjadi pada orang lain Doni tidak yakin kalau orang itu masih bisa bertahan dengan sakit yang tergolong ganas itu, seperti yang Alzam alami. Tindakannya tepat meskipun resikonya ia akan dipandang dengan aneh dan sebelah mata karena kakinya yang cacat itu.
"Baiklah kalau Anda tidak mau bekerja sama, saya akan sampaikan jawaban Anda pada bos kami, dan terima kasih atas waktunya, dokter Doni," ucap Jec mengakhiri pertemuannya yang sudah jelas tidak menemukan kesepakatan.
__ADS_1
Doni membalas dengan senyum yang ramah ia sudah sangat mempertimbangkan dengan apa yang terjadi pada dirinya di mana ia sangat yakin dengan keputusannya meskipun mungkin saja resikonya akan sangat tinggi untuk keselamatan dirinya, dan mungkin teror-teror kecil akan menyambangi nya.
"Ini kartu nama saya, mungkin Anda nanti akan berubah pikiran," ujar Jec, dengan tangannya mengajurkan satu buah kartu nama atas nama dirinya.
Doni mengambil kartu itu dan mengamatinya membaca dengan teliti nama yang tercantum di kartu nama tersebut. Lalu tangannya langsung menyobek kertas itu menjadi sobekan-sobekan kecil yang sudah tidak bisa dikenali lagi nomornya. "Maaf Tuan Jaka (Jec) , keputusan saya sudah bulat dan sampai kapanpun saya tidak akan mengubah keputusan saya. Saya akan tetap menolak kerja sama dalam bentuk apapun. Dan uang itu saya saranin lebih baik di bagian ke anak-anak kurang mampu mungkin akan mengurangi sifat iri bos Anda itu." Deon beranjak berdiri lebih dulu dari pada Jec.
"Salam untuk bos Anda. Deon Irwan Cakhrabellamy sang pewaris tunggal dari perusahaan raksasa PT. Metropolitan B.J (Bellamy Jaya)." Doni langsung pergi meninggalkan Jec, yang Doni ketahui saat ini sedang bingung kenapa Doni bisa tahu siapa bosnya, padahal sudah susah payah Jec merahasiakan siapa bosnya yang ingin mengajaknya bekerja sama.
Benar saja Jec saat ini sedang terkejut hingga ia telat untuk memberikan respon atas apa yang ia dengar.
"Tuan, tunggu." Jec, setelah sadar dengar apa yang ia dengar langsung mengejar Doni, sang dokter yang dengan tegas menolak kerja sama dengan dirinya. Namun, sial Jec sudah kehilangan jejak. Doni sudah pergi entah kemana.
"Sial, kenapa aku bisa kehilangan jejak. Ngomong-ngomong siapa dokter Doni itu, kenapa dia tahu nama bos dengan lengkap dan juga perusahaan bos?" gumam Jec, tetapi laki-laki itu kembali keruangan tempatnya berunding tadi uang berserta yang lainnya masih tertinggal di sana.
Jadi ceritanya selama ini orang-orang belum tahu siapa Deon dan perusahaan papahnya Deon belum diketahui dengan pasti selain orang dekat. Deon merahasiakan semuanya dengan alasan keamanannya.
__ADS_1
...****************...