
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, di mana di hari ini, Doni dan Iriana sebagai istri sah tuan Irwan pemilik perusahaan PT. Metropolitan Bellamy Jaya, yang bergerak di bidan penyewaan gedung-gedung perkantoran dan juga beberapa perumahan kelas menengah ke atas, dan masih banyak lagi anak persahaan yang berdiri atas nama Bellamy.
"Doni kenapa kamu sedih sekali, seharusnya kamu bahagia, karena di hari ini kamu akan di kenal oleh banyak orang dan kamu juga akan di ketetahui oleh publik kalau kamu adalah pemilik perusahaaan yang sah sebeum nanti kamu bagi lagi harta itu dengan adik tiri kamu. Itu juga kalau kamu mau membaginya," ucap Iriana sembari mengambil makananya di atas piring.
Doni menatap ibunya dengan perasaan campur aduk. Hatinya sedang patah, itu semua karena penolakan yang Gatot lakukan. Bahkan gadis itu dengan terang-terangan menolak mau dia nikahi bukan hanya menolak, tetapi caranya yang ingin memberikan pelajaran dan tidak ada pilihan lain dengan memecatnya justru gadis itu dengan terang-terangan lebih memilih di pecat dari pada harus, menikah dengan Doni.
Yang membuat Deon kesal adalah dia sekarang tidak bisa mengejar cintanya karena kemarin gadis itu dengan yakin akan pulang ke kampung halamanya. Sedih dan menyesal itu yang Doni rasakan saat ini, hingga laki-laki yang berprofesi sebagai dokter tidak nafsu untuk menikmati sarapanya, bukan hanya itu bahkan semalah ia tidak nyenyak tidur, gara-gara memikirkan nasib Gatot. Ia tidak bersungguh-sungguh memecatnya.
ini adalah kali pertamanya ia merasakan hal semacam ini, sebelumnya ia tidak pernah merasakan rasa yang aneh seperti ini, dia adalah laki-laki yang selalu di kejar-kejar perempuan, bukan dia yang selalu mengejar-ngejar perempuan. Namun, mulai hari kemarin perinsif itu telah hilang sudah.
Laki-laki itu kemarin memohon agar Gtot tidak pergi meninggalkan dia. Sangat menyedihkan memang karena pada kenyataanya Gatot tetap pergi tidak mau menjadi istrinya.
Iriana pun yang sedang mengunyah sarapan sampai menghentikanya hal itu karen Doni yang justru melamun itu. Yah, Iriana sebagai orang tua yang pengertian pun tahu kalau putra tercintanya sedang jatuh cinta.
Cukup lama Iriana membiarkan Doni melamun hingga jam sarapan tinggal tiga puluh menit lagi.
"Sayang, apa yang membuat kamu sedih sampai makanan yang ada di atas piring kamu berubah menjadi bubur," lirih Iriana, sembari menepuk pundak sang putra agar tidak melamun lagi.
Doni pun langsung mengerjapkan kedua bola matanya berkali-kali. "Ada apa Mom?" tanya Doni seperti orang yang tengah kebingungan.
"Kamu kenapa, itu nasi kamu jadi bubur." Iriana menunjuk ulang nasi yang sudah Doni tekan-tekan dengan sendok menjadi bubur itu.
__ADS_1
"Astaga kenapa bisa begini," lirih Doni, bingung sendiri dengan kelakuanya. "Tapi Doni tidak lapar Mom, ayo kita berangkat," ucap Doni, tetapi buru-buru ditahan oleh Iriana.
"Makanlah barang beberapa suap. Harta Momy hanya kamu, kalau kamu sakit, Momy akan sangat sedih sekali." Tatapan Iriana yang tajam membuat Doni tidak bisa mengelaknya.
Laki-laki itu pun menyuapkan beberapa sendok kemulutnya dan setelah itu ibu dan anak itu pun menuju perusahaan papahnya. Andai bukan untuk kebaikan bersama sudah pasti Doni tidak mau melakukanya. Terlebih Doni juga mendapatkan kabar dari pengacara papahnya kalau Deon bersedia tidak mengganggu Alzam dan Qari lagi, sehingga ia tidak sia-sia melakukan ini semua.
******
Di tempat lain. Jec seperti biasa akan datang ke rumah bosnya setiap pukul enam pagi, untuk menyiapkan segala keperluan bosnya itu. Jec sendiri sudah dua hari ini mencari keberadaan gadis yang ia tabrak tetapi dia tidak menemukanya juga. Yah gadis itu menghilang begitu saja. Padahal Jec ingin meminta maaf, dan Jec juga akui tertarik dengan gadis pendek itu.
"Tuan ayo bangun. Ingat, hari ini adalah hari di mana Tuan Doni dan Nyoyah Diana akan datang dan memperkenalkan diri pada publik (Karyawan kantor pusatnya). Deon yang sudah beberapa kali dibangunkan oleh Jec pun akhirnya membuka matanya, dan menatap Jec dengan tatapan kesal dan marah, karena laki-laki itu sudah membangunkanya.
"Bisa tidak hari ini aku tidak masuk kerja, rasanya malas sekali kalau harus bertemu dengan laki-laki tengil itu," oceh Doni sembari menggaruk-garuk rambutnya dan bibir menguap, menandakan kalau dirinya masih mengantuk.
Deon menatap Jec dengan jengah, "Iya-iya gue bangun, bawel banget sih. Kenapa lama-lama loe itu lebih mirip emak-emak nggak kebagian bansos. Marah-marah terus," dengus Deon dengan suara yang kesal dan tentunya dongkol dengan Jec yang selalu mengaturnya.
Jec pun yang sudah biasa selalu disama-samakan oleh Deon sudah biasa hanya diam dan ia menyiapkan pakaian Deon dari pakaian luar hingga pakaian dalam, bahkan urusan menyiapkan pakain dia sudah sangat hafal. Mana yang menjadi warna kesukaan Deon dan mana yang paling tidak dia sukai, Jec sudah mencatatnya dengan rapih.
"Hari ini ada makan apa Jec?" tanya Deon, tumben sekali perusnya terasa lapar di pagi hari, biasanya ia di pagi hari akan mual dan tidak berselera untuk makan.
Jec pun nampak bingun dia bahkan begitu datang langsung naik ke kamar pribadi bosnya itu, sehingga tidak tahu masakan apa yang bibi siapkan. "Saya kurang tahu Tuan, soalnya begitu saya datang langsung masuk ke kamar Anda."
__ADS_1
"Pagi ini aku ingin makan martabak manis rasa red velvet dengan taburan keju yang banyak coba kamu cari Jec." Lagi, tanpa merasa bersalah dan tanpa ingin melihat Jec bahagia sejenak. Calon ponakannya yang masih di dalam perut langsung meminta martabak.
Jec langsung garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Tuan, ini masih pagi tukang martabak mana yang sudah buka? Apalagi itu martabak red velvet yang adonanya khusus tidak sembarangan tukang martabak jual dengan rasa itu," protes Jec dengan suara lebut, setengah ditahan dan dongkol di hati.
"Aku tidak mau tahu Jec kamu cari makanan itu, rasanya bibir aku sudah sangat menginginkan makanan itu," balas Deon dengan tidak tahu dirinya.
"Bukanya dari kemarin Anda setiap meminta makanan yang Anda inginkan selalu bilang seperti itu, tetapi pada ujungnya jangankan Anda memakanya, baru di buka saja Anda sudah menutup hidung Anda, karena aromanya tidak enak," lirih Jec, ia masih sangat ingat dengan kejadian malam-malam yang ia ingin cake dan pagi hari yang ingin makan mie tek-tek, tetapi tidak sedikit pun dimakannya, malam makanan yang Jec beli untuk dirinya sendiri yang habis di makan Deon.
Deon diam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh asistenya, Jec.
"Jec kamu merasa beda nggak sih dengan sifat aku yang seperti ini?" tanya Deon sembari menatap Jec yang sedang menyiapkan sepatu dan kaus kaki yang akan di akai oleh Deon.
Jec kembali menatap bosnya dengan bingung. "Maksud Anda apa?" tanya Jec dengan santai.
"Perasaan aku perhatikan sikap, dan hal yang aku alami belakangan ini seperti orang mengidam," lirih Deon dengan setengah termenung memikirkan apa yang telah ia lalui selama ini.
"Jec apa jangan-jangan Qari sedang hamil anakku?" tanya Deon dengan tatapan yang bingung.
Deg!!! Jec yang sedang menyiapkan kebutuhan Deon pun seketika mematung, kaget dan bingung Jec harus mengatakan apa, gimana kalau memang Deon curiga dan bencari tahu tentang kebenarannya.
"Jec, kenapa kamu diam? Apa diamnya kamu adalah, Iya?" cecar Deon semakin penasaran dengan tanggapan asistenya.
__ADS_1
Deon pikiranya semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan Qari, terlebih Deon juga merasa kalau Jec itu sedang menutupi sesuatu.