
Seketika itu Tantri menghentikan makananya, dan menatap Wajah Deon dengan tajam. Bahkan untuk melihat laki-laki yang ada di hadapanya Tantri seperti baru mengenalnya, tetapi wajahnya seperti tidak asing juga untuk Tantri. "Anda siapa? Kenapa berani sekali menjelekan kakak ipar saya," ucap Tantri dengan nada yang dingin, dan masih mencoba mengenali laki-laki yang sedang tersenyum dengan sinis.
"Menjelekan? Saya tidak menjelekan kakak ipar kamu gadis kecil, kakak ipar yang di mata kamu paling baik. Saya hanya ingin membuka fakta, bahwa kakak ipar kamu yang selama ini kamu nilai baik dan mencintai kakak kamu, itu hanyalah seorang wanita yang sedang berlindung di balik setatus istri Alzam." Deon menghentikan ucapanya, ketika melihat wajah bocah kecil itu memerah.
"Hentikan, kamu hanya orang jahat yang akan menghancurkan pernikahan abangku," pekik Tantri dengan wajah semakin memerah. Deon semakin tertantang, dan semakin senang untuk memancing kemarahan Tantri.
'Ternyata segini serunya membuat gadis kecil itu marah,' batin Deon sembari terkekeh.
"Anak yang dikandung kakak ipar kamu buka anak kandung Alzam. Abang kamu hanya dimanfaatkaan untuk menutupi..." ucapan Deon langsung dipotong oleh Tantri. Dengan wajah yang makin memerah Tantri membuat Deon makin menjadi-jadi.
"Setop....Aku tidak kenal kamu siapa. Berheti membuat berita bohong. Abang adalah ayah dari bayi itu, titik."
Tantri bersiap untuk beranjak dari duduknya. Bahkan rasa laparnya sudah hilang. Padahal dia sudah sejak lama ingin makan di restoran ini, tetapi karena ada Deon dia jadi kehilangan selera makanya.
Namun Deon buru-buru menahan tangan Tantri. "Duduk dulu adik kecil, aku ada bukti kalau anak kakak ipar kamu bukan anak Alzam." Deon merogoh ponselnya. Tantri yang penasaran pun duduk dengan kasar.
"Aku rasa ini sudah cukup bukti. Kalau kamu selama ini dibohongi oleh mereka," lirih Deon. Tantri pun dengan tatapan yang sangat mematikan menatap Deon sebelum gadis kecil itu meraih ponsel Deon dan memutar vidio yang ada di depan ruang pemeriksaan.
"Brakkkk.... "Ponsel Deon langsung di lempar begitu saja sampai hancur dan orang-orang pun langsung menatap Tantri dan Deon. Sementara Deon langsung tercengang ketika melihat ponselnya hancur. Sedetik kemudian Deon menatap Tantri yang terlihat sangat marah.
"Kenapa kamu buang ponsel itu. Apa kamu tahu berapa harga ponsel itu?" protes Deon dengan nada yang marah, karena ponsel mahalnya dengan entengnya dibuang oleh bocah kecil yang ada di hadapanya. Mata Tantri seketika menatap Deon dengan tatapan yang tajam dan memerah.
Seketika itu juga Deon diam. 'Gila nih bocah cilik, judes banget. Mana gara-gara dia gue rugi puluhan juta. Tapi nggak apa-apa setidaknya setelah ini Qari dan Alzam akan bertengkar dan Alzam tidak akan mendapatkan Qari, jadi kalau aku tidak mendapatkan Qari maka Alzam pun tidak,' batin Deon, sembari tersenyum bangga di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan bocah kecil? Semua informasi tentang Qari aku tahu semua," ujar Deon dengan nada yang meremehkan.
Tantri menyambar air minum yang ada di hadapanya. Gleekkk....glekkk... Tantri menghabiskan satu gelas air minum itu. Gadis kecil itu berkali-kali menghirup nafas dalam, dan mengeluarkanya dengan perlahan.
"Apa yang kamu tahu tentang kakak iparku?" tanya Tantri dengan tatapan yang membunuh.
"Semuanya, semua aku tahu," jawab Deon dengan percaya diri. Tantri menganggukan kepalanya berkali-kali.
"Kalau begitu kamu juga tahu siapa ayah dari anak yang dikandung oleh Kakak Ipar?" tanya Tantri dengan tatapan yang semakin tajam seolah Deon akan lari apabila Tantri berkedip.
"Oh sudah jelas, kalau tidak tahu mana mungkin aku datang untuk memberi tahu pada kamu apa yang terjadi, bocah kecil," balas Deon semakin percaya diri, apalagi melihat Tantri itu kalau marah cukup menyeramkan Deon yakin kalau rencana kali ini akan berjalan dengan lancar.
"Siapa laki-laki itu? Atau jangan-jangan laki-laki tidak bertanggung jawab itu kamu?" cecar Tantri, tetapi Deon yang melihat kalau Tantri akan berpihak pada Qari dan Alzam hanya diam saja.
Deon tidak bisa berkutik dia sudah setengah permainan tidak mungkin dia mundur. "Aku ingin anak itu jatuh padaku, dan Alzam meninggalkan Qari. Karena yang seharusnya menjadi ayah anak itu adalah aku," balas Deon tetap berusaha tenang meskipun dalam hatinya. Mengumpat gadis kecil yang ada di hadapanya yang terlalu pintar. Padahal dia masih kecil, tetapi permainan kata-katanya cukup tegas. Dan tidak takut untuk membalas ucapan Deon.
"Baiklah mau kamu Qari kembali pada kamu? Dan aku rasa memang kalian berdua pantas menjadi pasangan. Sama-sama jahat."
Byurrr....Tantri menyirakan jus jambu yang bahkan ia baru minum beberapa seruput saja. Karena Tantri merasa jusnya sangat enak sehingga ia memutuskan untuk meminumnya diakhir. Sayang kalau langsung habis. Namun, gara-gara kedatangan Deon yang tidak diundang, dan berakhir jus itu dia siramkan pada Deon.
Setelah Tantri berhasil membuat Deon malu, gadis kecil itu langsung pergi begitu saja. Sedangkan Deon tertawa sinis. "Adik, kakak, dan ipar sama saja. Gila," umpat Deon, tetapi tentu saja umpatanya tidak bisa di dengan oleh Tantri yang sudah pergi jauh.
Deon sendiri saat ini menjadi pusat perhatian pengunjung. Malu? Pasti apalagi yang mengalahkanya adalah anak kecil. 'Ponsel rusak, wajah pun disiram jus. "Kalau cara ini gagal juga, berati benar-benar Qari adalah manusia terpilih," gerundel Deon. Ia pun bangkut dari duduknya dan mengambil pecahan ponselnya, lalu membersihkan wajahnya.
__ADS_1
"Gue harus ganti baju, sebelum Jec curiga," gumam Deon. Bahkan bisa dibilang laki-laki yang pakaianya berlumur jus jambu paling takut pada Jec.
Yah, bagi Deon, sosok Jec itu sudah seperti ibu tiri semua dikomplain, dan lebih parahnya lagi. Apapun yang dilakukan oleh Deon itu hampir semuanya Jec tahu.
Brukkkk... Tantri menutup pintu mobil dengan kencang. Hingga sopir terkejut.
"Loh, kenapa Non?" tanya sang sopir karena Tantri terlihat sangat marah. Tantri sendiri hanya menggeleng dengan lemah.
"Tidak ada apa-apa Pak, kita pulang saja yah. Sudah tidak selera makan," balas Tantri. Gadis kecil itu sangat kecewa, terutama pada Qari dan juga Alzam.
"Pantas saja pernikahan Abang dan kakak ipar cepat sekali dan terkesan mendadak, ternyata ini toh jawabanya, dan semuanya pura-pura tidak tahu untuk membohongi Tantri," jerit Tantri di dalam batinya. Tantri benar-benar kecewa dengan kebohongan yang terencana ini.
Sepanjang perjalanan bahkan Tantri diam merenung, baru menyadari semua kejanggalan-kejanggalan yang ia temukan di pernikahan Alzam dan Qari.
"Kasihan sekali kamu Bang, selama ini hanya dimanfaatkan oleh keluarga itu. Kenapa Abang mau menerima pernikahan yang lucu ini, hanya untuk menutupi kesalahan laki-laki lain?" Tantri masih saja menyayangkan keputusan Alzam.
"Aku yakin pasti Abang diancam. Mungkin saja Abang akan dipecat kalau tidak menikahi wanita itu, atau malah diancam dengan ancaman yang lebih dari di pecat?" batin Tantri, dalam batinya seketika memanas membayangkan betapa tertekanya abangnya selama ini.
"Jadi romantis, dan kebahagiaan yang selama ini di perlihatkan hanya sebatas, sandiwara?" Tanpa terasa Tantri sampai meneteskan air matanya. karena berpikir kalau Alzam hanya dimanfaatkan oleh Qari.
Sesampainya ke rumah Tantri langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapa siapapun, hal yang sangat berbeda jauh dari biasanya, yang pasti akan jahil pada asisten rumah tangga di rumah mereka. Bahkan Tantri lebih betah berkumpul dengan asisten rumah tangga untuk bercengkrama dari pada di dalam kamar.
Namun hari ini begitu pulang sekolah langsung lari ke dalam kamarnya dan menangis, kecewa yang sangat luar biasa.
__ADS_1
"Apa yang aku harus lakukan agar Abang tidak terus-terusan terkekang dengan pernikahan palsu ini?"