Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 84


__ADS_3

Setelah cukup terhibur dengan melihat istrinya makan dengan lahap, dan itu tandanya sang istri menghargai makanan yang di belinya. Alzam kembali ke ruangannya, dan segera menyelesaikan sisa pekerjaannya, berbeda dengan Qari yang merasa kalau jarum jam berjalan semakin lambat seperti siput, Alzam justru kebalikannya dari Qari yaitu ia merasa jarum jam seolah tengah berlari, sehingga laki-laki itu bekerja  dengan cepat agar segera pulang juga. Alzam ingin mempersiapkan semua rencananya.


Sesuai yang direncanakannya. Ia ingin mengajak adik dan istrinya mencari rumah baru yang lebih nyaman dari saat ini mereka tinggal. Alzam  ingin memberikan yang terbaik untuk istri, anak dan juga adiknya. Sehingga mulai saat ini ia ingin membelikan rumah serta mobil untuk mereka agar jangan lagi menggunakan motor kemana-mana. Mungkin motor hanya akan ia pakai ketika sangat mepet.


"Sayang, ayo kita..." Alzam terkejut dengan kelakuan istrinya. Qari bukanya bekerja justru tertidur di sofa.


Mirna terkekeh ketika melihat Alzam. "Ngantuk katanya Al," kekeh Mirna. Tapi untungnya sang istri sebelum tertidur, sudah mengerjakan tugasnya hingga selesai. Sehingga tidak masalah sekedar merebahkan tubuhnya sejenak. Lagian memang seperti sudah menjadi hukum alam setelah makan hingga kenyang maka sisanya adalah kantuk, seperti yang saat ini Qari lakukan. Lagian bawaan hamil juga berefek banyak dengan setamina tubuhnya yang gampang lelah.


"Sudah lama Mir?" tanya Alzam sembari dagunya menunjuk sang nyonya, yang sedang tertidur dengan nyenyak.


"Belum paling juga lima belas menit," jawab Mirna. Alzam yang tadinya akan membangunkan Qari pun jadi mengurungkannya. Alzam meminta Mirna untuk pulang saja kalau sudah selesai sedangkan Alzam akan membiarkan Qari istirahat sampai satu jam ke depan. Kasihan pasti sangat lelah.


Sembari menunggu sang istri yang masih tertidur Alzam membuka-buka artikel-artikel mengenai sakit yang di deritanya, dan berapa besar peluang untuk kembali sakit itu akan tumbuh. Alzam tidak sabar menunggu waktu esok hasil  check upnya akan turun sehingga untuk membuat hatinya tenang Alzam membaca artikel-artikel yang ada di laman internet.


"Sayang... Sayang... bangun sudah sore." Alzam menepuk-nepuk pundak Qari dengan pelan untuk membangunkan istrinya. Memang Alzam juga melihat kalau Qari masih sangat lelah, tetapi hari yang makin sore memaksa Alzam untuk membangunkan Qari meskipun kasihan.


Qari mengerakkan kelopak matanya, tandanya wanita itu akan segera bangun. Bibir tertarik dengan sempurna, ketika pertama kali melihat Alzam. "Ini udah pagi yah Sayang?"  celoteh Qari dengan wajah yang sangat menggemaskan.


Siapapun yang mendengarnya akan terkekeh dengan pertanyaan Qari, termasuk Alzam yang saat ini bukanya menjawab pertanyaan Qari tetapi justru sedang terkekeh dengan renyah.


Qari mengernyitkan dahinya, sebagai tanda bahwa ia kurang mengerti dengan apa yang di maksud oleh Alzam. Matanya saat ini ia edarkan ke segala penjuru, tidak lagi menatap wajah sang suami yang makin hari semenjak menikah menjadi tambah ganteng.


"Astaghfirullah... kita masih di kantor," pekik Qari, kaget setengah mati, ketika wanita itu menyadari bahwa ia masih di kantor. "Ya ampun Sayang, gara-gara kekenyangan aku jadi ngantuk banget, malah ketiduran aku. Maaf yah, pasti kamu nunggu aku lama banget yah?" ringis Qari, dengan menunjukan senyum kudanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Sayang, lagian ini juga baru jam lima, kita hanya telat satu jam dari jadwal kita pulang biasanya," balas Alzam, dengan mengusap rambut Qari yang di bikin bergelombang tidak lagi lurus seperti biasanya. Alzam melihat semenjak hamil Qari menjadi wanita yang sangat  memperhatikan penampilannya, termasuk rambut dan juga wajahnya, Qari apabila ada jerawat atau hanya merah kecil di wajahnya sudah heboh.


Bukan hanya Wajah yang selalu jadi amatan Qari. Rambut pun hampir setiap hari gayanya selalu berbeda-beda. Dan apabila di tanya oleh Alzam, kenapa jadi senang bersolek? Qari akan menjawab dengan santai dan percaya diri. 'Biar suaminya tidak melirik wanita lain, jadi Qari harus jadi wanita paling cantik dihadapannya' Dan itu semuanya terjawab di mana Qari memang terlihat sangat cantik.


Deon mungkin kalau melihat penampilan calon mamud saat ini bisa makin kepincut, karena Qari memang  sangat cantik baru-baru ini semuanya harus sempurna, dari penampilan sampai parfum yang ia pakai harus super duper wangi dan rapih.


Setelah mencuci muka dan bergosok gigi. Kini Alzam dan Qari berjalan dengan bergandengan tangan menyusuri lantai demi lantai hingga kini mereka sudah berada di lantai bawah.


Seperti biasanya tangan Alzam dengan posesif selalu menggandeng tangan istrinya seolah ia benar-benar takut kalau Qari akan hilang kalau ia lepaskan gandengannya.


"Sayang menurut kamu kalau kita pindah ke rumah yang baru gimana?" tanya Alzam, seperti biasa ketika berangkat dan  pulang kerja mereka akan gunakan untuk sekedar ngobrol-ngobrol yang tidak terlalu penting, tetapi kali Ini Alzam berbicara dengan sangat pentingnya.


"Hah...?" Qari bukanya tidak mendengar apa yang  Alzam katakan, hanya saja Qari kaget dan heran kenapa tiba-tiba Alzam merundingkan soal pindah rumah.


"Alasannya?" tanya Qari, sebab Qari tahu, Alzam sendiri nyaman dengan rumah itu dan juga rumah itu terlalu banyak kenangan, tanpa pertimbangan yang matang Alzam sendiri berat meninggalkan rumah masa kecilnya.


"Sebentar lagi kita akan punya anak, rumah itu terlalu sempit kalau anak itu lahir, dan pasti anak kita juga butuh arena buat bermain dan juga tempat yang lebih nyaman lagi," balas Alzam, dengan alasan itu pati Qari akan merasa kalau memang yang diucapkan Alzam seperti itu adanya.


"Aku terharu kamu sudah memikirkan sampai sejauh itu padahal aku saja usia kehamilannya baru akan menginjak empat bulan. Masih banyak waktu untuk memikirkan itu Sayang." Qari bahkan sampai bingung mau mengucapkan terima kasih dalam bentuk apa lagi. Alzam selalu mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Padahal Qari sendiri tidak masalah sampai punya anak tinggal di rumah sederhana itu.


"Justru itu sayang, mumpung kehamilan kamu masih tergolong kecil, kalau sudah besar akan semakin repot. Nanti kalau libur kita cari rumah yah!" jelas  Alzam, ia sangat berharap kalau Qari tidak akan bertanya macam-macam lagi.


"Kita tinggal di rumah pemberian Kekek ajah Sayang. Maaf  banget bukanya aku ngerendahin kemampuan kamu, tetapi kalau di pikir-pikir sayang rumah pemberian Kakek kalau hanya dianggurin, rumah itu luas nyaman dan sudah ada kolam renangnya bisa buat bermain anak kita nanti. Dan uang kamu bisa ditabung saja, untuk keperluan yang mendesak," usul Qari dengan sangat pelan, takutnya Alzam malah tersinggung.

__ADS_1


"Kalau aku sih tinggal di mana aja mau Sayang, apalagi rumah itu juga Kakek hadiahkan untuk pernikahan kita. Dan Abang Kamu juga dapat, tapi takutnya kamu ingin rumah yang aku persembahkan untuk kamu dan anak kita nantinya," ujar Alzam, tidak ada salahnya memberikan istri hunian dari hasil keringatnya itu pemikiran Alzam, tetapi apabila Qari ingin tinggal di rumah pemberian tuan Latif makan Alzam akan menurutinya.


"Hisss... simpan saja uang itu, karena kalau aku mau nantinya bukan rumah yang aku inginkan dari kamu, tetapi JET PRIBADI," bisik Qari sembari terkekeh.


"Amin, doakan yah rezeki aku banyak dan lancar terus hingga nanti bisa persembahkan kamu 'Jet Pribadi' khusus untuk istri tercinta," balas Alazm dengan serius.


"Hisssh... kamu itu Sayang, aku hanya bercanda kok, lagian untuk apa juga jet pribadi yang harganya sampai ratusan milliar yang ada nanti mau disimpan di mana, angkutan umum ajah masih banyak," tampik Qari sembari memukul pundak Alzam, yang malah menanggapi candaanya dengan serius. Qari takut kalau nantinya Alzam justru terbebani dengan candaan Qari itunya.


"Tidak apa-apa Sayang, siapa tau dari candaan kamu, aku bisa jadi orang yang sukses dan juga membelikan hadiah untuk kamu jet pribadi kan semuanya rahasia Allah, makanya kita wajib aminkan." lirih Alzam.


"Oh iya bener juga apa kata kamu, kalau gitu AMIN semoga suatu saat kamu bisa makin sukses," balas Qari, dengan menekankan kata Amin, dengan suara yang sedikit lebih kencang. Benar kata Alzan mungkin saja dari candaan dia akan berhasil dan bisa membelikan barang-barang yang istimewa untuk Qari.


Hati Alzam lega, setidaknya Qari selalu bisa mengikuti dengan apa usulannya, tanpa banyak berprotes. "Semoga apa yang aku rencanakan saat ini akan membuat kalian nyaman nantinya."


************


Teman-teman sembari nunggu kisah Qari dan Alzam serta Deon yang bikin sedikit emosi diaduk-aduk yuk mampir ke novel bestie othor. Di jamin bikin baper, dan pastinya bakal mewarnai hari kalian semakin cerah...


Kuy ramaikan....


love you sekebon...


__ADS_1


__ADS_2