Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 133


__ADS_3

"Kena nama kamu cucu? Jelek sekali," gumam Deon, jelas Cucu yang ada di sampingnya masih bisa mendengar dengan jelas. Namun, gadis itu sudah biasa mendapatkan olok-olokan  atas namanya yang unik, wanita itu pun hanya diam saja. Ia sudah kenyang dengan pertanyaan itu sehingga diam adalah cara yang paling baik.


"Maaf Tuan kalau nanti mungkin akan sedikit merasakan sakit atau perih, saya bersihkan dulu dan setelah itu lukanya akan ditutup dengan plaster," lirih Cucu, mengabaikan pertanyaan Deon.


"Tunggu-tunggu, loe jangan sembarangan obati gue nanti gue kenapa-kenapa gimana, infeksi, lalu mati loe mau tanggung jawab?" cecar Deon dengan nada bicara yang sinis. Jec yang masih dalam ruangan itu di bantu oleh OG (Office girl) yang lain guna merapihkan kekacauan yang telah Deon dan Alzam lakukan.


Jec hanya diam saja, biarkan bosnya mengoceh sesuka hatinya ia bahkan sudah sangat lelah untuk menasihati atau bahkan melerai pertengkaran Deon dan orang lain. Tadi sudah bertengkar dengan Alzam hingga ruangan yang rapih jadi kapal pecah, sekarang dengan cucu orang yang mau ngobatin lukanya, jec lagi-lagi diam fokus dengan pekerjaanya.


"Tuan, Anda tenang saja, saya bukan orang yang tidak tahu dengan tindakan seperti ini. Saya ada pengalaman mengurus luka-luka semacam ini bahkan yang lebih parah ada," jelas Cucu, dengan yakin. Padahal dalam hatinya wanita itu juga tengah mengumpat kesal pada laki-laki yang saat ini ada di hadapanya, sangat menjengkelkan, bawel, tapi takut sakit, terlihat sama seperti anak kecil.


"Ya udah loe boleh bersihin luka ini, tapi harus hati-hati dan awas kalau perih," ancam Deon dengan bersungut. Sementara Cucu tetap tenang dan santai. Jec sejak tadi hanya diam mendengarkan interaksi antara Cucu dan Deon.


'Baru kali ini aku lihat ada cewek yang tidak ciut dengan sikap Bos. Kayaknya Cucu ini tipe orang yang sabar dan bisa diandalkan. Rasanya aku sudah lelah setiap hari harus berdebat dan hampir setiap hari juga harus menyiapkan keperluan Bos, aku butuh sekretaris untuk Bos," gumam Jec menatap Cucu yang bisa tenang meskipun Deon sejak tadi bersungut terus.


"Auuuuwww... bisa pelan tidak sih, kamu membersihkanya di tekan, sakit tau," cicit Deon, tanganya langsung menampik tangan cucu hingga kapas yang digunakan untuk membersihkan darah yang kering terjatuh.


"Tuan, kalau tidak ditekan darahnya akan sulit untuk bersih dari lukanya nanti malah darah yang kotor dan ngandung bakteri akan masuk ke lukanya dan itu menimbulkan infeksi seperti yang Anda katakan barusan," lirih Cucu, ia kembali mengambil kapas yang baru dan membersikan menggunakan air yang sudah ditetesi antiseptik.


"Kamu kalau dibilangin ngeles terus, dan kamu juga kalau di kasih tahu ngeyel," gerundel Deon, dengan bibir sesekali meringis karena lukanya yang di bersihkan. Padahal tidak sakit-sakit banget dasarnya saja Deon yang sangat menyebalkan terlalu drama.


"Apa lukanya harus di jahit?" tanya Deon dengan serius, dan Cucu hanya membalas dengan tersenyum lucu.


"Kenapa kamu tersenyum apa kamu lihat ini lucu?" tanya Deon dengan menatap Cucu yang masih terlihat senyum manis.

__ADS_1


"Tuan, ini hanya luka gores dan bahkan setelah di bersihkan akan cepat mengering. Kalau luka yang di jahit itu yang dalam," jelas Cucu dengan nada yang sabar.


"Sok tahu kamu, tahu apa kamu soal luka, awas aja kalau luka ini bikin aku sakit meriang dan sebagainya," ancam Deon lagi, dan Cucu pun hanya mengangguk saja menerima ancaman dari Deon. Namun, tanganya masih terus membersihkan pelipis yang terluka tanpa menanggapi lagi ocehan-ocehan dari Deon.


"Sudah Tuan, apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Cucu dengan sopan. Kedua mata Deon terbelalak kala mendengar ucapan Cucu.


"Kamu serius, ini sudah selesai, kenapa cepat sekali," lirih Deon, tanganya merabah lukanya, dan ia menggambarkan kalau lukanya akan sangat menyakitkan ketik ia merabahnya. Namun, dugaanya salah dia justru mendapatkan luka yang sudah tertutup dengan plester dan ketika ia tekan-tekan pun tidak terasa sakit.


"Kamu apakan luka aku kenapa jadi tidak sakit? Tadi aku merasakanya sangat sakit," gumam Deon dengan menatap Cucu yang sedang merpihkan obat-obatan dan bekas alat yang ia pakai.


"Tadi saya sudah bilang Tuan, kalau luka yang Anda alami hanya luka sobek dan itu belum terlalu dalam, soal sakit itu hanya memarnya yang lebih berasa, kalau lukanya saya yakin tidak seberapa terasa sakit. Sedangkan luka memarnya sudah saya berikan salep dan itu sudah cukup untuk luka Anda agar tidak pegal," jawab Cucu terlihat sangat profesional.


"Ini salepnya tidak panas dan aneh-aneh rasanya kan?" lirih Deon ulang. Lagi, Cucu terkekeh samar.


"Ucapanmu, aku pegang, tetapi ingat kalau luka ini macam-macam nantinya, karena kamu yang obati akan aku cari kamu hingga ke lubang semut," ancam Deon lagi, dan memang laki-laki itu dari jaman dahulu kala sangat suka sekali mengancam, buktinya Jec sudah olab (atau sering disebut gumoh muntah dikit karena kelebihan minum asi pada bayi saat perut kurang nyaman, nah kalau kondisinya pada Jec, dia kelebihan ancaman dari Deon).


"Saya nerima apa yang jadi resiko saya Tuan. Kalau sudah tidak ada tugas lagi saya izin pergi Tuan," lirih Cucu sembari tanganya membawa kotak P3K.


Sementara Jec sejak tadi kupingnya mendengarkan percakapan dua orang itu. Jec sangat yakin kepribadian Cucu yang tenang mampu menghadapi Deon yang memang unik. Jec sendiri langsung keluar ruangan Deon meninggalkan pekerjaanya yang belum sepenuhnya selesai.


"Mba... Mba Cucu, tunggu!" pekik Jec dengan berjalan setengah berlari. Cucu sendiri yang merasa dipanggil pun langsung menghentikan langkahnya dan membalikan badan. Keningnya mengernyit heran kenapa atasanya memanggil dia.


"Tuan panggil saya?"

__ADS_1


Jec mengangguk dengan samar.


"Kitaa duduk di sana!!" Jec menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari lorong mereka saat ini berada. Meskipun Cucu sedikit heran, tetapi tak ayal kakinya pun ikut mengayun menuju tempat yang Jec tunjuk.


"Kenalkan aku Jec, asisten pribadinya Tuan Deon, laki-laki yang barusan kamu bersihkan lukanya. Aku lihat kamu pembawaanya tenang dan apa kamu baru di sini?" tanya Jec tanpa berbasa basi, ia sudah sangat yakin Cucu bisa membantu dirinya mengurus Deon, karena semakin hari Deon semakin membuat masalah, kejiwaan Jec semakin bergeser, ditakutkan ia yang sedang program menaikan badan, bisa-bisa gagal lagi, karena Deon yang selalu membuat ulah.


Mungkin ini memang bawaan bayinya, tetapi sangat menyebalkan ketika semuanya dikomentarin sampai kadang  warna pakaian jadi sasaran kebawelan Deon. Hal yang tidak penting jadi penting kalau Deon sudah kumat.


"Benar Tuan, saya pegawai baru di sini baru satu hari, dengan hari ini sudah dua hari saya bekerja di perusahaan ini," balas Cucu tidak kalah ramah.


"Jadi gini aku mau menawarkan kamu kerjaan yang gajihnya juga pasti lebih besar dengan posisi kamu sat ini. Aku sedang membutuhkan asisten pribadi untuk Tuan Deon, karena aku sudah sibuk dengan kerjaan lain sehingga butuh teman untuk mengurus dan mengawasi Tuan Deon. Aku berharap besar kalau kamu mau menerima tawaran ini," lirih Jec dengan kedua mata masih menatap Cucu yang mengalami perubahan. Harap-harap cemas sebab Jec melihat Cucu seperti orang yang tidak terlalu membutuhkan materi, dari gaya bahasa yang tenang dan tidak takut kalau ada kata-kata sakral dalam sebuah karyawan bawah, yaitu PECAT.


"Kalau saya terima tawaran itu pekerjaan saya apa saja dan keuntunganya apa saja?" tanya Cucu, tidak mungkin Jec menawarkan posisi yang tidak sembarangan tanpa keuntungan yang lebih.


'Aku pikir dia orang berada yang tidak takut di pecat, tapi kayaknya penilaianku salah,' batin Jec, tetapi sudah terlanjut ditawarkan Jec pun menjabarkan pekerjaanya. Ia akan bikin penjabaran yang lebih berat sehingga Cucu mungkin kalau tidak sanggup akan langsung mundur. Jec ingin tahu keseriusan Cucu.


"Pekerjaanya kamu hanya mengurusi kebutuhan Tuan Deon, dari pakaian, jam kerja, makan tidur, dan semua yang melekat dan semua yang dikonsumsi di tubuh Tuan Deon kamu yang siapkan, kamu yang penuhi, dan soal gajih sudah tentu kamu akan mendapatkan gajih lebih besar dengan pekerjaan kamu saat ini." Jec yang Cucu akan berpikir keras untuk menerima atau tidak tawarannya.


Deg!!! Cucu pun terkejut dengar pekerjanya nanti. "Gila yah orang-orang ini, kenapa tidak nikah ajah, kalau untuk setiap kebutuhanya disiapkan oleh orang lain. Mana yang nyiapainya cewe," gerundel Cucu.


#Saran nih, kira-kira Cucu baiknya terima tawaran Jec atau tidak biar Jec saja yang makin kurus ngadapin Deon....


Pastinya keenakan Jec  nanti kalau Cucu jadi gantinya dia. Cucu yang bisa makin kurus malah...

__ADS_1


__ADS_2