
Jec menatap Deon dengan tatapan yang sengit. "Ceraikan Cucu! Karena dia wajib bahagia dengan laki-laki yang benar-benar menyayangi dia, bukan laki-laki yang hanya ingin menjadikanya permainan." Jec kembali meletakan nasi yang sudah hampir sampai di mulutnya.
"Tidak bisa. Aku cinta dia," balas Deon semakin dilarang dan juga ditentang maka laki-laki itu akan semakin menjadi-jadi.
"Kalau begitu. Anda juga tidak akan pernah tahu di mana Cucu berada. Karena dia sendiri yang ingin pergi dari Anda." Jec pun kali ini benar-benar tegas berada di pihak Cucu. Meskipun harus beradu pendapat dan juga beradu kekuatan dengan bosnya dia sudah siap.
"Kurang ajar..."
Brugghh...
Brugghh...
Pertarungan pun kembali dimulai. Jec dan Deon saling serang tanpa memperdulikan di mana mereka beradu kekuatan.
Jec mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Sementara Qila tidak bisa berbuat apa-apa selain menjerit apa yang terjadi di hadapanya tentunya dengan harapan kalau akan ada yang melerai Deon dan suaminya. Namun sayang teriakan dia tidak berarti apa-apa mengingat ruangan mereka VIP sehingga tidak ada yang berani mengganggu privasi mereka dan juga suara gaduh dari dalam tidak sampai terdengar ke luar.
"Ingat yah Tuan, kalau bukan saya kasihan Anda tidak ada yang merawat saya pastikan akan jauh lebih parah luka Anda dari yang Anda terima saat ini. Jangan sok jagoan kalau kenyataannya Anda adalah laki-laki manja." Jec dengan merapihkan pakaianya yang sedikit acak-acakan pergi meninggalkan Deon yang lukanya jauh lebih parah dari Jec sendiri. Laki-laki itu tidak sampai hati membiarkan bosnya terlukan dan dibiarkan begitu saja.
Jec pun memanggil perawat untuk membantu mengobati Deon yang terluka parah.
__ADS_1
"Sus, tolong obati orang ini dan kalau bisa datangkan pskiater untuk mengobati luka kepalaya mungkin dia sedikit tidak waras sampai sulit di nasehati orang lain." Jec menunjuk Deon yang sudah duduk dengan tubuh bersandar pasrah di atas sofa yang tadi di duduki oleh Jec.
"Saya pernah simpati, dan berat meninggalkan Anda saat melihat Anda kehilangan Qinara, tetapi sekarang rasa itu pergi entah mengapa Anda adalah laki-laki yang tidak bisa diberikan perhatian lebih. Anda akan kembali pada sifat keras kepalanya. Aku rasa mulai saat ini Anda harus terbiasa hidup sendiri karena saya sudah tidak mau lagi menjaga dan mengingatkan Anda. Sudah cukup sejak Tuan Irawan dan Nona Dena pergi saya menjaga Anda dan mengingatkan mana yang baik dan buruk untuk Anda. Nyatanya Anda tidak bisa juga untuk mendengar masukan dari saya. Anda justru selalu menilai apa yang saya lakukan adalah sok tahu dan lain sebagainya. Silahkan mulai saat ini lakukan apa yang menurut Anda baik. Saya tidak akan perduli lagi pada Anda sekali pun Anda dalam titik terendah saya akan tetap pura-pura tidak kenal Anda."
Jec terus meracau, ketika Deon sedang di obati. Sedangkan Deon sendiri entahlah dia dengar atau tidak dengan apa yang Jec katakan, atau justru Deon sudah tidak mendengar lagi dengan apa yang Jec curahkan isi hatinya.
Sedangkan Qila dari ranjang sedikit merasa bersalah dengan kelakuanya yang di balik Jec masih saja bertukar kabar dengan Sam.
"Apa nanti kalau Deon tahu aku masih berhubungan dengan Sam dia juga akan marah?" batin Qila dengan wajah yang kembali memucat. Namun, kemudian wanita itu juga menepis pikiran buruknya.
"Ah bukanya apa yang aku lakukan juga hanya bertukar kabar tidak ada lagi. Aku juga pembahasanya tidak yang aneh-aneh," batin Qila lagi. Jec pun kembali duduk dengan kompres di tanganya untuk menghilangkan rasa pegal di pipi dan juga bibirnya. Sedangkan Deon masih membuka dan mengedipkan matanya beberapa kali ketika perawat mengobati lukanya di wajah tampanya. Dia tidak sama sekali menjawab ucapan Jec.
Setelah semua beres dan membaik, Deon pun meninggalkan ruangan Qila tanpa menatap pada Jec maupun Qila, dengan berjalan tertatih dan juga dibantu oleh perawat Deon mulai meninggalkan ruangan yang menjadi saksi betapa kerennya Jec bisa menyingkirkan Deon yang tengah dikuasai emosi.
Sama halnya dengan Deon yang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Jec juga melakukan hal yang sama dia juga tidak mengatakan apa-apa. Dia adalah sama dengan yang lain manusia biasa sehingga dia punya batas kesabaran menghadapi Deon. Tidak ada maksud mungkin Deon akan sabar dengan Jec yang mengundurkan diri menjadi asisten pribadinya Deon, Jec memang sudah benar-benar lelah dan juga ingin terfokus dengan kerjaan saja. Yah kalau soal kerjaan dia tetap tanggung jawab. Karena Doni sendiri yang tidak mengizinkan dia untuk berhenti. Doni ingin tetap Jec yang memimpin perusahaanya. Soal Deon terserah dia mau jadi gelandangan sekali pun Doni tidak perduli, yang penting Jec tetap menjadi orang yang bisa dia andalkan untuk mengurus perusahaan papahnya.
Meskipun Jec tidak sehebat Deon, dia sangat bisa diandalkan dalam urusan bekerja, tapi kalau tidak ada yang mengganggu pikiranya dia adalah bos yang tanggung jawab dan bisa memimpin perusahaan papahnya di luar negri juga sehingga rasanya tidak mungkin Doni hanya bisa mengandalkan Jec saja. Tetap Deon akan menjadi mata tombaknya.
Di tempat yang berbeda.
__ADS_1
"Kamu harus makan yang banyak Cu, dan juga kamu jangan segan-segan untuk tinggal di sini. Kita saat ini adalah sodara. Momy ini adalah ibu tiri dari Deon jadi kita masih ada satu keluarga," ucap Iriana saat makan malam tiba, dan wanita yang masih ada luka merah di pipinya pun terlihat malu-malu.
"Apa kamu masih merasakan sakit di kema-luan kamu?" tanya Doni terus terang dan tanpa basa basi.
Cucu sendiri hanya diam saja, dan menunduk karena dia tidak biasa ada yang bertanya terus terang seperti itu, meskipun mereka ada hubungan keluarga dengan suaminya tetap saja Cucu canggung.
"Kamu pakai salep ini, dan juga minum obat ini. Itu bisa membantu mengurangi sakit itu," imbuh Doni dengan memberikan obat dan juga salep untuk Cucu.
"Kamu tenang saja Cu, Doni itu anak Momy dia itu dokter jadi tahu mana obat yang baik untuk kamu. Dia anaknya baik ko, setidaknya beda jauh dengan Deon yang Momy sendiri akui dia memang sering membuat masalah. Tapi Momy berharap ini adalah masalah terakhir yang dia perbuat Momy tidak tahu lagi kalau dia terus terlibat masalah. Kasihan sebenarnya dia itu kaya gitu karena tidak ada yang mengarahkan, dan memperhatikan, jadi dia sulit untuk disentuh dengan orang lain, dan cara-cara yang dia gunakan cukup salah udah gitu dia orangnya selalu bertindak sesuka hati. Momy berharap kamu bisa membawa dia ke jalan yang baik, tapi itu juga kalau Deon memang mau untuk memperbaiki kesalahanya." Iriana menggenggam tangan Cucu yang sejak tadi hanya menunduk saja.
Ada rasa sakit ketika Iriana tadi bercerita dengan masa laku Deon dan keluarganya hingga kakaknya yang bunuh diri. Cucu juga sebenarnya kasihan takut juga Deon berpikir pendek bunuh diiri karena memang Cucu mengira Deon itu mentalnya cukup ancur.
"Mom, apa Cucu harus balik sama Deon lagi? Mengingat Deon pasti bisa setres. Cucu juga takut kalau Deon memiliki pikiran jelek sama seperti sodara perempuanya?" tanya Cucu sejak tadi dia jadi kepikiran cerita dari wanita yang mengaku ibu tiri dari Deon.
Iriana dan Doni pun saling pandang. Mereka lupa Deon juga punya riwayat depresi berat karena orang-orang yang telah meninggalkanya. Bukan tidak mungkin Deon juga akan memiliki pikiran sama seperti Diana. Melakukan percobaan bunuh diiri.
...****************...
__ADS_1