Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 204


__ADS_3

Di saat Jec dan Cucu masih berada di rumah Doni, dan mereka tentang asik bercerita dengaan apa yang terjadi dengan dirinya, di tempat lain Deon yang masih tertidur pulas pun mulai menggerakan tanganya untuk mencari sosok yang membuatnya mengulang indahnya kejadian satu tahu yang lalu. Bibir Deon melengkung sempurna, membayangkan indahnya malam mereka, padahal nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Namun otaknya langsung terpikir akan hal indah itu.


Tangan Deon terus meraba-raba ranjang, hingga ia sadar kalau di sampingnya tidak ada sosok selimut yang bisa menghangatkan tubuhnya. Kedua mata Deon langsung terbuka sempurna untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Untuk beberapa saat Deon bergeming dengan tubuh yang masih setengah mengantuk, kedua mata laki-laki itu terus mengawasi ruangan kamar hotel mewah itu. Hingga ia sadar bahwa wanitanya telah pergi.


Gigi-gigi yang putih bersih saling beradu ketika dirinya menyadari kalau tahanan cintanya sudah pergi. "Sial, kamu mulai bermain-main dengan aku Cu," geram Deon, dalam satu kali tarikkan tangan Deon pun langsung menyibakan selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai benang pun. Dengan gerakan cepat dan juga tidak membuang waktu laki-laki yang masih menginginkan penyatuan membersihkan tubuhnya dan akan mencari Cucu sampai ketemu.


Kembali laki-laki itu dibuat geram ketika mengetahui kalau pakaianya tidak ada. "Cucu, kamu benar-benar yah. Tidak tahu aku harus bagaimana lagi ngadapin kamu." Kesabaran Deon yang setipis tisu pun mulai di uji. Kesal dan marah tentunya.


Pyarrr... Deon menghantam lampu tidur yang ada di atas nakas hingga jatuh berserakan. Untung kamu tidak ada di situ Cu, mungkin kalau ada kepala kamu yang akan pecah karena kemarahan Deon....


Tanpa pikir panjang Deon pun langsung menghubungi petugas hotel untuk mencarikan pakaian apa saja asalkan dia bisa menggunakan pakaian tidak telanjang seperti orang gila.


Satu masalah telah selesai, petugas hotel sudah datang dengan membawa satu setel pakaian santai untuk Deon. Langkah awal pasti Deon mencari tahu dari petugas hotel kira-kira melihat teman tidurnya ke luar atau tidak. Bukan hanya itu Deon juga membuat sayembara untuk siapa saja yang menemukan Cucu maka akan mendapatkan imbalan yang tidaklah sedikit.


"Kalian yakin tidak melihat istri saya ke luar dari hotel ini? Karena rasanya mustahil kalau istri saya menghilang pasti berjalan dan ke luar melalu lobi," ucap Deon dengan tatapan yang meguliti pada petugas hotel. Bahkan hingga petugas keamanan hotel menunduk karena pasti mereka tahu kalau ada wanita yang kabur tadi pagi hanya mereka berusaha menutupi semuanya.

__ADS_1


"Buka CCTV sekarang! Kalau kalian tidak melakukanya saya akan buat perhitungan dengan kalian semua," ucap Deon dengan menggebrag  meja resepsionis.


Dengan langkah seribu petugas pengamanan hotel juga tidak bisa berbuat apa-aapa karena memang Deon adalah tamu VVIP pasti bisa melakukan apapun untuk membuat hotel ini bermasalah, dan ancamanya mereka di pecat.


Brakkk... Laki-laki itu kembali dikuasai oleh emosi ketika tahu siapa di balik kaburnya Cucu. "Kurang ajar kamu Jec, kamu selalu membuat masalah dengan aku. Mau kamu itu apa sih," geram Deon, tanpa pikir panjang Deon pun mencari tahu Jec. Pertama pasti ke rumahnya dan juga apartemen, tetapi semuanya nihil. Deon tidak menyerah dari matahari yang masih pulas tertidur hingga matahaari yang sudah mulai menunjukan kemolekanya. Deon masih mencoba mencari Jec.


Laki-laki itu menepikan mobilnya di bahu jalan, otaknya bekerja dengan kuat. "Tidak mungkin Cucu pulang ke rumah reot itu. Pasti Jec sudah menyembunyikanya.


Tangan Deon pun merogoh  ponselnya. Menghubungi nomor Jec untuk menghukumnya. "Sial, Jec rupanya sedang bermain-main dengan aku," umpat Deon dengan melempar ponselnya ke atas jok penumpang yang ada di sebelah. Karena penasaran Deon pun mendatangi rumah Cucu untuk memastikan kalau istrinya ada di rumah kakek dan neneknya tidak? Sesuai dugaan Deon kalau Cucu tidak pulang ke rumah tua itu.


Dengan langkah terseok Deon kembali ke mobilnya. "Aku bersumpah Cucu, Jec aku akan menemukan kamu. Tidak akan aku biarkan kalian bahagia dan merasa bebas karena sudah merasa kalau kalian bisa kabur."


[Datang ke rumahku, ada pekerjaan utuk kalian, imbalanya tidak tanggung-tanggung.] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Deon pada Rosi. Tidak lama juga Deon mendapatkan balasan dari teman sekaligus anak buahnya yang lain. Bedanya kalau Jec pintar dan bisa dipekerjakan dalam urusan apapun. Sedangkan Rosi otaknya sedikit istimewa alias belet, dia lebih cocok menjadi anak buah Deon soal urusan seperti ini.


Ketika Deon sedang galau dan juga sedang tidak berminat mengerjakan apapun, yang ada dalam otaknya hanya Cucu dan Cucu. Jec dari rumah Doni pun kembali ke rumah sakit dan tentunya setelah itu akan kembali bekerja.

__ADS_1


Kening Jec mengerut sempurna ketika di kamar Qila ramai. "Siapa yang datang di pagi-pagi seperti ini, apa mungkin terjadi sesuatu dengan Qila," gumam Jec dengan mengayunkan kakinya setengah berlari. Namun ternyata salah tuduhan Jec dan kekhawatiran Jec nyatanya tidak benar yang datang Meta dan keluarga Qila yang lainya.


Pandangan mata Meta terarah pada Jec yang baru datang dengan wajah lelahnya.


"Dari mana saja kamu Jec?" tanya Metta seolah laki-laki setengah gemulai kesal karena Jec meninggal sendirian Qila di rumah sakit. Meskipun Jec sudah menitipkan sang istri pada perawat.


"Ada kerjaan di luar, dan baru selesai sekarang," jawab Jec dengan santai. Laki-laki itu sih memang sudah cukup dekat dengan Metta, yang memang orangnya baik.


"Kerja apaan pagi-pagi seperti ini, kamu bukan lagi bohongin kami kan?" tanya Meta dengan tatapan yang membunuh.


"Yang jelas misi ini sangat berat dan bayaranya juga sngat tinggi. Kamu sampai kapan di sini Met? Aku mau kembali ngantor soalnya. Nitip Qila bisa nggak?" tanya Jec, selain dia harus ngantor juga dia harus menghadapi Deon yang Jec yakin bosnya itu saat ini sedang kesal dengan dirinya. Bahkan sepertinya setengah mampus kesalnya dengan kelakuan Jec.


"Aku jug mau kerja, tapi paling nanti Cyra yang akan datang ke sini, Cyra dan Fifah bisa dianadalkan," balas Mecca. Setelah urusan Qila aman. Jec pun kembali melanjutkan niatanya yaitu ke kantor. Pekerjaanya sudah sangat banyak sehingga kalau terus-terusan libur yang ada nanti bosnya jadi bangkrut dan tidak bisa bergaya lagi. Baik kan Jec dalam situasi sibuk dan juga lelah dia masih sempat memikirkan dirinya.


...****************...

__ADS_1


...Mampir novel bestie othor yuk.....



__ADS_2