
"Jec, aku ingin makan slice cake rasa tiramisu dan cake dengan toping buah yang segar," ucap Deon, dengan wajah menatap Jec tanpa dosa.
Jeduerrr.... bak di sambar petir di siang bolong. Jec melirik jam yang ada di dinding kamar bosnya.
"Kenapa Jec? Apa ada yang aneh dengan keinginan aku?" tanya Deon lagi.
Kedua mata Jec terbuka dengan lebar, bahkan sebentar lagi tengah malam. Bosnya meminta slice cake dengan rasa tiramisu dan juga cake dengan toping buah segar. Tangan Jec menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu.
"Oh bayi yang kecil, dimanapun kamu berada tolong jangan siksa aku seperti ini," geram Jec dalam hatinya, mengumpat anak Qari dan bosnya yang benar-benar menyusahkan Jec.
"Iya cukup aneh Tuan, bahkan sekarang sudah hampir tengah malam toko mana yang masih buka, Tuan?" tanya Jec balik, ini bukan alasan semata, tetapi memang kenyataan. Sampai pagi pun dia cari akan sangat tidak mungkin. Apalagi Deon itu termasuk orang yang pemilih makanan, tidak akan dengan mudah mau makan yang ia beli dengan sembarangan, kualitas rasa pasti akan sangat di pertimbangkan.
"Tapi aku tadi bermimpi makam-makanan itu semua rasanya sangat lezat Jec, bahkan aku menghabiskan banyak makanan itu, dan sekarang aku sangat lapar dan ingin menikmati kudapan manis itu." jelas Deon, semakin membuat Jec dilanda dilema.
"Kamu minta orang-orang kepercayaan kamu untuk mencari makanan itu Jec, atau online atau bagaimana caranya yang penting aku bisa makan-makanan itu saat ini juga, rasanya di ujung bibirku sudah ingin sangat menyantap makanan itu. Online mungkin Jec," ucap deon dengan menyerahkan kartu berwarna hitam yang Jec sudah hafal betul berapa kode pinnya.
Jec menerima kartu itu dengan lemas. "Tuan ini buka soal uang, kartu ataupun apa, tetapi saat ini sudah hampir jam tengah malam, di mana aku harus mencari makanan yang Anda inginkan itu." Tangan Jec menujuk jam dinding yang tergantung, di sana terlihat dengan jelas jarum jam menunjukan pukul 23:45 menit, yang artinya lima belas menit lagi tengah malam. Di mana orang-orang di jam itu sedang pulas tertidur.
"Aku tuidak mau tahu Jec, atau kamu hubungi chef dirumah Papah untuk membuatkan makanan yang aku inginkan," usul Deon, tanpa berpikir lebih jauh.
Jec menghirup nafas dengan dalam. "Tuan untuk membuat cake seperti yang Anda inginkan membutuhkan bahan-bahan yang tidak sedikit dan belum tentu semuanya ada setok di rumah kita. Belum proses yang lama dan belum tentu seleranya sama dengan yang Anda inginkan," lirih Jec dengan suara yang benar-benar lembut dan tenang, agar Deon kembali memikirkan apa yang dia inginkan dan apa yang dia katakan pada kenyataanya tidak akan semudah dengan hanya berucap. Proses dan bahan-bahanya akan sulit di cari . Supermarket juga jam sepuluh malam sudah pada tutup.
"Terus apa aku bisa tidur dengan bibir yang lapar dan ingin makan-maknan itu. Rasanya setiap memejamkan mata makanan itu ada dihadapnku, Jec," adu Deon semakin membuat Jec tidak tega.
__ADS_1
"Besok pagi bagaimana Tuan saya akan carikan hingga sesuai dengan rasa yang Anda inginkan," usul Jec, dengan suara yang lirih berusa untuk menego dengan bosnya.
"Sekarang Jec, aku inginya sekarang bukan besok." Suara Deon sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
Jec menghirup nafas berkali-kali tubuhnya yang lelah pun seketika ingin pingsan mendenagr jawaban Deon. Itu tandanya ia tidak bisa menolak lagi apa yang jadi keinginan Deon.
"Kenapa Jec, aku lihat kamu sekarang sangat tidak suka menjalankan perintah-perintah dariku?" tanya Deon dengan ketus.
"Bukan tidak suka Tuan, hanya saja saya sedang berpikir Tuan, kira-kira saya akan mencari pesanan Anda di mana," lirih Jec otaknya diperas untuk berpikir mencari makanan yang bosnya mau.
"Kalau begitu pergilah kamu, dan segera pulang dengan membawa makanan itu," lirih Deon sembari tanganya dikibas-kibaskan.
Jec pun tidak berani mengajukan banding lagi, percuma yang ada dia memberikan masukan apapun Deon akan tetap dengan pendirianya yaitu ingin makan kudapan manis itu.
Jac menjambak rambutnya, "Wahai bayi yang ada di dalam perut ibumu, aku berdoa dan aku meminta dengan sangat, ini adalah keinginan aneh kamu yang pertama dan terakhir." Jec tidak bisa membayangkan apabila hal semacam ini terjadi setiap hari, dan itu tandanya Jec setiap malam harus menyusuri jalanan ibu kota untuk mencari apa yang Deon inginkan.
Jec tidak langsung pergi mencari yang Deon minta, ia duduk mencari informasi dari ponsel kira-kira di mana ia harus mencari kudapan manis yang Deon inginkan. Mungkin kalau di adalah anak kecil ia akan menangis menjerit gara-gara kelakuan Deon itu.
Qari yang hamil, Deon yang ngidam, dan Jec yang repot. Benar-benar pintar anak Qari itu.
"Pasar kue subuh, Senen." Jec langsung menutup ponselnya setelah membaca info dari internet di mana kira-kira ia harus mencari makanan yang di inginkan Deon.
"Untung saja di Senen ada," batin Jec dengan tersenyum penuh arti, di mana tempat tinggal Deon masih sama-sama terletak di Jakarta pusat, sehingga ketika ia harus ke pasar senen masih terjangkau jaraknya.
__ADS_1
Kendaraan roda empat pun langsung Deon injak pedal gasnya, melesat membelah jalanan ibu kota yang sudah tidak terlalu ramai. Tidak butuh memakan waktu lama Jec sudah berada di halaman parkir pasar subuh yang menjajakan kudapan Nusantara dari berbagai daerah. Bahkan Jec baru sampai halaman parkir hidungnya sudah digelitik dengan aroma aneka kue yang wangi dan menggiurkan.
Kruyuk... Kruyukkk... cacing di perut Jec bahkan langsung berdisko setelah mencium aneka aroma makanan yang sudah jelas lezat itu.
Pandangan mata Jec di manjakan oleh banyaknya kuliner Nusantara terutama aneka kue tradisional hingga modern ada di pasar itu. Bahkan Jec justru terhipnotis kue-kue yang menggoda matanya. Tanpa terasa tiga kantong besar sudah berpindah ke tanganya.
"Astaga aku baru tahu kalau di Jakarta ada pasar yang seperti ini," gumam Jec dengan terus menujuk-nujuk makanan yang seperti melambai-lambai ingin ia beli.
"Huh ini sih surganya makanan," batin Jec lagi setelah semakin masuk ia kedalam, bahkan ia bingung mau membawa di mana lagi makanan-makanan itu. Kakinya melakah ke mobil ketika tanganya sudah tidak muat untuk membawa maknan yang akan ia bawa.
"Oh ya Tuhan... Aku kesini mencari Slice tiramizu dan fruite cake permintaan Bos." Jec, kembali membuka pintu mobilnya untuk mencari apa yang Deon minta. Tujuanya datang kesini mencari permintaan dari yang mengidam, tetapi karena dia yang kalap dengan banyaknya makanan yang menggoda matanya justru tujuan utamanya hampir lupa, untung tidak lupa benaran.
Jec kembali menyusuri lagi toko kue yang menjajakan kue modern, kalau tadi dia lebih memilih makanan tradisional yang mengoda cacing di perutnya, demi permintaan bosnya dia menjelajahi toko kue moderen.
"Alhamdulillah..." lirih Jec sembari membawa dua kantong yang berisi makanan yang Deon inginkan.
"Oh wahai bayi yang baik, makanan yang kamu inginkan sudah ada di tangan dan tantangan hari ini akan segera selesai," gumam Jec dengan senyum yang puas, setidaknya perutnya juga akan kenyang dengan banyaknya makanan yang dia beli untuk memanjakan penghuni perutnya.
Jec kembali menginjak pedal gasnya dengan hati yang cukup berbunga, setidaknya tantangan dari sang bayi tidak terlalu berat, seperti yang ia bayangankan dan itu semua karena adanya pasar subuh yang ada di pasar senen.
"Tuan ini pesanan Anda sudah ada...." ucap Jec dengan lemas ketika melihat Deon malah tidur dengan damainya.
"Oh Tuhan..... cobaan lagi."
__ADS_1