
"Jec tumben kamu sudah pulang?" tanya Qila dengan antusias dan memeluk erat kang mas bojo, pasalnya hampir satu minggu ini Jec kerja selalu pulang di atas jam delapan malam, dan baru kali ini Jec pulang jam empat sore. Padahal rencananya Jec hanya meminta izin pada Cucu untuk besok. Tetapi mungkin Cucu saking baiknya sampai-sampai baru pukul empat dia sudah diusir untuk pulang.
Jec pun yang sebenarnya merasa tidak enak dengan Cucu hanya mengembangkan senyumnya atas pertanyaan Qila. Yah, Jec yang tahu bahwa pekerjaannya sangat berat tidak tega hanya mengandalkan Cucu. Mereka kerja berdua saja masih sering pulang lebih dari delapan jam kerja, apalagi kerja sendirian pasti akan sangat membuat Cucu kecapean. Jec pun berpikir dengan keras bagaimana caranya membuat Cucu agar tidak terlalu cape, apalagi Cucu adalah wanita takut kalau nanti justru jatuh sakit.
"Jec, kamu kenapa sih? Sedang tidak enak badan?" tanya Qila dengan meletakan. punggung tangannya di kening sang suami yang terlihat sangat bingung itu.
"Oh tidak, aku hanya memikirkan Cucu. Akhir-akhir ini dia sedang sensitif banget, jujur aku nggak tega ninggalin dia dengan kerjaan yang banyak banget. Kamu tahu sendiri kan selain Cucu yang masih baru dalam urusan pekerjaan, kita aja ngerjain pekerjaan dua orang pulang selalu telat terus. Apalagi kalau Cucu kerja sendirian, aku cemas nanti malah dia terlalu maksain pekerjaan yang ada dia jatuh sakit," jelas Jec dengan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah sedangkan Qila dengan telaten memijit kaki Jec dengan sangat telaten.
"Terus gimana, apa mau kita pulang diundur saja, kalau lebih baik seperti itu nanti aku bilang sama keluarga di kampung, mereka juga pasti ngerti dengan kondisi kamu kok, dari pada Cucu sakit dan stres yang ada nanti malah Tuan Deon marah-marah lagi. Emang tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk sekedar bantu Cucu yah Sayang. Tuan Deon tidak ada asisten lain atau saudara gitu," usul Qila yang tahu betul pekerjaan suaminya memang tidak ada habisnya, udah gitu di rumah saja Jec masih sering mengecek pekerjaan yang lainya, apalagi kalau sang suami libur pasti akan sangat menumpuk pekerjaannya.
Maklum setelah pandemi berakhir gedung yang kosong-kosong laris banyak yang sewa, dan juga perumahan yang awalnya penjualan menurun drastis, setelah pandemi berakhir penjualan meningkat dengan tajam sehingga untuk laporan keuangan harus benar-benar detail, salah sedikit ruginya bukan jutaan saja tapi puluhan bahkan ratusan juta. Itu sebabnya Jec harus benar-benar teliti dalam urusan laporan.
"Jangan Qila, kasihan orang tua kamu pasti mereka sudah sangat menunggu kepulangan kamu. Lagian kamu sudah tidak pulang dua tahun. Emang kamu tidak kasihan dengan orang tua kamu pasti mereka sangat rindu dengan kamu," balas Jec. "Biar aku akan cari solusi lain."
Jec pun kembali berpikir, yang ada dalam pikirannya adalah Doni. "Apa aku minta bantuan sama Tuan Doni yah. Mudah-mudahan beliau mau untuk membantu Cucu dan mudah-mudahan tahu bagaimana cara mengecek laporan," gumam Jec yang tentu saja suaranya masih bisa di dengar oleh Qila.
"Tuan Doni siapa lagi? Ada dia adalah saudara Tuan Deon?" tanya Qila yang hampir tidak pernah mendengar nama Doni.
__ADS_1
"Yah dia adalah saudara Tuan Deon, bahkan dia adalah pewaris tunggal yang sah untuk menerima warisan dari Tuan Irwan Belamy tetapi justru beliau lebih memilih mengambil pekerjaan dokter spesialis kangker. Dan menyerahkan kepemimpinannya pada Tuan Deon. Aku berharap Tuan Doni kali ini saja mau membantu Cucu untuk mengurus pekerjaannya yang pastinya tidak mudah," ucap Jec ia akan bersiap malam ini untuk ke rumah Doni dan menjelaskan ringkas dengan pekerjaannya, sebelum dia besok pergi untuk menemui keluarga Qila.
"Wah, aku jadi penasaran dengan Tuan Doni itu, sayang banget padahal kan jadi pewaris tunggal lebih enak, belum gajinya juga pastinya lebih besar dari pada seorang dokter yang kerja cape gajinya mungkin tidak seberapa dari pada jadi pemilik perusahaan, " ucap Qila. Yah, siapa pun akan berpikir seperti Qila kalau memang terjadi seperti Doni. Bahkan pasti tidak sedikit yang menyayangkan keputusan Doni bahkan mungkin mengatakan bodoh.
Namun, Doni justru tetap santai dan tidak pernah menyesali keputusannya, karena dia sangat mencintai profesinya. Dokter adalah cita-citanya sejak dahulu kala, dan di saat cita-citanya tercapai sudah pasti Doni sangat bahagia dan bangga sekali. Apalagi spesialis kangker yang mana untuk mengambil pendidikan bukanlah hal yang mudah.
"Yah, mungkin orang akan berpikir sama seperti kamu, tetapi kadang tingkat bahagia seseorang itu bukan semuanya bisa diukur dengan harta. Buktinya Tuan Doni, dia lebih menyukai profesi dokternya, dari pada gelimang harta. Mungkin kalau kamu datang ke rumah beliau justru tidak percaya kalau sang pemilik rumah adalah pewaris tunggal perusahaan Bellamy group, pasalnya rumahnya bisa dibilang sederhana untuk kelas pewaris tunggal yang sah."
Sesungguhnya Jec juga sangat senang dan sangat setuju dengan gaya hidup Doni Mahendra, laki-laki itu tidak terkesan sombong meskipun dia sebenarnya bisa memiliki rumah yang jauh lebih mewah dari pada rumah yang di tempati saat ini.
"Wah, aku jadi penasaran dengan Tuan Doni, apakah dia adalah orang yang sangat sederhana. Tetapi justru kalau orang yang berpikiran seperti Tuan Doni itu tandanya beliau sangat dermawan dan baik."
"Tidak deh, aku di rumah akan menyiapkan keperluan kita besok mudik. Lagian kamu ke rumah Tuan Doni dalam rangka pekerjaan rasanya nanti malah aku ganggu kamu. Salam saja untuk Tuan Doni," balas Qila. Apalagi wanita itu sudah membayangkan betapa membosankan nanti di rumah Tuan Doni itu membicarakan pekerjaan, kalau di rumah dia bisa beristirahat dengan tenang bahkan mau koprol juga tidak ada yang melarang.
"Kalau gitu aku akan mandi dulu setelah itu aku akan ke rumah Tuan Doni, dan kemungkinan pulangnya cukup larut malam. Kamu setelah selesai paking langsung istirahat saja yah," jelas Jec dengan nada yang sangat lembut, sangat beruntung sekali Qila, selama menjadi istri dari laki-laki bernama lengkap Jaka itu tidak sekali pun Jec berkata yang suaranya meninggi. Jec selalu berbicara dengan nada yang sopan dan lembut. Itu sebabnya Qila sangat suka dan juga sangat beruntung karena dia memilih laki-laki yang pas. Laki-laki yang bisa menghormati wanita.
"Kamu mau makan dulu tidak Sayang, kalau mau makan dulu biar aku masakan yang simpel untuk kamu," tanya Qila begitu Jec sudah berjalan beberapa langkah dari tempatnya duduk barusan.
__ADS_1
Dalam hitungan detik Jec langsung diam dan juga nampak berpikir. "Tidak usah deh Sayang, pasti kamu juga cape seharian sudah bekerja, nanti aku bisa pesan makanan kalau lapar. Lagian di rumah Tuan Doni juga biasanya kalau aku datang Nyonyah Iriana pasti membuatkan makanan yang lezat-lezat maklum dia adalah pemilik restoran yang terkenal lezat jadi pasti kalau ada tamu selalu menjamu dengan olahannya," balas Jec sebelum ia kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar.
"Kini Jec akan menemui Doni, dan sangat berharap besar kalau Doni tertarik untuk membantu mengolah perusahaan peninggalan Papahnya. Yakin deh kalau Jec benar-benar memilih untuk resign yang ada Deon dan Cucu tidak bisa nunu nana karena sibuk dengan pekerjaannya yang menggunung terus.
Tidak menunggu lama Jec pun sudah lebih segar dengan penampilannya yang jauh lebih santai. "Qila, aku berangkat yah. Kalau kamu sudah selesai merapihkan semua keperluan kamu istirahat saja dulu, biar besok melakukan perjalanan mudik kamu tidak ke lelahan," pesan Jec sebelum benar-benar pergi untuk merayu Doni agar mau membantu Cucu menyelesaikan pekerjaannya.
Sedangkan Cucu di kantor, seperti yang Jec pikirkan wanita itu sejak Jec pergi mengerjakan laporan sendirian, rasanya baru dua jam dia mengerjakan laporan sudah berasa patah semua pinggangnya.
"Ya Allah Jec, ternyata tidak ada kamu kerjaan sebegini beratnya. Jec, aku butuh bantuanmu Jec," gumam Cucu sembari melirik tumpukan map yang harus dicek satu persatu.
Andai dalam map ini isinya bukan duit mungkin biar cepat berkurang aku bakar," gerundel Cucu, dia jadi terbayang Deon yang jauh di sana juga pasti pekerjaannya jauh lebih berat dari yang saat ini dia kerjakan. Bahkan Cucu jadi teringat dengan ucapan Deon yang mengatakan kalau saat ini dirinya istirahat saja sehari hanya lima jam, selebihnya untuk bekerja.
"Ya Allah sempatkanlah suami hamba ya Allah semoga suami hamba selalu dalam lidungan-Mu." Cucu jadi merasa bersalah mengingat wanita itu sering marah-marah pada Deon apalagi kalau telat angkat telpon saja Cucu bisa marah hebat dengan Deon. Dan kini Dia baru tahu alasan Deon sering telat angkat telpon dari dirinya. Itu semua karena pekerjaan yang sangat berat.
Kini Cucu bertekat akan lebih sabar untuk menghadapi sang suami yang Cucu sudah sangat tahu kalau Deon sudah berubah jauh lebih baik lagi. Bahkan Deon kini dari tutur katanya juga jauh dari sopan. Yah Cucu saat ini merasakan sangat beruntung karena dapat Deon laki-laki itu yang mau merubah tabiat buruknya.
Bersambung.....
__ADS_1
...****************...