
Di saat Qari berjuang antara hidup dan mati. Di lain tempat Deon baru saja pulang ke kantor.
Laki-laki itu sebelum masuk ke dalam ruanganya lebih dulu menghirup nafas dengan dalam, dan mengeluarkanya dengan perlahan, agar ia tidak terlihat gugup. Jec bisa curiga kalau dia telah melakukan hal yang tidak Jec sukai, dan pertanyaan-pertanyaan dari Jec pasti akan menjebak Deon. Terutama pakaian Deon yang sudah ganti bisa-bisa Jec bertanya seperti wartawan.
Dengan langkah kaki tegap dan juga terlihat santai Deon, masuk ke dalam ruanganya dan langsung kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Dari ekor matanya Jec menatap bosnya dengan penasaran. Ingin bertanya dari mana, tetapi tidak akan menemukan jawabanya.
Sehingga Jec memilih diam saja. Mereka pun seperti orang yang tidak saling kenal hanya diam dalam kesibukan masing-masing.
Sementara itu, Cucu yang baru saja dikasih barisan tugas-tugas dari Jec pun sedang pusing dengan susnan pekerjaan yang Jec berikan, dari nomor satu ke nomor berikutnya pekerjaan yang harus Cucu lakukan terlalu mustahil.
'Gimana bisa aku harus menyiakan keperluan mandi, pakaian dan membangunkan Tuan Deon, belum menyiapkan makanan dan apapun yang Tuan Deon butuhkan. Kenapa aku merasa kalau aku ini seperti istrinya, kalau istri masih mending setidaknya dapat pahala, dan kalau aku? Ah kenapa juga laki-laki itu manja sekali, apa-apa harus dilayani, apa orang kaya semua seperti itu. Udah gede tapi tidak bisa nyuapin pakaian sendiri!' batin Cucu. Masih terus membaca daftar kerjaan yang Jec berikan tadi.
Bahkan Cucu saking seriusnya menghafal pekerjan dari ia bangun sampai mau istirahat lagi, gadis itu sampai tidak mendengar kalau Jec dari tadi memanggilnya.
"Cucu...!!" Kali ini Deon yang memanggil asisten barunya.
Gadis yang sedang menghafal pekerjaanya pun tersentak kaget. Buru-buru gadis itu bangun dan menghampiri Deon dan Jec. Kedua mata Deon sudah hampir loncat karena kesalahan Cucu.
"Iya Tuan." Dengan bergegas Cucu langsung menghampiri Deon dan Jec yang sedang berdiri. Jec sih biasa saja wajahnya, tetapi Deon jangan di tanya seolah ia hendak menerkam.
"Loe budeg yah! Besok beli cutton bud satu truk buat bersihin kuping loe yang kotor. Dasar cantik, tapi jorok." Deon pun terus mengumpat Cucu dengan kata-kata yang sudah yakin disengaja agar Cucu tidak betah kerja bersamanya.
Jec di samping Cucu pun hanya memberikan kode agar tetap sabar dan jangan diambil hati apa yang Deon katakan. Senyum tipis tersungging dari bibir Cucu ketika Jec justru yang memberikan semangat.
Perjalanan tidak membutuhkan waktu lama. Kini Cucu sudah ada di rumah Deon yang menyerupai istana, sangat mewah. Sejenak Cucu tercengang melihat rumah sang bos yang nantinya akan dia layani.
'Gede banget rumahnya,' batin Cucu.
"Cucu kamu ikut aku yah." Jec akan menjelaskan apapun yang ada di dalam kamar Deon dan itu nanti akan menjadi tempat kekuasan Cucu. Dari mulai kamar mandi, pakaian, dari pakaian dalam, hingga pakaian santai, kaos kaki, dasi, sepatu warna-warna pakaian yang harus cocok dengan jas, celana, dan dasi, serta sepatu, Cucu harus menghafalnya. Wanita itu mencatat apapun yang Jec jelaskan.
__ADS_1
"Jec, gimana kalau nanti misalkan warna yang aku ambil tidak sesuai dengan yang Tuan Deon suka, apa itu tandanya dia akan marah padaku?" Baru kali ini Cucu merasa kurang nyaman bekerja, karena soal pakaian dan perlengkapan lainya.
#Soal panggilan Jec yang meminta Cucu memanggilnya dengan nama langsung, tanpa ada embel-embel Tuan, Mas, Pak atau yang lainnya. Jec lebih nyaman dipanggil namanya.
"Bos akan marah," bisik Jec, dan hal itu berhasil membuat bulu kuduk Cucu meremang.
"Apa Bos itu sangat menyeramkan, kalau marah?" Cucu menatap Deon yang sedang duduk dengan santai di atas ranjang, serta di pangkuanya ada laptop. Memang Deon itu pekerja keras, tetapi kadang sangat menyebalkan orangnya.
"Kamu nanti akan tahu sifatnya kalau sudah lama, sebenarnya Bos baik, cuma kadang-kadang moodnya naik turun. Intinya kamu jangan ambil hati kalaupun dia marah, karena sudah jadi wataknya seperti itu."
Jec pun tidak lupa memberikan informasi tambahan seperti kebiasaan Deon, dari olahraga, dan makan-maknan yang biasnya Deon sukai. Bahkan buku catatan yang Cucu bawa langsung terisi semua oleh catatan yang Cucu buat, tentang Deon. Ini adalah pekerjaan paling ribet menurut Cucu.
"Kalau gitu kamu mulai pekerjaan ini dari sekarang yah," lirih Jec, dia akan menunggu di luar. Namun, buru-buru Cucu menahan tangan Jec.
"Aku takut kalau Bos aka marah." Cucu berbisik dengan suara yang sangat lirih.
"Kamu tenang ajah, Bos juga kalau marah tidak sembarangan marah kok, pasti ada penyebabnya, dan itulah tugas kamu jangan sampai bikin Tuan Deon marah." Jec kali ini tanpa menunggu jawaban dari Cucu langsung keluar meninggalkan Deon, dilayani oleh Cucu. Sementara Cucu sendiri semakin merasakan tidak karuan perasaanya benar-benar seperti uji nyali.
"Tuan, apa Anda mau mandi sekarang?" tanya Cucu dengan suara yang bergetar, dan terdengar sekali kalau wanita itu sedang ketakutan.
Deon menatap Cucu yang sedang membelit jari-jarinya untuk mengurangi rasa geroginya. "Siapkan saja airnya."
Cucu pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi sang bos, Jec tadi sudah memberitahukan ukuran air hangatnya.
"Semoga saja segini tidak kepanasan dan tidak terlalu dingin, dan semoga saja Bos tidak mencari-cari kesalahan," gumam Cucu. Kalau salah sebenarnya tidak masalah untuk Cucu dimarahin juga yang jadi masalah adalah Deon kadang tidak salah pun selalu di marahinya. Yah, laki-laki itu gemar mencari gara-gara
"Tuan air hangatnya sudah siap."
"Hemz..." Deon tanpa menatap Cucu langsung masuk ke kamar mandi. Wanita itu pun menghela nafas dalam, dan menghembuskanya perlahan.
__ADS_1
"Sumpah, bekerja paling horor." Cucu Bergidik ketika melihat sikap Deon.
Kedua mata Cucu menatap pintu kamar mandi yang di tutupnya. Matanya memejam dengan perlahan, ada rasa takut kalau Deon akan memekik karena air yang tidak sesuai dengan hangat yang pas.
"Cucuuu..." Benar saja dari dalam kamar mandi sana Deon memanggil namanya dengan nyaring. Wanita itu pun mengusap dadanya berkali-kali 'Sabar' hanya itu yang bisa Cucu ucapkan.
"Iya Tuan..." Cucu menghentikan kakinya tepat di depan pintu kamar mandi dia bingung apakah dia harus masuk ke dalam sana atau hanya diam saja. Bingung apakah harus masuk atau justru tetap di depan pintu.
"Cucu... Loe bolot yah, kenapa tidak ke sini." Suara Deon kembali mengaung dari dalam kamar mandi sana.
"Tuan... saya ada di depan pintu, bingung mau masuk atau tidak," balas Cucu dengan suara yang terlihat lebih pelan, tetapi wanita itu tahu betul kalau Deon pasti dengar.
"Masuk, loe cek lagi airnya! Apa loe mau buat kulit gue melepuh."
Cucu pun langsung nurut dengan apa yang Deon katakan, masuk ke dalam kamar mandi dan mengecek air yang tadi dia siapkan. Padahal Cucu sudah yakin kalau suhu air, kehangatannya sudah pas, seusai yang Jec beritahu tadi.
Namun, baru saja masuk Cucu pun langsung berbalik arah, ketika melihat kalau Deon sudah telanjang dada hanya bagian bawah yang terbelit oleh handuk berwarna putih, dan handunya pun sangat-sangat terkutuk di atas lutut, membuat mata Cucu ternoda, tapi nagih ingin lihat lagi.
"Kenapa? Bukanya loe suka kalau lihat yang seperti ini. Ini kan yang loe inginkan ketika menerima tawaran kerja dari Jec." Deon menatap dengan jijik pada Cucu yang mengira kalau dia menerima kerjaan itu, karena menginginkan melayani Deon.
Wanita itu pun langsung tersentak kaget dengan ucapan Deon. "Mak.. maksud Anda apa Tuan? Jadi Anda menyangka kalau saya menerima pekerjaan ini karena godaan yang seperti ini? Dan air itu hanya akal-akalan Anda saja?" Cucu bersungut di hadapan Deon. Tidak perdulu laki-laki yang ada di hadapanya adalah bos besarnya, ucapanya sudah sangat merendahkan dirinya.
'Pantas saja Jec mewanti-wanti aku agar sabar, ternyata memang watak laki-laki ini sangat menjijihkan,' batin Cucu. Tanpa menunggu perintah selanjutnya dari Deon dia langsung keluar meninggalkan Deon. Lagi pula Cucu yakin soal air untuk mandi laki-laki itu bisa membuat takaran yang pas.
Cucu langsung meninggalkan kamar Deon, akan mengundurkan diri saat ini juga ia tidak mau dicap sebagai wanita murahan.
"Pekerjaan ini tidak cocok dengan aku."
...****************...
__ADS_1
Teman-teman mampir ke novel bestie others yah, dijamin seru...