Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Bukti


__ADS_3

“Jadi sekarang semuanya sudah jelas. Kalian berdualah yang menjebak Reisya, bukan?” tandas Aaric dengan mata yang sudah membola sempurna.


Dona dan Melinda hanya mampu menundukkan kepalanya. Melinda tidak mampu menatap mata Aaric yang memerah karena menahan amarah yang sudah membuncah.


Aaric menarik salah satu kursi di antara mereka dan mendudukinya.


“Sekarang Aku igin tahu lebih jauh tentang pria yang bernama.. Steven! Apa hubungan kalian dengannya?” selidik Aaric lebih jauh.


Namun Melinda masih tak bergeming, hanya bisa menundukkan kepalanya saja. Semua rencana jahatnya harus berakhir, bahkan kesempatan untuk mendapatkan Aaric kembali pun sudah tidak memiliki harapan lagi.


Tiba – tiba saja Melinda nyeletuk dalam kebisuan beberapa saat lalu, “Ini semua dikarenakan ulah Dona! Dia yang merencanakan semua ini, Kak!”


“Kok gue?! Bukannya loe yang bilang ke gue kalau loe mau balas dendam sama perempuan kampung itu, Hah?! Karena dia sudah merebut tunangan loe ini?!” bantah Dona menolak tuduhan yang dilontarkan Melinda.


“Sudah! Kalian nggak perlu saling menuduh, intinya ini adalah rencana kalian berdua. Kalian kenal dekat dengan Steve?” tanya Aaric. Keduanya menganggukkan kepalanya sembari menunduk.


“Apa Dia pacar salah satu dari kalian?” imbuh Aaric.


Melinda mengangguk sambil menunjuk ke Dona.


“Tapi..” ucapan Dona tercekat sampai di tenggorokkannya. Ia mengurungkan niatnya untuk menceritakan semua ucapan Steve padanya beberapa waktu lalu.


“Tapi apa?” selidik Aaric. Dona langsung menggelengkan kepalanya.


“Oke jika kalian tidak ingin memberikan penjelasan apapun tentang lelaki brengsek itu, aku akan cari tahu sendiri. Tapi ingat! Urusan dengan kalian belum selesai!!” seru Aaric sambil beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Melinda dan Dona.


“Don, gimana nih?! Bisa – bisa bokap gue ikut marahin gue.”


“Ya..gue nggak tahu. Gue sendiri juga nggak tahu nasib gue gimana nanti,” racau Dona yang juga merasa takut.


“Ini semua gara – gara rencana loe!” tuduh Melinda.


“Kok gue?! Kan Loe juga! Lagian ngapain juga foto – foto itu loe kirim ke nyokapnya Aaric??” kilah Dona membela diri.


“Ya sudah cabut yuk!” ajak Dona.


“Don, gue nginap di apartemen loe ya, malam ini aja, please!” Dona mengangguk sambil menghela nafas berat.

__ADS_1


Akhirnya keduanya pun melangkahkan kakinya meninggalkan kafe.


Sementara Aaric semangat memberikan bukti rekaman yang berhasil ia rekam saat Dona dan Melinda saling bercerita. Sambil melajukan mobilnya Aaric senyum – senyum sendiri.


“Sayang, aku pastikan hubungan kita akan kembali seperti semula. Kamu pasti akan senang menerima kabar baik ini, aku akan melakukan apapun untukmu, sayang,” monolog Aaric dalam hatinya.


Aaric pun segera menginjakkan remnya dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Melinda. Kebetulan Reisya pun hendak keluar. Dia masih mengunci pintunya tetapi Aaric sudah berdiri tepat di belakangnya.


“Sayang..,” sapa Aaric membuat Reisya terkejut.


“Astaghfirullah! Kamu.., mau apalagi sih Kamu datang kemari, Mas? Bukannya kamu sudah tidak ingin melihat muka Aku lagi?”


“Rei! Dengerin Aku dulu, bisa?”


“Maaf Mas, Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni Kamu. Lagian, kalau kamu masih berteman dengan perempuan murahan seperti Aku, imej kamu bisa rusak lho, nggak takut??” sindir Reisya.


“Rei! Bukankah Aku sudah minta maaf sama Kamu? Tolonglah, kali ini dengerin kata – kata Aku,” pinta Aaric lembut.


“Oh! Bukannya selama ini Aku selalu menuruti semua kata – kata Kamu, sampai akhirnya seperti sekarang ini? Kamu ingin kehidupan aku seperti apa sih, Mas?” keluh Reisya yang masih merasakan sakit yang teramat sangat.


“Tapi Aku tidak bisa! Maaf sebelumnya Mas!” sahut Reisya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Aaric seorang diri di depan pintu rumahny.


Reisya terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan Aaric.


“Rei! Aku tahu kamu tidak bersalah, tapi kamu dijebak!” pekik Aaric.


Reisya langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang melihat ke arah Aaric. Dan Aaric pun menganggukkan kepalanya sembari menunjukkan ponselnya pada Reisya.


Reisya yang merasa penasaran akhirnya kembali mendekati Aaric.


“Maksud dia apaan, sih?” tanya Reisya dalam batinnya sambil terus melangkah kembali.


“Rei! Tolong beri aku kesempatan sakali lagi untuk membuktikan bahwa Aku benar – benar tulus sayang sama kamu,” pinta Aaric memohon.


“Kalau mau ngomong yang jelas, jangan buat orang menunggu lalu sakit hati,” sindir Reisya.


“Boleh kita ngobrol sambil ngopi?” tawar Aaric.

__ADS_1


Sambil medengus kesal Reisya membuka kembali pintu rumahnya. Lalu mengajak Aaric masuk.


Aaric tersenyum bahagia mendapatkan kesempatan kedua setelah apa yang ia lakukan pada Reisya beberapa waktu lalu.


“Silahkan, apa yang ingin kamu sampaikan, Mas,” pungkas Reisya dengan tatapan jengah.


“Kopinya?” canda Aaric mencoba mencairkan suasana.


Reisya memutarkan bola matanya sembari menjatuhkan kedua pundaknya dan menghembuskan napas beratnya. Lalu bergerak ke dapur membuat kopi yang di minta Aaric.


“Ternyata dia masih sayang sama gue!” kata Aaric dalam batinnya sambil menyunggingkan kedua sudut bibirnya ke atas.


Setelah beberapa saat , Reisya sudah kembali membawa dua buah gelas kopi yang dibawanya dengan nakas.


Reisya menyodorkan kopinya sambil melirik ke Aaric. Aaric pun tersenyum manis.


“Thank you honey. Ini yang selalu Aku rindukan. Kopi buatan Kamu,” gombal Aaric seraya mengerlingkan salah satu manik matanya.


“Ya Allah, kenapa hati ini selalu bisa memaafkannya, meskipun dia telah menyakitiku begitu dalam. Tapi, selalu saja aku bisa memakluminya,” monolog Reisya saat menatap lekat wajah Aaric yang sedang menyeruput kopi yang disuguhkannya.


Sekelebat netra Aaric menangkap tatapan Reisya yang begitu dalam, membuatnya semakin merasa bersalah atas perlakuan buruknya terhadap Reisya.


Aaric menggenggam tangan Reisya secara tiba – tiba membuat Reisya terkejut.


“Sayang! Aku tahu, rasa sakit yang kamu rasakan karena perlakuanku. Tapi aku mohon sangat sama kamu, tolong maafkan Aku! Sekarang Aku tahu kamu adalah korban dari permainan Melinda dan Dona. Dan bodohnya Aku termakan oleh kata – kata Melinda,” ungkap Aaric dengan wajah sendu.


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku adalah korban? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika aku adalah perempuan murahan yang dengan mudahnya tidur dengan laki – laki yang kamu bilang jauh lebih kaya dan lebih mapan dari Kamu!” cerca Reisya dengan mata yang sudah memerah dan berkaca – kaca.


“Aku salah! Tidak seharusnya Aku mengatakan semua itu sama Kamu, Rei! Dan seharusnya Aku lebih percaya sama kata – kata Kamu ketimbang Melinda. Lagi pula, saat itu Kamu tidak mengatakan apapun bahkan bertemu denganku juga kamu tidak mau,” tandas Aaric.


Reisya hanya menunduk, dia juga merasa bersalah saat itu tidak megizinkan Aaric berbicara dengannya.


“Jika kamu ingin tahu, bagaimana Aku bisa tahu kamu adalah korban atas permainan Melinda dan Dona. Kamu bisa dengarkan ini,” tutur Aaric sambil memutarkan rekaman di ponselnya.


Reisya pun mendengarkan dengan seksama percakapan Dona dan Melinda yang terekam oleh Aaric. Dengan nafas yang mulai tak stabil, kedua tangannya mulai mengepal, menggeram dengan perlakuan Dona dan Melinda.


“Aku akan buat perhitungan dengan mereka!” janji Reisya dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2