
"Sayang... Kangen banget." Qari langsung memeluk tubuh Alzam yang baru saja membuka pintu ruangan istrinya. Sebenarnya sudah biasa sih Qari akan manja seperti ini, terlebih di ruangan hanya berdua, kesempatan akan di gunakan dengan sebaik mungkin oleh wanita itu.
Seperti biasa juga Alzam akan bersikap tenang dan tetap datar, tetapi tentu berbeda dengan di dalam hatinya yang sudah berjingkrak gembira. "Apa aku terlalu lama meninggalkan kamu sampai kamu sekangen ini?"
Alzam meletakan makanan yang di bawanya ke atas meja. Dan duduk di kursi kebesaran milik istrinya.
"Iya, kamu sangat lama sekali membeli makanan-makanan itu aku sampai mau pingsan menungguinya," kelakar Qari tangannya sembari membuka satu persatu kantong makanan yang di beli oleh Alzam. Makanan pertama tertuju pada rujak bebek yang jadi makanan yang memang sangat di tunggunya.
"Oh maaf Sayang aku membelinya jauh harus menaiki pesawat. Belum pesawatnya macet di atas sana," balas Alzam dengan wajah yang datar dan serius.
"Ya Tuhan emang kamu belinya ini di mana? Apakah harus keluar negri untuk membeli makanan pesanan aku ini?" tanya Qari ikut menanggapi candaan Alzam dengan serius juga.
"Tentu, bukan hanya luar negri tetapi luar benua juga." Alzam semakin serius menanggapi candaan Qari yang menggemaskan. "Sayang kamu ambil rujak bebek apa kamu sudah makan?" tanya Alzam, bahkan tangan Alzam menahan tangan Qari yang sudah siap hendak menyuapkan makananya. Tidak hanya itu mulut pun sudah siap untuk mangap.
Qari meletakan kembali sendok yang berisi rujak bebek. dengan wajah yang memelas wanita itu menatap Alzam. "Aku malas makan nasi Sayang," jawab Qari muka yang memelas ditunjukkannya agar Alzam ngertiin selera makanya yang hanya ingin makan rujak bebek dan jajanan yang lain.
"Tidak-tidak kamu harus makan pengganjal perut yang lain, kalau kamu malas makan nasi makan dulu roti atau pun biskuit ibu hamil dan yang lainya." Tangan Alzam dengan cekatan mengambil biskuit ibu hamil yang selalu tersedia di laci Qari. Yah, Alzam yang menyiapkan semuanya, baik roti dan cemilan lain agar istrinya tidak kelaparan. Karena menurut orang-orang wanita yang sedang hamil bawaannya lapar terus. Itu sebabnya Alzam menyediakan semua itu. Sehingga kalau Qari lapar tinggal mengambilnya. Tetapi namanya Qari, ia malah kadang penginya yang aneh kayak hari ini pengin makan cilok dan kawan-kawanya sedangkan bekal makanya tidak di sentuhnya sama sekali.
Qari menunjukan wajah sedihnya. "Aku benar-benar tidak lapar Sayang, aku nggak mau makan ini semua." Qari mendorong roti dan biskuit ibu hamil yang Alzam sudah ambilkan. Wajah Qari seketika sangat terlihat mengiba dan sedih.
"Tapi Sayang, perut kamu kosong. Kamu siang ini belum makan apa-apa? Dan baru mau makan rujak bebek kan?" tanya Alzam dengan suara yang sangat lembut. Agar Qari tidak tersinggung dan bisa saja malah menangis, karena mengira kalau Alzam yang memarahinya.
Qari mengangguk dengan lemah. "Aku nggak ingin makan apa-apa yang ingin aku makan hanya ini Sayang. Aku mohon biarkan aku makan ini. Anakku sudah sangat ingin menikmati makanan ini semua. Sudah sejak lama aku menunggu makanan ini," lirih Qari tatapannya yang tajam dan penuh permohonan terus merayu Alzam.
"Tapi kamu nanti bisa sakit Sayang, aku bukan melarang, kamu boleh makan ini semua, tapi diisi dulu perut kamu dengan makanan pengganjal agar tidak sakit nantinya." Alzam yang beneran cemas terus berusaha membujuk Qari, tetapi hati ibu hamil yang sedang sensitif justru langsung mengeluarkan respon yang lain.
__ADS_1
Mata Qari berkaca-kaca ketika Alzam berusaha menasihati Qari. Tes...Tes... tangisnya pecah karena Alzam yang tidak mengizinkan makan langsung rujak bebek.
"Sayang kenapa kamu nangis?" Alzam kini gantian dia yang panik dengan Qari yang nangis.
"Kamu tidak izinkan aku untuk makan ini semua," balas Qari dengan suara yang bergetar dan air mata yang masih deras turun membasahi pipinya.
Alzam nampak bingung dan menggaruk-garuk kepalanya. "Tapi nanti kamu kalau sakit gimana Sayang. Nanti aku yang dimarahin oleh Tuan Latif dan Mamih Qanita, belum Abang Naqi dan Cyra pasti mereka akan menyalahkan aku," lirih Alzam dia tidak membayangkan bila semua itu terjadi, benar-benar Alzam disalahkan karena tidak bisa menjaga Qari.
"Tidak Sayang kan aku yang pengin, boleh yah," lirih Qari lagi, dengan tatapan yang masih sama mengiba.
"Ya udah tapi jangan banyak-banyak makanya Sayang, aku takut kamu sakit itu saja."
Qari langsung antusias dan melanjutkan makanya. Air matanya seketika mengering. Bibir yang awalnya melengkung ke bawah seketika itu langsung berbalik arah yaitu melengkung ke atas, menggambarkan betapa bahagianya suasana hatinya.
Qari mengangkat wajahnya dan mengembangkan senyumnya dengan mulut masih mengunyah makanan yang dia pesan lewat abang suami. "Apa kamu mau mencobanya?" Qari mengulurkan satu sendok makanan yang dia klaim paling enak itu.
Alzam menggelengkan kepalanya ia tetap sama pendiriannya yaitu tidak ingin mencicipi makanan seperti itu. "Aku tidak ingin makanan-makanan itu, tapi kalau aku menyuapi kamu apa boleh. Aku rasa kamu semakin besar bukanya semakin pandai untuk makan justru semakin buruk." Alzam mengambil beberapa lembar tisu dan mengusap bibir Qari, seolah wanita itu makan dengan belepotan, padahal itu hanya akal-akalan laki-laki itu saja. Modus? Yah itu hanya modal dusta Alzam agar ia bisa menyuapi istrinya. Entah datang dari mana tiba-tiba ia ingin menyuapi istrinya yang makan itu.
Bush.... Wajah Qari seketika memerah seperti kepiting rebus. Terlebih kulit Qari yang putih bersih sehingga sangat terlihat kalau ia salah tingkah dan wajahnya yang memerah menambah kadar kecantikannya di mata Alzam.
Alzam menarik kursi Qari agar mendekat padanya dan rujak ia ambil. Qari hanya mematung tidak bisa menjawab apa-apa. Wanita itu lebih merasakan salah tingkah diperlakukan seperti itu, padahal dia sendiri suka memperlakukan Alzam dengan yang romantis dan sesekali jahil juga, tetapi ketika Alzam melakukan hal yang sama wanita itu justru malu dan salah tingkah.
Wajahnya merah dan malu-malu persis seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta. Bahkan makan yang awalnya dengan lahap dan terkesan seperti kelaparan. Ketika Alzam yang menyuapinya berubah menjadi makan ala tuan putri yang tumbuh di lingkungan kerajaan. Sangat anggun dan tertata dalam kunyahan dan gerakan mulutnya. Sesekali tangan Alzam mengusap sisi bibir Qari, padahal tidak ada apa-apa yang menempel hingga Qari semakin di buat salting oleh laki-laki yang menyandang status suaminya.
Suap demi suap, makanan demi makanan sudah berpindah ke perut Qari dan seperti biasanya ketika perutnya kenyang penuh terisi, makan mata pun menjadi semakin berat.
__ADS_1
"Sayang terima kasih yah," lirih Qari dengan mode genitnya. Alzam yang sedang membereskan sisa-sisa makanannya pun hanya menatap Qari dengan datar.
"Buat?" tanya Alzam, pura-pura polos.
"Buat semuanya yang kamu lakukan ke aku. Aku sayang banget sama kamu," balas Qari dengan wajah malu-malu, dan menggemaskan.
"Udah tahu, bahkan kamu udah beberapa kali bilang itu." Alzam masih bersikap datar, dan seolah tidak suka dengan sikap Qari yang genit-genit itu.
"Kok kamu kaya nggak suka gitu Sayang," lirih Qari dengan wajah yang mengiba.
"Aku nggak suka kalau hanya ucapan ajah, aku ingin bukti," tantang Alzam.
"Bukti? Bukti apa? Apa kurang bukti aku selama ini?" tanya Qari, padahal dia selama ini sudah membuktikan Qari dengan sangat baik, tetapi kenapa masih di diragukan lagi.
Jari telunjuk Alzam menunjuk pipi kanan dan kiri, bibir dan jidat serta dagunya. Dan Qari yang tahu arti kode itu pun langsung terkembang sempurna.
"Mau yang mana dulu?" tanya Qari dengan gaya yang genit.
"Bebas aku akan menerima dengan ikhlas di manapun yang akan kamu berikan.
Cuppp....
"Qari..." Baru juga satu kali kecupan, sang biang kerok datang.
"Al... Al... kenapa kamu makan kayak anak kecil sih?" Qari berpura-pura mengusap bibir suaminya dengan tangan terlebih bekas lipstik menempel di bibir Alzam, jadi harus buru-buru di bersihkan sebelum sang bos menuduhnya berbuat mesum. Ah, meskipun dituduh juga buat Qari dan Alzam biasa saja.
__ADS_1